MoneyTalk.id,Jakarta – Center for Budget Analysis (CBA) secara resmi melayangkan desakan keras kepada Direktur Utama PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Nanang Hendarno, untuk segera mencopot dua petinggi penting perusahaan: Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Arthur Angelo Syailendra, serta Direktur Human Capital Management, Willy Saelan. Langkah drastis ini dinilai sebagai harga mati demi membenahi struktur organisasi agar PT Telkom Indonesia kembali berjalan di atas jalur Good Corporate Governance (GCG).
Direktur Eksekutif CBA, Uchok Sky Khadafi, menegaskan bahwa perombakan jajaran direksi merupakan sebuah keniscayaan struktural. Menurutnya, sudah menjadi hukum besi korporasi bahwa ketika nakhoda baru memegang kendali, gerbong lama yang masih setia dan merupakan bagian dari rezim kepemimpinan sebelumnya—yakni sisa-sisa kubu Dian Siswarini—harus segera disingkirkan agar tidak menjadi duri dalam daging.
CBA menyoroti tajam kinerja Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Arthur Angelo Syailendra, yang dinilai sangat buruk dan gegabah dalam mengeksekusi program perampingan (streamlining) entitas anak usaha. Program yang sejatinya bertujuan baik untuk mentransformasikan Telkom dari operating holding menuju strategic holding (HoldCo-OpCo) justru dieksekusi secara sembrono tanpa kajian yang komprehensif. CBA mendesak agar seluruh kebijakan likuidasi, divestasi, merger, hingga investasi dikaji ulang secara transparan dan akuntabel.
”Jangan asal-asalan. Ikuti secara ketat arahan Presiden Prabowo: jangan sekadar melakukan likuidasi, tetapi pastikan secara matang berbasis data bahwa perusahaan tersebut memang terbukti tidak menguntungkan atau benar-benar dorman,” tandas Uchok Sky dalam keterangannya pada awak media, Kamis (8/10/26).
Kritik tanpa kompromi juga dihantamkan kepada Direktur Human Capital Management, Willy Saelan. CBA menilai Willy gagal total dalam memetakan karakter dan kompleksitas SDM BUMN telekomunikasi. Willy dinilai masih terjebak dalam mentalitas korporasi swasta multinasional sekelas Unilever yang tidak bisa disamakan dengan skala kepegawaian BUMN. Kebijakan program pensiun dini yang dijalankan diibaratkan seperti “onani di siang bolong”—menimbulkan kegaduhan masif tanpa arah yang jelas. Pasalnya, di saat bersamaan, Willy justru gencar melakukan rekrutmen prohire yang ditarik langsung dari perusahaan kompetitor Telkom, sehingga langkah ini dinilai sebagai kesalahan fatal yang merugikan keuangan perusahaan. Selain itu, Willy dinilai masih bermimpi berstatus sebagai bagian dari Unilever, sehingga abai dan menutup telinga terhadap aspirasi dari karyawan Telkom sendiri.
”Gara-gara Willy Saelan tuli terhadap aspirasi karyawan, krisis internal pecah hingga memaksa Serikat Karyawan Telkom Indonesia (Sekar Telkom) menggelar aksi unjuk rasa serta audiensi resmi dengan Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad bersama Ketua dan Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Anggia Ermarini dan Andre Rosiade,” pungkas Uchok.
CBA memperingatkan Dirut Telkom Nanang Hendarno untuk tidak setengah-setengah dalam melakukan bersih-bersih internal. Jika posisi Arthur Angelo Syailendra dan Willy Saelan terus dipertahankan, pemulihan kinerja dan transformasi bisnis Telkom dipastikan akan jalan di tempat, serta terus memicu instabilitas di tubuh perusahaan pelat merah tersebut.
Lebih lanjut, CBA menegaskan bahwa apabila Direktur Utama Telkom bergeming dan mengabaikan tuntutan perombakan ini, maka CBA secara tegas mendesak para pengendali pemegang saham PT Telkom Indonesia untuk segera turun tangan dan mengambil langkah konstitusional dengan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) guna mencopot kedua direksi tersebut demi menyelamatkan masa depan perusahaan negara.





