1 November 2026

sejarah Indonesia

MoneyTalk, Jakarta – Barang Milik Negara (BMN) memainkan peran penting sebagai simbol dan aset strategis bangsa Indonesia. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, dalam sebuah pertemuan yang diselenggarakan di Universitas Gadjah Mada (UGM) dan disiarkan oleh Kurnia FM pada Senin (07/10), mengupas tuntas tentang pentingnya pengelolaan BMN dalam mencerminkan peradaban bangsa.

Dalam diskusi tersebut, Sri Mulyani mengungkapkan bagaimana pengelolaan aset negara bisa menjadi penentu keberlanjutan serta kemajuan peradaban Indonesia.

Pentingnya BMN dalam Sejarah Indonesia

Sri Mulyani menyoroti bagaimana gedung-gedung bersejarah dan infrastruktur di Indonesia, seperti Kompleks Istana Negara, Gelora Bung Karno (GBK), dan kawasan Kemayoran, yang dulunya dibangun oleh Presiden Soekarno, kini merupakan bagian dari BMN. Namun, banyak dari aset-aset ini tidak didaftarkan atau dimiliki secara resmi oleh negara. Hal ini bisa menjadi masalah jika aset tersebut tiba-tiba diklaim oleh pihak lain.

Kisah nyata yang dibagikan oleh Sri Mulyani tentang Gedung Dendel yang dulu menjadi markas besar VOC, menjadi ilustrasi betapa pentingnya pencatatan dan pengelolaan aset-aset tersebut agar tidak hilang atau diambil alih pihak lain.

Definisi dan Konsep Barang Milik Negara

Dalam pemaparannya, Sri Mulyani menjelaskan bahwa BMN adalah seluruh barang yang dibeli atau diperoleh atas beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) atau melalui perolehan lainnya, seperti hibah.

Contohnya adalah pembangunan infrastruktur seperti jalan tol atau gedung kampus yang menggunakan dana APBN, yang setelah selesai dibangun akan dibukukan sebagai barang milik negara.

Sri Mulyani juga menekankan bahwa BMN merupakan bagian dari kekayaan negara yang lebih besar, yang mencakup seluruh aset baik hayati maupun non-hayati, bergerak maupun tidak bergerak.

Tantangan Pengelolaan Barang Milik Negara

Menkeu Sri Mulyani menggarisbawahi bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan BMN adalah kurangnya perhatian terhadap perawatan dan pemeliharaan aset-aset tersebut. Banyak infrastruktur yang dibangun dengan biaya besar namun tidak dirawat dengan baik sehingga cepat rusak.

Ia memberikan contoh jembatan dan bangunan yang kokoh pada zaman Belanda, yang masih bertahan hingga sekarang, berbanding terbalik dengan banyaknya infrastruktur modern yang cepat mengalami kerusakan akibat kurangnya perhatian terhadap kualitas dan pemeliharaan.

Sri Mulyani juga menyatakan bahwa dalam pengelolaan BMN, perlu ada nilai tambah atau bahkan menciptakan pendapatan bagi negara. Aset-aset negara seharusnya bisa dimanfaatkan tidak hanya untuk fungsi administratif, tetapi juga dapat disewakan atau digunakan untuk aktivitas yang menghasilkan pendapatan, seperti menyewakan ruang publik atau gedung pemerintahan untuk kegiatan tertentu.

BMN sebagai Cerminan Peradaban Bangsa

Menurut Sri Mulyani, BMN tidak hanya sekadar aset fisik, tetapi juga mencerminkan peradaban suatu bangsa. Cara sebuah negara merencanakan, membangun, dan merawat aset-asetnya mencerminkan karakter dan sikap dari bangsa tersebut. Pengelolaan BMN yang baik menunjukkan kemampuan bangsa untuk menjaga warisan yang dibangun dengan susah payah untuk diwariskan kepada generasi mendatang.

Sri Mulyani menyebutkan bahwa pengelolaan yang buruk terhadap BMN, seperti membiarkan aset-aset menjadi tidak produktif atau tidak menghasilkan nilai tambah, mencerminkan kurangnya rasa peduli terhadap nilai aset-aset tersebut. Oleh karena itu, beliau mengajak semua pihak, termasuk akademisi dan masyarakat luas, untuk turut berperan dalam menjaga dan mengoptimalkan penggunaan BMN.

Peranan Akademisi dalam Pengelolaan BMN

Menkeu Sri Mulyani juga menekankan pentingnya peran akademisi dalam pengelolaan BMN. Beliau berharap Universitas Gadjah Mada sebagai pusat pendidikan dapat membantu dalam membangun sikap dan karakter yang baik dalam pengelolaan negara, khususnya dalam hal BMN. Dengan peran serta akademisi, diharapkan akan terbentuk pemahaman yang lebih baik tentang pentingnya tata kelola yang transparan, efisien, dan bertanggung jawab.

Sri Mulyani menyatakan bahwa BMN tidak hanya merupakan bagian dari aset kekayaan negara, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai dan sikap bangsa Indonesia. Pengelolaan yang baik terhadap BMN menunjukkan komitmen bangsa dalam menjaga warisan serta memperlihatkan kemampuannya dalam perencanaan dan pembangunan. Dengan demikian, BMN tidak hanya sekadar aset fisik, melainkan juga simbol dari peradaban, nilai, dan kebijakan fiskal yang mencerminkan kemajuan dan keberlanjutan bangsa Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa BMN memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada sekadar aset negara. Dengan pemahaman dan pengelolaan yang tepat, BMN dapat menjadi landasan yang kokoh untuk membangun masa depan Indonesia yang lebih baik dan berkelanjutan.(c@kra)

Money Talk, Jakarta – Nilai sosial seseorang dalam kehidupan bermasyarakat diperoleh dari perilaku sosial dalam menjalankan norma sosial baik norma yang tertulis ataupun tidak tertulis seperti hukum adat yang berlaku. Itulah makanya Fufu Fafa selalu menjadi gunjingan dalam masyarakat karena ditengarai 99,99% mengerucut pada sosok calon orang nomor dua di republik ini.

Hukuman bagi seseorang yang melanggar norma biasanya diberikan masyarakat lebih kejam dari pelanggar hukum, baik berupa pengucilan ataupun pengusiran dari lingkungan sosial tertentu.

Saat ini psikologis Gibran sedang menjadi sorotan. Mau tidak mau, suka tidak suka, semua mata publik sedang tertuju pada pemilik akun fufu fafa…, yang katanya tanggal 20 Oktober akan dilantik sebagai RI 2.

Setelah beberapa waktu dihantam oleh terbongkarnya perilaku, kebiasaan, karakternya, bukan tak mustahil jika kejiwaan/ psikologinya harus diperiksa ulang. Jangan sampai negara ini menjadi semakin rusak akibat ketidakstabilan psikis pemangku jabatan. Apalagi RI 2 yang notabene akan Bersama-sama RI1 mengambil kebijakan untuk rakyat.

Indonesia saat ini sedang SOS. Darurat segala-galanya…, jangan sampai nasib bangsa, negara, anak bangsa, menjadi bulan-bulanan pemerintahan yang tidak sehat…

Sejatinya seorang wakil presiden sudah memenuhi segala kriteria untuk memangku jabatan penting. Teuji segalanya, punya integritas yang bagus, kwalitas yang mumpuni, jiwa yang sehat, pikiran yang jernih, dan emosi yang stabil…, serta tentunya AKHLAQ dan MORAL yang baik.

PR kita semua, sebagai anak bangsa, sebagai rakyat, untuk menilai kembali semuanya dari NOL.

Jangan serahkan pekerjaan kepada orang yang salah, karena jika itu terjadi maka kehancuranlah yang didapat.

Sahabat Ida Fillah & Lillah

Gibran akan selalu menjadi duri dalam daging untuk Republik ini, apalagi bagi Pak Prabowo dan keluarganya yang telah dihinakan lewat akun tersebut.

Jadi teringat pernyataan akademisi yang membidangi pertahanan nasional sebelum Pilpres yaitu Ibu Prof. Conny Bakrie, yang mengatakan Parbowo hanya akan diberi waktu dua tahun untuk menjadi presiden. Tentu saja bagi seorang ilmuwan sekaliber Bu Conny, bukan sekedar manuver, tetapi ada sumber yang akurat.

Politik memang kejam. Siapa yang tidak bisa mengendalikan bola liar akan jatuh tersungkur oleh kelicikan lawannya.

Itulah sebabnya tuntutan untuk membatalkan pelantikan Gibran gemuruh bak angin topan yang siap menghantam dinasti politik yang dibangun di atas pondasi rapuh yaitu pengkerdilan hukum yang dilakukan oleh para hakim yang berada di ketiak Penguasa Tiran.

Teruslah berjuang untuk tegaknya hukum di republik yang kita cintai.

Fufu fafa akan tertulis dalam sejarah Indonesia, bahwa ada seorang putra mahkota yang amoral melenggang menjadi pemimpin bangsa.

Harga diri bangsa HANCUR seketika. Jargon Indonesia adalah bangsa bagian timur yang dikenal dengan sopan-santun, ramah, penuh etika, bermoral… ternyata berbanding terbalik dengan fakta yang ada. Tercoreng dan hancur oleh seorang GIBRAN yang ber fufu fafa.

Pembuktian bahwa Jokowi sebagai orang tua, sebagai ayah, GAGAL TOTAL. Tak heran jika Indonesia hancur di tangannya, karena memimpin keluarga, mendidik anak pun gagal alias tidak berhasil.

Saya yakin bahwa Pak Prabowo lebih cinta pada rakyatnya daripada harus menutupi bau bangkai yang ditimbulkan oleh lingkaran Jokowi, perusak tatanan bernegara dan berbangsa selama satu dekade ini.

Rakyat menunggu BUKTI

Tetesan Tinta Ida 061024

Penulis: Id@.NKusdianti, Sekjend FTA

MoneyTalk, Jakarta – Ditayangkan di Kanal Bisniscom Chanel pada Kamis (26/09), Indonesia, sebuah negara dengan sejarah yang kaya, selalu menjadi daya tarik bagi Indonesianis dari seluruh dunia. Salah satu tokoh yang memiliki ketertarikan mendalam terhadap sejarah Indonesia adalah Heralt Van der Linde, seorang ahli strategi pasar dan penulis. Dalam perbincangan di Podcast “Broadcast” Bisnis Indonesia, ia membahas peran penting Kerajaan Majapahit dalam sejarah Indonesia serta nilai toleransi yang telah ada sejak masa itu.

“Saya selalu merasa bahwa untuk memahami Indonesia, kita perlu kembali ke bibit awal bangsa ini, yang mungkin bisa ditemukan di era Majapahit. Melalui sejarah, kita dapat mengajarkan generasi berikutnya bahwa toleransi sudah tertanam sejak dulu,” ujar Van der Linde, yang akrab disapa “Mas Heru” di kalangan teman-temannya di Indonesia.

Van der Linde telah menulis dua buku terkenal: Jakarta: History of a Misunderstood City yang diterbitkan pada tahun 2022, dan Majapahit Intrigue: Betrayal, and War in Indonesia’s Greatest Empire yang dirilis tahun ini. Dalam buku terbarunya, ia berusaha menggambarkan Kerajaan Majapahit sebagai titik awal pembentukan identitas Indonesia, terutama dalam aspek toleransi dan keberagaman.

Perjalanan Menemukan Majapahit, Heru pertama kali mengunjungi Indonesia sebagai seorang backpacker pada tahun 1990 dengan rencana tinggal hanya sebentar. Namun, akhirnya ia menetap selama lebih dari 10 tahun.

“Saya tiba di Bali dan mulai memahami Indonesia dari segi budaya, bahasa, dan sejarahnya,” kenangnya.

Di Pasar Minggu, Jakarta, ia bertemu dengan sebuah keluarga yang memperkenalkannya pada berbagai kisah sejarah, termasuk tentang Kerajaan Majapahit. Pengalaman ini memotivasinya untuk melakukan riset selama empat tahun tentang Majapahit, mengunjungi lebih dari 50 situs bersejarah di Jawa Timur. Meski mengalami cedera saat menuruni lereng gunung, Heru merasa pengorbanannya terbayar dengan penemuan penting seperti situs Pertempuran Bubat.

“Meski penuh tantangan, hasilnya sangat memuaskan,” ungkapnya.

Dalam bukunya, Heru menyoroti betapa penting Majapahit dalam membentuk dasar nilai-nilai toleransi dan keberagaman di Indonesia. Kerajaan ini merupakan tempat berbaurnya berbagai kelompok etnis dan agama, termasuk Hindu, Buddha, Islam, serta pengaruh dari India, Persia, dan Tiongkok.

“Toleransi ini sangat penting untuk perdagangan dan kehidupan sosial saat itu,” jelasnya.

Ia juga menekankan bahwa toleransi bukanlah konsep baru di Indonesia. Sejarah Majapahit memperlihatkan bagaimana masyarakat dapat hidup berdampingan meskipun memiliki keyakinan yang berbeda. Ini adalah pelajaran penting yang masih relevan hingga saat ini.

“Kita perlu mengingat bahwa toleransi adalah salah satu nilai paling berharga dalam membangun bangsa yang kuat dan bersatu,” tegasnya.

Mengajarkan Generasi Berikutnya, Heru berharap bahwa dengan mempelajari sejarah seperti Majapahit, generasi muda Indonesia dapat lebih menghargai nilai-nilai toleransi yang telah ada sejak dahulu.

“Saya berharap buku ini bisa menjadi jembatan bagi generasi muda untuk lebih memahami dan mencintai sejarah mereka sendiri serta menghargai keberagaman yang ada di Indonesia,” tutupnya.

Melalui Majapahit Intrigue, Heru Van der Linde membawa pembaca dalam sebuah perjalanan sejarah yang tidak hanya memperkaya pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga menawarkan refleksi penting untuk masa depan Indonesia.

Majapahit dan Toleransi, mengenai sejarah Majapahit, toleransi, dan pengaruhnya di Asia Tenggara ditayangkan di kanal bisnis.com. Heralt Van der Linde, seorang ekonom dan penggemar sejarah Indonesia, membahas Majapahit sebagai salah satu fondasi penting dalam memahami Indonesia. Menurutnya, sejarah Majapahit mengandung pelajaran berharga tentang toleransi yang telah diwariskan dari masa lalu.

Van der Linde menekankan bahwa untuk memahami Indonesia, perlu kembali ke era Majapahit. Ia menyoroti bahwa selain menjadi kerajaan besar, Majapahit juga merupakan pusat perdagangan maritim di Asia Tenggara, menghubungkan India dan Tiongkok. Melalui jaringan perdagangan rempah-rempah, Majapahit menjadi kaya dan dihormati. Posisi Indonesia yang strategis membuat Majapahit berperan sebagai pusat ekonomi sekaligus spiritual pada zamannya.

Namun, setelah kematian Gajah Mada, pengaruh Majapahit mulai menurun. Beberapa kerajaan lain, seperti di Sumatra, mencoba menjalin hubungan dagang langsung dengan Tiongkok. Van der Linde mencatat bahwa meski kekuatan armada laut Majapahit pernah menjaga supremasi perdagangan ini, akhirnya kekuatan Majapahit melemah.

Selain aspek ekonomi, Van der Linde menekankan pentingnya toleransi dalam sejarah Majapahit. Ia berharap nilai-nilai toleransi yang telah diwariskan Majapahit dapat terus dipertahankan di Indonesia modern. Menurutnya, toleransi merupakan salah satu aspek yang membuat Indonesia unik dan perlu terus ditekankan, terutama kepada generasi muda.

Harapan dan Penelitian Masa Depan, dalam buku terbarunya yang terdiri dari lebih dari 400 halaman, Heru ingin memperkenalkan sejarah Indonesia dengan cara yang mudah dipahami oleh publik. Ia berharap karyanya dapat meningkatkan minat baca masyarakat terhadap sejarah Indonesia.

“Buku ini tidak hanya bersifat akademis, tetapi juga menghibur dan menarik untuk dibaca,” jelasnya.

Heru juga berencana melanjutkan penelitiannya dengan menulis buku tentang Sriwijaya. Meskipun ia mengakui bahwa meneliti Sriwijaya lebih menantang karena minimnya sumber tertulis, ia tetap bersemangat untuk menggali lebih dalam tentang kerajaan besar lainnya di Asia Tenggara ini.

Van der Linde juga menyoroti rendahnya minat baca di Indonesia, yang menurutnya juga terjadi di beberapa negara Asia Tenggara lainnya. Ia meyakini bahwa salah satu cara untuk meningkatkan minat baca adalah dengan menyediakan buku-buku sejarah yang lebih menarik dan mudah dipahami.

“Dengan demikian, masyarakat dapat lebih antusias dalam mempelajari sejarah mereka sendiri,” pungkasnya.(c@kra)