2 November 2026

Era Prabowo

MoneyTalk.id,Jakarta – Aktivis 98 Jayadi Santoso menilai kondisi ekonomi Indonesia semakin memburuk pada era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ia menyoroti tekanan daya beli masyarakat yang dinilai semakin berat, aktivitas perdagangan yang lesu, hingga kekhawatiran terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan kondisi pasar saham.

Menurut Jayadi, persoalan ekonomi tidak cukup dilihat dari angka pertumbuhan ekonomi atau berbagai indikator makro.

“Kondisi nyata yang dirasakan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari juga harus menjadi ukuran penting untuk menilai keberhasilan kebijakan pemerintah,” ungkap Jayadi kepada wartawan, Selasa (27/10/2026).

Ia melihat semakin banyak masyarakat yang harus mengandalkan tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup. “Sebagian lainnya terpaksa berutang agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi,” paparnya.

Situasi tersebut, menurut Jayadi, menjadi sinyal yang perlu diperhatikan secara serius. Ketika pendapatan tidak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari, masyarakat akan kehilangan ruang untuk menabung, berinvestasi, maupun meningkatkan kualitas hidup.

Jayadi juga menyoroti kondisi pelaku usaha kecil dan pedagang yang menghadapi persoalan sepinya pembeli.

“Aktivitas perdagangan yang tidak seramai sebelumnya dapat menekan omzet, mengurangi keuntungan, dan membuat keberlangsungan usaha semakin sulit,” tegasnya.

Bagi pedagang kecil, persoalan tersebut bukan hanya soal keuntungan yang menurun. Mereka tetap harus membayar berbagai kebutuhan operasional, memenuhi kebutuhan keluarga, serta mempertahankan usaha di tengah ketidakpastian pendapatan.

Jika kondisi ini berlangsung lama, kemampuan pedagang untuk mengembangkan usaha akan semakin terbatas. Bahkan, sebagian pelaku usaha berpotensi menggunakan simpanan pribadi atau mencari pinjaman untuk menutup kebutuhan operasional.

Jayadi menilai kondisi masyarakat di lapangan perlu mendapatkan perhatian pemerintah. Sebab, perputaran ekonomi sangat bergantung pada kemampuan masyarakat untuk berbelanja dan aktivitas pelaku usaha dalam menjual barang maupun jasa.

“Ketika masyarakat menahan pengeluaran karena pendapatan terbatas, pedagang kehilangan pembeli. Sebaliknya, ketika perdagangan melambat, pendapatan pelaku usaha ikut tertekan. Rantai persoalan ini dapat memperberat kondisi ekonomi rumah tangga dan usaha kecil,” ungkapnya.

Selain persoalan daya beli, Jayadi menyoroti pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dinilainya semakin mengkhawatirkan. Ia juga menyinggung kondisi bursa saham sebagai bagian dari gambaran tekanan ekonomi yang perlu dicermati.

Pergerakan rupiah memiliki arti penting bagi perekonomian Indonesia, terutama karena sejumlah kebutuhan industri masih bergantung pada barang dan bahan baku impor.

“Pelemahan rupiah yang berkepanjangan dapat meningkatkan biaya impor dan berpotensi menambah tekanan terhadap harga barang,” tegasnya.

Sementara itu, pergerakan bursa saham mencerminkan perubahan penilaian investor terhadap prospek perusahaan dan kondisi pasar. Namun, pergerakan saham tidak dengan sendirinya menggambarkan seluruh kondisi ekonomi masyarakat, sehingga perlu dibaca bersama indikator lain.

Bagi Jayadi, berbagai persoalan tersebut perlu dilihat secara menyeluruh.

“Pemerintah tidak cukup hanya memperhatikan stabilitas pasar keuangan, tetapi juga harus memastikan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat tetap berjalan dan kebutuhan dasar rumah tangga dapat terpenuhi,” pungkas Jayadi.

MoneyTalk.id,Jakarta – Pernyataan Ketua Umum Projo Budi Arie Setiadi mengenai kemungkinan terjadinya percepatan Pemilu sebelum 2029 terus menuai polemik. Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo, H. Kurniawan, bahkan menyebut Budi Arie berpotensi dipanggil aparat penegak hukum dan kemungkinan besar menjadi tersangka.

Kurniawan menilai pernyataan Budi Arie mengenai kemungkinan terjadinya pergantian kepemimpinan sebelum waktunya tidak bisa dilepaskan dari situasi politik nasional, terlebih pernyataan tersebut muncul hanya beberapa hari menjelang aksi demonstrasi 27 Agustus 2026.

“Pak Prabowo selama ini kan sangat menghormati Pak Jokowi mantan presiden sebelumnya. Kenapa balasan dari seorang Budi Arie justru mempersiapkan pergantian pemimpin, mempercepat pergantian pemimpin sebelum tahun 2029?” kata Kurniawan di channel YouTube Obor Rakyat Reborn, Kamis (10/9/2026).

Menurut dia, waktu penyampaian pernyataan Budi Arie menjadi salah satu hal yang patut dipertanyakan. Sebab, pernyataan mengenai kemungkinan percepatan Pemilu tersebut muncul di tengah meningkatnya tensi politik menjelang aksi 27 Agustus.

“Apalagi disampaikan itu tiga hari sebelum aksi demo tanggal 27 Agustus kemarin. Berarti diam-diam kalian sudah mempersiapkan sesuatu,” ujarnya.

Kurniawan kemudian mengaitkan pernyataan tersebut dengan dinamika demonstrasi yang terjadi pada 27 Agustus 2026. Ia menilai ada pihak-pihak tertentu yang ingin memanfaatkan aksi massa untuk mengguncang pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Sebelumnya, Kurniawan juga menyatakan bahwa pernyataan Budi Arie mengenai “percepatan sejarah” memiliki hubungan dengan kerusuhan 27 Agustus. Ia mempertanyakan mengapa pembicaraan mengenai percepatan pergantian kepemimpinan muncul begitu dekat dengan agenda demonstrasi tersebut.

Bagi Kurniawan, persoalan tersebut tidak boleh dibiarkan menjadi spekulasi politik semata. Ia menegaskan bahwa pemerintahan Prabowo harus menunjukkan bahwa tidak ada pihak yang kebal hukum.

“Saya akan buktikan bahwa di era Prabowo tidak ada orang kebal hukum,” tegasnya.

Kurniawan bahkan menyebut terdapat pasal yang menurutnya dapat digunakan untuk menjerat Budi Arie apabila aparat penegak hukum menemukan unsur pidana dari pernyataan maupun tindakan yang dipersoalkan.

“Pasal yang diterapkan itu ada dua, Pasal 193 dan 246. Pasal 193 ini makar dengan ancaman 12 tahun dan Pasal 246 penghasutan,” kata Kurniawan.

Ia memperkirakan proses hukum terhadap Budi Arie akan segera bergerak.

“Budi Arie dalam hitungan waktu, berapa waktu ke depan, akan dipanggil dan kemungkinan besar jadi tersangka,” ujarnya.

Sementara itu, Budi Arie sebelumnya telah memberikan klarifikasi atas polemik pernyataannya. Pada 26 Agustus 2026, ia menyampaikan permohonan maaf dan menegaskan bahwa pembicaraan mengenai kemungkinan percepatan Pemilu merupakan analisis pribadinya. Budi Arie juga menyatakan pernyataan tersebut tidak berkaitan dengan Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

“Saya siap bertanggung jawab dan menerima segala konsekuensi karena analisa dan pernyataan saya tersebut,” kata Budi Arie dalam klarifikasinya.

Budi Arie juga menegaskan bahwa pernyataannya tidak mewakili Jokowi. Sementara pihak relawan Jokowi yang hadir dalam pertemuan tersebut menyebut pembicaraan dengan Jokowi tidak membahas upaya mengganti pemerintahan Prabowo-Gibran dan menegaskan dukungan terhadap pemerintahan hingga 2029.

Meski demikian, bagi Gerakan Cinta Prabowo, klarifikasi tersebut belum otomatis menghapus pertanyaan mengenai timing pernyataan Budi Arie.

Kurniawan menilai aparat penegak hukum perlu menguji seluruh rangkaian informasi secara objektif, termasuk apakah terdapat hubungan antara pernyataan mengenai percepatan kepemimpinan, dinamika politik menjelang 27 Agustus, serta pihak-pihak yang berada di balik berbagai gerakan politik tersebut.

Jika nantinya ditemukan unsur pidana dan bukti yang cukup, menurut Kurniawan, siapa pun yang terlibat harus diproses tanpa melihat posisi maupun kedekatan politiknya.

“Di era Prabowo tidak boleh ada orang kebal hukum,” tandasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Menteri Keuangan RI,Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan hasil pertemuannya dengan Presiden Prabowo Subianto terkait perkembangan pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) bersama DPR. Menurutnya, hingga saat ini angka-angka dalam rancangan anggaran masih bersifat dinamis karena masih dalam tahap diskusi.

“Kami melaporkan progres diskusi anggaran dengan DPR. Angka-angka masih dibahas, jadi belum final. Presiden meminta agar kita melaporkan perkembangannya,” ujar Purbaya di Istana Negara, Kamis (11/09).

Parbaya menegaskan bahwa fokus pemerintah adalah memastikan sistem penyaluran anggaran berjalan efektif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi. Ia menjelaskan skema baru pengelolaan kas negara yang diarahkan agar dana tidak mengendap di instrumen keuangan pasif, tetapi benar-benar mengalir ke sektor riil.

“Jadi uang tidak boleh hanya diserap untuk dibelikan SUN. Kita ingin sistem berjalan agar bank punya likuiditas cukup, dan pada akhirnya lebih banyak menyalurkan kredit ke masyarakat. Itu akan menggerakkan ekonomi,” jelasnya.

Menurut Purbaya, ruang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih terbuka lebar tanpa memicu inflasi. Ia menilai pertumbuhan di bawah 5 persen masih jauh dari level yang bisa menimbulkan demand pull inflation.

“Sejak krisis, kita belum pernah tumbuh 6,5%. Jadi masih ada ruang untuk menambah stimulus agar ekonomi tumbuh lebih cepat tanpa risiko inflasi yang besar,” ujarnya.

Terkait munculnya badan-badan baru, termasuk otorita laut maupun lembaga di bawah kementerian lain, Purbaya memastikan kebutuhan anggarannya sudah diakomodasi. “Tambahan tidak terlalu besar. Fokus utama kita justru pada dana transfer ke daerah, apakah ada tambahan atau tidak. Itu yang masih dihitung bersama DPR,” katanya.

Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan melakukan pemotongan anggaran, melainkan lebih cenderung pada kebijakan fiskal yang ekspansif dan pro-pertumbuhan. “Kita dorong agar penyerapan anggaran lebih baik dan manajemen kas lebih rapi, supaya tidak mengganggu likuiditas sistem keuangan kita,” tegasnya.

Sementara terkait usulan kalangan buruh untuk menaikkan batas Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), Parbaya mengatakan hal itu belum dibahas secara detail. “Kalau ada masukan akan dipelajari. Tapi belum ada laporan lengkap ke saya. Nanti kita lihat dalam pembahasan lebih lanjut,” ujarnya.

Purbaya menutup dengan menekankan bahwa semua keputusan akhir akan ditentukan bersama DPR. “Semuanya masih dalam diskusi dengan parlemen. Jadi belum ada yang final,” tandasnya.