7 November 2026

Soekarno-Hatta Institute

MoneyTalk.id,Jakarta – Gelombang kemarahan masyarakat terhadap berbagai persoalan bangsa dinilai belum mampu menjelma menjadi kekuatan politik besar seperti gerakan Reformasi 1998. Meski kritik terhadap pemerintah semakin ramai di media sosial, ketidakpuasan publik belum terkonsolidasi menjadi gerakan bersama yang mampu menekan kekuasaan.

Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, M. Hatta Taliwang, menilai Indonesia saat ini bukan kekurangan rakyat yang marah. Persoalannya justru terletak pada semakin terpecahnya masyarakat, lemahnya organisasi gerakan, serta tidak adanya agenda bersama yang mampu menyatukan berbagai kelompok.

Dalam catatan pemikirannya berjudul Rakyat Marah, Tapi Tak Lagi Bersatu: Mengapa Reformasi 1998 Sulit Terulang Hari Ini, Hatta menjelaskan bahwa kemarahan publik sekarang tersebar ke berbagai ruang, mulai dari media sosial, grup percakapan, komunitas, hingga kelompok politik.

Namun, kemarahan tersebut sering kali berhenti sebagai keluhan dan perdebatan tanpa menghasilkan perubahan politik yang nyata.

“Indonesia hari ini bukan negeri tanpa kemarahan. Justru sebaliknya. Hampir setiap hari ada alasan baru untuk marah,” tulis Hatta.

Ia menyebut sejumlah persoalan yang memicu ketidakpuasan masyarakat, mulai dari tekanan harga kebutuhan hidup, ketidakadilan hukum, korupsi, politik dinasti, tindakan aparat yang berlebihan, hingga menurunnya kepercayaan terhadap lembaga demokrasi.

Kemarahan Rakyat Kehilangan Sasaran

Menurut Hatta, salah satu perbedaan mendasar antara situasi politik sekarang dan Reformasi 1998 adalah tidak adanya sasaran politik yang terkonsentrasi.

Pada 1998, Soeharto menjadi simbol kekuasaan Orde Baru yang ingin diakhiri. Berbagai persoalan seperti korupsi, kolusi, nepotisme, pembungkaman pers, dwifungsi ABRI, dan kekuasaan yang terlalu lama terpusat dapat dirumuskan dalam satu tuntutan politik, yakni turunkan Soeharto.

Sebaliknya, kondisi sekarang membuat alamat kemarahan masyarakat menjadi lebih kabur.

Ketika rakyat mempersoalkan hukum, misalnya, muncul pertanyaan siapa yang harus dimintai pertanggungjawaban. Apakah presiden, DPR, partai politik, aparat penegak hukum, lembaga peradilan, atau kekuatan oligarki?

Begitu pula persoalan kemiskinan, ketimpangan ekonomi, dan politik dinasti yang melibatkan banyak kepentingan.

“Kemarahan yang tidak memiliki alamat politik yang jelas akan mudah berubah menjadi keluhan. Ia berisik, tetapi tidak mengguncang. Ia viral, tetapi tidak selalu berbahaya bagi kekuasaan,” tulisnya.

Media Sosial Membuat Rakyat Merasa Sudah Melawan

Hatta juga menyoroti perubahan pola gerakan masyarakat dari jalanan menuju layar ponsel.

Jika Reformasi 1998 dibangun melalui konsolidasi mahasiswa, mimbar bebas, diskusi politik, selebaran, dan demonstrasi, kemarahan masyarakat sekarang lebih banyak disalurkan melalui X, TikTok, Instagram, YouTube, dan WhatsApp.

Menurut dia, perkembangan teknologi memang membuka ruang kebebasan berekspresi. Masyarakat lebih mudah menyampaikan kritik dan membongkar persoalan yang sebelumnya sulit diketahui publik.

Namun, media sosial juga berpotensi menjadikan kemarahan sebagai katarsis politik.

Masyarakat merasa sudah melakukan perlawanan setelah membuat unggahan, membagikan poster, atau terlibat perang komentar. Padahal, aktivitas tersebut belum tentu menghasilkan gerakan yang terorganisasi.

“Rakyat lebih banyak bicara, tetapi belum tentu lebih banyak bergerak. Kritik lebih mudah menyebar, tetapi belum tentu lebih mudah menjadi kekuatan politik,” ungkap Hatta.

Ia mengingatkan bahwa viralitas tidak sama dengan kekuatan politik. Sebuah isu bisa menjadi perbincangan nasional dalam hitungan jam, tetapi tanpa organisasi, kepemimpinan, strategi, dan tuntutan yang jelas, gerakan tersebut berisiko menghilang begitu saja.

Influencer Banyak, Pemimpin Moral Langka

Persoalan lainnya adalah krisis kepemimpinan moral. Hatta membandingkan situasi sekarang dengan Reformasi 1998 yang memiliki sejumlah tokoh nasional sebagai penanda moral dan politik gerakan.

Ia menyebut nama Gus Dur, Amien Rais, Megawati, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X sebagai tokoh yang ikut memberikan bobot moral terhadap gerakan perubahan saat itu.

Sementara sekarang, Indonesia memiliki banyak tokoh populer dan influencer politik, tetapi belum tentu memiliki figur pemersatu yang dipercaya lintas kelompok.

Menurut Hatta, influencer dapat membantu membesarkan isu, membongkar persoalan, dan menarik perhatian generasi muda terhadap politik. Namun, logika influencer berbeda dengan kebutuhan sebuah gerakan perubahan.

Influencer membutuhkan perhatian dan keterlihatan, sedangkan gerakan membutuhkan disiplin, pengorbanan, organisasi, serta keberanian menghadapi risiko.

Akibatnya, politik semakin menyerupai pasar perhatian. Sosok yang paling keras, tajam, lucu, dan viral lebih mudah mendapatkan panggung dibandingkan mereka yang memiliki gagasan dan kemampuan membangun perubahan.

Kemarahan Ada, Tetapi Agenda Bersama Tidak Ada

Hatta menilai persoalan paling mendasar dalam demokrasi Indonesia saat ini adalah tidak adanya agenda bersama yang mampu melampaui kepentingan kelompok dan dukungan politik.

Masyarakat bisa sepakat bahwa korupsi merupakan persoalan serius. Namun, ketika masuk pada pembahasan reformasi partai politik, penguatan KPK, pembatasan oligarki, reformasi kepolisian, pembiayaan politik, dan sistem pemilu, kesepakatan mulai terpecah.

Hal serupa terjadi ketika masyarakat menghadapi politik dinasti dan persoalan penegakan hukum.

Sebagian orang bisa bersikap kritis terhadap dinasti politik, tetapi berubah lunak ketika praktik tersebut dilakukan oleh kelompok yang didukungnya. Begitu pula ketika hukum menjerat lawan politik, sebagian masyarakat justru memberikan pembenaran.

Hatta menyebut kondisi tersebut sebagai penyakit demokrasi partisan.

“Prinsip kalah oleh dukungan politik. Akal sehat kalah oleh identitas. Kebenaran kalah oleh kubu,” tulisnya.

Tanpa agenda bersama, menurut dia, kemarahan masyarakat hanya menjadi energi yang habis terbakar tanpa menghasilkan perubahan struktural.

Kekuasaan Makin Canggih Mengelola Kemarahan

Hatta juga mengingatkan bahwa kekuasaan saat ini telah belajar membaca dan mengelola kemarahan publik.

Elite politik dapat memantau percakapan media sosial, membangun kontra-narasi, menggunakan buzzer, menghadirkan isu tandingan, hingga menunggu perhatian masyarakat beralih ke persoalan lain.

Bahkan, tekanan terhadap kritik tidak selalu muncul dalam bentuk pembungkaman secara terbuka. Tekanan hukum, doxing, serangan digital, pemanggilan, ancaman pekerjaan, tekanan terhadap kampus, hingga pelabelan demonstran sebagai perusuh juga dapat menciptakan rasa takut.

Dengan demikian, kekuasaan tidak harus membungkam seluruh suara kritis. Cukup membuat sebagian masyarakat takut, sebagian lainnya bingung, dan kelompok yang lain kehilangan energi untuk bergerak.

Demokrasi Elektoral Bisa Membuat Rakyat Apatis

Berbeda dengan era Orde Baru ketika saluran perubahan formal sangat terbatas, Indonesia sekarang masih memiliki pemilu, pilkada, DPR, Mahkamah Konstitusi, partai politik, media, dan organisasi masyarakat sipil.

Saluran tersebut memberikan peluang bagi masyarakat untuk memperjuangkan perubahan tanpa harus selalu melalui gerakan jalanan.

Namun, Hatta mengingatkan bahwa demokrasi elektoral juga dapat membuat energi perlawanan tersebar ke berbagai jalur.

Sebagian masyarakat menunggu pemilu berikutnya, sebagian memilih menyampaikan kritik melalui media sosial, sementara lainnya menempuh jalur hukum atau demonstrasi.

Persoalan menjadi lebih serius ketika pemilu semakin dipengaruhi uang, oligarki, dinasti, dan rekayasa politik.

Masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap jalanan sekaligus tidak lagi percaya kepada kotak suara.

Dalam situasi seperti itu, apatisme publik justru menjadi keuntungan paling besar bagi kekuasaan.

Reformasi Kedua Membutuhkan Organisasi, Bukan Sekadar Tagar

Mengambil pelajaran dari Mesir, Occupy Wall Street di Amerika Serikat, Hong Kong, dan gerakan #EndSARS di Nigeria, Hatta menegaskan bahwa internet mampu memantik perlawanan, tetapi tidak otomatis memenangkan perubahan politik.

Gerakan besar tetap membutuhkan organisasi, koordinasi, kepemimpinan, strategi, serta agenda perubahan yang terukur.

Karena itu, menurut dia, Reformasi 1998 tidak bisa ditiru begitu saja dengan hanya menduduki kampus, turun ke jalan, membuat tagar, atau mengandalkan tokoh populer.

Gerakan masyarakat harus mampu menggabungkan kekuatan digital dengan organisasi nyata.

Percakapan di WhatsApp harus bisa berkembang menjadi konsolidasi, tagar harus diterjemahkan menjadi tuntutan, sedangkan viralitas harus menghasilkan tekanan politik yang berkelanjutan.

Hatta mengingatkan, Indonesia berisiko terus terjebak dalam siklus kemarahan yang berulang. Skandal muncul, masyarakat marah, media sosial ramai, pejabat memberikan bantahan, buzzer menyerang, demonstrasi berlangsung, kemudian isu bergeser dan persoalan kembali seperti semula.

“Indonesia hari ini adalah republik yang ramai. Semua orang bicara. Semua orang menilai. Semua orang curiga. Semua orang punya pendapat. Tetapi republik yang ramai tidak otomatis menjadi republik yang bergerak,” tulisnya.

Ia menegaskan, persoalan Indonesia bukan lagi apakah masyarakat masih memiliki keberanian untuk marah. Kemarahan itu sudah ada di mana-mana.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apakah kemarahan tersebut masih bisa disatukan menjadi kekuatan perubahan.

Hatta menutup catatannya dengan sebuah peringatan: Indonesia bukan kekurangan kemarahan, tetapi kekurangan persatuan dalam kemarahan.

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, Hatta Taliwang, memaparkan sejumlah kelemahan dan tantangan yang dinilai masih membayangi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, berbagai kritik yang muncul dari lawan politik maupun kelompok oposisi perlu dicermati secara serius sebagai bagian dari proses demokrasi dan evaluasi kebijakan publik.

Dalam catatannya bertanggal 30 Mei 2026, Hatta mengidentifikasi sedikitnya 12 isu utama yang menjadi sorotan terhadap pemerintahan Prabowo, mulai dari persepsi kedekatan dengan pemerintahan sebelumnya hingga efektivitas program-program unggulan yang menyerap anggaran besar.

Menurut Hatta, salah satu kritik yang paling sering muncul adalah anggapan bahwa Prabowo masih berada dalam bayang-bayang Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Persepsi ini muncul karena masih banyak tokoh era Jokowi yang menduduki posisi strategis di kabinet serta tetap berjalannya konfigurasi politik yang melibatkan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.

“Sebagian pendukung perubahan menilai Prabowo belum sepenuhnya mandiri dalam menentukan arah pemerintahannya,” ujar Hatta.

Selain itu, ukuran kabinet yang besar juga menjadi sasaran kritik. Kabinet yang gemuk dinilai berpotensi menimbulkan tumpang tindih kewenangan, pemborosan anggaran, konflik kepentingan, serta memperlambat proses pengambilan keputusan.

Di bidang hukum dan penegakan aturan, Hatta mencatat masih adanya keraguan publik terhadap konsistensi pemberantasan korupsi dan reformasi institusi penegak hukum. Sebagian kelompok reformis menilai pengaruh oligarki lama masih cukup kuat sehingga mengurangi optimisme terhadap agenda perubahan.

Sorotan berikutnya tertuju pada program-program populis pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Sekolah Rakyat, subsidi pangan, dan koperasi desa. Program-program tersebut dinilai membutuhkan pembiayaan yang sangat besar sehingga memunculkan kekhawatiran terhadap kesehatan fiskal negara dalam jangka panjang.

“Jika pertumbuhan ekonomi tidak berjalan sesuai harapan, maka program-program populis berisiko menjadi beban bagi APBN,” katanya.

Program MBG sendiri menjadi salah satu fokus utama kritik. Hatta menyebut sejumlah kalangan mempertanyakan keberlanjutan program yang membutuhkan anggaran ratusan triliun rupiah. Selain persoalan pembiayaan, terdapat pula risiko kebocoran anggaran, korupsi pengadaan, permainan vendor, hingga masalah kualitas makanan yang berpotensi merusak citra program.

Di sisi lain, sebagian ekonom menilai MBG lebih bersifat populis dibandingkan reformasi struktural yang menyasar peningkatan produktivitas, industrialisasi, dan penciptaan lapangan kerja.

“Kritik lain yang muncul adalah potensi ketergantungan masyarakat terhadap bantuan negara jika program bantuan sosial tidak dibarengi dengan penguatan kemandirian ekonomi,” jelasnya.

Terkait program koperasi desa, Hatta menilai skeptisisme publik tidak dapat dilepaskan dari pengalaman masa lalu. Banyak koperasi yang gagal berkembang karena lemahnya tata kelola, rendahnya kapasitas sumber daya manusia, serta praktik korupsi di tingkat pengurus.

Karena itu, menurutnya, keberhasilan koperasi desa sangat bergantung pada reformasi manajemen dan sistem pengawasan yang kuat.

Dalam bidang politik dan demokrasi, Hatta juga mencatat munculnya persepsi mengenai kecenderungan militeristik yang dilekatkan kepada Prabowo. Latar belakang militer Presiden serta kedekatan dengan aparat keamanan memunculkan kekhawatiran dari sebagian kalangan aktivis bahwa ruang demokrasi dapat menyempit.

“Walaupun belum tentu benar secara faktual, persepsi tersebut tetap hidup dalam sebagian kelompok oposisi dan masyarakat sipil,” katanya.

Kritik lain yang cukup sering muncul adalah terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo. Sebagian masyarakat mempertanyakan manfaat langsung dari aktivitas diplomasi internasional di tengah berbagai persoalan ekonomi domestik seperti harga kebutuhan pokok dan ancaman pemutusan hubungan kerja.

Menurut Hatta, tantangan utama pemerintah adalah menjelaskan kepada publik bahwa hasil diplomasi internasional umumnya bersifat jangka panjang dan tidak selalu langsung dirasakan masyarakat.

Sementara itu, isu Board of Peace (BOP) dan hubungan Indonesia dengan negara-negara Barat juga menjadi bahan perdebatan. Sebagian kelompok oposisi dan kelompok Islam-politik mengaitkan aktivitas diplomasi internasional Prabowo dengan dugaan kedekatan terhadap agenda geopolitik Barat.

Namun Hatta menegaskan bahwa hingga saat ini tidak terdapat bukti resmi yang menunjukkan perubahan sikap Indonesia terhadap Palestina maupun normalisasi hubungan dengan Israel.

“Posisi resmi Indonesia tetap mendukung kemerdekaan Palestina dan tidak mengakui Israel,” tegasnya.

Meski demikian, isu Palestina tetap menjadi persoalan yang sangat sensitif dalam politik Indonesia. Karena itu, setiap langkah diplomasi yang melibatkan negara-negara Barat sering kali memunculkan beragam interpretasi politik.

Pada akhirnya, Hatta menilai tidak semua kritik terhadap pemerintahan Prabowo dapat dianggap sepenuhnya benar. Sebagian merupakan kritik yang rasional dan layak diperdebatkan, sementara sebagian lainnya masih berada pada level persepsi, kekhawatiran, atau pertarungan narasi politik.

Menurutnya, isu yang paling penting untuk mendapat perhatian pemerintah adalah keberlanjutan fiskal program MBG, efektivitas koperasi desa, reformasi aparat penegak hukum, pengawasan terhadap potensi korupsi proyek besar, serta efektivitas diplomasi luar negeri.

“Secara objektif, kelemahan terbesar Prabowo bukan terletak pada slogan nasionalismenya, melainkan pada kemampuan eksekusi birokrasi, pembiayaan program besar, pengawasan korupsi, konsistensi reformasi, dan komunikasi publik,” ujar Hatta.

Ia menambahkan bahwa keberhasilan pemerintahan Prabowo pada akhirnya akan ditentukan oleh implementasi kebijakan, transparansi, dan hasil nyata yang dirasakan masyarakat.

“Apakah Prabowo akan dikenang sebagai pemimpin transformasi nasional atau sekadar pemimpin populis dengan proyek-proyek besar, semuanya akan ditentukan oleh hasil yang mampu diwujudkan pemerintahannya,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, M. Hatta Taliwang, memaparkan daftar tokoh politik di negara-negara Barat yang secara terbuka menyatakan diri sebagai gay, lesbian, biseksual, maupun transgender saat menjabat atau sebelum menduduki jabatan publik penting.

Dalam penelusuran Hatta Taliwang menyebut fenomena keterbukaan identitas LGBT di dunia politik Barat semakin luas, bahkan telah menyentuh level kepala negara dan kepala pemerintahan.

Salah satu contoh yang disorot adalah Leo Varadkar. Politikus Irlandia itu secara terbuka menyatakan dirinya gay pada 2015, ketika negaranya sedang mengalami perubahan sosial besar.

Menurut Hatta, Irlandia yang dahulu dikenal sebagai negara Katolik konservatif kemudian berubah menjadi lebih liberal setelah melegalkan pernikahan sesama jenis melalui referendum rakyat pada 2015.

“Karena itu Varadkar sering dianggap simbol perubahan sosial di Eropa Barat,” tulis Hatta, Jumat (8/5/2026).

Selain Varadkar, Hatta juga menyoroti Elio Di Rupo yang pernah menjabat Perdana Menteri Belgia periode 2011-2014. Di Rupo disebut sebagai salah satu kepala pemerintahan Eropa pertama yang terbuka sebagai gay.

Belgia sendiri dikenal sebagai salah satu negara paling awal di Eropa yang melegalkan pernikahan sesama jenis dan memberikan perlindungan hukum terhadap komunitas LGBT.

Tokoh lain yang disebut Hatta adalah Jóhanna Sigurðardóttir. Politikus Islandia itu disebut sebagai kepala pemerintahan pertama di dunia yang secara terbuka lesbian.

“Pemerintahannya dikenal pro kesejahteraan sosial, reformis, mendukung kesetaraan gender dan LGBT,” kata Hatta.

Dalam daftar yang dipaparkan, Hatta juga menyebut sejumlah tokoh lain di Amerika Serikat dan Eropa, di antaranya Xavier Bettel, Ana Brnabić, Edgars Rinkēvičs, hingga Gabriel Attal.

Untuk pejabat tingkat menteri, Hatta memasukkan nama Pete Buttigieg, Rachel Levine, dan Petra De Sutter yang dikenal sebagai perempuan transgender pertama di pemerintahan federal Belgia.

Hatta juga memberikan catatan khusus terkait Emmanuel Macron dan Justin Trudeau. Menurutnya, keduanya bukan bagian dari komunitas LGBT meski dikenal vokal mendukung hak-hak LGBT.

“Macron tidak pernah menyatakan diri sebagai LGBT dan sudah membantah rumor yang beredar. Trudeau juga heteroseksual dan dikenal sebagai pendukung hak LGBT,” tulisnya.

Hatta menegaskan daftar tersebut hanya memuat tokoh yang secara terbuka menyatakan identitas LGBT saat atau sebelum menjabat. Ia menyebut masih banyak tokoh lain di tingkat lokal maupun parlemen di berbagai negara Barat.

“Kalau mau fokus satu negara seperti Prancis, Jerman, atau Belanda, daftar itu bisa jauh lebih panjang lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan data tersebut diambil dari berbagai daftar publik internasional yang diperbarui hingga April-Mei 2026.

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, Hatta Taliwang, mengungkap dinamika panas hubungan antara Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Abdul Haris Nasution pada awal 1960-an sebagai pelajaran penting dari sejarah politik dan militer Indonesia.

Menurut Hatta, konflik antara dua tokoh besar Angkatan Darat (AD) itu bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan pertarungan struktur kekuasaan, perbedaan strategi politik militer, hingga perebutan pengaruh di sekitar Presiden Soekarno.

“Memetik pelajaran dari sejarah, Jenderal Ahmad Yani bahkan pernah dikabarkan hendak menangkap Jenderal AH Nasution. Ini menunjukkan betapa seriusnya konflik internal di tubuh Angkatan Darat saat itu,” kata Hatta dalam keterangannya, Minggu (19/4/2026).

Ia menjelaskan, menjelang berakhirnya masa jabatan sebagai KSAD setelah hampir 10 tahun memimpin Angkatan Darat, Nasution mengajukan empat nama kepada Presiden Soekarno sebagai calon penggantinya, yakni Letjen Gatot Soebroto, Mayjen Soeharto, Mayjen Ahmad Yani, dan Mayjen R Soedirman.

Namun, Soekarno akhirnya memilih Ahmad Yani sebagai KSAD pada Juni 1962.

“Gatot Soebroto dianggap terlalu senior, Soeharto disebut kecewa karena merasa lebih senior dari Yani, sementara R Soedirman tidak banyak terdengar reaksinya,” ujarnya.

Sejak saat itu, karier Ahmad Yani melesat. Selain menjadi KSAD, ia juga menjabat Menteri/Panglima Angkatan Darat dan Kastaf Komando Tertinggi (KOTI) di bawah Presiden Soekarno sebagai Panglima Tertinggi ABRI.

Sementara itu, Nasution justru “terlempar ke atas” menjadi Menko Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata (KASAB), posisi yang secara formal tinggi namun tidak lagi menguasai pasukan secara langsung.

Hatta menyebut, kondisi ini diduga merupakan hasil kompromi politik Soekarno yang saat itu sedang gencar mendorong konsep Nasakom (Nasionalis-Agama-Komunis), serta pengaruh kuat PKI yang sangat memusuhi Nasution karena sikap anti-komunisnya.

“Terjadi apa yang disebut para analis sebagai ‘dua matahari’ di tubuh Angkatan Darat. Ahmad Yani menguasai pasukan, sementara Nasution punya otoritas formal. Ini menciptakan dualisme kekuasaan yang berbahaya,” jelasnya.

Menurut Hatta, perbedaan karakter kedua jenderal itu juga memperlebar jarak.

Nasution dikenal sebagai sosok puritan, keras, intelektual, dan sangat anti terhadap gaya hidup mewah. Ia juga dikenal sebagai arsitek konsep Jalan Tengah TNI yang kemudian berkembang menjadi Dwifungsi ABRI.

Sebaliknya, Ahmad Yani lebih dikenal sebagai field commander, lebih pragmatis, dekat dengan elite Jakarta, dan sangat loyal kepada Soekarno.

“Nasution memandang Soekarno terlalu memberi ruang kepada PKI, sedangkan Yani menolak PKI tetapi memilih tidak konfrontatif demi menjaga keseimbangan,” katanya.

Sejumlah insiden memperuncing hubungan keduanya.

Di antaranya, ketika Nasution memerintahkan Kolonel Hasan Basri melakukan operasi intelijen di Kalimantan dalam rangka Dwikora tanpa koordinasi penuh dengan KSAD.

Bagi Yani, langkah itu merupakan pelanggaran rantai komando.

Konflik juga memanas saat Nasution sebagai Ketua Penertiban Aparatur Negara (PARAN) memerintahkan penyelidikan terhadap Markas Angkatan Darat.

“Yani melihat itu sebagai intervensi politik dan ancaman terhadap stabilitas internal AD,” kata Hatta.

Akibat dua peristiwa itu, Ahmad Yani disebut sempat mencabut pengawalan Nasution dan bahkan berencana menangkapnya melalui Mayjen Suprapto.

Namun, menurut sejumlah catatan sejarah yang juga dikutip Prof Salim Said, rencana itu dibatalkan setelah senior-senior AD seperti R Soedirman, Sarbini, dan Soeharto memberikan peringatan keras.

Pengawalan Nasution kemudian diambil alih Kodam Siliwangi di bawah Pangdam Ibrahim Adjie.

Hatta menilai, strategi Soekarno sengaja membagi kekuatan antara Yani dan Nasution untuk mencegah munculnya satu jenderal yang terlalu dominan dan berpotensi melakukan kudeta.

Namun, strategi divide and balance itu justru melahirkan ketegangan berkepanjangan di tubuh Angkatan Darat.

“Periode 1963–1965 penuh paranoia politik. PKI dan AD saling curiga. Nasution curiga pada PKI, sementara Soekarno dan Yani juga mencurigai adanya manuver politik di luar kontrol,” ujarnya.

Menjelang 1965, Ahmad Yani tetap menjadi orang kepercayaan Soekarno dan akhirnya menjadi target utama dalam Gerakan 30 September.

Sementara Nasution yang secara politik melemah justru selamat dari penculikan dan kemudian bangkit kembali sebagai Ketua MPRS pasca-1965.

Hatta menduga, konflik internal Angkatan Darat ini turut dimanfaatkan oleh kelompok yang disebut Perwira Progresif Revolusioner dalam peristiwa G30S.

Ia juga menyinggung kisah emosional setelah pemakaman para jenderal korban G30S, ketika ibu Ahmad Yani jatuh pingsan di hadapan Nasution.

“Setelah sadar, beliau berjanji akan menemui Pak Nasution. Saat bertemu, Ibu Yani menyesalkan adanya korsluiting hubungan antara Pak Yani dan Pak Nas. Mungkin kalau keduanya tetap kompak, tragedi besar itu tidak akan terjadi,” tutup Hatta.

Menurut Hatta, sejarah ini menjadi pelajaran penting bahwa perpecahan elite negara, terutama di tubuh militer, dapat membuka jalan bagi tragedi nasional yang sangat besar.

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, Hatta Taliwang, mengungkap bahwa kemajuan pesat Vietnam tidak semata ditentukan oleh figur pemimpin, melainkan kekuatan sistem yang dibangun secara konsisten dan disiplin.

Menurutnya, keberhasilan Vietnam merupakan hasil dari kombinasi unik antara politik dan ekonomi yang berjalan searah.

“Rahasia kemajuan Vietnam itu banyak. Tidak semata soal pemimpin, tapi soal sistem juga,” ujar Hatta dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).

Hatta menjelaskan, Vietnam mengadopsi pola yang mirip dengan China, yakni sistem politik yang terpusat dengan pendekatan ekonomi yang terbuka.

Model ini memungkinkan pemerintah menjaga stabilitas politik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi asing, penguatan sektor swasta, dan orientasi ekspor.

Hasilnya, Vietnam kini menjelma menjadi salah satu pemain utama manufaktur global, terutama di sektor tekstil, elektronik, dan alas kaki.

Salah satu kunci utama, lanjut Hatta, adalah sistem partai tunggal yang diterapkan Vietnam. Ia bahkan menyebut konsep ini memiliki kemiripan dengan gagasan awal Soekarno tentang partai pelopor.

Dengan sistem tersebut, Vietnam mampu menciptakan stabilitas politik tinggi, tanpa friksi elite yang berkepanjangan.

“Tidak ada demokrasi liberal yang berisik adu bacot. Kebijakan ekonomi tidak sering berubah, elit politik satu arah, sehingga investor mendapatkan kepastian hukum,” tegasnya.

Selain stabilitas politik, Vietnam juga menjaga daya saing melalui upah tenaga kerja yang kompetitif, peningkatan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan, serta pembangunan infrastruktur yang terarah.

Birokrasi yang ramping disebut menjadi faktor penting dalam percepatan eksekusi kebijakan dari pusat ke daerah.

Lebih jauh, semangat nasional untuk bangkit pasca perang juga menjadi energi kolektif rakyat Vietnam.

“Mental survival mereka tinggi. Fokus bangkit. Ditambah semangat anti-korupsi yang kuat, bahkan sampai pada hukuman mati,” ujarnya.

Hatta kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia yang dinilainya masih menghadapi berbagai persoalan struktural.

Mulai dari friksi elite yang kuat, perubahan kebijakan setiap pergantian rezim, hingga tarik-menarik kepentingan antara oligarki dan partai politik.

Desentralisasi yang luas juga dinilai membuat proses pengambilan keputusan menjadi lambat, sering kali terhambat oleh veto politik di daerah maupun tekanan publik.

“Pembangunan infrastruktur sering tidak terarah, lebih berorientasi proyek. Akibatnya korupsi dan proyek mangkrak masih terjadi,” katanya.

Meski demikian, Hatta optimistis Indonesia masih memiliki peluang besar untuk bangkit.

Ia menekankan pentingnya pembenahan sistem, revolusi budaya kerja, serta hadirnya kepemimpinan yang kuat dan visioner.

Menurutnya, semangat yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945 dapat menjadi fondasi kebangkitan nasional.

“Indonesia bisa bangkit kalau sistem dibenahi, kultur direvolusi, dan punya strong leader. Konsep besar dalam UUD 1945, insyaallah akan menyelamatkan Indonesia,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, Hatta Taliwang,menyampaikan pandangannya terkait berbagai persoalan nasional yang dinilai semakin kompleks dan berlarut-larut.

Menurutnya, beragam kritik terhadap kebijakan pemerintah seperti Board of Peace (BoP), program Makan Bergizi Gratis (MBG), utang ke China termasuk proyek Whoosh, hingga isu penyelundupan nikel, bandara ilegal di kawasan IMIP, serta pemindahan ibu kota negara, seharusnya diselesaikan melalui mekanisme ketatanegaraan yang jelas.

Hatta menilai, jika Indonesia masih menggunakan sistem Undang-Undang Dasar 1945 sebelum amandemen, maka lembaga Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) sebagai lembaga tertinggi negara dapat menjadi forum utama untuk menyelesaikan berbagai persoalan strategis tersebut.

“Dalam sistem UUD 1945 yang asli, MPR sebagai penjelmaan seluruh rakyat—yang terdiri dari utusan golongan, utusan daerah, dan perwakilan partai—memiliki kewenangan untuk menyidangkan berbagai persoalan besar bangsa, termasuk meminta pertanggungjawaban presiden melalui Sidang Tahunan atau Sidang Istimewa,” ujarnya, Rabu (1/3/2026).

Ia menambahkan, mekanisme tersebut dinilai lebih terarah dibandingkan dengan praktik saat ini, di mana kritik banyak disampaikan melalui media sosial yang justru berpotensi memicu perpecahan.

“Jangan hanya mengeluh di berbagai platform media sosial tanpa arah, disertai caci maki dan adu argumen yang tidak produktif. Hal seperti itu justru merusak persatuan bangsa,” tegasnya.

Lebih lanjut, Hatta berpendapat bahwa dalam sistem lama, MPR memiliki “kata akhir” dalam pengambilan keputusan strategis, sehingga setiap persoalan tidak berlarut-larut dan memiliki kepastian penyelesaian.

Ia juga mengkritik sistem ketatanegaraan pasca amandemen Undang-Undang Dasar 1945 yang dinilainya membuka peluang terjadinya kekuasaan presiden yang lebih dominan tanpa kontrol yang cukup kuat dari lembaga tertinggi negara.

“Situasi seperti ini akan terus berlangsung selama kita menggunakan UUD hasil amandemen. Presiden berpotensi bertindak sewenang-wenang karena mekanisme kontrol tidak sekuat sebelumnya,” ungkapnya.

Sebagai solusi, Hatta mengajak seluruh elemen bangsa untuk mempertimbangkan kembali penggunaan UUD 1945 versi asli, dengan penyempurnaan melalui adendum.

“Kalau ingin Indonesia selamat, maka perlu ada keberanian untuk kembali ke UUD 1945 yang asli, lalu disempurnakan melalui adendum agar tetap relevan dengan perkembangan zaman,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, Hatta Taliwang, memaparkan pandangannya mengenai bagaimana Iran berpotensi memaksa Amerika Serikat menghentikan perang melalui strategi yang terinspirasi dari Perang Vietnam.

Dalam analisisnya, Hatta menilai bahwa pendekatan paling efektif bagi Iran bukanlah konfrontasi langsung, melainkan perang asimetris yang menguras energi, biaya, dan dukungan domestik Amerika Serikat.

“Iran sudah berada di jalur yang tepat dengan mengedepankan perang asimetris—bertahan selama mungkin, bahkan jika harus menggunakan taktik gerilya dan hit and run,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (30/3/2026).

Menurut Hatta, strategi ini terbukti efektif dalam sejarah, terutama saat Vietnam menghadapi Amerika Serikat pada dekade 1970-an. Ketahanan jangka panjang, kata dia, menjadi kunci untuk melemahkan kekuatan besar seperti AS.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya penguasaan Selat Hormuz sebagai senjata geopolitik utama. Jika Iran mampu mempertahankan kontrol atas jalur vital distribusi minyak dunia tersebut, dampaknya akan langsung terasa pada ekonomi global, terutama Amerika Serikat.

“Lonjakan harga minyak akan menekan rakyat AS. Ketika tekanan ekonomi meningkat, tuntutan untuk menghentikan perang akan datang dari dalam negeri mereka sendiri,” jelasnya.

Hatta juga menyoroti dinamika politik domestik di Amerika Serikat. Ia menyebut gelombang demonstrasi anti-perang yang disebut telah melibatkan jutaan warga di berbagai kota besar sebagai sinyal menurunnya dukungan publik terhadap kebijakan luar negeri Washington.

Ia membandingkan situasi tersebut dengan era Perang Vietnam, ketika jutaan warga Amerika turun ke jalan menolak perang yang berkepanjangan. Saat itu, tekanan publik menjadi salah satu faktor utama yang mendorong perubahan kebijakan pemerintah.

Selain itu, Hatta menilai bahwa perang informasi juga menjadi elemen penting. Ia menyarankan agar Iran dan sekutunya terus mengekspos dampak serangan terhadap warga sipil untuk membentuk opini global.

“Eksploitasi isu kemanusiaan akan memperlemah legitimasi AS dan Israel di mata dunia,” katanya.

Tak kalah penting, lanjut Hatta, adalah dampak psikologis dari korban militer. Ia mengingatkan bahwa tingginya jumlah korban tentara AS dalam Perang Vietnam—lebih dari 58 ribu tewas dan ratusan ribu luka-luka—memicu tekanan besar dari keluarga korban di dalam negeri.

“Jika korban di pihak militer meningkat, terutama dari kalangan muda, maka tekanan dari keluarga dan masyarakat akan semakin kuat untuk menghentikan perang,” ujarnya.

Di tengah meningkatnya ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat, analisis ini menggambarkan bahwa konflik modern tidak hanya ditentukan oleh kekuatan militer, tetapi juga oleh daya tahan politik, ekonomi, dan opini publik.

Hatta menegaskan, pelajaran dari Perang Vietnam menunjukkan bahwa kekuatan besar sekalipun dapat dipaksa mundur jika menghadapi perang panjang yang menguras sumber daya dan dukungan domestik.

“Sejarah mengajarkan, perang bukan hanya soal senjata, tetapi juga soal siapa yang mampu bertahan lebih lama,” pungkasnya.