22 Oktober 2026

BPS

MoneyTalk, Jakarta – Masalah lain yang sering disorot belakangan ini adalah validitas data dalam sistem DTKS (Data Terpadu Kesejahteraan Sosial). Seiring dengan perkembangan waktu, berbagai kritik terkait ketidakakuratan data di lapangan menjadi perhatian penting dalam pelaksanaan berbagai program sosial.

DTKS merupakan basis data utama yang digunakan oleh Kementerian Sosial (Kemensos) sejak tahun 2011 untuk mendukung berbagai program bantuan sosial (bansos). Data awalnya berasal dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang kemudian diperbaharui dan disempurnakan sesuai dengan kebijakan dan kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Sosial.

Seiring berjalannya waktu, pembaruan dan verifikasi data di lapangan menjadi tantangan tersendiri. Salah satu persoalan utama adalah ketidaksesuaian data antara kondisi sebenarnya di lapangan dengan yang tercatat dalam DTKS.

Dalam beberapa kasus, terdapat penerima bantuan yang sudah meninggal namun masih terdaftar dalam data, atau individu yang telah berpindah tempat tinggal namun data mereka masih tetap tercatat di alamat lama. Hal ini tentu mengganggu efektivitas program dan berpotensi menimbulkan masalah hukum, seperti yang diungkapkan dalam temuan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Proses pembaruan data dilakukan dengan mekanisme yang cukup rinci. Data diperbarui mulai dari tingkat desa atau kelurahan, kemudian diverifikasi oleh Dinas Sosial dan Bupati/Walikota. Setelah itu, data akan diverifikasi lebih lanjut oleh sistem DTKS dengan melibatkan prosedur yang lebih ketat, termasuk pencocokan data berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), geotagging, hingga foto-foto yang mendukung validitas data.

Namun, meskipun mekanisme ini sudah ada, banyak keluhan dari masyarakat yang belum memanfaatkan sistem usul sanggah atau cek bansos secara maksimal. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya sosialisasi dan akses terbatas di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan sinyal dan teknologi.

Pemerintah telah mengidentifikasi beberapa langkah untuk meningkatkan kualitas data DTKS. Salah satunya adalah pengalihan pengelolaan data ke Badan Pusat Statistik (BPS), yang dianggap memiliki metodologi dan kapasitas lebih dalam mengelola data besar. BPS, bersama dengan lembaga-lembaga lain seperti BKKBN dan Bappenas, akan mengintegrasikan data dari berbagai sumber, menyelaraskan informasi terkait kelompok sasaran penerima bantuan sosial.

Pembaruan data ini akan memfasilitasi kemajuan yang lebih signifikan dalam program-program kesejahteraan sosial, baik dalam hal pemerataan bantuan maupun efektivitas penyalurannya.

Selain fokus pada bantuan sosial, Kemensos juga berkomitmen untuk melakukan pemberdayaan terhadap keluarga penerima manfaat (KPM). Program seperti Program Keluarga Harapan (PKH) bertujuan untuk memenuhi hak dasar keluarga, mulai dari kebutuhan nutrisi ibu hamil, anak-anak, hingga akses pendidikan dan kesehatan. Setelah memenuhi hak-hak dasar ini, KPM akan dibantu dalam proses pemberdayaan agar dapat naik kelas menjadi kelompok masyarakat dengan kesejahteraan yang lebih baik, atau bahkan mandiri.

Dalam hal ini, pemberdayaan lebih lanjut melalui pelatihan keterampilan atau dukungan usaha akan membantu keluarga KPM untuk bertransformasi menjadi kelompok rentan yang lebih kuat, dengan tujuan akhirnya adalah ‘graduasi’ dari status penerima bantuan.

Keberhasilan pemberdayaan dan pengurangan ketergantungan pada bantuan sosial memerlukan sinergi antara berbagai kementerian dan lembaga terkait. Kemensos tidak dapat bekerja sendiri. Kerja sama dengan BUMN, lembaga non-pemerintah, serta kementerian lain seperti Kemenaker dan Kemenko PMK sangat diperlukan untuk menciptakan program-program yang dapat mempercepat proses transisi KPM menjadi kelompok masyarakat kelas menengah.

Penting untuk menciptakan ruang bagi diskusi lebih lanjut dengan anggota DPR, Dinas Sosial, serta pihak terkait lainnya untuk mengidentifikasi masalah dan solusi di lapangan. Salah satunya adalah pembentukan tim reaksi cepat yang memungkinkan interaksi langsung antara pemerintah dan masyarakat untuk menanggapi keluhan atau masalah yang muncul.

Menyempurnakan DTKS bukanlah pekerjaan yang mudah dan tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat. Namun, dengan mekanisme yang lebih transparan, pengelolaan yang lebih terintegrasi, serta keterlibatan masyarakat yang lebih aktif, kita optimistis bahwa data yang valid dan program pemberdayaan yang lebih tepat sasaran akan tercapai. Terima kasih atas perhatian dan kerjasama semua pihak, dan mari kita terus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan sosial di Indonesia.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa inflasi di Indonesia pada bulan Oktober 2024 mencapai 0,08% secara bulanan (month-to-month/mtm) atau sebesar 1,71% secara tahunan (year-on-year/yoy). Inflasi yang stabil ini mendapat tanggapan positif, terutama karena masih berada dalam rentang target Bank Indonesia (BI) yakni ±3%.

Ekonom Bank CIMB Niaga, Mika Martumpal, menilai bahwa berakhirnya tren deflasi selama lima bulan berturut-turut di bulan Oktober menjadi cerminan awal dari stabilnya inflasi di Indonesia, serta mencerminkan keberhasilan pemerintah dan otoritas moneter dalam menjaga tingkat harga di dalam negeri.

Namun, tantangan tetap ada. Perkembangan ekonomi global, seperti penurunan ekonomi Tiongkok dan volatilitas nilai tukar, masih dapat berdampak pada stabilitas ekonomi Indonesia. Berikut adalah analisis mendalam tentang kondisi inflasi di Indonesia, faktor-faktor yang mempengaruhi, serta langkah-langkah yang perlu diambil untuk menjaga stabilitas ini.

Kenaikan inflasi 0,08% pada bulan Oktober menjadi titik balik yang penting setelah periode deflasi sebelumnya. Menurut Mika Martumpal, kondisi inflasi yang berada di bawah median target BI menunjukkan stabilitas tingkat harga. Meski begitu, inflasi inti masih di bawah 2,5%, yang mengindikasikan permintaan domestik, khususnya dalam konsumsi rumah tangga dan investasi, belum sepenuhnya pulih.

Pemerintah dan BI telah mengambil langkah pengendalian harga yang cukup efektif, khususnya pada komponen harga yang sering berfluktuasi, seperti bahan makanan. Stabilitas pasokan bahan pokok juga menjadi kunci dalam menjaga harga-harga di pasaran. Jika ditarik ke belakang, inflasi tertinggi tahun ini yang mencapai 3% terjadi pada Maret, yang terutama didorong oleh kenaikan harga bahan makanan. Dengan penurunan inflasi ini, bisa disimpulkan bahwa kondisi pasokan sudah membaik dan langkah-langkah pengendalian harga berhasil dilakukan.

Seiring dengan stabilnya inflasi domestik, terdapat beberapa tantangan eksternal yang perlu diwaspadai. Salah satunya adalah perlambatan ekonomi Tiongkok, yang merupakan mitra dagang utama Indonesia. Penurunan permintaan dari Tiongkok dapat berdampak pada sektor ekspor Indonesia, yang pada gilirannya dapat mempengaruhi perekonomian dalam negeri dan daya beli masyarakat.

Selain itu, volatilitas nilai tukar rupiah akibat fluktuasi suku bunga global juga mempengaruhi harga-harga di dalam negeri. Menurut Mika, kebijakan moneter global, terutama dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat, memiliki efek lanjutan terhadap nilai tukar, yang pada akhirnya berdampak pada harga barang-barang impor dan inflasi dalam negeri.

Deflasi yang terjadi selama lima bulan sebelumnya juga menimbulkan kekhawatiran akan daya beli masyarakat yang menurun. Dalam konteks ini, angka inflasi yang positif pada bulan Oktober, meski kecil, menjadi indikasi awal bahwa daya beli masyarakat mulai pulih. Namun, hal ini belum cukup untuk menjadi sinyal bahwa permintaan agregat telah benar-benar menguat.

Pemerintah perlu memperhatikan data lain seperti pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2024, indeks manufaktur, dan data lapangan pekerjaan sebagai indikator tambahan untuk menilai apakah ekonomi telah mengalami perbaikan yang berkelanjutan. Jika data-data ini menunjukkan pertumbuhan yang positif, maka dapat disimpulkan bahwa konsumsi rumah tangga mulai membaik.

Menurut Mika, menjaga inflasi dalam rentang target BI merupakan langkah penting dalam menstabilkan perekonomian. Salah satu cara yang diusulkan adalah dengan meningkatkan inflasi inti, yaitu inflasi yang mencerminkan tingkat permintaan domestik. Dalam jangka panjang, peningkatan inflasi inti yang stabil dapat menjadi indikator positif bahwa permintaan domestik terus meningkat, yang juga akan berdampak baik pada tingkat produksi dan investasi dalam negeri.

Meningkatnya inflasi inti ini diharapkan dapat mendekati median target BI di level 2,5%. Dengan permintaan agregat yang lebih kuat, tingkat inflasi ini dapat mempertahankan daya beli masyarakat tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang terlalu tinggi.

Stabilitas inflasi pada bulan Oktober 2024 menjadi pertanda positif bahwa pengendalian harga di dalam negeri berjalan efektif. Berakhirnya tren deflasi menandakan awal dari stabilitas harga yang perlu dijaga, terutama di tengah tantangan global seperti perlambatan ekonomi Tiongkok dan volatilitas nilai tukar rupiah.

Meskipun inflasi masih berada dalam batas aman, pemerintah dan BI perlu terus memonitor perkembangan global serta melakukan kebijakan yang dapat memperkuat permintaan domestik. Dengan mengoptimalkan potensi pasar domestik serta menjaga stabilitas harga, Indonesia dapat menjaga laju inflasi yang sehat dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Perkembangan positif pada angka inflasi ini diharapkan menjadi awal dari pemulihan daya beli masyarakat, yang didukung oleh peningkatan inflasi inti dan penguatan permintaan domestik. Jika pemerintah dapat menjaga keseimbangan antara permintaan dan penawaran, Indonesia berpeluang mempertahankan stabilitas inflasi yang mendukung pemulihan ekonomi pascapandemi.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat lonjakan signifikan dalam ekspor kopi Indonesia sepanjang Januari hingga September 2024. Diketahui, peningkatan volume ekspor sebesar 29,82% (yoy) menjadi 342,33 ribu ton, bernilai sekitar USD 1,49 miliar. Kenaikan ini menggambarkan posisi strategis kopi Indonesia di pasar global, meski berbagai tantangan masih menghadang. Antara lain terkait perubahan iklim, kendala produktivitas, dan persaingan ketat antara permintaan ekspor dan konsumsi domestik.

Ketua Umum III Asosiasi Eksportir & Industri Kopi Indonesia, Pranoto Soenarto, mengonfirmasi bahwa tren ini turut didukung oleh membaiknya panen kopi tahun ini. Selain itu, peningkatan harga kopi global dari sekitar Rp20.000 per kilogram menjadi Rp70.000 per kilogram juga memberikan dorongan pada nilai jual ekspor kopi Indonesia.

Kenaikan Permintaan dan Tantangan Produktivitas

Pranoto Soenarto mengungkapkan, permintaan kopi global dan domestik sedang meningkat tajam. Hal ini berkat popularitas kopi Indonesia yang terkenal dengan kualitasnya. Sayangnya, petani kopi masih berjuang untuk meningkatkan produktivitas. Menurut BPS, produktivitas rata-rata kopi Indonesia hanya mencapai 600-700 kilogram per hektar. Ini jauh di bawah negara tetangga seperti Vietnam yang mampu menghasilkan 2 ton per hektar. Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa pasokan kopi domestik juga kian bersaing ketat dengan kebutuhan ekspor.

Emanuella Bungasmara Ega Tirta, Agrifood Analyst dari CNBC Indonesia Research, mencatat bahwa meningkatnya konsumsi kopi dalam negeri mempengaruhi pasokan yang tersedia untuk diekspor. Menurut Ega, bisnis coffee shop di Indonesia terus berkembang dengan peningkatan sekitar 15-20% dalam lima tahun terakhir, yang mengakibatkan tingginya permintaan biji kopi berkualitas di pasar domestik. Hal ini menciptakan tantangan tambahan bagi eksportir kopi yang harus bersaing dengan roaster lokal untuk mendapatkan pasokan yang memadai.

Tantangan Lainnya: Perubahan Iklim dan Hama Penyakit

Perubahan iklim dan munculnya hama penyakit menjadi tantangan serius bagi petani kopi Indonesia. Kekeringan yang berkepanjangan dan pola cuaca yang tidak menentu mengancam kesehatan tanaman kopi, membuat mereka rentan terhadap penyakit seperti karat daun dan hama pengganggu lainnya. Dampak dari perubahan iklim juga dirasakan dalam bentuk produktivitas yang menurun, diperkirakan sekitar 10-20% dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menyebabkan ketersediaan kopi yang lebih rendah dibandingkan kebutuhan pasar.

Upaya Meningkatkan Produktivitas dan Solusi untuk Petani

Pranoto Soenarto menyampaikan bahwa produktivitas kopi di Indonesia perlu ditingkatkan melalui berbagai cara. Sementara negara-negara seperti Vietnam dan Brasil telah beralih ke penggunaan pupuk kimia untuk meningkatkan hasil, Indonesia masih mempertahankan pendekatan organik, meski produktivitasnya relatif lebih rendah.

Lebih lanjut, peningkatan produktivitas tidak hanya mengandalkan teknologi atau inovasi pertanian, tetapi juga membutuhkan perhatian khusus pada pengelolaan sumber daya manusia. Pranoto menegaskan bahwa petani perlu dibimbing untuk meningkatkan kesadaran dalam mengelola lahan mereka dan memilih tanaman dengan hasil yang optimal. Ini mencakup pendidikan berkelanjutan tentang perawatan tanaman dan adaptasi terhadap perubahan iklim, sehingga petani dapat memperoleh hasil yang lebih baik.

Dampak Konsumsi Domestik Terhadap Ekspor

Meningkatnya konsumsi kopi dalam negeri turut mempersempit ruang ekspor. Saat ini, rata-rata konsumsi kopi per kapita di Indonesia mencapai hampir 2 kilogram per tahun, meningkat signifikan dari hanya 0,8 kilogram beberapa tahun yang lalu. Fenomena ini didorong oleh tren gaya hidup, terutama di kalangan anak muda yang semakin gemar menikmati kopi di kedai-kedai dan kafe. Dengan adanya lebih banyak roaster dan coffee shop di Indonesia, persaingan untuk mendapatkan pasokan kopi dari petani semakin ketat.

Permintaan kopi lokal ini tidak hanya menghambat ekspor; ada juga aspek positif yang dapat diperoleh dari peningkatan konsumsi domestik ini. Pertumbuhan industri kopi dalam negeri menciptakan pasar yang lebih stabil dan dapat menjadi cadangan jika pasar ekspor mengalami gangguan. Namun, hal ini tetap menjadi dilema bagi eksportir yang harus terus bersaing dengan roaster domestik untuk memperoleh pasokan kopi yang memadai.

Meningkatnya ekspor kopi Indonesia mencerminkan tingginya permintaan kopi Indonesia di pasar global. Meski demikian, tantangan besar tetap ada di depan, mulai dari perubahan iklim, persaingan dengan konsumsi domestik, hingga rendahnya produktivitas dibandingkan negara penghasil kopi lainnya.

Indonesia, sebagai salah satu negara penghasil kopi terbesar, perlu mengimplementasikan strategi yang komprehensif untuk meningkatkan produktivitas, baik melalui teknologi pertanian yang lebih canggih maupun pendidikan yang lebih baik untuk petani kopi. Selain itu, adanya persaingan dengan konsumsi domestik juga bisa menjadi peluang, jika dikelola dengan baik oleh pemerintah dan stakeholder terkait, sehingga sektor kopi Indonesia dapat berkembang secara berkelanjutan dan tetap mampu memenuhi permintaan pasar global dan domestik.(c@kra)

JAKARTA, MoneyTalk – Abstraksi:

  • Nilai Tukar Petani (NTP) adalah perbandingan indeks harga yang diterima petani (It) terhadap indeks harga yang dibayar petani (Ib).
  • NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di perdesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (terms of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi.
  • NTP nasional April 2023 sebesar 110,58 atau turun 0,24 persen dibanding NTP bulan sebelumnya. Penurunan NTP dikarenakan Indeks Harga yang Diterima Petani (It) turun sebesar 0,12 persen, sedangkan Indeks Harga yang Dibayar Petani naik (Ib) sebesar 0,13 persen.
  • Pada April 2023, NTP Provinsi Riau mengalami penurunan terbesar (2,42 persen) dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. Sebaliknya, NTP Provinsi Sumatera Selatan mengalami kenaikan tertinggi terbesar (1,50 persen) dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya.
  • Pada April 2023 terjadi kenaikan Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Indonesia sebesar 0,14 persen yang disebabkan oleh kenaikan indeks pada seluruh kelompok pengeluaran.
  • Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional April 2023 sebesar 110,92 atau turun 0,24 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya.
  • Dari 2.236 transaksi penjualan gabah di 26 provinsi selama April 2023, tercatat transaksi gabah kering panen (GKP) 70,57 persen, gabah kering giling (GKG) 18,43 persen, dan gabah luar kualitas 11,00 persen.
  • Selama April 2023, rata-rata harga GKP di tingkat petani Rp5.401,00 per kg atau naik 2,40 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.524,00 per kg atau naik 2,25 persen dibandingkan harga gabah kualitas yang sama pada bulan sebelumnya. Rata-rata harga GKG di tingkat petani Rp6.105,00 per kg atau naik 0,90 persen dan di tingkat penggilingan Rp6.220,00 per kg atau naik 0,68 persen. Harga gabah luar kualitas di tingkat petani Rp5.289,00 per kg atau naik 5,47 persen dan di tingkat penggilingan Rp5.391,00 per kg atau naik 4,96 persen.
  • Dibandingkan April 2022, rata-rata harga gabah pada April 2023 di tingkat petani untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing naik sebesar 23,62 persen; 20,32 persen; dan 26,07 persen. Di tingkat penggilingan, rata-rata harga gabah pada April 2023 dibandingkan April 2022 untuk kualitas GKP, GKG, dan gabah luar kualitas masing-masing naik sebesar 23,26 persen; 19,77 persen; dan 25,69 persen.
  • Selama April 2023, survei harga produsen beras di penggilingan dilakukan pada 895 perusahaan penggilingan di 31 provinsi, dimana diperoleh 1.161 observasi beras di penggilingan.
  • Pada April 2023, rata-rata harga beras kualitas premium di penggilingan sebesar Rp11.672,00 per kg, turun sebesar 0,08 persen dibandingkan bulan sebelumnya, sedangkan beras kualitas medium di penggilingan sebesar Rp11.050,00 per kg atau turun sebesar 0,65 persen, dan rata-rata harga beras luar kualitas di penggilingan sebesar Rp10.565,00 per kg atau naik sebesar 0,85 persen.
  • Dibandingkan dengan April 2022, rata-rata harga beras di penggilingan pada April 2023 untuk kualitas premium, medium, dan luar kualitas masing-masing naik sebesar 21,88 persen; 21,37 persen; dan 19,33 persen.

JAKARTA, MoneyTalk – Abstraksi:

  • Pada April 2023 terjadi inflasi year on year (y-on-y) sebesar 4,33 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,74. Inflasi y-on-y tertinggi terjadi di Kotabaru sebesar 6,75 persen dengan IHK sebesar 121,12 dan terendah terjadi di Pangkal Pinang sebesar 2,78 persen dengan IHK sebesar 114,15.

 

  • Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya sebagian besar indeks kelompok pengeluaran, yaitu: kelompok makanan, minuman dan tembakau sebesar 4,58 persen; kelompok pakaian dan alas kaki sebesar 1,80 persen; kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,53 persen; kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 3,27 persen; kelompok kesehatan sebesar 2,60 persen; kelompok transportasi sebesar 11,96 persen; kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,38 persen; kelompok pendidikan sebesar 2,75 persen; kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 3,79 persen; dan kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 4,67 persen. Sementara kelompok pengeluaran yang mengalami penurunan indeks, yaitu: kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,25 persen.

 

  • Tingkat inflasi month to month (m-to-m) April 2023 sebesar 0,33 persen dan tingkat inflasi year to date (y-to-d) April 2023 sebesar 1,01 persen.

 

  • Tingkat inflasi y-on-y komponen inti April 2023 sebesar 2,83 persen, inflasi m-to-msebesar 0,25 persen, dan inflasi y-to-d sebesar 0,88 persen.

JAKARTA, MoneyTalk – Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2023 meningkat dari 3,88 miliar dolar AS pada Januari 2023 menjadi 5,48 miliar dolar AS.

Bank Indonesia memandang perkembangan ini positif bagi upaya untuk terus menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia. Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna semakin meningkatkan ketahanan eksternal dan mendukung pemulihan ekonomi nasional.

Surplus neraca perdagangan Februari 2023 utamanya didorong berlanjutnya surplus neraca perdagangan nonmigas. Neraca perdagangan nonmigas tercatat surplus 6,70 miliar dolar AS didukung oleh tetap kuatnya kinerja ekspor nonmigas sebesar 20,21 miliar dolar AS.

Ekspor nonmigas yang tetap kuat terutama bersumber dari peningkatan ekspor produk manufaktur seperti mesin dan perlengkapan elektrik, dan ekspor berbagai produk kimia. Kenaikan ekspor nonmigas juga tercatat pada komoditas berbasis sumber daya alam, seperti CPO, timah, serta besi dan baja, seiring harga komoditas global yang masih tinggi.

Berdasarkan negara tujuan, ekspor nonmigas ke Tiongkok, Amerika Serikat, dan Jepang tetap tinggi dan menjadi kontributor utama terhadap total ekspor Indonesia.

Selain ekspor nonmigas, surplus neraca perdagangan juga dipengaruhi sedikit menurunnya defisit neraca perdagangan migas dari 1,42 miliar dolar AS pada Januari 2023 menjadi 1,22 miliar dolar AS pada Februari 2023.[MT]

JAKARTA, MoneyTalk – Inflasi Februari 2023 menurun dibandingkan inflasi bulan sebelumnya. Berdasarkan data Badan Pusat Statisitk (BPS), inflasi IHK pada Februari 2023 menurun dari 0,34% (mtm) pada bulan sebelumnya menjadi 0,16% (mtm), terutama didorong oleh penurunan inflasi kelompok inti dan volatile food.

Perkembangan ini tidak terlepas dari pengaruh positif respons kebijakan moneter Bank Indonesia serta sinergi erat pengendalian inflasi antara Bank Indonesia dan Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, dan mitra strategis lainnya melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID) serta Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) di berbagai daerah.

Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan tetap terkendali sebesar 5,47% (yoy), meskipun sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang mencapai 5,28% (yoy). Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi inti tetap berada dalam kisaran 3,0±1% pada semester I 2023 dan inflasi IHK kembali ke dalam sasaran 3,0±1% pada semester II 2023.

Bank Indonesia akan terus memperkuat pengendalian inflasi, termasuk melalui koordinasi dengan Pemerintah guna memastikan berlanjutnya penurunan inflasi, termasuk pada periode Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN).

Inflasi inti Februari 2023 menurun. Inflasi inti tercatat sebesar 0,13% (mtm), menurun dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya sebesar 0,33% (mtm).

Penurunan inflasi inti sejalan dengan normalisasi pola musiman awal tahun, khususnya dari komoditas kelompok perumahan. Secara tahunan, inflasi inti Februari 2023 tercatat sebesar 3,09% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya sebesar 3,27% (yoy).

Inflasi kelompok volatile foods juga menurun dibandingkan dengan perkembangan bulan sebelumnya. Kelompok volatile foods mencatat inflasi sebesar 0,28% (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 1,40% (mtm).

Perkembangan tersebut terutama disumbang oleh komoditas daging ayam ras, telur ayam ras, dan cabai rawit. Namun demikian, kelompok volatile foods secara tahunan mengalami inflasi 7,62% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi bulan sebelumnya yang sebesar 5,71% (yoy).

Kelompok administered prices mencatat inflasi sebesar 0,14% (mtm), meningkat dari realisasi bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,55% (mtm). Perkembangan ini terutama disumbang oleh peningkatan harga rokok kretek filter dan rokok putih akibat kenaikan cukai tembakau.

Peningkatan inflasi kelompok administered prices lebih lanjut tertahan oleh deflasi tarif angkutan udara seiring dengan penurunan harga avtur. Secara tahunan, komponen administered prices tercatat inflasi sebesar 12,24% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan inflasi pada bulan sebelumnya yang sebesar 12,28% (yoy).[MT]