2 November 2026

Bung Karno

MoneyTalk, Jakarta – Dunia olahraga dan politik kembali bersinggungan setelah keputusan tegas Presiden Prabowo Subianto menolak kehadiran atlet senam Israel dalam Kejuaraan Dunia Senam Artistik di Jakarta berujung pada sanksi dari Komite Olimpiade Internasional (IOC). Namun, di balik sorotan global itu, muncul pandangan strategis dari pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah yang menilai langkah Prabowo justru membuka peluang lahirnya momentum baru dalam konstelasi politik global mirip dengan manuver bersejarah Presiden Soekarno pada awal 1960-an.

Amir Hamzah menilai, keputusan Prabowo memiliki kesamaan ideologis dan geopolitik dengan langkah Bung Karno saat menjadi tuan rumah Asian Games IV tahun 1962. Kala itu, Soekarno menolak memberikan visa bagi atlet Israel dan Taiwan (yang saat itu masih mengklaim sebagai perwakilan seluruh Tiongkok), hingga membuat Indonesia dijatuhi sanksi oleh IOC.

Sebagai respons, Bung Karno mencetuskan GANEFO (Games of the New Emerging Forces) pada 1963—sebuah “olimpiade tandingan” yang menjadi simbol perlawanan Dunia Ketiga terhadap dominasi Barat.

“Prabowo bisa melakukan hal yang sama dengan menegakkan kembali kedaulatan moral dan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif,” ujar Amir.

Menurutnya, jika GANEFO dulu menjadi alat diplomasi anti-imperialisme, maka Prabowo berpotensi menciptakan “GANEFO 2.0” dalam konteks baru: olimpiade dunia multipolar, di mana negara-negara non-Barat menegakkan sportivitas tanpa tekanan ideologis atau politik.

Amir Hamzah menekankan, dalam analisa intelijen, kebijakan penolakan terhadap atlet Israel bukan semata soal agama atau sentimen politik jangka pendek, tetapi mencerminkan sinyal kedaulatan strategis Indonesia.

“Ini langkah yang dikalkulasi. Prabowo memahami bahwa tekanan geopolitik global pasca perang Gaza dan agresi Israel ke Palestina telah membentuk poros baru kekuatan dunia. Indonesia, sebagai negara Muslim terbesar, punya posisi moral yang kuat,” jelas Amir.

Ia menambahkan bahwa keputusan Prabowo juga menunjukkan “independensi intelijen negara” yang mulai lepas dari orbit pengaruh Barat.

“Ini bukan kebijakan impulsif, tetapi hasil analisis mendalam bahwa legitimasi politik global Barat sedang menurun. Menolak Israel bukan hanya soal solidaritas Palestina, tapi simbol kebangkitan dunia non-Barat,” ujarnya.

Amir Hamzah mengingatkan bahwa Prabowo bukan figur yang asing di arena diplomasi global.

“Prabowo adalah saksi langsung dari peristiwa penting di Timur Tengah. Ia pernah hadir dalam momen penandatanganan perdamaian Israel-Palestina di Mesir. Ia memahami anatomi konflik dan strategi global yang melingkupinya,” kata Amir.

Menurut dia, pengalaman Prabowo berinteraksi dengan tokoh-tokoh dunia membuatnya memahami politik kekuasaan global (realpolitik). Maka, ketika Donald Trump pernah memuji langkah diplomasi Prabowo, hal itu bukan tanpa alasan.

“Trump melihat Prabowo sebagai pemimpin dengan naluri strategis. Ia bisa menyeimbangkan idealisme dan pragmatisme, bahkan di tengah tekanan Barat,” lanjut Amir.

Amir Hamzah memprediksi, jika Prabowo benar-benar menolak tunduk pada tekanan IOC dan menggagas alternatif global baru dalam dunia olahraga, maka Indonesia akan menarik dukungan luas dari negara-negara BRICS, OKI, dan Dunia Selatan (Global South).

“Bayangkan jika negara seperti Rusia, Tiongkok, Iran, Arab Saudi, Brasil, bahkan Afrika Selatan mendukung gagasan olimpiade alternatif. Itu bukan hanya tentang olahraga, tapi tentang pergeseran tatanan dunia,” ujarnya.

Menurut Amir, keputusan seperti ini akan mempercepat pergeseran pusat gravitasi kekuasaan dunia dari Barat ke Asia dan Selatan Global.

“Indonesia bisa menjadi pusat baru diplomasi olahraga dunia dengan prinsip kemanusiaan dan keadilan, bukan dominasi,” katanya.

Namun, Amir juga mengingatkan bahwa langkah Prabowo bukan tanpa risiko. Tekanan ekonomi, diplomatik, hingga boikot bisa saja terjadi.

“Tapi justru di sinilah ujiannya. Bung Karno dulu diserang habis-habisan secara ekonomi dan politik setelah GANEFO, namun ia menang secara moral dan ideologis. Jika Prabowo mampu menjaga konsolidasi nasional, ia akan masuk sejarah sebagai pemimpin yang menegakkan kedaulatan di tengah tekanan global,” tegas Amir.

Ia juga menilai, reaksi IOC terhadap Indonesia justru membuka mata publik dunia bahwa olahraga internasional telah terpolitisasi oleh kepentingan negara-negara besar.

“Penolakan Indonesia terhadap Israel adalah ujian moral dunia olahraga. Kalau Olimpiade ingin bersih dari politik, kenapa mereka tak menegur Israel saat membombardir Gaza?” tanya Amir.

Bagi Amir Hamzah, Prabowo kini berada di persimpangan sejarah yang sama dengan Bung Karno 60 tahun lalu.

“Satu keputusan bisa mengubah arah sejarah bangsa. Jika Bung Karno membangun GANEFO untuk Dunia Ketiga, maka Prabowo bisa membangun Olimpiade Dunia Merdeka untuk Dunia Multipolar,” tegasnya.

Langkah tegas Prabowo dalam kasus ini bukan sekadar keputusan politik olahraga, melainkan manifesto kedaulatan bangsa di tengah tekanan geopolitik global yang semakin tajam. Dan seperti kata Amir Hamzah, “Kadang, sejarah memang menunggu satu pemimpin yang berani menolak tunduk.”

MoneyTalk, Jakarta – Berbicara soal pemikiran manusia, kita akan dihadapkan dengan dua pola atau ciri khas (typical) berpikir manusia, yakni ada yang typical Textbook Thinking ada pula yang typical Out of The Box Thingking.

Textbook Thinking bisa diartikan dengan cara berpikir yang menggunakan buku teks sebagai sumber utama informasinya, sedangkan Out of The Box Thingking bisa diartikan dengan cara berpikir yang kreatif, inovatif dan tidak konfensional, yang jika dipersingkat menjadi berpikir diluar kotak.

Orang-orang yang cara berpikirnya model Textbook Thinking biasanya tidak kreatif dan inovatif, cenderung abai pada persoalan-persoalan masyarakat di sekitarnya, dan biasanya gagap menyikapi secara tegas problem-problem kebangsaan dan kenegaraan.

Cara berpikir yang seperti demikian, alih-alih dapat membumikan pemikirannya untuk terwujudnya suatu perubahan, malahan yang ada biasanya menjadi tukang-tukang stempel penguasa yang harus diluruskan!

Bung Karno dalam pidato-pidato kenegaraannya, pernah berkali-kali mengkritik dengan keras orang-orang yang gemar berpikir Textbook ini, karena bagi Bung Karno orang-orang yang seperti demikian paling susah diajak Revolusi.

Begitupun dengan sastrawan terkemuka Indonesia, alm. WS. Rendra yang mengkritik keras typical orang Textbook Thingking dengan sindirannya, “apalah artinya berpikir jika terpisah dari masalah kehidupan?”

Jika kita sudah mengetahui persoalan pokok munculnya Kancil-Kancil Pilek (Kancil yang kena flu, sariawan dll.) menurut istilahnya Bung Tomo, atau bisa diartikan dengan intelektual yang buta dengan keadaan, diam melihat penindasan, bahkan malah jadi “tukang stempelnya” penindas dll., maka kita tidak akan pernah kebingungan lagi menjawab pertanyaan itu.

Para pejuang-pejuang tangguh Tanah air ini dahulu, seperti Bung Karno, Bung Hatta, Bung Sjahrir, Tan Malaka dll. merupakan orang-orang yang terbiasa berpikir Out of The Box, meskipun beliau-beliau itu semua merupakan pelahap buku-buku berbobot yang menginspirasi pemikir-pemikir dunia.

Pada zamannya, pemikir-pemikir atau kritikus-kritikus itu dicap oleh Pemerintah Kolonial sebagai Kaum Ekstrimis, kalau orang-orang BOTOL zaman sekarang mungkin akan menyebutnya sebagai Tukang Nyinyir. Namun pada akhirnya semua mata kesadaran telah terbuka, bahwa beliau semua ternyata pejuang-pejuang tangguh yang membebaskan bangsa dan negeri ini dari penjajahan!

Berpikir Out of the Box dapat memudahkan orang untuk membuat keputusan yang sangat sulit dari persoalan-persoalan yang kontroversial. Misalnya, Jokowi itu aslinya bodoh ataukah tukang ngibul. Jokowi itu korup ataukah ahli pencitraan dll. Pertanyaan-pertayaan kontroversial semacam ini bisa dipecahkan dengan mudah oleh orang-orang yang terbiasa berpikir Out of The Box.

Selain itu, berpikir Out of The Box juga sangat berguna untuk menemukan solusi alternatif, tetap kompetitif, dapat menumbuhkan ketegasan sikap, keberanian dll. Aristoteles pernah berkata: “Kamu tidak akan pernah melakukan apapun di dunia ini tanpa keberanian. Itu adalah kualitas terbesar dari pikiran setelah kehormatan”.

Olehnya kita tidak perlu heran, mengapa para pemikir terkemuka di Tanah air ini, yang kelak muncul sebagai bapak-bapak pendiri bangsa berpikirnya tidak Textbook melainkan Out of The Box!

Sastrawan dan Aktivis Politik terkemuka Rusia, pendiri metode sastra realisme sosialis, Maxim Gorky mewanti-wanti pada kita seperti ini; “Teruslah membaca buku, tetapi ingatlah bahwa buku hanyalah buku, dan anda harus belajar berpikir sendiri”.

Kezaliman Jokowi tak seharusnya dilegitimasi oleh intelektual-intelektual Ahlul Proposal, melainkan harus terus dilawan oleh Rakyat Revolusioner yang sudah tercerahkan, sampai pendukungnya kocar-kacir tulang belulangnya gemetaran.

Maka putar otak kalian, lebarkan sayap nalar kalian, dengarlah rintihan batin masyarakat kalian, hingga pada akhirnya akan terbangun komitmen juang yang tangguh di jiwa kalian! Merdeka! (SHE).

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE), Lawyer dan Petarung Politik.

MoneyTalk, Jakarta – Banyak yang tidak mengerti hubungan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan UUD 1945. Akibatnya tidak mengerti, tetapi melakukan amandemen. Maka yang diamandemen adalah pandangan hidup, falsafah hidup, tujuan hidup, dan cita-cita hidup.

Tindakan merusak ini seperti virus yang menyerang otak dengan Demokrasi Liberal ala Amerika dan FTA dengan Chris Komari-nya menyebarkan Virus Demokrasi Liberal ala Amerika itu.

Marilah kita merenungkan kembali apa yang pernah dipidatokan oleh Bung Karno pada peringatan 17 Agustus 1963. Berikut bunyinya:

………. ”Dan sinar suryanya! Pada waktu kita berjalan, Proklamasi menunjukkan arahnya jalan.

Pada waktu kita lelah, Proklamasi memberikan tenaga baru kepada kita.

Pada waktu kita berputus asa, Proklamasi membangunkan lagi semangat kita.

Pada waktu di antara kita ada yang nyeleweng, Proklamasi memberikan alat kepada kita untuk memperingatkan si penyeleweng itu bahwa mereka telah nyeleweng.

Pada waktu kita menang, Proklamasi mengajak kita untuk tegap berjalan terus, oleh karena tujuan terakhir memang belum tercapai.

Bahagialah rakyat Indonesia yang mempunyai Proklamasi itu; bahagialah ia, karena ia mempunyai pengayoman, dan di atas kepalanya ada sinar surya yang cemerlang!

Bahagialah ia, karena ia dengan adanya Proklamasi yang perkataan-perkatannya sederhana itu, tetapi yang pada hakikatnya ialah pencetusan segala perasaan-perasaan yang dalam sedalam-dalamnya terbenam di dalam ia punya kalbu, sebenarnya telah membukakan keluar ia punya pandangan hidup, ia punya tujuan hidup, ia punya falsafah hidup, ia punya rahasia hidup, sehingga

selanjutnya dengan adanya Proklamasi beserta anak kandungnya yang berupa Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 itu, ia mempunyai pegangan hidup yang boleh dibaca dan direnungkan setiap jam dan setiap menit.

Tidak ada satu bangsa di dunia ini yang mempunyai pegangan hidup begitu jelas dan indah, seperti bangsa kita ini. Malah banyak bangsa di muka bumi ini, yang tak mempunyai pegangan hidup sama sekali!

Dengarkan sekali lagi bunyi naskah Proklamasi itu:

“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain diselenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.”

Dan, dengarkan sekali lagi Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan.

Dan, perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan sela-mat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur.

Atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.

Kemudian daripada itu, untuk membentuk suatu pemerintah negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melak-sanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemer-dekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial, maka disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indonesia itu dalam suatu undang-undang dasar negara Indonesia, yang berbentuk dalam suatu susunan negara Republik Indonesia yang berkedaulatan rakyat dengan berdasar kepada : “Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, dan Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan permusyawaratan/perwakilan, serta dengan mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”

Demikianlah bunyi Proklamasi beserta anak kandungnya yang berupa Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Alangkah jelasnya! Alangkah sempurnanya ia melukis-kan kita punya pandangan hidup sebagai bangsa, – kita punya tujuan hidup, kita punya falsafah hidup, kita punya rahasia hidup, kita punya pegangan hidup!

Karena itu maka Proklamasi dan Undang-Undang Dasar 1945 adalah satu “pengejawantahan” kita punya isi jiwa yang sedalam-dalamnya, satu Darstellung kita punya deepest inner self. 17 Agustus 1945 mencetuskan keluar satu proklamasi kemerdekaan beserta satu dasar kemerdekaan. Proklamasi 17 Agustus 1945

Mencetuskan keluar satu proklamasi kemerdekaan beserta satu dasar kemerdekaan. Proklamasi 17 Agustus 1945 adalah sebenarnya satu proclamation of independence dan satu declaration of independence.

Bagi kita, maka naskah Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah satu.

Bagi kita, maka naskah Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 tak dapat dipisahkan satu dari yang lain.

Bagi kita, maka naskah Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 adalah loro loroning atunggal.

Bagi kita, maka proclamation of independence berisikan pula declaration of independence. Lain bangsa, hanya mempunyai proclamation of independence saja. Lain bangsa lagi, hanya mempunyai declaration of independence saja.

Kita mempunyai proclamation of independence dan declaration of independence sekaligus.

Proklamasi kita memberikan tahu kepada kita sendiri dan kepada seluruh dunia, bahwa rakyat Indonesia telah menjadi satu bangsa yang merdeka.

Proklamasi kita adalah sumber kekuatan dan sumber tekad perjuangan kita, oleh karena seperti tadi saya katakan, Proklamasi kita itu adalah ledakan pada saat memuncaknya kracht total semua tenaga-tenaga nasional, badaniah dan batiniah – fisik dan moril, materiil dan spirituil.

Declaration of independence kita, yaitu Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, memberikan pedoman-pedoman tertentu untuk mengisi kemerdekaan nasional kita, untuk melaksanakan kenegaraan kita, untuk mengetahui tujuan dalam memperkembangkan kebangsaan kita, untuk setia kepada suara batin yang hidup dalam kalbu rakyat kita.

Maka dari itulah saya tadi tandaskan, bahwa Proklamasi kita tak dapat dipisahkan dari declaration of independence kita yang berupa Undang-Undang Dasar 1945 dengan Pembukaannya itu.

“Proklamasi” tanpa “declaration” berarti bahwa kemer-dekaan kita tidak mempunyai falsafah.

Tidak mem-punyai dasar penghidupan nasional, tidak mempunyai pedoman, tidak mempunyai arah, tidak mempunyai “raison d’etre”, tidak mempunyai tujuan selain daripada mengusir kekuasaan asing dari bumi Ibu Pertiwi.

Sebaliknya, “declaration” tanpa “proklamasi”, tidak mempunyai arti. Sebab, tanpa kemerdekaan, maka segala falsafah, segala dasar dan tujuan, segala prinsip, segala “isme”, akan merupakan khayalan belaka, – angan-angan kosong-melompong yang terapung-apung di angkasa raya.

Tidak, Saudara-saudara! Proklamasi Kemerdekaan kita bukan hanya mempunyai segi negatif atau destruktif saja, dalam arti membinasakan segala kekuatan dan kekuasaan asing yang bertentangan dengan kedaulatan bangsa kita, menjebol sampai ke akar-akarnya segala penjajahan di bumi kita, menyapu-bersih segala kolonialisme dan imperialisme dari tanah air Indonesia, – tidak, proklamasi kita itu, selain melahirkan kemerdekaan, juga melahirkan dan menghidupkan kembali kepribadian bangsa Indonesia

Dalam arti seluas-luasnya:

. kepribadian politik,

. kepribadian ekonomi,

. kepribadian sosial,

. kepribadian kebudayaan, pendek kata kepribadian nasional.Kemerdekaan dan kepribadian nasional adalah laksana dua anak kembar yang melengket satu sama lain, yang tak dapat dipisahkan tanpa membawa bencana kepada masing-masing……………

Sekali lagi, semua kita, terutama sekali semua pemimpin-pemimpin, harus menyadari sangkut-paut antara Proklamasi dan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945:

. kemerdekaan untuk bersatu,

. kemerdekaan untuk berdaulat,

. kemerdekaan untuk adil dan makmur,

. kemerdekaan untuk memajukan kesejahteraan umum,

. kemerdekaan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa,

. kemerdekaan untuk ketertiban dunia, kemerdekaan perdamaian abadi,

. kemerdekaan untuk keadilan sosial,

. kemerdekaan yang berkedaulatan rakyat,

. kemerdekaan yang ber-Ketuhanan Yang Maha Esa,

. kemerdekaan yang berkemanusiaan yang adil dan beradab,

. kemerdekaan yang berdasarkan persatuan Indonesia;

. kemerdekaan yang berdasar kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan,

. kemerdekaan yang mewujudkan suatu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,
semua ini tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, anak kandung atau saudara kembar daripada Proklamasi 17 Agustus 1945.

Bagi orang yang benar-benar sadar kita punya proclamation dan sadar kita punya declaration, maka Amanat Penderitaan Rakyat tidaklah khayalan atau abstrak.

Bagi dia, Amanat Penderitaan Rakyat terlukis cetha wela-wela (sangat nyata dan jelas) dalam Proklamasi dan Undang-Undang Dasar 1945.

Bagi dia, Amanat Penderitaan Rakyat adalah konkrit-mbahnya-konkrit. Bagi dia, – dus bukan bagi orang-orang gadungan -, melaksanakan Amanat Penderitaan Rakyat adalah berarti setia dan taat kepada Proklamasi.

Bagi dia, mengerti Amanat Penderitaan Rakyat berarti mempunyai orientasi yang tepat terhadap rakyat. Bukan rakyat sebagai kuda tunggangan, tetapi rakyat sebagai satu-satunya yang berdaulat di Republik Proklamasi,
sebagai tertulis di dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945.

(Cuplikan Pidato Presiden Soekarno 17 Agustus 19 63 di Istana Negara)

Pidato ini sunggu masih sangat relevan untuk direnungkan. Kedaan bangsa yang karut-marut sejak reformasi dan mengamandemen UUD 1945. Tatanan kenegaraan telah diubah tanpa mau memperdalam apa yang menjedi kesepakatan bersama yaitu Pembukaan (Preambul ) UUD 1945.

Demokrasi liberal yang menjadikan rakyat hanya sebagai kuda tunggangan. Rakyat hanya sebagai “tambal butuh“ yang hanya diberi sekedarnya.

Diberi sembako, setelah itu semua janji-janji manis dilupakan. Akibatnya Amanat penderitaan rakyat terus akan berlanjut tanpa cita-cita. Sementara penguasa bergelimang kemewahan, membangun dinasti politik.

Anggota DPR dan DPD hanya sebuah pekerjaan untuk mencari kenikmatan kehidupan pribadi dan golongannya.

Partai politik hanya sebagai gerombolan manusia tanpa ideologi kebangsaan.

Penulis: Prihandoyo Kuswanto, Ketua Pusat Study Kajian Rumah Panca Sila

MoneyTalk, Jakarta – Baru-baru ini politisi PDI-P, Arteria Dahlan, mengungkapkan keputusannya yang kontroversial dalam sebuah konferensi pers di Komplek Senayan, Senin (30/09). Dalam pernyataannya, Arteria mengaku rela menyerahkan kursi DPR RI yang ia peroleh dari Daerah Pemilihan (Dapil) Jawa Timur VI kepada Romy Soekarno, cucu dari proklamator Indonesia, Soekarno. Keputusan ini menuai perdebatan di kalangan publik dan memunculkan pertanyaan. Apakah Arteria bertindak sebagai “joki politik” untuk kepentingan elite keluarga besar Bung Karno?

Arteria yang merupakan loyalis PDI Perjuangan ini dikenal sebagai tokoh dengan suara tinggi di Dapil Jawa Timur VI. Ia menyatakan bahwa ia rela mengundurkan diri demi memberi jalan kepada Romy Soekarno untuk duduk di kursi DPR.

“Saya ini bisa seperti ini karena Ibu Mega dan keluarga besar Bung Karno. Sudah saatnya saya membalas budi,” ujar Arteria.

Ia menekankan bahwa keputusan tersebut adalah bentuk rasa hormat dan balas budi kepada keluarga Bung Karno. Terutama kepada Megawati Soekarnoputri, yang ia anggap sebagai figur ibu politiknya.

Pernyataan Arteria bahwa menyerahkan kursi DPR kepada Romy merupakan bentuk balas budi memunculkan aneka persepsi. Publik menilai dirinya bersedia “berkorban” demi menjaga loyalitasnya kepada keluarga besar Bung Karno. Dalam politik, praktik semacam ini seringkali dipandang sebagai upaya mengokohkan kedudukan dinasti politik tertentu. Misalnya dengan mengorbankan tokoh-tokoh yang sebenarnya memiliki kekuatan elektoral yang lebih tinggi.

Namun, dalam kasus ini, Arteria mengaku bahwa keputusan tersebut diambil secara sukarela dan tanpa tekanan. Ia bahkan menegaskan bahwa baginya, “melayani keluarga besar Bung Karno adalah suatu kemuliaan”. Bagi Arteria jabatan di DPR tidak lagi menjadi prioritas utamanya. Keputusannya ini dinilai sebagai wujud kesetiaan dan loyalitas terhadap sejarah panjang PDI Perjuangan dan keluarga besar Soekarno.

Langkah Arteria untuk menyerahkan kursinya tentu saja mencerminkan dinamika politik internal PDI Perjuangan yang masih sangat dipengaruhi oleh kedekatan dengan keluarga besar Soekarno. Bagi sebagian pengamat, ini bisa dilihat sebagai bentuk subordinasi politik. Di mana tokoh-tokoh yang berprestasi elektoral harus rela memberikan posisinya kepada anggota keluarga elite partai. Namun, dari sudut pandang Arteria, loyalitas kepada keluarga Soekarno tampaknya lebih penting daripada ambisi politik pribadi.

“Bagi saya, kekuasaan di DPR ini tidak seberapa. Bagi saya, melayani keluarga besar Bung Karno adalah suatu kemuliaan,” katanya.

Sikap ini sekaligus mengirimkan pesan bahwa di dalam tubuh PDI Perjuangan, kesetiaan dan penghormatan kepada garis keturunan Soekarno tetap menjadi nilai yang dijunjung tinggi.

Keputusan Arteria tentu menuai beragam reaksi dari masyarakat. Di satu sisi ada yang melihatnya sebagai bentuk pengabdian yang tulus. Namun, di sisi lain tidak sedikit yang mempertanyakan apakah tindakan ini sebenarnya adalah bentuk penundukan diri terhadap dinasti politik yang kian mengakar di Indonesia. Fenomena ini juga memunculkan perdebatan lebih luas tentang praktik politik dinasti di Tanah Air. Kekuasaan dan kesempatan politik lebih sering diwariskan kepada anggota keluarga elite daripada berdasarkan prestasi dan meritokrasi.

Tantangan ke depan bagi Arteria adalah bagaimana ia menjaga reputasi politiknya sebagai tokoh yang kuat, namun tetap loyal terhadap partai dan ideologi yang ia junjung. Sementara bagi PDI Perjuangan, dinamika ini menjadi cermin bahwa kendali elite politik dalam menentukan posisi strategis di parlemen masih sangat dominan. Meskipun, hal tersebut bisa memicu kritik tentang bagaimana regenerasi kader di dalam partai seharusnya berjalan.

Apakah Arteria benar-benar rela menjadi “joki politik”, ataukah ini adalah bentuk loyalitas sejati terhadap keluarga besar Bung Karno? Keputusan tersebut menempatkan Arteria di persimpangan jalan antara menjaga nama baik partai dan mempertahankan nilai-nilai loyalitas dalam politik. Di tengah sorotan publik, langkah ini tentu saja membuka perbincangan tentang peran dinasti politik dalam demokrasi Indonesia dan bagaimana keseimbangan antara loyalitas dan kompetensi elektoral seharusnya dijaga.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta, 26 Agustus 2024 Di hadapan para kader dan calon kepala daerah yang berkumpul di Kantor DPP PDIP, Megawati Soekarnoputri menyampaikan arahan penuh semangat untuk persiapan menghadapi Pilkada yang akan datang. Dalam pidatonya, Megawati mengingatkan pentingnya kesadaran realistis dan kesiapan mental dalam berjuang di lapangan.

Mengawali pidatonya dengan sapaan yang beragam, Megawati mengucapkan, “Namo Buddhaya, Salam Kebajikan, Warahmatullahi Wabarakatuh, Salam Sejahtera untuk Kita Semua, Shalom, Om Swastiastu, Rahayu, Salam Pancasila.” Suasana segera menjadi penuh semangat ketika ia melanjutkan dengan seruan “Merdeka!” yang disambut tepuk tangan meriah oleh hadirin.

Megawati kemudian menyampaikan bahwa partai sudah mempersiapkan diri untuk bekerja keras dalam menghadapi pendaftaran calon kepala daerah yang akan dimulai pada tanggal 27 Agustus. “Alhamdulillah, tinggal beberapa hari lagi kita sebagai salah satu partai yang juga akan bekerja sudah mendaftarkan, mulai tanggal 27 Insyaallah sampai jadi,” ujarnya.

Dalam arahannya, Megawati menekankan pentingnya kader untuk tetap konsisten dan siap menghadapi tantangan, termasuk resiko yang mungkin dihadapi di lapangan. “Perjuangan lagi saya tanya kira-kira masih bermanfaat bulu yang terakhir ini gelombang,” ungkapnya. Ia juga menegaskan bahwa semua kader harus realistis dan turun langsung ke masyarakat.

Megawati juga mengingatkan kadernya untuk selalu ingat bahwa di PDIP Perjuangan, semangat dan konsistensi adalah kunci. Ia menceritakan pengalamannya saat pertama kali masuk partai dan bagaimana ia langsung siap untuk maju sebagai calon DPR. “Saya dulu begitu masuk partai langsung untuk calon DPR,” kata Megawati.

Selain itu, Megawati juga menyatakan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa dan menekankan pentingnya tetap mempertahankan idealisme serta memperjuangkan kepentingan rakyat. “Kalau kita nanti maka akan tanda kutip melawan bangsa sendiri, karena apa dengan biskuit yang seperti itu rupanya karena ya berkeinginan untuk kekuasaannya,” katanya.

Menutup pidatonya, Megawati berpesan kepada kader untuk tetap semangat dan tidak mudah menyerah, meski tantangan di depan mungkin berat. “Kita harus tetap semangat, jangan sampai ada yang menyerah. Ingat, perjuangan kita belum selesai,” tegasnya.

Acara tersebut dihadiri oleh Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ananda, serta sejumlah tokoh penting PDIP lainnya yang juga memberikan dukungan moral kepada para kader dan calon kepala daerah yang akan maju dalam Pilkada mendatang.(c@kra)

“Aku Dikutuk Sebagai Bandit sekaligus Dipuja Sebagai Dewa” (Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat).

Jakarta,MoneyTalk – Soekarno dimakamkan tidak seperti yang diinginkannya : “Di antara Bukit yang Berombak, di bawah Pohon Rindang, di samping Sebuah Sungai dengan Udara Segar”. Permintaan Terakhirnya untuk dimakamkan di halaman rumahnya di Batutulis, Bogor, ditolak Pemerintah Orde Baru. Kemungkinan sangat besar bahwa Makam Bung Karno akan menjadi Tempat Ziarah Populer yang sangat dekat dengan Jakarta, jelas menjadi Alasan Kuat bagi Soeharto untuk tidak mengizinkan Permintaan Terakhir Bung Karno.

Akhirnya Izin diberikan hanya untuk dimakamkan di Blitar, di samping Makam Ibu Bung Karno. Betapa Gentarnya Orde Baru pada Kharisma Soekarno, bahkan setelah Mati sekalipun.

Salah Paham Terhadap Soekarno

Akan terlalu panjang bila kita mengupas Soekarno secara lengkap. Penulis hanya berpretensi memperkenalkan Soekarno sebagai Bapak Bangsa yang tak mungkin dibantah oleh Siapa pun, betapa pun bencinya seseorang kepadanya.

Soekarno adalah Murid Ideologis Tjokroaminoto, seorang yang sesungguhnya Lebih Besar dibanding siapa pun di Negeri ini. Tjokroaminoto adalah Bapak Ideologis Soekarno, di samping Ahmad Hasan, Pendiri Persatuan Islam (atau Persis) di Bandung. Ahmad Hasan adalah Tokoh Islam Nasional yang paling intens berdialog dengan Soekarno tentang Islam.

Korespondensi yang sungguh memikat di antara mereka saat Soekarno dibuang ke Ende, dicatat di dalam sejarah sebagai Surat-surat Islam Endeh : Dari Ir. Sukarno kepada Tuan A. Hassan Guru Persatuan Islam Bandung. Dari korespondensi tersebut terdapat total 12 surat yang tercatat rapih sepanjang 21 halaman dalam buku Dibawah Bendera Revolusi Jilid I halaman 325-344. Jadi di awal-awal kariernya, secara Ideologis Soekarno adalah Tokoh Islam.

Tjokroaminoto bukan saja Bapak Ideologis Soekarno, tetapi juga Bapak Ideologis Tokoh-tokoh Besar Nasional lainnya seperti Kartosuwiryo dan Muso. Tetapi pada akhir karier masing-masing, mereka bertiga bersimpangan jalan, Soekarno mengambil Jalan Nasionalisme, Kartosuwiryo mengambil Jalan Islam Fundamentalis dan Muso mengambil Jalan Komunisme.

Dalam pertarungan Ideologis ketiga sahabat ini dimenangkan oleh Soekarno dalam bentuk fisik. Muso dihancurkan Soekarno saat Pemberontakan Pertama Partai Komunis Indonesia (PKI) tahun 1948 di Madiun. Bahkan Muso ditembak mati Pasukan Soekarno-Hatta pada bulan Oktober 1948.

Sementara Kartosuwiryo dengan DI/TII-nya (Darul Islam/Tentara Islam Indonesia) yang justru memulai pembangkangan terhadap Pemerintahan Soekarno Hatta di tahun 1949, baru mampu dihancurkan di tahun 1962 di Jawa Barat. Saat itu Hatta sudah mengundurkan diri sebagai Wakil Presiden RI.

Tetapi Soekarno pada akhir-akhir karier politiknya di salah pahami sebagai Pembela Partai Komunis Indonesia yang pada tahun 1948 justru dihancurkannya. Soekarno sesungguhnya hanya ingin membela Idealismenya tentang Konsep Persatuan Indonesia yang digagasnya melalui NASAKOM, Nasionalis, Agama dan Komunis.

Ia yang pernah merasakan pahitnya perpecahan dengan melakukan pembunuhan terhadap Sahabat-sahabat Terdekatnya sendiri, Muso dan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, sudah tidak lagi merasa nyaman dengan pertarungan terus menerus terhadap saudara sesama bangsa. Entah berapa kali ia menghadapi pemberontakan saudara-saudaranya sesama bangsa di samping yang dilakukan Muso dan Kartosuwiryo. Di antaranya Pemberontakan Daud Bereuh di Aceh, Simbolon dan Ahmad Husein (PRRI) di Sumatra Tengah, PERMESTA di Sulawesi Utara, RMS di Maluku, Andi Sele di Sulawesi Selatan dan lain-lain, belum lagi Pembangkangan Angkatan Darat kepadanya di Tahun 1957 saat Meriam dan Senjata-senjata berat ditujukan ke Istana.

Karena itu semualah ia berpikir bahwa harus ada Satu Konsep Kebersamaan di negeri ini. Itulah Konsep NASAKOM, Persatuan Tiga Aliran Ideologi Terkuat di Indonesia.

Akan tetapi konsep tinggal konsep, meski sudah disosialisasikan ke seluruh masyarakat Indonesia bahkan Internasional, Syahwat Kekuasaan tetap Menang melawan Syahwat Kebersahajaan. PKI untuk Kedua Kalinya melakukan Kudeta Berdarah di Tahun 1965. Entah karena apa.

Hipotesis yang Dominan adalah karena ketakutan akan Sakitnya Soekarno yang menurut mereka (atas informasi dokter-dokter Tiongkok yang khusus datang ke Indonesia untuk mengobatinya), Soekarno akan wafat dalam waktu dekat. PKI dihantui ketegangannya dengan Militer, menjadi khawatir bila Soekarno betul wafat, maka mereka merasa tidak akan ada yang melindungi mereka dari keganasan Militer seperti Peristiwa Pemberontakan Madiun tahun 1948.

PKI dibantai habis saat itu justru atas Perintah Soekarno-Hatta yang menyerukan : “Mau ikut Muso atau mau ikut Soekarno-Hatta?” Oleh karenanya -menurut beberapa pengamat- kali ini PKI mencoba MENDAHULUI dengan melakukan Penculikan sekaligus Pembunuhan terhadap 7 Jenderal dan 1 Perwira Pertama Militer Angkatan Darat. Kudeta Berdarah ini kemudian dikenal sebagai Gestapu, Gerakan Tigapuluh September. Tetapi sekali lagi PKI Gagal Total dan bahkan mengalami Kehancuran jauh lebih parah dibanding 1948.
Begitulah Sekilas Pandang tentang Soekarno sebagai Tokoh Bangsa Kontroversial Sepanjang Zaman.

PDIP Saat Ini

Secara Sosiologis dan Historis, PDIP memang bisa dinukilkan sebagai Pewaris Nasionalis Soekarno (Soekarnoisme), tetapi sungguh ceroboh seseorang yang berani mengatakan PDIP adalah Partai Nasionalis dalam Pengertian Ideologis. Meskipun Ketua Umumnya bahkan Anak Biologis Soekarno. Karena secara nyata lebih tepat PDIP itu disebut Partai Praktis, sama dan sebangun dengan partai-partai lain di Negeri ini.

Partai yang mengutamakan Kepentingan Pemimpin-Pemimpinnya ketimbang mengutamakan Kepentingan Rakyat, bahkan juga tidak mengutamakan Kepentingan Anggotanya sekalipun. Memang begitulah suasana Kepartaian saat ini. Organisasi-Organisasi Massa Tradisional justru jauh lebih Idealis ketimbang Partai-Partai yang ada saat ini.

Meskipun ada segelintir yang mulai juga mengikuti Arus Utama Politik Praktis, tetapi penyakit kronis ini lebih diderita oleh Sebagian Kecil Pemimpin Mereka, berbeda dengan Partai yang menderita Penyakit Politik Praktis secara organik, seluruh Pemimpin bahkan sampai kepada Pemimpin-Pemimpin di Tingkat Bawah turut terpapar.

Nah… adakah yang bisa diharapkan dari partai sejenis ini, khususnya PDIP? Keputusan hanya diambil oleh Ketua Umum seorang diri dan entah siapa pembisik paling dominan, kita tidak tahu.

Kita tidak bisa membayangkan, seorang Puan Maharani, Puteri Mahkota PDIP sendiri, yang adalah Puteri Kandung Ketua Umum PDIP, tidak bisa mengetahui Keputusan yang notabene Paling Menyangkut dirinya? Dia pasti merasa Sangat Terkena Prank Ibu Kandungnya sendiri!

Jadi siapakah Sosok Paling Dekat dengan Megawati yang mampu merubah Niat yang sudah tertanam hampir satu dekade untuk Menerbitkan Puan menjadi Capres dari PDIP? Yang sudah menanamkan Investasi Dana, Waktu, Tenaga, Personil dan Energi lain yang tak ternilai harganya selama 10 tahun, setidaknya di lingkungan PDIP tetapi dengan mudah dicampakkan begitu saja modal investasi tersebut? Buat apa? Buat apa bersusah payah telah Menaikkan Posisi Puan Maharani ke Ketua DPR yang sejajar dengan Presiden RI hanya untuk dilepeh begitu saja? Bukankah Puan Maharani Memiliki Hak yang Sama dengan Megawati terhadap Status Pewaris Trah Soekarno? Apakah karena status seorang ibu, Megawati lalu bisa bertindak semaunya terhadap Putrinya?

Semua pertanyaan ini PASTI BERKELINDAN DI BENAK PARA ANGGOTA PDIP DAN PENDUKUNGNYA. Begitupun di kalangan Dunia Kangouw Perpolitikan Indonesia. Pasti juga banyak di kalangan PDIP sendiri terutama, yang kecewa kepada Megawati atas Tindakan Semena-mena terhadap Puan Maharani. Meskipun Puan adalah Puteri Kandungnya sendiri.

Penulis tergerak untuk membuat Dialog Imajiner atas peristiwa tersebut sebagai berikut :

Kejadiannya sudah pasti di rumah pribadi mereka, beberapa jam setelah Megawati mengumumkan Capres dari PDIP adalah Ganjar Pranowo, Capres yang digadang-gadang Taypan Tiongkok melalui Proxy mereka Jokowi.

Puan (sambil berlinang air mata) :
“Ibu… mohon dijelaskan dengan jernih kepadaku, apa alasannya Ibu memperlakukan aku seperti ini?”

Megawati (terdiam beberapa saat) :
“Apa kamu tidak mempercayai Ibu lagi?”

Puan : “Kenapa Ibu bertanya demikian?”

Megawati : “Karena kamu bertanya seperti itu?”

Puan : “Lalu harusnya seperti apa?”

Megawati terdiam, lama ia berpikir. Sesungguhnya ia juga heran, kenapa ia mengambil Keputusan yang pasti akan sangat melukai Puteri Kesayangannya ini?

Puan : “Tolong dijawab Ibu. Agar hati ini bisa menerima alasannya. Aku berhak mendapat jawaban itu?”

Megawati : “Pokoknya niat Ibu baik untuk kita semua? Untuk partai dan untuk kelanjutan partai!”

Puan : “Dengan mengorbankan Aku?”

Mega kembali terdiam, ia sendiri heran atas sikapnya Mencalonkan Ganjar Pranowo yang selama ini ia anggap mbalelo kepada dirinya dan juga terhadap partai. Ia memang sudah mempersiapkan Puan jauh hari untuk menjadi Pewaris Satu-satunya dari Trah Soekarno yang akan mampu mempertahankan Marwah Trah Soekarno sepeninggalnya yang memang sudah lanjut umur ini. Kini Puan tinggal selangkah lagi untuk mencapai posisi Eksekutif Tertinggi di negeri ini, dan bila ia berhasil, puaslah ia bila pun tidak sampai umur pada Pilpres setelah 2024. Tetapi Elektabilitas Puan menurut Survei jeblok. Sekali lagi ia dikalahkan oleh Survei yang padahal belum tentu benar, bahkan hampir pasti salah, karena semua Survei yang ada di Negeri ini sejak Era SBY adalah Survei Abal-Abal. SBY adalah orang paling bertanggung jawab terhadap amburadulnya Survei-Survei Elektabilitas apa pun di Negeri ini. Seburuk-buruk Megawati, ia tetap juiur dalam melakukan Pemilu dan Pilpres di Era Pemerintahannya. Kini, di Era Jokowi “The Lips Service President”, Lembaga Survei menjadi Lembaga Pesanan yang sama sekali tidak bisa dipercaya produknya. Lembaga brengsek yang mengikuti Kebrengsekan Rezim yang menaunginya. Megawati sama sekali tak tahu bahwa Tingginya Elektabilitas Ganjar dan Rendahnya Elektabilitas Puan bisa dipesan hanya dengan mengeluarkan dana beberapa Milyar. Semua ini demi untuk membuat PDIP (Mega) terpaksa mencalonkan Ganjar menjadi Capres PDIP. Persis seperti yang pernah dilakukan Para Taypan bersangkutan terhadap Jokowi satu dekade yang lalu. Kenapa Ganjar? Karena Ganjar adalah Calon Proxy Pengganti Jokowi yang paling menguntungkan bagi Taypan-Taypan Tionghoa. Intelejensia pas-pasan kalau tidak bisa dikatakan rendah, Intelektual tak tergambarkan sama sekali dari penampilan sosoknya sebagaimana juga Jokowi, mudah disuap seperti pernah dilakukannya saat ia menjadi Anggota DPR dan memiliki Rasa Rendah Diri yang cukup kuat yang tergambarkan dari sikap sombong yang dibuat-buat. Persis Jokowi saat pertama Masuk Jakarta. Para Taypan sudah hafal luar kepala tentang ilmu ini, ilmu pemeliharaan Tukang Pukul yang tahunya cuma memukul.

Megawati : “Ya gak begitu dong. Kamu percaya saja pada Ibu.”

Puan : “Percaya…??? Setelah Ibu Ngeprank aku habis-habisan seperti ini?”

Megawati : “Puan!” Emosi Megawati mulai terpancing dan menguasai dirinya tanpa Reserve.

Puan : “Ya…!!! Ibu mau bilang apa? Mau bilang Aku harus berkorban untuk hal yang lebih besar bagi Negara? Mau bilang bahwa Partai lebih penting dari diri Aku? Bilang saja! Aku kan anak kandung Ibu yang memang berkewajiban mengikuti orang tua. Begitu menurut agama dan budaya Jawa kita!”

Puan merajuk. Tetapi kali ini dengan gestur tubuh dan nada suara menantang. Megawati terkesima. Ia terdiam, tak menduga putri kesayangannya akan bicara setegas dan sekeras itu kepadanya.

Megawati : “Bukan begitu sayang…”

Puan : “Atau Ibu mau bilang Elektabilitasku rendah dan tak mungkin kita menang dalam Pemilu maupun Pilpres bila menampilkanku?”

Megawati kembali terdiam. Tidak mungkin ia akan bilang iya. Karena hanya akan menambah kemarahan Puteri Tercintanya saja. Tetapi diamnya Megawati dianggap Puan sebagai terpojoknya Ibunya atas berondongan kata-katanya.

Puan : “Bukankah Ibu sendiri yang bilang cukup satu kali kita dikadali Para Taypan itu dan Jokowi. Cukup kita satu kali dibohongi oleh Survei-Survei Pesanan Abal-Abal itu. Kenapa sekarang Ibu menelan ludah Ibu sendiri?”

Megawati masih diam. Ia tidak mau jawaban yang ia berikan nanti akan menambah kemarahan dan kesedihan Puteri Tercintanya. Puan semakin berani, mungkin lebih tepat semakin emosi melihat Ibunya tak mampu menjawab semua pertanyaan-pertanyaannya. Ia anggap Ibunya merasa bersalah.

Puan : “Ingatkah Ibu ketika Ayah bertanya kepada Ibu sepuluh tahun lalu, kenapa mau mengorbankan Posisi Ibu untuk Capres kepada Jokowi? Ibu cuma menjawab itu Hak Ibu. Ayah mengalah. Tetapi kini Ibu Ambil begitu saja Hak Aku sebagai Capres dan Ibu kembali percaya kepada mereka dengan kebohongan-kebohongan mereka dan janji-janji mereka akan tetap Menentukan Aku sebagai Ketua Umum PDIP Mendatang. Memangnya yang Menentukan Ketua Umum PDIP itu siapa? Jokowi…?”

Megawati akhirnya tak tahan juga mendengar semua komplain Putri Kesayangannya itu. Rambutnya tegak berdiri, sehingga menampilkan bentuk yang unik, laksana Kribo… gitu…

Megawati : “Puan…!!! Cukup kamu bicara, sekarang Ibu mau istirahat. Kamu boleh pulang…!”

Puan pun pulang dengan tegas dan mengatakan : “Baik… aku pulang dan jangan panggil-panggil aku lagi. Aku mengundurkan diri dari Dunia Politik yang penuh kebusukan ini!”

Megawati kembali terkesima, tetapi tak bisa berbuat apa-apa… (MT)

Oleh : Indra Adil
Eksponen PKM IPB 77/78