Vietnam Melaju Pesat, Hatta Taliwang Bongkar “Rahasia Sistem”: Indonesia Bisa Bangkit Asal Berani Benahi Ini

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Eksekutif Soekarno-Hatta Institute, Hatta Taliwang, mengungkap bahwa kemajuan pesat Vietnam tidak semata ditentukan oleh figur pemimpin, melainkan kekuatan sistem yang dibangun secara konsisten dan disiplin.

Menurutnya, keberhasilan Vietnam merupakan hasil dari kombinasi unik antara politik dan ekonomi yang berjalan searah.

“Rahasia kemajuan Vietnam itu banyak. Tidak semata soal pemimpin, tapi soal sistem juga,” ujar Hatta dalam keterangannya, Minggu (5/4/2026).

Hatta menjelaskan, Vietnam mengadopsi pola yang mirip dengan China, yakni sistem politik yang terpusat dengan pendekatan ekonomi yang terbuka.

Model ini memungkinkan pemerintah menjaga stabilitas politik sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi melalui investasi asing, penguatan sektor swasta, dan orientasi ekspor.

Hasilnya, Vietnam kini menjelma menjadi salah satu pemain utama manufaktur global, terutama di sektor tekstil, elektronik, dan alas kaki.

Salah satu kunci utama, lanjut Hatta, adalah sistem partai tunggal yang diterapkan Vietnam. Ia bahkan menyebut konsep ini memiliki kemiripan dengan gagasan awal Soekarno tentang partai pelopor.

Dengan sistem tersebut, Vietnam mampu menciptakan stabilitas politik tinggi, tanpa friksi elite yang berkepanjangan.

“Tidak ada demokrasi liberal yang berisik adu bacot. Kebijakan ekonomi tidak sering berubah, elit politik satu arah, sehingga investor mendapatkan kepastian hukum,” tegasnya.

Selain stabilitas politik, Vietnam juga menjaga daya saing melalui upah tenaga kerja yang kompetitif, peningkatan kualitas sumber daya manusia secara berkelanjutan, serta pembangunan infrastruktur yang terarah.

Birokrasi yang ramping disebut menjadi faktor penting dalam percepatan eksekusi kebijakan dari pusat ke daerah.

Lebih jauh, semangat nasional untuk bangkit pasca perang juga menjadi energi kolektif rakyat Vietnam.

“Mental survival mereka tinggi. Fokus bangkit. Ditambah semangat anti-korupsi yang kuat, bahkan sampai pada hukuman mati,” ujarnya.

Hatta kemudian membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia yang dinilainya masih menghadapi berbagai persoalan struktural.

Mulai dari friksi elite yang kuat, perubahan kebijakan setiap pergantian rezim, hingga tarik-menarik kepentingan antara oligarki dan partai politik.

Desentralisasi yang luas juga dinilai membuat proses pengambilan keputusan menjadi lambat, sering kali terhambat oleh veto politik di daerah maupun tekanan publik.

“Pembangunan infrastruktur sering tidak terarah, lebih berorientasi proyek. Akibatnya korupsi dan proyek mangkrak masih terjadi,” katanya.

Meski demikian, Hatta optimistis Indonesia masih memiliki peluang besar untuk bangkit.

Ia menekankan pentingnya pembenahan sistem, revolusi budaya kerja, serta hadirnya kepemimpinan yang kuat dan visioner.

Menurutnya, semangat yang terkandung dalam Undang-Undang Dasar 1945 yang disahkan pada 18 Agustus 1945 dapat menjadi fondasi kebangkitan nasional.

“Indonesia bisa bangkit kalau sistem dibenahi, kultur direvolusi, dan punya strong leader. Konsep besar dalam UUD 1945, insyaallah akan menyelamatkan Indonesia,” pungkasnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *