MoneyTalk, Jakarta – Dalam wawancara yang ditayangkan di kanal MRohman Official pada Rabu (16/10) pukul 00:15, tokoh politik Sri Bintang Pamungkas mengungkap berbagai polemik seputar pemecatan Prabowo Subianto dari militer, hubungannya dengan Presiden Habibie, serta pengaruh Amerika Serikat dalam pemilihan presiden Indonesia. Wawancara ini memuat sejumlah tuduhan kontroversial dan teori konspirasi yang menggambarkan dinamika politik Indonesia dalam beberapa dekade terakhir.
Pemecatan Prabowo dari Militer, Polemik, dan Intrik di Balik Layar
Sri Bintang memulai pembicaraannya dengan mengangkat kembali peristiwa pemecatan Prabowo Subianto dari TNI Angkatan Darat. Menurutnya, ada tim yang disebut sebagai “tim Lati” yang sempat menculik seseorang, tetapi berhasil diselamatkan.
Peristiwa ini kemudian menjadi alasan bagi Dewan Kehormatan TNI untuk memecat Prabowo, meskipun muncul polemik apakah pemecatan itu dilakukan dengan hormat atau tidak. Awalnya, mantan Panglima TNI disebut mengumumkan pemecatan tidak hormat, tetapi kemudian direvisi menjadi tanpa kata-kata tersebut.
Sri Bintang juga menambahkan bahwa Prabowo pernah berkonfrontasi langsung dengan Presiden B.J. Habibie. Ia menyebutkan bahwa Habibie memerintahkan pemecatan Prabowo, setelah Wiranto, Panglima ABRI saat itu, mendatangi Habibie bersama beberapa orang lainnya.
Wiranto dan timnya, menurut Sri Bintang, meminta pemecatan Prabowo dilakukan setelah Prabowo pergi ke Yordania. Namun, permintaan itu tidak dipenuhi oleh Habibie, yang dikatakan sangat marah hingga menendang kursi akibat ulah Prabowo.
Referensi soal insiden ini, menurut Sri Bintang, bisa ditemukan dalam buku karya Sintong Panjaitan, yang kala itu merupakan penasihat pertahanan dan keamanan Presiden Habibie. Sintong menceritakan bahwa tindakan Prabowo membuat Habibie sangat marah, bahkan Habibie pernah mengatakan, “Sekalipun dilat sepatuku, saya tidak akan memaafkan.”
Keterlibatan Amerika dalam Pemilu Indonesia
Dalam wawancara tersebut, Sri Bintang kemudian mengarahkan pembahasan ke isu keterlibatan Amerika Serikat dalam pemilu Indonesia, khususnya dalam dua pemilihan presiden yang diikuti Prabowo. Ia menyoroti, meskipun Partai Gerindra dalam anggaran dasarnya mendukung UUD 1945, Prabowo justru mendukung amandemen konstitusi.
Sri Bintang menyebut tindakan ini sebagai bentuk “kemunafikan”. Terutama karena Prabowo adalah menantu Soeharto, yang dikenal menganjurkan pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.
Sri Bintang juga berpendapat, meskipun Prabowo telah maju dalam beberapa kali pemilihan presiden, termasuk pada 2004, 2009, 2014, dan 2019, ia dinilai mengkhianati nilai-nilai konstitusi. Pada pemilu 2014 dan 2019, Sri Bintang mengungkapkan, meskipun ada banyak pihak yang menyatakan bahwa pemilu curang dan Prabowo sebenarnya menang, ia tidak berjuang keras untuk merebut kemenangan itu. Sri Bintang menduga, hal ini disebabkan oleh tekanan dari Amerika Serikat yang mempengaruhi hasil pemilu.
Pengaruh Amerika terhadap Pemerintahan dan Kandidat Presiden
Sri Bintang melanjutkan, keterlibatan Amerika Serikat dalam politik Indonesia tidak hanya terjadi dalam pemilihan presiden. Ia mencontohkan pemilihan presiden tahun 2004, di mana ia menyatakan bahwa Megawati Soekarnoputri seharusnya bisa memenangkan pemilu. Namun, setelah melakukan napak tilas ke Beijing dan Moskow, Amerika Serikat memutuskan untuk tidak mendukungnya dan lebih memilih Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sebagai pemenang.
Sri Bintang juga menuduh bahwa SBY terlibat dalam pembunuhan aktivis HAM, Munir, dan bahwa Amerika Serikat meminta agar kasus tersebut tidak diungkap sebelum SBY terpilih sebagai presiden.
Dalam konteks pemilu 2014, Sri Bintang mengklaim bahwa Prabowo seharusnya menang, tetapi muncul suara baru yang tiba-tiba merubah hasil pemilu menjadi kemenangan untuk Joko Widodo (Jokowi). Sri Bintang menyebut hal ini sebagai hasil intervensi Amerika yang, menurutnya, sudah lama mendukung Jokowi, bahkan sejak Jokowi menjabat sebagai walikota Solo dan kemudian gubernur Jakarta. Menurut Sri Bintang, tujuan Amerika dalam mendukung Jokowi adalah untuk mengawasi radikalisme, terutama yang berkaitan dengan Abu Bakar Ba’asyir.
Sri Bintang juga menyinggung perubahan sikap Prabowo setelah bergabung dalam kabinet Jokowi sebagai Menteri Pertahanan. Ia menyebutkan bahwa setelah momen tersebut, “semangat bertarung” Prabowo seolah memudar, meskipun sebelumnya Prabowo telah dua kali maju sebagai calon presiden. Sri Bintang menganggap bahwa penawaran posisi Menteri Pertahanan kepada Prabowo merupakan strategi untuk meredam ambisi politik Prabowo.
Wawancara Sri Bintang Pamungkas ini penuh dengan klaim dan tuduhan serius yang menyentuh berbagai aspek penting dalam politik Indonesia, mulai dari pemecatan Prabowo dari militer, keterlibatan Amerika dalam pemilu, hingga sikap Prabowo setelah bergabung dengan pemerintahan Jokowi.
Meskipun beberapa klaim yang disampaikan Sri Bintang didasarkan pada referensi dari buku atau informasi yang dia dengar langsung, beberapa pernyataan tetap menjadi bagian dari perdebatan publik yang belum tentu memiliki bukti kuat. Yang jelas, wawancara ini menambah dimensi baru dalam perbincangan politik seputar Prabowo Subianto dan peran Amerika dalam kancah politik Indonesia.(c@kra)





