8 November 2026

UPN Veteran Jakarta

MoneyTalk, Jakarta – Baru-baru ini pidato Presiden Prabowo Subianto mengenai kondisi ekonomi dan kemiskinan di Indonesia menjadi sorotan luas. Dalam pidato yang terkesan filosofis dan penuh dengan kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi sebelumnya, Prabowo menekankan bahwa Indonesia, meskipun kerap dipuji sebagai salah satu kekuatan ekonomi global, masih menghadapi masalah serius seperti kemiskinan yang tinggi.

Pidato ini, yang disebut banyak pihak sebagai “spektakuler,” menggugah karena ia tidak hanya menyoroti pertumbuhan makroekonomi, tetapi juga mengajak untuk lebih fokus pada kesejahteraan rakyat secara riil.

Prabowo dengan tegas menyatakan bahwa statistik makroekonomi seperti Produk Domestik Bruto (PDB), atau peringkat ekonomi dunia, tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Ia mengingatkan agar bangsa ini tidak berpuas diri dengan angka-angka tersebut, tetapi melihat kondisi sebenarnya di lapangan, terutama mengenai kemiskinan dan ketimpangan yang masih terjadi.

Pendekatan ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak, termasuk ekonom dan pakar kebijakan publik, Achmad Nur Hidayat, MPP, dari UPN Veteran Jakarta. Melalui keterangannya kepada MoneyTalk pada Selasa (21/10), ia menilai, pandangan Prabowo ini relevan dengan realitas ekonomi Indonesia.

Indonesia memang berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi yang stabil dalam beberapa tahun terakhir, namun masalah kemiskinan dan ketimpangan pendapatan tetap menjadi tantangan besar. Meskipun negara ini sering masuk dalam jajaran 20 besar ekonomi dunia, masih banyak rakyat yang hidup di bawah garis kemiskinan, terutama di pedesaan dan kawasan terpencil.

Namun, di balik retorika yang menggugah ini, terdapat sebuah ironi besar. Meski Prabowo memberikan kritik tajam terhadap kebijakan ekonomi konvensional yang dianggap gagal mengatasi kemiskinan, langkah-langkah yang ia ambil dalam pemerintahannya menunjukkan inkonsistensi yang mencolok. Hal ini terlihat dari komposisi tim ekonomi di kabinetnya, yang diisi oleh tokoh-tokoh lama yang masih memegang erat paradigma ekonomi tradisional. Mazhab ekonomi yang mereka pegang telah lama dianggap gagal untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan merata.

Kontradiksi ini semakin jelas ketika Prabowo menargetkan pertumbuhan ekonomi sebesar 8%, sebuah angka yang ambisius, namun terlihat tidak realistis mengingat teknokrat yang ia pilih adalah mereka yang tidak mampu mendorong pertumbuhan ekonomi di atas 5% selama satu dekade terakhir. Ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai bagaimana Prabowo bisa mencapai target ambisius tersebut tanpa adanya perubahan signifikan dalam pendekatan kebijakan ekonomi.

Salah satu kritik terbesar terhadap paradigma ekonomi yang dianut oleh teknokrat di Indonesia adalah fokus berlebihan pada pertumbuhan PDB. Meskipun PDB adalah indikator penting, ia tidak mencerminkan distribusi pendapatan, akses terhadap layanan dasar seperti pendidikan dan kesehatan, maupun tingkat pengangguran. Banyak negara yang memiliki PDB tinggi, namun tetap menghadapi ketimpangan ekonomi yang parah. Mengukur keberhasilan ekonomi hanya melalui PDB sangatlah menyesatkan.

Prabowo dalam pidatonya tampaknya menyadari hal ini, namun langkah-langkah yang diambilnya justru tidak mencerminkan kesadaran tersebut. Teknokrat yang ia pilih untuk menangani ekonomi masih berpegang pada paradigma lama, yang hanya berfokus pada angka pertumbuhan tanpa memperhatikan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh.

Untuk mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 8%, dibutuhkan reformasi struktural yang mendalam. Prabowo harus berani melepaskan diri dari paradigma lama dan memulai revolusi kebijakan yang lebih inklusif dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat. Tanpa adanya perubahan paradigma, target ambisius tersebut akan sulit dicapai. Reformasi ini tidak hanya harus terjadi pada kebijakan makroekonomi, tetapi juga harus mencakup reformasi sektor-sektor strategis seperti pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

Selain itu, di era digitalisasi dan globalisasi seperti saat ini, pertumbuhan ekonomi yang tinggi hanya bisa dicapai jika suatu negara mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Teknologi, inovasi, dan transformasi digital dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Namun, jika Prabowo tetap bergantung pada teknokrat lama yang lebih fokus pada sektor tradisional seperti manufaktur dan agrikultur tanpa mengintegrasikan teknologi modern, maka Indonesia akan kesulitan bersaing di kancah global.

Di satu sisi, Prabowo telah menunjukkan keberaniannya untuk berbicara tentang masalah mendasar dalam perekonomian Indonesia, namun di sisi lain, tindakannya sejauh ini tidak mencerminkan keberanian yang sama untuk mengambil langkah-langkah yang lebih radikal dan konsisten. Jika ia ingin mencapai target pertumbuhan ekonomi 8%, maka reformasi besar-besaran dalam kebijakan ekonomi sangat diperlukan.

Masyarakat Indonesia membutuhkan kepemimpinan yang berani melakukan perubahan struktural, bukan hanya retorika yang spektakuler. Pidato Prabowo, meskipun menggugah, akan kehilangan relevansinya jika tidak diiringi dengan tindakan nyata yang konsisten. Indonesia tidak hanya butuh pertumbuhan, tetapi juga pemerataan kesejahteraan agar seluruh rakyat bisa menikmati hasil dari kemajuan ekonomi.

Pada akhirnya, masa depan ekonomi Indonesia berada di tangan kebijakan-kebijakan yang diambil oleh pemerintahan Prabowo. Jika ia tetap konsisten dengan kritik yang disampaikannya, dan benar-benar melakukan reformasi mendalam, maka target ambisius tersebut mungkin dapat tercapai. Namun, jika tidak, pidatonya akan tetap menjadi sebuah janji yang spektakuler namun hampa aksi nyata.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Pada Jumat (18/10), Achmad Nur Hidayat, seorang ekonom dan pakar kebijakan publik dari UPN Veteran Jakarta, mengemukakan kritik tajam terhadap Peraturan Presiden Nomor 121 Tahun 2024 yang memberikan jaminan kesehatan kepada mantan menteri dan keluarganya yang dibiayai oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Ia menegaskan bahwa kebijakan ini mencerminkan ketidakadilan dalam alokasi anggaran negara, melanggar prinsip kesetaraan, serta mengabaikan keadilan sosial dalam penggunaan sumber daya publik. Menurut Hidayat, kebijakan tersebut tidak hanya memberatkan anggaran negara, tetapi juga berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap pemerintah.

Artikel ini akan menjelaskan secara rinci enam alasan utama mengapa kebijakan jaminan kesehatan bagi mantan menteri harus segera dihentikan.

Salah satu argumen terkuat melawan kebijakan ini adalah ketidakadilan dalam alokasi anggaran. Para menteri dan pejabat tinggi sudah tergolong dalam kelompok elite, yang selama masa jabatannya menikmati berbagai tunjangan, fasilitas, dan asuransi kesehatan yang baik. Di sisi lain, mayoritas rakyat Indonesia terutama kelas menengah ke bawah, kesulitan mengakses layanan kesehatan dasar yang layak.

Keputusan untuk memberikan jaminan kesehatan kepada mantan pejabat yang secara ekonomi sudah mapan, sementara jutaan rakyat masih berjuang mendapatkan perawatan kesehatan yang layak, sangat tidak seimbang. Seharusnya, prioritas utama pemerintah adalah mengalokasikan anggaran untuk memperbaiki layanan kesehatan publik, memperluas cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), dan meningkatkan fasilitas kesehatan di daerah terpencil.

Mengalihkan sumber daya negara untuk kepentingan mantan pejabat yang tidak lagi aktif hanya memperlebar jurang ketimpangan sosial antara rakyat biasa dan para elit yang seharusnya memimpin dengan tanggung jawab sosial.

Di tengah situasi ekonomi yang belum stabil, menambahkan beban baru kepada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dengan jaminan kesehatan bagi mantan menteri adalah kebijakan yang tidak bijaksana. APBN sudah terbebani oleh berbagai program sosial, seperti subsidi energi, bantuan sosial, serta investasi di bidang infrastruktur, pendidikan, dan kesehatan.

Dengan adanya beban baru ini, APBN berpotensi menghadapi defisit yang lebih besar, memperbesar utang publik, dan membebani generasi mendatang. Kebijakan seperti ini hanya akan memperburuk kondisi ekonomi Indonesia dalam jangka panjang, mengingat kebutuhan belanja negara yang semakin meningkat tanpa adanya tambahan pemasukan yang seimbang.

Kebijakan ini juga melanggar prinsip keadilan sosial, yang seharusnya menjadi dasar kebijakan publik. Jaminan kesehatan gratis bagi mantan menteri dan keluarganya memberikan keuntungan eksklusif kepada segelintir elit yang sebenarnya mampu membiayai sendiri kebutuhan kesehatannya.

Banyak warga Indonesia yang belum terjangkau oleh BPJS atau layanan kesehatan serupa, sehingga kebijakan ini semakin menegaskan ketimpangan antara rakyat yang harus berjuang membayar layanan kesehatan dan para mantan pejabat yang mendapat layanan gratis. Ini menciptakan kesan bahwa negara lebih mengutamakan elit daripada memperbaiki kualitas hidup masyarakat luas.

Potensi penyalahgunaan dalam kebijakan jaminan kesehatan ini sangat besar. Tanpa adanya pengawasan ketat, fasilitas yang dibiayai oleh APBN dapat disalahgunakan oleh mantan menteri atau keluarganya, yang mungkin memanfaatkan jaminan ini di luar kebutuhan medis yang wajar. Pengalaman di masa lalu menunjukkan bahwa mekanisme pengawasan penggunaan dana publik seringkali lemah, membuka peluang bagi ekses penggunaan fasilitas ini.

Selain itu, tanpa transparansi yang memadai, publik tidak akan tahu bagaimana dana ini digunakan atau siapa yang benar-benar mendapatkan manfaat dari kebijakan ini. Ini berisiko menambah lapisan kompleksitas dalam pengelolaan anggaran negara, yang justru seharusnya lebih difokuskan pada kepentingan masyarakat luas.

Penerapan kebijakan ini menandakan bahwa pemerintah memiliki prioritas anggaran yang salah. Ketika program-program publik yang lebih penting seperti pendidikan, infrastruktur kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi membutuhkan pendanaan, alokasi anggaran justru diberikan untuk memberikan layanan eksklusif kepada mantan pejabat yang sebenarnya mampu membiayai kebutuhan kesehatan mereka sendiri.

Dengan kondisi sosial-ekonomi yang menantang, pengelolaan APBN harus lebih selektif dan difokuskan pada kepentingan yang lebih luas. Memberikan jaminan kesehatan kepada elit politik bukanlah prioritas yang tepat di tengah kebutuhan rakyat yang jauh lebih mendesak.

Terakhir, kebijakan ini dapat merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah. Di saat masyarakat mengalami kesulitan ekonomi dan menghadapi akses kesehatan yang terbatas, melihat para mantan pejabat menerima layanan kesehatan gratis dari negara hanya akan memperdalam rasa ketidakadilan di masyarakat. Ini dapat memicu ketidakpuasan publik dan memperburuk hubungan antara rakyat dan pemerintah.

Kepercayaan publik adalah elemen kunci untuk menjaga stabilitas sosial dan politik. Dengan menerapkan kebijakan yang memprioritaskan elit, pemerintah berisiko kehilangan dukungan dari rakyat. Oleh karena itu, kebijakan yang lebih inklusif dan adil harus diutamakan untuk membangun kepercayaan publik yang lebih baik.

Peraturan Presiden Nomor 121 Tahun 2024 yang memberikan jaminan kesehatan bagi mantan menteri dan keluarganya dibiayai oleh APBN adalah kebijakan yang mencerminkan ketidakadilan, pemborosan anggaran, serta pelanggaran prinsip keadilan sosial.

Di tengah kesulitan yang dihadapi masyarakat luas, kebijakan ini harus ditinjau ulang dan bahkan dibatalkan untuk memastikan bahwa anggaran negara digunakan secara lebih bijaksana, adil, dan efisien. Pemerintah harus memprioritaskan kepentingan rakyat, bukan elit politik, untuk menciptakan sistem yang lebih adil dan meningkatkan kepercayaan publik terhadap pengelolaan anggaran negara.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Ribuan warga dari berbagai latar belakang, termasuk mahasiswa, aktivis, alumni perguruan tinggi, guru besar, akademisi, dan masyarakat umum, berkumpul di berbagai lokasi di seluruh Indonesia, seperti Gedung DPR RI, Mahkamah Konstitusi (MK), Titik Nol Yogyakarta, Semarang, Padang, Surabaya, Makassar, dan kota-kota besar lainnya. Mereka berkumpul untuk menyuarakan keprihatinan dan perlawanan terhadap arah politik yang dianggap mengancam prinsip-prinsip dasar negara.

(lebih…)