2 November 2026

PRAMONO-RANO

MoneyTalk, Jakarta – Penanganan banjir di Ibu Kota kembali menjadi sorotan publik seiring tingginya curah hujan yang mengguyur Jakarta dalam beberapa waktu terakhir. Di tengah kekhawatiran warga terhadap potensi banjir berulang, apresiasi justru datang dari kalangan masyarakat sipil. Aktivis Muhammadiyah Jakarta, Farid Idris, menilai kepemimpinan Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno menunjukkan kinerja yang cukup baik dalam menangani persoalan banjir.

Menurut Farid, langkah-langkah yang dilakukan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta selama ini memperlihatkan adanya perubahan pola penanganan yang lebih sigap dan terkoordinasi, terutama saat banjir mulai menggenangi sejumlah wilayah rawan.

“Beberapa daerah yang terdampak banjir bisa diantisipasi dengan cepat. Respon pemerintah daerah sekarang terlihat lebih siap, tidak seperti sebelumnya yang sering terkesan lamban,” kata Farid dalam keterangannya, Selasa (13/1/2026).

Farid menjelaskan, salah satu indikator positif dari kepemimpinan Pramono–Rano adalah kecepatan respon aparatur di lapangan. Saat hujan dengan intensitas tinggi mengguyur Jakarta, petugas dari dinas terkait dinilai segera bergerak untuk memastikan saluran air berfungsi, pompa aktif, serta evakuasi warga berjalan apabila diperlukan.

Ia menilai, koordinasi antardinas dan dengan pemerintah wilayah seperti kelurahan dan kecamatan kini lebih terasa. Hal tersebut berpengaruh langsung terhadap percepatan penanganan genangan, terutama di wilayah padat penduduk.

“Memang banjir belum bisa dihilangkan sepenuhnya, tetapi yang paling penting adalah bagaimana dampaknya bisa ditekan. Dari yang saya amati, penanganan genangan sekarang relatif lebih cepat surut,” ujarnya.

Farid juga menyoroti langkah-langkah antisipatif yang dilakukan Pemprov DKI Jakarta, seperti pengerukan sungai dan saluran air, perawatan pompa, serta kesiapsiagaan petugas sejak awal musim hujan. Menurutnya, kebijakan ini menunjukkan adanya kesadaran bahwa banjir tidak bisa ditangani secara reaktif semata.

“Pengerukan dan perawatan saluran air harus dilakukan secara konsisten, bukan hanya saat banjir datang. Ini yang tampaknya mulai diperhatikan oleh kepemimpinan Pramono–Rano,” kata Farid.

Ia menilai, keberlanjutan program normalisasi sungai dan pengendalian air menjadi faktor penting dalam mengurangi potensi banjir, terutama di kawasan yang selama ini menjadi langganan genangan.

Meski memberikan apresiasi, Farid menegaskan bahwa tantangan penanganan banjir di Jakarta masih sangat besar. Kondisi geografis Jakarta yang berada di dataran rendah, ditambah dengan perubahan iklim yang menyebabkan curah hujan ekstrem, membuat banjir menjadi persoalan struktural yang tidak mudah diselesaikan.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami bahwa banjir bukan hanya tanggung jawab pemerintah daerah, tetapi juga membutuhkan kesadaran bersama, termasuk dalam menjaga lingkungan dan tidak membuang sampah sembarangan.

“Pemerintah sudah bergerak, tapi masyarakat juga harus berperan. Kalau saluran air tersumbat sampah, sebaik apa pun sistemnya tetap akan bermasalah,” ujarnya.

Farid berharap, penilaian positif ini bisa menjadi dorongan bagi Pemprov DKI Jakarta untuk terus memperbaiki sistem penanganan banjir secara berkelanjutan. Ia juga mendorong adanya transparansi data dan keterlibatan masyarakat sipil dalam proses evaluasi kebijakan pengendalian banjir.

“Kami berharap kinerja yang sudah cukup baik ini tidak berhenti di respons cepat saja, tetapi juga berlanjut pada solusi jangka panjang yang benar-benar menurunkan risiko banjir di Jakarta,” pungkasnya.

MoneyTalk,Jakarta – Perolehan suara Pramono Rano hanya mencapai 50,07%. Ini berarti hanya memperoleh 50% ditambah 3.000 suara. Angka ini tidak signifikan dan bahkan cukup riskan, karena tambahan 3.000 suara tersebut setara dengan hasil dari 10 tempat pemungutan suara (TPS) saja.

Dengan demikian, mudah bagi tim Ridwan Kamil (RK) untuk mengidentifikasi kecurangan yang mungkin dilakukan oleh Pramono Rano. Hal ini disebabkan oleh reputasi partai yang mengusungnya yang tidak pernah bagus dalam setiap Pemilu sebelumnya, Kata Politisi Senior Partai Hanura,Inas N Zubir

Jika bukti-bukti kecurangan tersebut berhasil dikumpulkan, maka akan mudah bagi Mahkamah Konstitusi (MK) untuk memutuskan bahwa Pilkada DKI harus dilaksanakan dalam dua putaran, lanjut Inas N Zubir

Keputusan ini demi menjamin keadilan bagi semua peserta dan memberikan kesempatan kepada masyarakat Jakarta untuk memilih ulang calon pemimpinnya.

Pemilihan ini perlu dilakukan dengan pikiran yang jernih, agar warga tidak salah memilih calon Gubernur Jakarta yang memiliki wakil bermasalah ex Gubernur Banten, Pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Tulisan ini adalah kali kedua saya membahas Pilkada Jakarta dengan posisi tetap netral alias tidak berpihak kepada calon mana pun. Dalam artikel ini, saya akan mengulas peluang Pilkada Jakarta 2024 berlangsung dalam satu putaran atau dua putaran.

Kompetisi pemilihan kepala daerah atau Pilkada tinggal 7 hari lagi, tepatnya pada 27 November 2024. Berdasarkan analisis saya, kecil kemungkinan salah satu pasangan calon mampu meraih kemenangan satu putaran atau mendapatkan 50 persen plus 1 atau 51 persen suara.

Saat ini, persaingan dalam Pilkada Jakarta semakin ketat. Pasangan nomor urut 3, Pramono Anung dan Rano Karno, semakin populer setelah mendapat dukungan dari mantan Gubernur Jakarta sekaligus calon presiden, Anies Rasyid Baswedan.

Sementara itu, pasangan nomor urut 1, Ridwan Kamil atau RK dan Suswono (RIDO), juga terus bergerak agresif dengan dukungan dari 13 partai Koalisi KIM PLUS, termasuk mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Koalisi ini dimotori oleh Partai Gerindra, di mana Ketua Umumnya, Prabowo Subianto, saat ini menjabat sebagai Presiden RI.

Pasangan nomor urut 2, Dharma Pongrekun dan Kun Wardana, yang maju melalui jalur independen, terlihat sulit untuk bersaing dengan dua pasangan calon dari partai politik besar.

Pengaruh Pilpres 2024 terhadap Pilkada Jakarta

Hasil Pilkada Jakarta tak lepas dari bayang-bayang Pilpres Februari 2024. Berdasarkan Berita Acara dan Sertifikat Hasil Penghitungan Suara Tingkat KPU Provinsi DKI Jakarta, mencata hasil suara di Jakarta.

Hasil Pilpres tersebut menunjukkan bahwa pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (nomor urut 1) memperoleh 41% atau 2.653.762 suara. Pasangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka (nomor urut 2) unggul tipis dengan 41,67% atau 2.692.011 suara. Sementara itu, pasangan Ganjar Pranowo-Mahfud MD (nomor urut 3) meraih 17,26% atau 1.115.138 suara.

Merujuk pada hasil tersebut, pasangan Pramono Anung-Rano Karno memiliki peluang untuk memenangkan Pilkada Jakarta dalam satu putaran, terutama dengan potensi dukungan dari pendukung Anies Baswedan. Namun, situasi politik tidaklah sesederhana itu. Pasangan RIDO (Ridwan Kamil-Suswono) mendapat dukungan penuh dari Koalisi KIM PLUS, yang terdiri dari partai-partai besar seperti PKS, PKB, dan Nasdem—yang sebelumnya merupakan pendukung Anies Baswedan pada Pilpres.

Konstelasi tersebut menunjukkan bahwa dukungan politik dalam Pilkada dapat bergeser dengan cepat, sehingga hasil Pilpres tidak selalu menjadi patokan mutlak. Pertarungan antar-koalisi, kepentingan partai, dan daya tarik masing-masing pasangan calon akan menjadi faktor penentu dalam hasil akhir Pilkada.

Hasil Survei Elektabilitas Pasangan Calon: Pilkada Jakarta Berpotensi Dua Putaran

Lima lembaga survei nasional baru-baru ini merilis hasil elektabilitas pasangan calon yang bertarung dalam Pilkada Jakarta 2024. Berdasarkan data dari kelima survei tersebut, persaingan antar pasangan calon menunjukkan peluang besar terjadinya dua putaran. Berikut hasil survei dari masing-masing lembaga tersebut.

Pertama, berdasarkan hasil survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) yang dilakukan pada 31 Oktober–9 November 2024 dengan melibatkan 1.210 responden, pasangan Pramono Anung-Rano Karno mendapatkan dukungan sebesar 46%, diikuti oleh pasangan Ridwan Kamil-Suswono dengan 39,1%, dan pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana dengan 5,1%.

Kedua, hasil survei Litbang Kompas yang dilakukan pada 20–25 Oktober 2024 dengan melibatkan 1.200 responden menunjukkan bahwa pasangan Pramono Anung-Rano Karno memperoleh dukungan sebesar 38,3%, diikuti oleh pasangan Ridwan Kamil-Suswono dengan 34,6%, dan pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana sebesar 3,3%.

Ketiga, berdasarkan hasil survei dari Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang melibatkan 1.200 responden, pasangan Pramono Anung-Rano Karno meraih dukungan sebesar 41,6%, diikuti oleh pasangan Ridwan Kamil-Suswono dengan 37,4%, dan pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana sebesar 6,6%.

Keempat, hasil survei Poltracking yang dilakukan pada 10–16 Oktober 2024 dengan melibatkan 2.000 responden menunjukkan bahwa pasangan Ridwan Kamil-Suswono memperoleh dukungan sebesar 54,8%, diikuti oleh pasangan Pramono Anung-Rano Karno dengan 32,9%, dan pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardana sebesar 4,1%.

Yang kelima, hasil survei Parameter Politik Indonesia (PPI) yang dilakukan pada 21–25 Oktober 2024 dengan melibatkan 1.200 responden menunjukkan bahwa pasangan Ridwan Kamil-Suswono memperoleh dukungan sebesar 47,8%, diikuti oleh pasangan Pramono Anung-Rano Karno dengan 38%, sementara pasangan Dharma Pongrekun-Kun Wardanahanya meraih 4,3%.

Dari hasil survei tersebut, mayoritas menunjukkan bahwa tidak ada pasangan calon yang mampu menembus angka 51% secara konsisten, kecuali hasil Poltracking yang menunjukkan elektabilitas Ridwan Kamil di angka 54,8%. Namun, hasil mayoritas survei mengindikasikan bahwa Pilkada Jakarta akan berlangsung dalam dua putaran.

Berdasarkan uraian di atas, saya memprediksi bahwa Pilkada Jakarta 2024 kemungkinan besar akan berlangsung dalam dua putaran. Putaran kedua akan menjadi ajang pertarungan hidup atau mati antara pasangan nomor urut 1, Ridwan Kamil-Suswono, dan pasangan nomor urut 3, Pramono Anung-Rano Karno.

Meski demikian, peluang Pilkada Jakarta selesai dalam satu putaran tetap ada, namun kecenderungannya lebih kuat bahwa Pilkada Jakarta akan berlangsung dua putaran. Selanjutnya, siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Saya tidak ingin berspekulasi tanpa kajian mendalam. Dengan demikian, pemenang Pilkada Jakarta bisa Ridwan Kamil-Suswono (RIDO) atau Pramono Anung-Rano Karno.

Wallahu a‘lam bish-shawab. Jakarta, Rabu, 20 November 2024 Wassalam

Penulis: Sugiyanto (SGY)-Emik

MoneyTalk, Jakarta – Juru bicara tim sukses Pramono Anung-Rano Karno, Chiko Hakim, dalam sebuah dialog spesial di iNews TV pada Selasa (12/11/2024), dengan tegas menyatakan bahwa tim pemenangan Pramono-Rano akan membawa Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Menkop) Budi Arie ke ranah hukum.

Pernyataan ini muncul setelah Budi Arie menuduh tim pemenangan mereka terlibat dalam mafia judi online (judol) yang beroperasi di Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Chiko menegaskan bahwa tuduhan tersebut adalah fitnah dan sangat merugikan nama baik tim pemenangan Pramono-Rano.

Dalam acara yang dipandu oleh Aiman Witjaksono itu, Chiko Hakim menjelaskan bahwa pernyataan Budi Arie tentang keterlibatan tim mereka dalam praktik mafia judi online sama sekali tidak benar.

“Ini adalah tuduhan yang sangat tidak berdasar, yang kami anggap sebagai fitnah,” ujar Chiko.

Sebagai bukti, Chiko menyatakan bahwa seluruh nama tim yang terlibat dalam pemenangan Pramono-Rano dapat diperiksa melalui Komisi Pemilihan Umum (KPU), di mana data tersebut bersifat transparan. Ia menekankan bahwa tim mereka tidak pernah terlibat dalam aktivitas yang dituduhkan oleh Budi Arie.

Chiko lebih lanjut menjelaskan, mereka telah mengeluarkan pernyataan klarifikasi sejak dua hari sebelum acara tersebut. Namun, menurut Chiko, Budi Arie tetap mempertahankan pernyataannya yang mengaitkan tim Pramono-Rano dengan mafia judi online.

Menanggapi hal ini, Chiko mengungkapkan timnya sudah mengirimkan somasi terbuka kepada Budi Arie, yang memberi waktu tiga hari bagi sang menteri untuk meminta maaf secara publik. Jika somasi tersebut diabaikan, tim Pramono-Rano tidak akan ragu untuk membawa Budi Arie ke jalur hukum, baik perdata maupun pidana.

Menurut Chiko, langkah hukum yang dimaksud mencakup gugatan perdata dan pidana atas tuduhan yang dilontarkan oleh Budi Arie.

“Kami akan membawa masalah ini ke jalur hukum. Kami sudah mempertimbangkan untuk melaporkan Budi Arie atas pernyataannya yang merugikan,” tegas Chiko.

Dalam hal ini, Chiko juga menyebutkan beberapa pasal yang dapat digunakan dalam hukum pidana dan perdata, termasuk Undang-Undang ITE (Informasi dan Transaksi Elektronik) Pasal 27 dan Pasal 45 Ayat 4, serta Pasal 1365 KUH Perdata yang berkaitan dengan perbuatan melawan hukum.

Tuduhan ini muncul di tengah panasnya dinamika politik jelang Pilkada Jakarta 2024. Chiko mengingatkan bahwa dalam konteks Pilkada, berbagai pihak sering kali mencari celah untuk menjatuhkan lawan politik mereka. Hal ini terlihat jelas dengan munculnya tuduhan terhadap tim pemenangan Pramono-Rano. Menurut Chiko, meski ada foto-foto yang beredar memperlihatkan seorang individu dengan inisial “T” yang diduga terkait dengan mafia judi online, tidak berarti individu tersebut adalah bagian dari tim mereka.

Chiko juga menegaskan bahwa mereka tidak kenal dengan “T”, yang bahkan belum pernah terlibat langsung dalam kampanye Pramono-Rano. Ia juga menambahkan bahwa foto-foto yang menunjukkan sosok ini bersama sejumlah tokoh politik, termasuk Ridwan Kamil dan Presiden Joko Widodo, tidak bisa dijadikan bukti keterlibatan dalam kegiatan ilegal.

“Berkumpul dengan orang bukan berarti kita terlibat dalam tindak pidana mereka,” ujar Chiko, menyebut bahwa hal ini perlu dipahami dengan bijaksana.

Sebagai langkah konkret, Chiko memastikan timnya sudah mengambil langkah hukum dengan mengirimkan somasi. Jika dalam waktu tiga hari ke depan Budi Arie tidak meminta maaf secara publik, maka tim Pramono-Rano akan melanjutkan dengan melaporkan Budi Arie ke pihak berwajib.

Selain itu, Chiko juga menyoroti kebijakan Menteri Komunikasi dan Informatika yang dianggapnya tidak konsisten dalam menangani situs judi online. Ia mencatat, penutupan situs judi online di bawah kepemimpinan Budi Arie berbeda penanganannya dengan penutupan situs-situs porno, yang menurutnya lebih tegas.

“Ini perlu dipertanyakan. Kenapa perbedaan perlakuan ini ada?” kata Chiko, menambahkan bahwa hal ini seharusnya menjadi perhatian publik.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Isu judi online kembali mencuat ke permukaan setelah pernyataan dari Menteri Koperasi dan UKM, Budi Arie Setiadi. Pada Kamis (14/11) Budi Arie menyebut sosok berinisial ‘T’ yang diduga menjadi pengendali jaringan judi online di Indonesia.

Pernyataan ini menjadi sorotan karena Budi Arie menuding sosok ‘T’ tersebut adalah teman dekat Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, dan bagian dari tim sukses Pramono Rano pada Pilkada Jakarta. Namun, tuduhan ini langsung dibantah oleh Pramono Rano yang menegaskan ia tidak pernah mengenal sosok ‘T’ tersebut.

Seiring dengan mencuatnya isu ini, pihak kepolisian berhasil mengungkap jaringan judi online yang melibatkan 18 orang tersangka, termasuk 10 pegawai Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo). Penyelidikan ini merupakan bagian dari upaya Polri dalam menindak tegas aktivitas ilegal yang telah meresahkan masyarakat.

Tim Satgas Anti Judi (Satgas Asita) baru-baru ini menangkap lima selebgram asal Cimahi dan Bandung Barat yang terlibat dalam promosi situs judi online. Mereka berperan sebagai afiliator, mempromosikan situs tersebut melalui akun Instagram mereka. Para selebgram ini diketahui telah memperoleh keuntungan belasan juta rupiah dari kegiatan promosi tersebut. Bukti berupa unggahan di Instagram dan akun situs judi online diamankan sebagai barang bukti.

Modus yang digunakan cukup sederhana namun efektif, yakni melalui unggahan cerita (Instagram Story) dengan menyematkan tautan langsung menuju situs judi online. Setiap klik yang dihasilkan dari tautan tersebut memberikan keuntungan bagi para afiliator.

Dalam konferensi pers, Budi Arie Setiadi menyoroti peran sosok ‘T’ yang disebut-sebut sebagai pengendali judi online di Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi). Sosok ini diduga memiliki keterkaitan dengan aktivitas politik dan menjadi bagian dari tim pemenangan calon gubernur Pramono Rano dalam Pilkada Jakarta. Budi Arie mengklaim bahwa ‘T’ merupakan aktivis politik dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang juga terlibat sebagai tim konten media sosial PDIP.

Pernyataan ini menjadi polemik, terutama karena nama ‘T’ dikaitkan dengan lingkaran elite politik dan tim sukses capres-cawapres Ganjar-Mahfud. Lebih jauh, Budi Arie menyebut bahwa ‘T’ adalah teman dekat Menhub Budi Karya Sumadi dan memiliki pengaruh kuat di beberapa kementerian.

Merespons tuduhan tersebut, Pramono Rano, calon gubernur Jakarta nomor urut 3, secara tegas membantah adanya keterlibatan sosok ‘T’ dalam tim pemenangannya. Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan oleh tim hukumnya, Pramono mengaku tidak pernah mengenal atau bekerja sama dengan individu yang dimaksud oleh Budi Arie.

“Saya sama sekali tidak kenal sosok yang disebut ‘T’. Saya tidak pernah bertemu atau bekerja sama dengannya,” ujar Pramono Rano. Ia juga menegaskan bahwa tim pemenangannya selalu transparan dan terbuka terkait siapa saja yang terlibat. “Jika tuduhan ini tidak ditarik dalam tiga hari, kami akan menempuh jalur hukum,” lanjutnya.

Pramono Rano memberi waktu tiga hari kepada Budi Arie untuk menarik pernyataannya secara publik. Jika tidak, ia bersama tim hukum akan melaporkan Budi Arie atas tuduhan pencemaran nama baik. Langkah ini mencerminkan keseriusan tim Pramono untuk membersihkan nama baik mereka dari tuduhan yang dianggap tidak berdasar.

Di sisi lain, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa penyelidikan terhadap kasus judi online ini akan terus dikembangkan. “Siapapun yang terlibat, baik itu pejabat atau masyarakat sipil, akan diperiksa jika ditemukan bukti yang mengarah pada keterlibatan mereka,” tegas Kapolri.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Mendekati waktu pencoblosan dan berakhirnya masa kampanye di Pilkada Jakarta 2024 ini, trend elektabilitas para paslon yang ada semakin mengerucut kepada paslon yang bakal dipilih oleh rakyat Jakarta. Hal ini sesuai kutipan dalam rilis resmi yang dikeluarkan oleh Lembaga Kajian Politik Indonesia (LKPI) pada Kamis, (07/11/2024).

Hal ini tergambar dari Hasil survei LKPI telah dilakukan sejak 27 Oktober 2024 sampai dengan 5 November 2024. Dalam survei LKPI secara tatap muka terhadap 1.608 responden minimal berusia 17 tahun yang tersebar di enam Kota/kabupaten di Jakarta.

Pemilihan Responden dipilih secara acak menggunakan metode Multistage Random Sampling dari populasi Daftar Pemilih Tetap (DPT) Jakarta. Survei menggunakan Tingkat Kepercayaan 95% dan memiliki Margin of Error lebih kurang 2,44 %.

Hasil survei LKPI kali ini menunjukkan elektabilitas Paslon 03 Cagub-Cawagub Jakarta yakni Pramono Anung-Rano “Doel” Karno melebihi 50 Persen pada Pilkada DKI Jakarta.

Pasangan yang diusung PDI Perjuangan ini berhasil meraih dukungan responden secara signifikan baik secara trend sehingga membuat Pilkada Jakarta kemungkinan besar satu putaran. Demikian disampaikan oleh Direktur Eksekutif LKPI,Togu Lubis.

LKPI menjelaskan Bahwa temuan Survei melalui simulasi pertanyaan tertutup mengunakan Kuisioner dan Dummy Surat Suara. Paslon 03 Pramono Anung – Rano Karno Keterpilihannya mencapai hingga sebesar 52,1%, Angka ini merupakan batas psikologis dan batas aturan sebagai syarat memenangkan Pilkada Jakarta. Sedangkan Paslon 01 Ridwan Kamil – Suswono yang didukung oleh aliansi Parpol KIM Plus mendapatkan Angka Keterpilihan sebanyak 36,7%. Kemudian Paslon 02 Dharma Pongrekun – Kun Wardana dari calon Independen dapat Angka Keterpilihan sebanyak 6,1%. Dalam survei LKPI ini juga masih ada responden yang Belum/Tidak Memilih sebanyak 5,1%.

“Dalam Hal kedalaman respon memilih Dua Paslon terkuat yakni Paslon 01 dan 03, Hasil survei mendapatkan angka yang bervariatif dalam Tiga variable yakni: Kemantapan memilih, Potensi beralih hingga masih menunggu hasil debat Paslon.

Tiga variable diatas menurut Hasil Survei LKPI terhadap Paslon 03 Pramono Anung – Rano ‘Doel’ Karno Tingkat kemantapan responden memilih mereka ada diangka sebesar 86,1% yang menyatakan pemilih tetap loyal memilih pasangan Pramono Anung -Rano Karno hingga pada hari pemungutan suara, Potensi beralihnya pilihan responden terhadap Paslon 03 ini kepada Paslon lain ada diangka 8,1%. Sedangkan sebanyak 5,8% bergantung pada Hasil debat publik para Paslon yang diadakan oleh KPU,” ucap Togu.

Disandingkan variable yang sama terhadap Paslon 01 Ridwan Kamil – Suswono, Responden
sebanyak 77,2% menyatakan Tetap loyal akan memilih pasangan Ridwan Kamil – Suswono dan sebanyak 16,2% masih akan beralih pilihan kepada Paslon lainnya. Sedangkan 6,6% bergantung dengan Hasil debat yang diadakan KPU.

Terlepas dari survei yang terkait spesifik pada para Paslon, LKPI juga memotret beberapa pertimbangan yang menjadi dasar respon menentukan pilihan kepada jagoan Calon Gubernur Jakarta Nantinya.

Beberapa pertimbangan yang menjadi mayoritas variable memilih para Responden adalah; Pengalaman memimpin, Latar belakang pendidikan, Reputasi rekam jejak dan Bersih dari tindak pidana Korupsi.

Semua variable tersebut LKPI mendapatkan prosentase pertimbangan Bahwa ada sebanyak 28,2% responden memilih calonnya karena memiliki pengalaman memimpin Daerah/instansi pemerintah, Kemudian sebanyak 12,2% responden memilih berdasarkan Latar belakang Pendidikan. Lalu sebanyak 20,8% responden memilih karena para Paslon memiliki reputasi dan rekam jejak perjalanan karier mereka. Dan terakhir para responden sebanyak 38,8% memilih para Paslon karena bersih dari tindak pidana Korupsi.

Semua preferensi para responden dalam memilih para Paslon tersebut tergambar jelas dalam setiap debat publik terbuka yang diselenggarakan oleh KPU. Debat Pilkada Jakarta selalu menjadi perhatian para responden bahkan Rakyat Jakarta secara umum dalam menilai para calon pemimpin mereka dalam menentukan pilihan diwaktu pencoblosan pada 27 november 2024 yang akan datang.

LKPI menilai bahwa debat terbuka Paslon yang diadakan oleh KPU Jakarta ini akan menambah keyakinan Rakyat dan atau pemilih dalam menentukan calon pemimpin ideal Jakarta agar kehidupan warga Jakarta berubah lebih baik lagi.

Di tempat terpisah, Dedi Rohman, Pengamat politik ekonomi memberikan komentarnya terkait Hasil survei LKPI dalam pilkada Jakarta ini.

Dedi menjelaskan, ikatan emosional para responden dalam survei LKPI dan sosok Attitude yang ada dalam diri Paslon sangat menentukan rakyat Jakarta menentukan pemimpinnya.

“Terlihat bahwa rakyat Jakarta adalah pemilih cerdas selain kedekatan emosional yang dibangun para Paslon kepada pemilih, rakyat Jakarta juga memiliki pertimbangan rasional untuk menentukan pemimpin mereka,” ujarnya.

Lebih lanjut Dedi menerangkan, penampilan Ketiga pasangan Calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta secara terbuka menjadi penting bagi publik untuk menilai dan mempertebal keyakinan pada sosok yang di idealkan menjadi pemimpin yang akan dipilih nanti.

“Terlihat bahwa debat publik Pilkada Jakarta selalu dinantikan rakyat Jakarta dalam melihat sosok para Paslon yang berkompetisi ini, Tentu ini akan menjadi pertarungan rasional Ide-ide yang ada di para Paslon sehingga sampai lebih meyakinkan kepada pemilih di Jakarta,” tambahnya.

Dari Potret survei LKPI dan sisa masa kampanye ini, Tentu ini menjadi pekerjaan yang berat dari Paslon lain dalam mengejar angka elektabilitas Paslon 03 ini.

Dalam politik semua serba mungkin, Namun secara trend dari hasil survei LKPI ini tentu angka psikologis 51% yang telah didapatkan oleh Paslon 03 Pramono Anung – Rano ‘Doel’ Karno ini menjadi sebuah angin segar bagi kubu mereka.

Tetapi, tentunya aliansi Parpol KIM Plus akan menjadikan hasil ini sebagai sebuah tantangan guna lebih menarik simpati para pemilih,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Pelan namun pasti, dukungan perolehan suara untuk pasangan Cagub-Cawagub Jakarta Pramono Anung dan Rano Karno akan terus naik meninggalkan pasangan Ridwan Kamil (RK) dan Suswono, meskipun sebelumnya pasangan RK-Suswono ini selalu mendominasi perolehan suara hasil survei dari lembaga-lembaga survei yang terpercaya.

Mengapa hal itu bisa sampai terjadi? Ini karena pertama, situasi politik nasional sedikit mulai bergeser dari dominasi politik Presiden Jokowi menjadi bergeser ke Presiden Prabowo Subianto. Bagi Koalisi KIM Plus yang semula menginginkan Jakarta dipimpin oleh RK, mulai berubah pikiran dengan tidak terlalu habis-habisan lagi mendukung RK.

Bagi KIM Plus, RK yang sangat ambisius merupakan ancaman nyata untuk suksesi Pilpres 2029. Bila RK menang, dikhawatirkan RK akan semakin populer dan berpotensi menjadi kontestan Capres terkuat di 2029.

Memperkuat RK itu sama dengan mau melemahkan Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka. Selain itu, memperkuat RK berarti pula memperkuat Partai GOLKAR, dan memperkuat Partai GOLKAR berarti sama halnya akan melemahkan Partai GERINDRA, partainya Prabowo Subianto.

Karena itu, KIM Plus perlahan-lahan mundur secara teratur untuk tidak mau lagi mati-matian mendukung RK-Suswono. Malahan kalau bisa RK “dihabisi” saja di Jakarta, disaat Jawa Barat nantinya sudah akan dikuasai oleh Gubernur (sekarang masih Cagub) Dedi Mulyadi. Dengan strategi itu pula Partai GERINDRA berharap bisa naik lagi perolehan suaranya di PILEG 2029.

Kedua, situasi nasional saat ini juga sedikit mulai berubah. Prabowo Subianto yang awalnya sangat memerlukan dukungan dari Presiden Jokowi, sekarang sudah tidak terlalu Presiden Prabowo butuhkan lagi. Terlalu dekat dengan Jokowi, bagi Presiden Prabowo malah hanya akan menimbulkan persoalan baru, karena di era Presiden Jokowi terlalu banyak proyek-proyek raksasa yang akan meninggalkan banyak masalah.

Skandal-skandal korupsi di masa Pemerintahan Jokowi satu persatu mulai terungkap, tinggal “gong” nya saja, Jokowi dan keluarganya satu persatu akan berurusan dengan hukum. Bila Presiden Prabowo masih tetap “lengket” dengan Jokowi, Presiden Prabowo nantinya tidak hanya akan berurusan dengan hukum, melainkan pula berurusan dengan perlawanan rakyat.

Oleh karena itu, yang diperlukan oleh Presiden Prabowo saat ini adalah dukungan kuat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dukungan dari PDIP selain diperlukan untuk terwujudnya persatuan dan kedamaian nasional, juga untuk mendongkrak partisipasi rakyat dalam setiap kebijakan yang telah diputuskan oleh Presiden Prabowo.

Bicara tentang dukungan dari PDIP tidak akan terlepas dari figur atau sosok Ketua Umumnya, yakni Ibu Megawati Soekarnoputri. Beliau bukan hanya Ketum Partai Politik namun juga tokoh nasional yang memiliki riwayat perjuangan panjang perjalanan demokrasi di negeri ini.

Tanpa dukungan politik penuh dari Ibu Megawati dengan PDIP nya, waktu kekuasaan Prabowo akan berumur singkat. Ini bukan hanya karena hilangnya Demokrasi Partisipatoris dari rakyat, melainkan pula karena ancaman yang sangat nyata dari “gerilya politik” Jokowi dan Genk Solonya, yang akan segera mendaulat Gibran menjadi Presiden dengan sebelumnya melengserkan Presiden Prabowo melalui berbagai cara.

Nah, untuk menjembatani persatuan politik Prabowo-Megawati ini, yang paling tepat bukanlah RK melainkan Pramono Anung !. Karena itulah figur Pramono Anung akan lebih realistis untuk didukung oleh Presiden Prabowo daripada RK. Sedangkan partai-partai yang tergabung dalam KIM Plus selain GERINDRA, akan kembali seperti karakter aslinya; “cari makan” pada siapapun yang mau menyuapinya.

Ketiga, RK telah memiliki riwayat kegagalan panjang baik sebagai Walikota Bandung maupun ketika RK sebagai Gubernur Jawa Barat. Banyak dana APBD Kota Bandung dan Provinsi Jabar terbuang sia-sia, salah satunya Proyek Teras Cihampelas Kota Bandung yang sepi dan ditinggalkan para pengunjung dan pedagangnya, mesin Parkir Elektronik yang terbengkalai dll.

Selain itu RK juga dikenal temperamental, suka memarahi orang seenaknya, dan suka bicara melecehkan warga Jakarta. Jejak digitalnya sudah lama bergentayangan di Medsos dari waktu ke waktu. RK juga pernah beberapakali berurusan dengan hukum, yang proses kasusnya sudah tidak jelas lagi. Mungkin ini “berkat” kedekatannya dengan Jokowi yang masyhur sebagai “penyandera” kasus koruptor.

Tak hanya RK, Calon Wakil Gubernur Suswono yang mendampinginya juga sudah dicap sebagai Penista Agama. Baru-baru ini orang-orang Betawi sudah melaporkan Suswono ke Polisi gara-gara Suswono mengatakan Nabi Muhammad SAW itu pengangguran yang menikahi janda Siti Khadijah. Ini pernyataan yang sangat melukai perasaan dan keyakinan Ummat Islam, dimana Nabi Muhammad SAW itu sangat dimuliakan.

Pramono Anung-Rano Karno sekali lagi, perlahan namun pasti akan terus berjalan menuju kemenangan. Karena itu tak heran jika Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilis hasil surveinya yang dilakukan dari tgl. 10 hingga 17 Oktober 2024; Pramono Anung-Rano Karno 41.6 %, Ridwan Kamil-Suswono 37.4 %, sementara pasangan Dharma-Kun memperoleh 2.9 %.

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Pemerhati Politik

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat politik Adi Prayitno mengomentari strategi pasangan Pramono Anung dan Rano Karno yang menggandeng sejumlah artis sebagai bagian dari tim sukses mereka untuk pemilihan Gubernur DKI Jakarta.

Dalam tayangan Prime Time News di Metro TV, Jumat (06/09). Adi menyebutkan bahwa langkah ini tampak sebagai upaya untuk menggaet pemilih di Jakarta melalui popularitas para artis.

Menurut Adi Prayitno, langkah Pramono dan Rano Karno ini menunjukkan keyakinan bahwa menggandeng artis-artis populer seperti Cak Lontong, Once Mekel, dan beberapa figur publik lainnya akan mampu mengarahkan pengikut mereka untuk memberikan dukungan politik.

Harapannya adalah dengan popularitas mereka, para fans atau pengikut akan mendukung pasangan calon yang diusung, dan menekankan bahwa hal ini merupakan strategi komunikasi politik yang lebih mengedepankan pendekatan yang santai dan tidak konfrontatif,ujar Adi

Dan  strategi tersebut tidak selalu efektif. bahwa pemilih, khususnya di Jakarta, lebih cenderung memilih calon berdasarkan rekam jejak, visi, misi, dan komitmen politik yang jelas.

Kalau strategi menggandeng artis ini tidak bisa melahirkan kreativitas yang berdampak signifikan, maka tidak akan berpengaruh pada elektabilitas secara keseluruhan,” tegas Adi

Peran Cak Lontong sebagai ketua tim sukses Pramono – Rano tidak pernah berkompetisi dalam politik elektoral atau tidak memiliki pengalaman sebagai pejabat publik, dan hal ini diragukan  memenangkan pertarungan. Jelas Adi.

Tapi keberadaan Cak Lontong tak lebih hanya mengedepankan Kampanye santai dan jenaka untuk menarik pemilih muda dan milenial di Jakarta,Jelas Adi.

Namun, efektivitas strategi ini masih perlu dibuktikan. Contoh kasus pemilihan sebelumnya di mana strategi menggandeng artis dan influencer tidak selalu berhasil mendongkrak elektabilitas pasangan calon.

Popularitas artis tidak bisa serta-merta ditransfer menjadi suara pemilih. Kerja-kerja penetrasi yang meyakinkan adalah kunci, dan yang harus dilakukan adalah langsung menyapa masyarakat di Jakarta,” tambah Adi

Selain itu, ada juga strategi Pramono – Rano dengan menonjolkan identitas lokal, khususnya etnis Betawi yang menjadi mayoritas di Jakarta. Misalnya, kehadiran Rano Karno sebagai sosok yang identik dengan budaya Betawi diharapkan mampu menarik pemilih etnis Betawi.

Mendatangi tempat syuting Si Doel, ini menunjukkan pesan politik untuk menegaskan bahwa Pramono dan Rano memiliki warna kebetawian,” paparnya.

Namun, Adi tetap skeptis terhadap dampak signifikan dari strategi ini. Dan menekankan bahwa yang paling penting adalah bagaimana Pramono dan Rano mampu meyakinkan para pemilih dengan program dan visi-misi yang jelas dan konkret.

Misalnya, kalau mereka berani membuat kontrak politik yang jelas, seperti menyelesaikan masalah banjir atau kemacetan dalam dua tahun, itu akan jauh lebih efektif,” ujar Adi.

Di akhir analisisnya, menekankan bahwa pasangan Pramono dan Rano perlu lebih banyak figur yang berpengalaman dalam politik untuk mengoptimalkan peluang mereka di Pilkada Jakarta.

Artis dan influencer saja tidak cukup. Mereka perlu melibatkan orang-orang yang benar-benar memiliki pengalaman dan kredibilitas dalam politik untuk menarik pemilih,” pungkasnya.

Diskusi ini menunjukkan bahwa meski langkah menggandeng artis dianggap menarik, tantangan utama tetap ada pada bagaimana pasangan calon mampu menyampaikan gagasan dan komitmen politik yang relevan dengan harapan masyarakat Jakarta.(c@kra)