Dugaan Penyadapan Prabowo,Ada Beberapa Menteri dan Komisaris BUMN akan Ditangkap
MoneyTalk.id,Jakarta – Pengamat politik dan militer Universitas Nasional (UNAS), Selamat Ginting, mengungkap sejumlah kejanggalan dalam daftar sekitar 6.000 nama yang dikaitkan dengan dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Selamat, daftar tersebut justru tidak memuat sejumlah nama yang selama ini dikenal sebagai bagian dari lingkaran dekat Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi). Di antaranya Kaesang Pangarep, Gibran Rakabuming Raka, Bobby Nasution, Pratikno, dan sejumlah tokoh lainnya.
“Yang dikemukakan dari enam ribuan daftar nama itu tidak ada KGB, Kaesang, Gibran, Bobby. Tidak ada orang-orang lingkaran dekat dari Presiden Jokowi, Pratikno, kemudian yang lainnya, tidak ada,” kata Selamat Ginting, Sabtu (7/11/2026).
Sebaliknya, ia menyoroti munculnya nama-nama orang yang selama ini dikenal berseberangan atau kritis terhadap Jokowi.
“Yang ada adalah kita-kita yang suka hadir di sini. Ada tuh yang kontra dengan Jokowi misalnya. Itu ada apa? Kemudian Wapres Gibran juga tidak ada,” ujarnya.
Selamat menilai persoalan tersebut tidak bisa dilihat hanya sebagai perkara hukum biasa. Menurut dia, dugaan penyadapan terhadap kepala negara merupakan persoalan serius yang menyangkut keamanan nasional dan berpotensi menjadi perhatian internasional.
“Oleh karena itu kita harus melihatnya, ini bukan soal hukum semata, tetapi ini adalah kasus kejahatan luar biasa. Dunia juga melihat ini. Ini bukan isu nasional lagi, tetapi isu internasional,” tegasnya.
Selamat bahkan mengaku telah memperkirakan adanya sekitar 14 perwira tinggi yang berpotensi terseret dalam perkara tersebut.
Ia menduga sejumlah perwira tinggi itu bisa menjadi tersangka apabila penyelidikan menemukan bukti keterlibatan mereka.
“Saya sampai menghitung ketika tanggal 1, ini ada sekitar 14 perwira tinggi yang akan terseret, yang saya duga akan menjadi tersangka,” ungkapnya.
Untuk menggambarkan besarnya kemungkinan dampak politik dan keamanan dari perkara tersebut, Selamat membandingkannya dengan peristiwa penangkapan sejumlah menteri pada era Presiden Soekarno setelah Gerakan 30 September 1965.
Ia mengingatkan bahwa perkembangan perkara ini bisa membawa konsekuensi politik yang luas, terutama apabila dugaan keterlibatan pejabat tinggi negara dan aparat keamanan terbukti.
Dalam perbincangan tersebut, Selamat juga ditanya mengenai dugaan arah keterlibatan Jokowi dalam perkara penyadapan terhadap Prabowo.
Menanggapi pertanyaan itu, Selamat membenarkan bahwa dirinya melihat adanya indikasi yang mengarah kepada mantan Presiden Jokowi.
Ia kemudian mengaitkan pernyataan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dengan informasi yang kemungkinan telah diterima Presiden Prabowo dari sejumlah lembaga strategis negara.
“Ya, betul. Saya kira pernyataan dari Menteri Sekretaris Negara Prasetyo itu adalah suara dari presiden,” katanya.
Menurut Selamat, Presiden Prabowo kemungkinan telah memperoleh informasi dari Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Kapolri, Mabes TNI, serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Ia meyakini informasi dari lembaga-lembaga tersebut dapat menjadi dasar bagi pemerintah untuk menentukan langkah berikutnya.
Bahkan, Selamat memprediksi dalam waktu dua hingga tiga hari akan ada perkembangan besar, termasuk kemungkinan penangkapan sejumlah pejabat.
“Saya yakin presiden sudah tahu siapa-siapa saja yang terlibat. Dalam waktu dua tiga hari menurut saya akan ada juga menteri yang ditangkap, komisaris-komisaris ada yang ditangkap. Saya kira begitu,” ujarnya.
Pernyataan Selamat tersebut menjadi sorotan karena membawa dugaan penyadapan terhadap Presiden Prabowo ke ranah yang lebih luas, yakni persaingan politik, hubungan kekuasaan antara pemerintahan sekarang dan pemerintahan sebelumnya, serta dugaan keterlibatan unsur-unsur di lingkungan negara.
