6 November 2026

Erick Thohir

MoneyTalk,id, Jakarta – Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu, mengunggah pernyataan yang menyinggung dinamika politik di sekitar pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Dalam unggahan pada 29 Juni 2026, Said Didu menulis:

“Tanda-tanda ucapan Dr. Conny bahwa Pak @prabowo hanya diberikan waktu berkuasa oleh Geng SOP hanya 2 tahun makin terlihat.”

“Pernyataan Said Didu tersebut merujuk pada pernyataan pengamat militer Connie Rahakundini Bakrie yang sempat viral menjelang Pilpres 2024. Saat itu Connie menyebut adanya informasi bahwa Prabowo Subianto direncanakan hanya menjabat sekitar dua tahun sebelum posisinya dilanjutkan oleh Gibran Rakabuming Raka. Klaim tersebut kemudian dibantah oleh Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Prabowo-Gibran saat itu, Rosan Roeslani, yang menegaskan tidak pernah menyampaikan skenario sebagaimana disebutkan Connie.

Unggahan tersebut kemudian mendapat beragam tanggapan dari warganet. Salah satunya datang dari akun Masta#### yang berkomentar:

“Ada 7 orang Jokowi ada di dalam kabinet Prabowo seperti Pratikno, Tito Karnavian, Luhut Binsar Panjaitan, LisyoSigit, Agus Subiyanto, Erick Thohir, Bahlil Lahadalia”

“Perhatikan baik-baik, Selama 1,5 tahu ini mereka ‘sembunyi’ jarang tampil.”

“Jangan kaget jika sebentar lagi tiba-tiba mereka bermanuver”

“Gibran? Gimana? Sejak awal G hanya sbg Jaminan DownPayment”

Pernyataan Said Didu maupun komentar akun tersebut merupakan opini dan pandangan pribadi yang disampaikan melalui media sosial. Hingga berita ini ditulis, tidak terdapat bukti yang dapat memverifikasi klaim mengenai adanya kelompok yang disebut “Geng SOP”, dugaan pembatasan masa kekuasaan Presiden Prabowo, maupun asumsi mengenai manuver politik sejumlah anggota kabinet sebagaimana disebutkan dalam unggahan tersebut.

Di sisi lain, Presiden Prabowo Subianto bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjalankan pemerintahan berdasarkan hasil Pemilu 2024 dan ketentuan konstitusi yang mengatur masa jabatan presiden selama lima tahun. Sejauh ini pemerintah juga belum menyampaikan pernyataan resmi yang mengonfirmasi adanya dinamika sebagaimana diklaim dalam unggahan tersebut.

Sementara itu, sejumlah menteri yang disebut dalam komentar warganet masih tercatat menjalankan tugas sesuai bidangnya masing-masing. Hingga kini belum ada pernyataan resmi dari pihak-pihak yang disebut mengenai tudingan atau spekulasi yang berkembang di media sosial tersebut. Dengan demikian, klaim dalam unggahan tersebut masih berada pada ranah opini politik yang belum dapat dibuktikan kebenarannya.

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Gerakan Perubahan dan Advisory Board of MSI, Muslim Arbi, menilai Presiden Prabowo Subianto akan mengalami hambatan besar dalam upaya pemberantasan korupsi dan penegakan hukum bila tidak segera melakukan perombakan besar-besaran terhadap pimpinan lembaga penegak hukum yakni Ketua KPK, Kapolri, dan Jaksa Agung.

Menurut Muslim, hingga kini penanganan kasus besar seperti proyek Kereta Cepat Whoosh menunjukkan lemahnya komitmen lembaga penegak hukum terhadap agenda bersih-bersih korupsi. “Presiden Prabowo akan kandas dalam memberantas korupsi jika tiga pucuk pimpinan lembaga hukum ini tidak diganti. Mereka bukan bagian dari solusi, tapi justru menjadi penghambat,” ujar Muslim dalam pernyataan tertulis di Surabaya, Kamis (30/10).

Muslim menilai proyek Whoosh merupakan simbol besar dari kegagalan rezim sebelumnya dalam menjaga keuangan negara. Ia mengingatkan bahwa proyek ini sejak awal sudah ditolak oleh sejumlah menteri kabinet Era Presiden Joko Widodo, termasuk Menteri Bappenas Andrinof Chaniago dan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, yang akhirnya dicopot dari jabatan mereka.

“Luhut Binsar Pandjaitan sendiri waktu itu menyebut proyek ini busuk, tapi belakangan justru cuci tangan. Ini proyek bermasalah yang sejak awal penuh mark up,” kata Muslim.

Ia mengutip pernyataan ekonom senior Anthony Budiawan yang menyebut kerugian negara akibat proyek tersebut mencapai Rp73,5 triliun, karena perubahan skema dari business to business menjadi government to government dengan China.

Menurut Muslim, skema itu adalah bentuk “pengkhianatan terhadap negara” karena menjebak Indonesia dalam beban finansial dan ketergantungan luar negeri.

Muslim juga mengkritik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di bawah kepemimpinan Setyo Budiyanto, yang menurutnya tidak menunjukkan keseriusan dalam mengusut kasus besar seperti proyek Whoosh maupun dugaan gratifikasi yang melibatkan keluarga mantan Presiden Jokowi.

“Setyo Budiyanto diangkat oleh Jokowi dengan melanggar aturan seleksi pimpinan KPK. Bagaimana mungkin KPK mau serius mengusut kejahatan yang melibatkan Jokowi, kalau pimpinannya berhutang budi?” tegas Muslim.

Ia menyinggung laporan Ubedillah Badrun terkait dugaan gratifikasi dan pembelian saham oleh Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep, yang hingga kini tidak ada kejelasan. “Kasus ini terang di mata publik, tapi mandek di KPK. Ini bukti bahwa lembaga antirasuah itu lumpuh,” tambahnya.

Lebih lanjut, Muslim menyoroti kinerja Kejaksaan Agung yang dianggap lamban mengeksekusi putusan pengadilan terhadap Silvester Matutina, meski kasusnya sudah inkrah.

“Jaksa Agung belum melaksanakan eksekusi, padahal publik dan massa sudah berkali-kali mendesak. Ini mencederai penegakan hukum di era Prabowo,” ujarnya. Ia juga menyinggung sejumlah kasus lain seperti dugaan korupsi BBM oplosan dan keterlibatan Erick Thohir, yang hingga kini tidak ada perkembangan berarti.

Menurut Muslim, pencopotan Erick Thohir dari jabatan Menteri BUMN bisa saja berkaitan dengan persoalan dugaan korupsi di sektor yang ia pimpin, termasuk penjualan saham GoTo milik Telkom.

Selain itu, Muslim menilai Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga perlu diganti karena gagal melakukan reformasi Polri. Ia menyoroti turunnya langsung Presiden Prabowo dalam kegiatan pemusnahan barang bukti narkoba.

“Kenapa soal pembakaran barang bukti saja Presiden harus turun tangan? Itu tanda ada ketidakpercayaan terhadap Kapolri,” ungkap Muslim.

Ia juga mempertanyakan mengapa Presiden Prabowo membiarkan Kapolri yang dianggap tidak sejalan dengan visi reformasi kepolisian. “Kalau dibiarkan, itu bisa menggerus wibawa Presiden. Reformasi Polri tak akan jalan jika pimpinannya tidak loyal terhadap arah kebijakan kepala negara,” katanya.

Muslim mengingatkan kembali janji Prabowo yang pernah mengatakan akan mengejar koruptor sampai ke Antartika. Namun, menurutnya, tanpa pergantian pimpinan lembaga hukum, janji itu hanya akan menjadi slogan kosong.

“Kalau tidak segera diganti Ketua KPK, Kapolri, dan Jaksa Agung, pernyataan Prabowo itu hanyalah omong kosong belaka. Publik akan menganggapnya retorika tanpa bukti,” ujarnya.

Muslim menutup pernyataannya dengan menyerukan agar Presiden Prabowo segera melakukan langkah tegas demi menjaga wibawa dan kepercayaan publik.

“Rakyat ingin Presiden yang berwibawa, bukan yang jadi olok-olok bawahannya. Jangan biarkan lembaga penegak hukum menjadi bumper kepentingan Jokowi dan kroninya. Saatnya reformasi hukum dimulai dari pucuk pimpinan,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Indonesia baru saja kehilangan sesuatu yang lebih besar dari sekadar tiket Piala Dunia: kepercayaan publik terhadap janji perubahan.

Dan di balik reruntuhan harapan itu, berdirilah nama-nama yang sejak awal begitu percaya diri menebar mimpi: Erick Thohir, Arya Sinulingga, dan para Exco PSSI.

Di bawah bendera reformasi sepak bola, mereka menjual optimisme, bukan strategi. Patrick Kluivert diboyong dengan gembar-gembor sebagai ikon kebangkitan, dan Arya Sinulingga menyebutnya “tim kepelatihan terbaik yang pernah dimiliki Indonesia.”

Kini, delapan pertandingan kemudian, “yang terbaik” itu justru menyisakan statistik getir dan ruang ganti yang dingin.

Publik tak marah karena kalah. Publik marah karena dibohongi harapan.

Sejak awal, asisten pelatih Alex Pastoor sudah berkata jujur bahwa target lolos ke Piala Dunia 2026 adalah “tidak realistis.” Tetapi, PSSI tetap memilih hidup di alam ilusi, menunggangi euforia suporter yang lapar prestasi.

Mereka tahu mimpi itu mustahil, tetapi mereka tetap menjualnya  lengkap dengan jargon kebangsaan dan baliho kemenangan yang belum pernah ada.

Itu bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan bentuk penipuan moral terhadap 200 juta rakyat yang mencintai sepak bola.

Dan ketika semua berantakan, jalan keluar yang mereka pilih adalah klasik: memecat pelatih, menghapus jejak salah urus, dan kembali bersembunyi di balik pernyataan “kita evaluasi.”

Tidak satu pun yang berani mengatakan dua kata paling sederhana dalam kamus integritas: “Saya mundur.”

Federasi sepak bola adalah lembaga kepercayaan publik, bukan panggung politik atau etalase gengsi internasional.

Maka, ketika kegagalan datang akibat kebijakan yang mereka buat sendiri, Erick Thohir dan gerombolannya di PSSI seharusnya tahu diri.

Mundur bukan aib, tapi penghormatan terakhir pada akal sehat bangsa yang sudah terlalu sering disuguhi janji tanpa hasil.

Sepak bola Indonesia butuh pemimpin yang mau bertanggung jawab, bukan yang pandai berpose di depan kamera sambil menyebut “kita sedang berproses.”

Rakyat sudah cukup sabar menunggu proses itu sejak tahun 1930.Kini saatnya berhenti menjual mimpi. Beri jalan bagi generasi yang berani bekerja  bukan sekadar berbicara.

Penulis ; Agung Nugroho, Pemaen Bola Kampung

MoneyTalk, Jakarta  – Banyak masyarakat atau netizen mencecar dan mengkritik di berbagai platform sosial media Ketua Umum PSSI Erick Thohir, akibat gagalnya Timnas Sepakbola Indonesia gagal tembus Piala Dunia 2026. Para penggemar sepakbola menyerang Menpora ini usai menyampaikan permintaan maaf.

Bayu Angga Samekto selaku Pengemar Timnas Indonesia yang juga Wakil Ketua Erick Thohir Mania (ETM), Selasa (14/10/2025) di Jakarta, malah sebaliknya membela Erick Thohir. Menurutnya, walaupun Indonesia harus mengubur mimpinya usai kalah 0-1 dari Irak di laga kedua grup B round 4, Indonesia sudah berhasil naik kelas di tingkat internasional

“Tidak perlu kecewa dengan Timnas Indonesia atau Ketua Umum PSSI Erick Thohir. Sebab capaian bisa tembus round 4 kualifikasi Piala Dunia 2026 sudah berprestasi. Dimana sebelum-sebelumnya Indonesia tidak pernah lolos kualifikasi babak pertama,” ucap Bayu sapaan akrabnya.

Kata Bayu, Timnas Indonesia juga sangat cukup maksimal di bawah kepemimpinan Erick Thohir selaku nahkoda PSSI sejak 2022. Bahkan Bayu memberikan apresiasi yang tinggi terhadap Erick Thohir melakukan naturalisasi dengan proses yang benar.

“Lewat tangan Erick Thohir kita menghadirkan pola sepakbola kelas dunia dengan sistem pengelolaan sepak bola nasional yang profesional. Bahkan manajemen PSSI cukup transparan dan terbuka. Apalagi Erick Thohir memiliki visi besar sepakbola Indonesia dengan salah satunya program naturalisasi,” jelas Bayu.

Lanjutnya, kedepan kita terus dukung Erick Thohir memimpin PSSI dan melakukan terobosan-terobosan maju dalam sepakbola. Langkah-langkah strategis PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir akan menciptakan perubahan tata kelola kompetisi, peningkatan kualitas infrastruktur, serta implementasi sistem pembinaan dari dini sampai dewasa.

“Kita dukung terus Erick Thohir memimpin PSSI sampai periode selanjutnya, bahkan kalau perlu dua periode. Sosok Erick Thohir  mampu memposisikan PSSI sebagai lembaga pengelola sepak bola yang memilki instrumen pembangunan sosial berkelanjutan,” tegas Bayu.

Terkait ocehan nitizen bahwa Shin Tae-yong  (STY) lebih baik dari Patrick Kluivert adalah bagian dari rasa kekecewaan. Hal ini tidak menjadi masalah, sebab semua pelatih ada kelebihan dan kekurangan masing-masing.

“STY dan Patrick Kluivert sama-sama berjasa bagi Timnas Sepakbola Indonesia. Keduanya punya gaya dan cara masing-masing sebagai pelatih. Terkait pergantian pelatih dan evaluasi tim diserahkan kepada Tim Exco PSSI nantinya,” pungkas Bayu

Mensesneg Minta Masyarakat Terus Mencintai Timnas Indonesia 

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) meminta masyarakat tidak lelah untuk terus mencintai tim nasional (Timnas) sepakbola Indonesia. Hal tersebut disampaikan usai Timnas Indonesia kalah dari Arab Saudi dan Irak, sehingga dipastikan gagal berlaga pada Piala Dunia 2026 di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko

“Kita evaluasi, kita perbaiki lagi, jangan patah semangat, terus jangan pernah lelah untuk mencintai Timnas Indonesia kita,” ujar Prasetyo di depan kediaman Presiden Prabowo Subianto, Jakarta, Minggu (12/10/2025). Baca juga: Kecewa Timnas Gagal ke Piala Dunia 2026, Komisi X: Harus Jadi Pembelajaran Kendati demikian, ia memuji permainan Timnas Indonesia saat menghadapi Irak. Namun hasil belum berpihak kepada Jay Idzes dan kawan-kawan.

Meski hasil pada putaran keempat Kualifikasi Piala Dunia 2026 kurang memuaskan, ia mengatakan bahwa evaluasi pasti akan dilakukan.

“Tadi malam mainnya luar biasa bagus sebenarnya tapi memang mungkin nasib belum berpihak. Kita coba lagi,” ujar Prasetyo.

MoneyTalk, Jakarta – Keputusan Ketua Umum PSSI Erick Thohir mengangkat Patrick Kluivert sebagai pelatih Timnas Indonesia menuai kritik tajam dari Ketua Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), Sarman El Hakim. Ia meminta Presiden Prabowo Subianto turun tangan melakukan investigasi terkait alasan di balik pengangkatan mantan bintang Belanda tersebut.

Menurut Sarman, keputusan Erick Thohir menunjuk Patrick Kluivert menggantikan Shin Tae-yong dinilai tergesa-gesa dan tidak mempertimbangkan rekam jejak sang pelatih.

“Apa alasan Erick Thohir dengan seenaknya mengangkat Patrick Kluivert sebagai pelatih Timnas Indonesia menggantikan Shin Tae-yong? Publik bola Indonesia sudah tahu, Kluivert pernah tersangkut kasus hukum yang cukup serius pada tahun 2017,” ujar Sarman El Hakim dalam keterangannya, Sabtu (11/10/2025).

Sarman menyoroti kasus yang pernah menimpa Kluivert saat dirinya menjabat sebagai Direktur Olahraga Paris Saint-Germain (PSG). Kala itu, Kluivert disebut-sebut memiliki utang judi mencapai lebih dari 1 juta euro atau sekitar Rp16,8 miliar dan menjadi korban pemerasan geng kriminal di Belanda.

“Bagaimana mungkin sosok dengan latar belakang seperti itu dipercaya menangani Timnas Indonesia? Ini jelas mencoreng profesionalisme dan integritas pengelolaan sepak bola nasional,” tegas Sarman.

Lebih lanjut, Sarman menilai kinerja Kluivert bersama Timnas Indonesia sejauh ini belum memberikan hasil yang memuaskan. Dalam enam pertandingan yang sudah dijalani, baik resmi maupun uji coba, Timnas Garuda hanya mencatat tiga kali kemenangan, satu kali imbang, dan dua kali kalah.

“Gara-gara Patrick Kluivert jadi pelatih Timnas, Indonesia malah apes terus di babak kualifikasi Piala Dunia. Kita bahkan kalah telak 6-0 dari Jepang. Ini menunjukkan bahwa pengangkatan Kluivert tidak membawa dampak positif,” ungkapnya.

Oleh karena itu, MSBI mendesak Presiden Prabowo untuk segera melakukan investigasi terhadap keputusan Erick Thohir tersebut.

“Presiden harus tahu, pengangkatan Kluivert ini bukan hanya soal sepak bola, tetapi menyangkut nama baik bangsa di kancah internasional. Kami meminta agar langkah evaluasi menyeluruh dilakukan terhadap keputusan PSSI di bawah kepemimpinan Erick Thohir,” tutup Sarman El Hakim.

MoneyTalk, Jakarta – Mantan wartawan dan politikus Indonesia Akbar Faisal mengkritik Garuda Indonesia yang dinilainya berantakan disebabkan jadwal penerbangan dengan tujuan Makassar delay akibat kerusakan pesawat. Hal itu diunggah di media sosial X pada 30/9/2025.

“Kepada Saudara Dirut dan direksi @IndonesiaGaruda, wajar jika maskapai ini berantakan. Amatiran banget kalian ngurusnya. Jadwal GA616 sore ini tujuan Makassar yang seharusnya pukul 16.45 berubah menjadi 17.40 dan lalu delay lagi ke pukul 18.40 atas alasan kerusakan pesawat,” tulisnya

“Sebenarnya kalian cakap ngga sih ngurusin perusahaan ini? @erickthohir @bumn_idn @danantaraIDN @prabowo,” sambungnya.

Unggahan tersebut direspon Adhie Massardi jubir Presiden ke 5 Abdurrachman Wahid, masih di platform media sosial X pada 30/9/2025.

“ERICK THOHIR harus tanggungjawab penuh atas kehancuran semua BUMN,” ungkap Adhie Massardi.

“ET jadikan BUMN tempat mangkal dan menghidupi para BUZZERp perusak tata-sosial bangsa,” tandasnya

Lantas Adhie menyinggung soal Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dalam penanganan tindakan korupsi yang diantaranya kebangkrutan BUMN.

“Coba jika KPK-nya bukan para Termul niscaya ET sudah jadi terperiksa atas kebangkrutan BUMN Karya, salah satu contohnya..!!,” sebut Adhie.

Menurut Inilah.com pada 27/9/2025, Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira angkat bicara terkait penghapusan Kementerian Badan Usaha Milik negara (BUMN) dalam Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang perubahan keempat atas UU nomor 19 tahun 2003 tentang BUMN. Selanjutnya digantikan Badan Pengaturan (BP) BUMN.

Menurut Bhima, pembentukan BP BUMN sebagai pengganti kementerian, tidak akan menyelesaikan masalah. Ke depan, BP BUMN berisiko mengalami tumpang tindih kewenangan dengan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara).

Dia menyarankan agar BP BUMN dibubarkan saja. Selanjutnya, BPI Danantara mengelola seluruh BUMN. “Tumpang tindih dan pemborosan. sebaiknya memang dibubarkan saja Kementerian BUMN atau BP BUMN. Biar seluruh fungsi tata kelola BUMN, berada di Danantara. Termasuk pemilihan direksi dan komisaris, serta pengawasannya,” kata Bhima, Jakarta, Sabtu (27/9/2025).

Bhima mengatakan, sejak revisi UU BUMN 2025 berlaku, maka seluruh aset BUMN bukan lagi aset negara. “Jadi tangan negara hampir tidak ada kecuali bahas subsidi dan kompensasi bisa langsung ke Kementerian Keuangan dengan Danantara tanpa melalui Badan BUMN,” ucapnya.

Dia menyebut, keberadaan BP BUMN justru membuat rantai birokrasi semakin rumit alias tak efektif. “Khawatir pembentukan Badan Pengaturan BUMN justru menambah panjang birokrasi, menghambat gerak BUMN, dan menjadi sarang transaksi politik,” ucapnya.

Analisa Bhima boleh jadi, betul. Selama ini, keberadaan Kementerian BUMN acapkali gagal membuat perusahaan negara bisa mengeruk untung besar, atau berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Realitasnya, cukup banyak perusahaan pelat merah yang dirundung masalah. Mulai utang gede hingga korupsi. Ujung-ujungnya bukan menambah isi kas negara tapi justru merugikan keuangan negara,

Era menteri BUMN diabat Erick Thohir, cukup banyak BUMN yang dirundung masalah, bahkan dirusak kasus korupsi besar.

Sebut saja, korupsi di Pertamina (2018-2023) yang merugikan negara sekitar Rp 285 triliun, korupsi Jiwasraya (2020) yang merugikan negara Rp16,81 triliun, kasus Asabri merugikan negara Rp22,78 triliun. Atau korupsi Taspen (2024) merugikan negara sekitar Rp1 triliun.

Selain itu, kondisi keuangan sejumlah BUMN yang semakin megap-megap, karena harus menanggung utang jumbo. Misalnya, utang BUMN karya, totalnya mencapai Rp184 triliun di kuartal I-2025. Belum lagi, kasus korupsi yang membelit Waskita Karya, merugikan negara sekitar Rp2,5 triliun.

Atau kasus korupsi Kimia Farma (2025) yang merugikan negara sekitar Rp1,86 triliun dan korupsi Indofarma (2023) yang merugikan negara Rp371 milar.  Serta sejumlah proyek fiktif di PT Telkom pada 2025 yang berpotensi merugikan negara Rp431,7 miliar. (Yoss)

MoneyTalk, Jakarta – Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) tidak lagi memperoleh pendanaan dari pemerintah untuk ajang yang bersifat single event seperti Piala AFF dan Piala Asia. “PSSI sudah tidak lagi mendapatkan pendanaan dari pemerintah untuk ajang yang sifatnya single event. Contoh single event adalah Piala AFF dan Piala Asia,” ujar Erick, Rabu (24/9).

Pernyataan tersebut mendapat tanggapan keras dari Ketua Umum Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI), Sarman El Hakim. Ia menilai Erick Thohir tidak transparan dan meminta agar publik tidak disesatkan. “Erick Thohir jangan suka bohong kepada publik. Itu fasilitas kendaraan yang dipakai sebagai Menpora adalah milik pemerintah Indonesia, bukan milik PSSI,” tegas Sarman, Rabu (24/9/2025).

Lebih lanjut, Sarman menyoroti potensi konflik kepentingan karena Erick Thohir memegang dua jabatan strategis sekaligus. “Makanya Erick Thohir itu harus memilih jabatan Menpora atau tetap menjadi Ketum PSSI agar tidak terjadi konflik kepentingan, atau tidak membajak fasilitas negara seperti memakai mobil dinas pemerintah,” ungkapnya.

Sarman juga mengingatkan risiko yang lebih besar bila Erick tetap menggabungkan dua posisi tersebut. “Yang berbahaya itu adalah kalau dua-duanya dia pilih, bisa-bisa rahasia negara kita dia laporkan ke FIFA, karena Erick Thohir sebagai Ketum PSSI semua lapornya harus ke FIFA, dan atasan PSSI adalah FIFA,” pungkasnya.

Sebelumnya, Erick Thohir mengaku telah mendapatkan lampu hijau dari FIFA untuk tetap menjabat sebagai Ketua Umum PSSI meski kini juga memegang posisi sebagai Menpora.

MoneyTalk,Jakarta – Perombakan kabinet merah putih jilid II yang diumumkan Presiden Prabowo Subianto menjadi sorotan besar publik, netizen, hingga lingkar elite politik nasional. Sejumlah pos strategis mengalami pergeseran, termasuk kursi Menko Polhukam yang kini ditempati Jamari Chaniago, menggantikan pejabat lama.

Menurut Mardigu Wowiek dalam kanal YouTube-nya (23/09), langkah ini bukan sekadar rotasi biasa, melainkan penegasan arah konsolidasi politik baru. Penunjukan Jamari Chaniago yang dikenal memiliki reputasi kuat di bidang intelijen dan operasi strategis, dinilai sebagai langkah tepat menghadapi tantangan geopolitik dan ancaman cyber.

“Prabowo butuh figur yang punya kecakapan analitik dan jejaring intelijen mumpuni. Ini sinyal bahwa presiden ingin memperkuat koordinasi politik dan keamanan,” ujar Mardigu.

Perubahan ini semakin kentara dengan pencopotan Hasan Hasbi, Kepala PCO yang kerap dikaitkan dengan lingkaran Geng Solo kelompok politik yang disebut-sebut berpengaruh pada era Jokowi.

Mardigu menilai, langkah ini merupakan pesan simbolis: Prabowo ingin mengurangi pengaruh kelompok lama dan memberi ruang keseimbangan baru.

Namun, sejumlah nama kontroversial justru masih dipertahankan dalam kabinet. Netizen ramai mempertanyakan mengapa Erick Thohir, Tito Karnavian, dan Kapolri Listyo Sigit masih bertahan.

Erick Thohir dianggap meninggalkan jejak buruk di BUMN, mulai dari tumpukan utang, bancakan proyek IKN, hingga dugaan kedekatan dengan oligarki.

Tito Karnavian dikritik karena kebijakan transfer pulau dari Aceh ke Sumut yang memicu kemarahan rakyat Aceh.

Kapolri Listyo Sigit dipandang terlalu loyal pada Jokowi, dengan rekam jejak kasus Sambo, perang bintang di Polri, hingga dugaan bisnis tambang dan narkoba.

“Selama Sigit masih bercokol, bayangan Jokowi di tubuh Polri akan terus ada. Bagaimana mungkin Prabowo bisa benar-benar mandiri?” tegas Mardigu, mengutip komentar yang ramai di sosial media.

Bom Waktu Dalam Kabinet

Mardigu mengingatkan, mempertahankan figur-figur warisan Jokowi bisa menjadi “bom waktu” bagi pemerintahan Prabowo. Cepat atau lambat, bom tersebut akan meledak jika tidak segera dinetralisir.

“Presiden mungkin punya pertimbangan politik, menimbang keseimbangan kekuasaan. Tapi publik juga berhak mengingatkan, bom waktu tidak bisa selamanya dibiarkan. Reformasi sejati hanya bisa berjalan jika keberanian menyingkirkan beban lama benar-benar diwujudkan,” kata Mardigu.

Ia menutup dengan optimisme bahwa rakyat masih percaya Prabowo mampu mengambil keputusan berani.

“Rakyat yakin Prabowo bisa. Peace.”

MoneyTalk, Jakarta – Pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) yang digadang-gadang sebagai super holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) menuai sorotan tajam. Ekonom Konstitusi Defiyan Cori menilai kehadiran BPI Danantara meninggalkan persoalan serius terkait konflik konstitusi dan kewenangan pengelolaan BUMN.

Sorotan ini semakin menguat setelah terjadinya perombakan kabinet pada 17 September 2025, di mana Erick Thohir yang semula menjabat Menteri BUMN digeser menjadi Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora). “Pertanyaannya, lalu siapa yang berhak menjalankan kewenangan RUPS dan program strategis sebab keputusan tertinggi sesuai Pasal 14 menyatakan bahwa Menteri BUMN bertindak selaku RUPS. Apakah ini tidak akan berkonsekuensi hukum konstitusi pada pengurus BPI Danantara?” ujar Defiyan dalam keterangan tertulisnya, Jumat (19/9/2026).

Menurut Defiyan, kekosongan jabatan Menteri BUMN menimbulkan persoalan hukum. Pasalnya, Undang-Undang No. 1 Tahun 2025 yang merupakan revisi UU No. 19 Tahun 2003 tentang BUMN, masih memberikan dasar hukum kuat bagi Kementerian BUMN dibandingkan BPI Danantara. Sementara itu, BPI Danantara terus melakukan aksi korporasi, termasuk memanfaatkan laba yang dikumpulkan dari berbagai BUMN.

Defiyan menegaskan, Pasal 6 UU BUMN menyatakan pengawasan BUMN dilakukan oleh Komisaris dan Dewan Pengawas. Pasal ini mewajibkan kedua organ tersebut menjaga kepentingan perusahaan, mematuhi anggaran dasar dan peraturan perundang-undangan, serta melarang Direksi, Komisaris, dan Dewan Pengawas mengambil keuntungan pribadi. “Artinya, segala alat kelengkapan organisasi dan manajemen telah diatur oleh UU BUMN yang mana Danantara adalah bagiannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, ia mempertanyakan dasar kewenangan BPI Danantara dalam melakukan aksi korporasi tanpa keterlibatan Menteri BUMN yang bertindak sebagai RUPS. “Tidakkah sebaiknya Presiden RI Prabowo Subianto mengambil langkah konstitusional sesuai kewenangannya untuk memperbaiki konstruksi hukumnya, misalnya dengan mengganti nama UU atau menerbitkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu)?” pungkas Defiyan.

MoneyTalk, Jakarta – Masyarakat Sepak Bola Indonesia (MSBI) menilai peluang Indonesia untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034 masih terbuka lebar. Ketua MSBI, Sarman El Hakim, mengingatkan kembali adanya surat komitmen yang pernah ditandatangani pasangan calon presiden Prabowo Subianto–Hatta Rajasa pada 1 Juni 2014. Surat tersebut berisi dukungan penuh untuk mewujudkan Indonesia sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 2022, dan diharapkan menjadi pengingat bagi Presiden Prabowo saat ini untuk terus memperjuangkan peluang Indonesia di tahun 2034.

Sarman menjelaskan bahwa surat komitmen Prabowo–Hatta sempat dibawa ke kantor FIFA, namun ditolak karena kala itu FIFA menghendaki jaminan dari Presiden yang menjabat, yakni Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). “Indonesia masih punya kesempatan untuk menggeser Arab Saudi agar menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034,” ujarnya, Selasa (16/9/2025).

Menurut Sarman, kunci utama agar peluang ini terwujud adalah dukungan resmi pemerintah melalui surat jaminan dari Presiden Prabowo kepada FIFA. MSBI bahkan menyatakan siap membantu proses lobi dan membuka pintu komunikasi dengan FIFA bila pemerintah menunjukkan keseriusan.

Namun Sarman menyoroti peran Ketua Umum PSSI Erick Thohir, yang dianggap sebagai penyebab berulangnya kegagalan Indonesia dalam meraih status tuan rumah. Ia menyinggung adanya surat jaminan dari Presiden Joko Widodo pada 2017 yang tidak ditindaklanjuti PSSI. “Biang kerok Indonesia selalu gagal menjadi tuan rumah Piala Dunia adalah Erick Thohir,” kata Sarman.

Ia menilai, bila pemerintah benar-benar ingin mendorong Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia 2034, maka perlu langkah tegas termasuk evaluasi kepemimpinan PSSI. “Kalau Presiden Prabowo ingin berjuang mewujudkan Indonesia jadi tuan rumah Piala Dunia 2034, sebaiknya Erick Thohir harus diberhentikan dari jabatan Ketua Umum PSSI maupun Menteri BUMN,” tutup Sarman.