31 Oktober 2026

Zulfan Lindan

MoneyTalk, Jakarta – Dalam dinamika politik Indonesia hari ini, kita melihat gejala yang mengkhawatirkan: politik cari muka telah menjadi panggung utama, sementara akal sehat dan objektivitas disingkirkan dari arena publik.

Banyak dari kita menyaksikan betapa figur-figur yang dulu dianggap berkelas dan intelektual, kini sibuk melempar kritik bukan pada substansi kebijakan, tapi pada sosok yang bahkan sudah tak lagi memegang kekuasaan. Mantan Presiden Jokowi misalnya, masih menjadi sasaran empuk serangan politik, seolah dia masih duduk di kursi RI-1.

Padahal saat ini, Presiden Prabowo Subianto yang memegang mandat. Maka sangat wajar jika publik menuntut para pengkritik agar mengalihkan fokus pada pemerintahan yang sedang berjalan, bukan membangun narasi usang terhadap masa lalu.

Mengapa Politik Kita Jadi Begini?

Saya memandang ada tiga klaster sikap politik masyarakat saat ini:

Mereka yang ikut arus mendukung apa pun yang sedang populer.

Mereka yang apatis  diam, tak lagi percaya pada proses politik.

Dan kami yang memilih untuk merdeka bicara dengan bebas, tanpa beban kepentingan.

Kami yang berada di jalur merdeka ini percaya bahwa kebenaran harus dikawal, dan kekuasaan harus terus diawasi. Tapi kritik harus obyektif. Bukan demi panggung, jabatan, atau sekadar menggiring opini untuk agenda 2029.

Presiden Harus Bersikap. Jika kegaduhan politik terus dibiarkan, masyarakat akan semakin terpecah. Maka saya menyarankan: Presiden Prabowo harus bersikap tegas dan terbuka.

Panggil saja mereka yang gaduh itu ke Istana. Tapi jangan tertutup. Siarkan langsung di televisi nasional. Biar publik jadi saksi. Tanyakan secara langsung:

“Apa tujuan kalian? Ending-nya mau ke mana? Kalau kalian tak suka saya sebagai Presiden, katakan. Tapi jangan terus membombardir orang yang sudah tak berkuasa.”

Langkah ini bukan intimidasi, melainkan pendidikan politik. Saat para “aktivis” diminta bicara langsung di depan Presiden, di depan publik, mereka akan dituntut menunjukkan gagasan, bukan sekadar gertakan. Dan publik bisa menilai: siapa yang punya solusi, siapa yang hanya sensasi.

Di luar politik pencitraan, kita juga masih dihadapkan pada penyakit lama: korupsi. Jika kita sungguh ingin membersihkan bangsa ini dari praktik kotor, maka harus ada keberanian luar biasa.

Saya pribadi berpendapat:

RUU Perampasan Aset harus segera disahkan.

Dan jika perlu, koruptor dihukum seberat-beratnya. Bahkan saya usulkan hukuman sosial: mereka dipakaikan baju kuning, digembok kakinya, dan disuruh menyapu di kampung halamannya sendiri. Itu lebih memalukan ketimbang penjara.

Seringkali kita dengar alasan “HAM” untuk membela para koruptor. Tapi kita lupa, korupsi itu sendiri adalah pelanggaran HAM terhadap rakyat kecil. Setiap rupiah yang digelapkan, adalah makanan yang hilang dari meja orang miskin.

Sebagai pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran, saya tidak malu untuk memberi nilai. Saat ini, saya nilai kerja mereka baru mencapai C+. Ada progres, tapi belum memuaskan.

Mendukung tidak berarti menutup mata. Justru sebagai pendukung, kita punya tanggung jawab moral untuk mendorong agar pemerintah lebih baik. Itu esensi demokrasi: keberanian untuk bersuara, bukan hanya ketika oposisi, tapi juga saat berada di barisan pendukung.

Ayo Kita Waras Bersama Indonesia, tidak butuh lebih banyak drama. Kita butuh akal sehat. Kita butuh gagasan. Dan kita butuh pemimpin yang mau mendengar, dan pengkritik yang benar-benar peduli.

Jangan lagi kita biarkan ruang publik dipenuhi orang-orang yang hanya mencari panggung. Karena kalau kita diam, kita sebenarnya sedang membiarkan kezaliman berjalan dengan nama demokrasi.

Saatnya Presiden mengambil peran. Panggil mereka. Bicara terbuka. Biarkan rakyat menilai. Bukan demi Prabowo, bukan demi Jokowi, tapi demi kita semua rakyat Indonesia.

Perluh diketahui bahwa Penulis Iyass Subiyakto adalah pengusaha dan pengamat sosial-politik. Aktif menyuarakan sikap independen dalam mendukung dan mengkritisi pemerintahan. Artikel ini disarikan dari wawancara eksklusif bersama Zulfan Lindan di kanal YouTube Unparking Indonesia pada 12 September 2025.

MoneyTalk, Jakarta – Pada Jumat (24/10) di kanal Cokro TV, Zulfan Lindan menjadi narasumber dalam program yang dipandu oleh Ahmad Sahal bersama Jef Giovani. Diskusi kali ini membahas hasil survei terbaru dari LSI Denny JA, yang menunjukkan lonjakan tingkat kesukaan publik terhadap Prabowo Subianto sebagai presiden yang baru dilantik. Zulfan Lindan menjelaskan beberapa aspek mengapa tingkat kesukaan Prabowo meroket hingga 90,5%—sebuah angka yang mencerminkan dukungan lintas generasi, wilayah, hingga etnis.

Keberlanjutan Dukungan dari Era Jokowi ke Era Prabowo

Zulfan mengungkapkan, popularitas Prabowo tidak hanya sekadar hasil dari pencapaian politik pribadinya, namun juga buah dari sinerginya dengan Jokowi selama satu dekade terakhir. Menurutnya, banyak pemilih yang sebelumnya mendukung Jokowi kini beralih mendukung Prabowo karena kemiripan visi dan misi keduanya dalam membangun Indonesia. Zulfan juga menyoroti bagaimana kedekatan Prabowo dengan Jokowi terlihat dalam penyusunan cabinet. Prabowo secara terbuka meminta masukan dari Jokowi, menunjukkan bahwa hubungan keduanya tetap erat.

Dari Tokoh Militer Garang Menjadi Figur Pemersatu

Salah satu temuan menarik dari survei LSI adalah persepsi Prabowo yang kian dilihat sebagai tokoh pemersatu, khususnya di kalangan Gen Z dan milenial. Jef Giovani menjelaskan bahwa citra Prabowo yang dulunya terkesan militeristik kini berubah, terutama setelah bekerja sama erat dengan Jokowi. Pola komunikasi Prabowo yang tidak reaktif dan lebih diplomatis dinilai sebagai ciri pemimpin yang matang dan mampu merangkul semua pihak. Zulfan pun menyebut Prabowo sebagai “sintesa” antara elemen-elemen berlawanan dalam politik, yaitu mereka yang mendukung maupun yang mengkritik Jokowi.

Tantangan ke Depan Mempertahankan Kepercayaan Publik

Namun, Zulfan juga mengingatkan, tantangan bagi Prabowo ke depan adalah mempertahankan kepercayaan ini, terutama melalui kinerja kabinetnya. Zulfan menyinggung kejadian di mana seorang menteri menggunakan kop surat resmi untuk urusan pribadi, yang dinilai sebagai preseden buruk bagi pemerintahan baru. Ia berharap Prabowo mengambil langkah tegas agar kasus semacam ini tidak terulang, sehingga menjaga tingkat kepuasan publik tetap tinggi.

Menurut Zulfan dan Jef, tingginya kepercayaan publik pada Prabowo merupakan modal besar bagi Indonesia untuk menjalani lima tahun ke depan. Sebagai pemimpin yang lahir dari “proses regenerasi yang mulus” dengan dukungan Jokowi, Prabowo dinilai memiliki peluang besar untuk menyatukan kembali elemen-elemen politik yang terpecah dan membawa Indonesia menjadi negara yang lebih maju dan sejahtera.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam diskusi yang disiarkan di Total Politik pada Kamis, 17 Oktober 2024, dua tokoh penting, Zulfan Lindan dan Mr. Q, mengupas tuntas isu terkait penurunan indeks demokrasi Indonesia dan warisan (legacy) yang ditinggalkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi). Diskusi ini mengupas beberapa aspek penting mulai dari penurunan Indeks Demokrasi, perspektif ekonomi, hingga pencapaian infrastruktur di era kepemimpinan Jokowi.

Di balik banyaknya kritik terhadap pemerintahan Jokowi, baik Zulfan maupun Mr. Q menekankan perlunya analisis yang lebih mendalam sebelum menyimpulkan bahwa Indonesia bergerak menuju sistem otoritarian.

1. Penurunan Indeks Demokrasi: Apakah Indonesia Mengarah ke Otoritarian?

Diskusi dimulai dengan pembahasan Zulfan Lindan mengenai turunnya peringkat demokrasi Indonesia berdasarkan Economic Intelligence Unit (EIU). Ia mencatat bahwa Indonesia, menurut laporan EIU, berada di kategori “flawed democracy” atau demokrasi yang belum sempurna.

Meskipun terdapat penurunan 0,2 poin dari 2022 ke 2023, Indonesia tetap berada dalam kelompok demokrasi yang cacat, namun jauh dari kategori “hibrida” apalagi “otoritarian”.

Mr. Q menambahkan, seolah-olah ada narasi di masyarakat yang menggambarkan penurunan indeks ini sebagai indikasi Indonesia sedang beralih menuju sistem otoritarian. Ia menekankan, meskipun ada kekurangan dalam demokrasi Indonesia, peralihan menuju otoritarian tidak terbukti.

Narasi yang menyatakan bahwa turunnya indeks demokrasi menyebabkan Indonesia menjadi negara otoritarian, menurut Mr. Q sebagai narasi yang tidak logis. Ia menyarankan agar masyarakat lebih teliti dalam membaca riset sebelum membuat kesimpulan.

2. Tantangan Ekonomi dan Kesalahan Logika

Di sisi lain, Mr. Q juga membahas mengenai kritik terhadap pemerintahan Jokowi yang mengaitkan berbagai peristiwa negative. Antara lain meningkatnya angka bunuh diri dan kebijakan ekonomi Jokowi. Mr. Q menjelaskan, banyak faktor lain yang berkontribusi terhadap kasus-kasus ini, termasuk faktor personal dan sosial.

Misalnya masalah finansial pribadi, pinjaman online (pinjol), atau spekulasi pasar saham. Ia mencontohkan fenomena bunuh diri di negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan yang sering kali tidak ada hubungannya dengan kebijakan presiden, melainkan kondisi sosial dan ekonomi individu.

Zulfan juga menyoroti bagaimana sering kali kritik-kritik ini mencerminkan bias politik. Misalnya, upaya untuk menyalahkan Jokowi atas semua permasalahan ekonomi, meskipun variabelnya sangat kompleks. Menurutnya, dalam banyak kasus, kritik semacam ini tidak memperhitungkan faktor lain yang lebih luas dan hanya berfokus pada aspek yang sesuai dengan agenda politik tertentu.

3. Pencapaian Infrastruktur:Bukti Legacy Jokowi

Bagian paling menonjol dari diskusi ini adalah saat Zulfan Lindan menyoroti berbagai pencapaian Jokowi di bidang infrastruktur. Ia memaparkan data mengenai pembangunan yang telah dicapai selama 10 tahun masa pemerintahan Jokowi. Seperti pembangunan 366.000 kilometer jalan desa, 50 pelabuhan dan bandara baru, serta hampir 2 juta meter jembatan desa.

Zulfan juga menyoroti program irigasi dan jalan tol yang dibangun untuk memperkuat konektivitas nasional. Menurutnya, semua ini adalah bagian dari visi Jokowi untuk mewujudkan pembangunan yang inklusif dan merata di seluruh Indonesia.

Zulfan juga menekankan bahwa proyek-proyek infrastruktur ini bukan hanya sekadar pembangunan fisik, tetapi juga bentuk nyata dari komitmen Jokowi untuk memperkuat kesatuan Indonesia. Salah satu contohnya adalah program “BBM Satu Harga” yang diimplementasikan di Papua, yang bertujuan untuk menyetarakan harga bahan bakar di seluruh wilayah Indonesia.

Dengan demikian, Zulfan menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur ini adalah bagian dari legacy Jokowi yang akan diingat sebagai upaya untuk membangun Indonesia yang lebih terhubung dan adil.

Legacy Jokowi dan Tantangan Masa Depan, Zulfan dan Mr. Q sepakat bahwa meskipun masa pemerintahan Jokowi akan segera berakhir, warisan yang ia tinggalkan akan terus berdampak bagi generasi mendatang. Mereka menyoroti pentingnya memahami bahwa pencapaian Jokowi, terutama dalam hal infrastruktur dan ekonomi, harus dipandang sebagai fondasi menuju visi “Indonesia Emas 2045”.

Mr. Q menambahkan bahwa Jokowi telah menciptakan peta jalan yang kuat menuju Indonesia sebagai negara maju dengan memanfaatkan bonus demografi dan menghindari jebakan kelas menengah (middle-income trap).

Zulfan menggarisbawahi, tantangan ke depan adalah bagaimana pemerintahan selanjutnya dapat melanjutkan visi besar ini. Ia menyebutkan bahwa infrastruktur yang telah dibangun hanyalah langkah awal, dan Indonesia harus terus berinovasi dan beradaptasi dengan perubahan global agar dapat merealisasikan cita-cita menjadi negara maju pada tahun 2045.

4. Menghadapi Polarisasi dan Konfirmasi Bias

Zulfan dan Mr. Q sepakat bahwa kritik terhadap Jokowi sering kali terjebak dalam bias politik. Zulfan menyatakan bahwa mereka yang sudah memiliki sikap politik tertentu cenderung hanya melihat data yang mendukung argumen mereka (confirmation bias). Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya diskusi yang objektif dan berlandaskan data yang valid.

Dengan berakhirnya pemerintahan Jokowi, keduanya berharap masyarakat Indonesia dapat lebih bijak dalam menilai pencapaian Jokowi tanpa terjebak pada polarisasi politik yang tajam. Zulfan dan Mr. Q menegaskan bahwa meskipun ada kritik, pencapaian Jokowi dalam membangun infrastruktur dan meletakkan fondasi ekonomi yang kuat tidak dapat disangkal dan akan menjadi legacy yang penting bagi masa depan Indonesia.

Hal ini mengingatkan kita bahwa tantangan terbesar bukan hanya pada bagaimana mencapainya, tetapi juga pada bagaimana kita dapat melanjutkan warisan ini dengan langkah yang lebih besar dan lebih bijaksana.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Keterikatan calon gubernur (cagub) pada fakta integritas merupakan hal yang sangat penting dalam menghadapi pemilihan kepala daerah (pilkada). Hal ini semakin disoroti setelah wawancara Adi Prayitno (Adipray) dengan Zulfan Lindan di Unparking, pada 9 Oktober 2024.

Dalam diskusi tersebut, Adipray mengungkapkan pandangan kritis terhadap janji-janji yang dilontarkan oleh calon-calon gubernur. Kritik yang diungkapkan bukan hanya sekadar menyuarakan ketidakpuasan, tetapi juga bertujuan untuk memberikan masukan konstruktif agar cagub tidak berbohong dan dapat menjalankan amanah yang diberikan masyarakat.

Dalam dunia politik, terutama dalam pemilihan umum, integritas menjadi salah satu kata kunci yang harus dijunjung tinggi oleh setiap calon pemimpin. Hal ini dikarenakan banyaknya janji yang diucapkan oleh calon-calon tersebut sering kali tidak terealisasi setelah terpilih. Seperti yang diungkapkan Adipray, banyak cagub yang mengemukakan gagasan yang baik dan berpotensi, namun tidak ada jaminan bahwa semua itu akan terwujud. Oleh karena itu, penting bagi setiap cagub untuk berkomitmen pada fakta integritas, di mana mereka tidak hanya berjanji tetapi juga siap untuk dipertanggungjawabkan.

Salah satu isu mendasar dalam politik saat ini adalah krisis kepercayaan publik terhadap para pemimpin. Masyarakat semakin skeptis terhadap janji-janji yang dikeluarkan, karena pengalaman pahit di masa lalu. Banyak pemimpin yang tidak mampu memenuhi janji mereka, baik itu soal pendidikan, kesehatan, infrastruktur, maupun penanganan masalah sosial seperti kemacetan dan banjir. Dalam konteks ini, Adipray menekankan perlunya adanya kontrak politik yang jelas antara calon pemimpin dan masyarakat. Ini akan membantu masyarakat untuk dapat menagih janji-janji tersebut dan memberikan sanksi moral jika janji tidak ditepati.

Adipray membedakan jenis-jenis kritik yang ada. Ada kritik yang murni bersifat konstruktif dan bertujuan untuk perbaikan, ada juga kritik yang didasari oleh kepentingan pribadi atau kelompok. Dalam konteks ini, setiap cagub harus siap menerima kritik yang membangun untuk memperbaiki diri. Sebaliknya, masyarakat juga diharapkan untuk memberikan kritik yang berdasarkan fakta dan tidak semata-mata didasari oleh emosi atau kepentingan pribadi. Dengan cara ini, akan tercipta iklim politik yang sehat dan saling menghormati.

Cagub yang terpilih seharusnya berani menjalin kesepakatan dengan masyarakat mengenai target-target yang harus dicapai selama masa jabatan mereka. Misalnya, jika dalam waktu tertentu mereka tidak dapat menyelesaikan masalah kemacetan atau banjir, maka mereka harus bersedia untuk mengundurkan diri. Ini adalah bentuk tanggung jawab moral yang diharapkan dapat mengembalikan kepercayaan publik. Cagub harus berani mengikat diri pada fakta integritas, sehingga masyarakat tahu bahwa mereka tidak hanya berjanji tanpa konsekuensi.

Adi Prayitno juga menggarisbawahi pentingnya solusi konkret untuk menghadapi masalah yang ada, seperti banjir dan kemacetan. Di Jakarta, misalnya, telah banyak ide dan gagasan cemerlang yang diungkapkan oleh para cagub, tetapi realisasi dari gagasan tersebut sering kali tidak terlihat. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk terus memantau dan menagih komitmen tersebut. Cagub harus memiliki rencana yang jelas dan terukur untuk mengatasi masalah-masalah ini, serta bersedia untuk mempertanggungjawabkan hasil kerjanya kepada publik.

Dalam menghadapi pemilihan gubernur, masyarakat perlu menjadikan fakta integritas sebagai acuan dalam memilih pemimpin. Cagub yang baik adalah mereka yang tidak hanya pandai berjanji, tetapi juga berani bertanggung jawab atas janji-janji tersebut. Dengan adanya kesepakatan yang jelas dan pertanggungjawaban yang tegas, diharapkan kepercayaan publik dapat terbangun kembali. Oleh karena itu, mari kita kritis dan teliti dalam memilih pemimpin yang benar-benar siap mengemban amanah rakyat.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam sebuah wawancara eksklusif pada Unpacking Indonesia Podcast bersama Zulfan Lindan pada 16 September 2024, Komjen. Pol. Dr. Marthinus Hukom, S.IK., M.Si., yang saat ini menjabat sebagai Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Republik Indonesia, memberikan pandangan yang mengejutkan terkait sisi ekonomi gelap yang dihasilkan oleh peredaran narkoba di Indonesia.

(lebih…)

MoneyTalk, Jakarta – Zulfan Lindan, politisi senior dan mantan anggota DPR RI, dalam tayangan kanal DC News Indonesia yang dikutip oleh MoneyTalk.id pada (02/09), secara tegas menyebut Anies Baswedan sebagai sosok oportunis dalam politik Indonesia. Zulfan mengungkapkan kritik kerasnya terhadap langkah-langkah politik Anies yang menurutnya tidak konsisten dan lebih mementingkan kepentingan pribadi dibandingkan dengan kepentingan bangsa.

(lebih…)