1 November 2026

Ridwan Kamil

MoneyTalk,Bandung – Direktur Utama Bank BJB, Yusuf Saadudin, meninggal dunia pada Jumat dini hari, 14 November 2025, di Rumah Sakit Mayapada Bandung pukul 00.30 WIB.

‎Sebelum wafat, Yusuf diketahui tengah mengikuti kegiatan bermain golf di Jatinangor National Golf & Resort.

‎Menurut sejumlah sumber, Yusuf mengalami kondisi darurat setelah selesai bermain golf sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit.

‎Hingga kini, pihak Bank BJB maupun keluarga belum memberikan pernyataan resmi terkait kronologi lengkap kejadian tersebut.

‎Awak media juga telah menghubungi Plt Dirut Bank BJB, Upay Ayi Subarna, namun belum memperoleh keterangan lebih lanjut.

‎Kabar Simpang Siur Soal Insiden di Lapangan Golf

‎Di tengah minimnya informasi resmi, muncul sejumlah kabar simpang siur di masyarakat.

‎Salah satu rumor menyebutkan bahwa Yusuf mengalami kecelakaan saat bermain golf ia dikabarkan tertimpa bola golf yang dipukul rekannya hingga mengenai area mata.

‎Namun hingga kini, tidak ada konfirmasi resmi yang membenarkan kabar tersebut, termasuk pihak kepolisian dan keluarga.

‎Profil dan Karier Yusuf Saadudin

‎Yusuf Saadudin dikenal sebagai profesional berprestasi di industri perbankan.

‎Ia menjabat sebagai Direktur Utama Bank BJB sejak 11 Maret 2025, setelah sebelumnya memegang posisi penting di divisi KPR & KKB serta Kredit Konsumer.

‎Respons Publik dan Tokoh Daerah

‎Jenazah almarhum disemayamkan di rumah duka Jalan Gamelan No. 4, Bandung.

‎Ucapan belasungkawa mengalir deras, termasuk dari Ex Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi serta berbagai tokoh masyarakat yang menghormati dedikasi Yusuf dalam memimpin Bank BJB.

‎Masyarakat dan kalangan bisnis kini menantikan klarifikasi resmi mengenai penyebab wafatnya Yusuf Saadudin, agar tidak lagi muncul spekulasi yang menyesatkan.

MoneyTalk, Jakarta – Partai PKS bisa menjadi Orpol Kumpulan Sampah atau “partai residu”, dan kelak menjelang 2029 bisa saja terbukti.

Adapun salah satu penyebabnya adalah sinyal politik PKS yang keliru, karena mendukung Ridwan Kamil yang diendors Jokowi sehingga tega dan telak meninggalkan Anies Baswedan kala jelang pilkada 2024. Akibatnya suara Pramono-Rano kalahkan idola PKS Ridwan Kamil.

Namun, ada solusi untuk PKS kembali mendapatkan dukungan dari para simpatisannya yang terbukti “balas tega menghukum PKS” dengan pola ikuti jejak Anies menangkan Pramono-Rano Karno di pilgub DKI Jakarta.

Dan demi kembali kepada soliditas partai dan dipercaya ummat, ideal para pengurus PKS adakan manufer menuju Munas Partai sesuai AD/ART terkait langkah kebijakan internal dan politik eksternal:

1. Mengganti seluruh Dewan Syura dan pengurusnya di DPP.;

2. Mendukung secara riil gerakan masyarakat nalar sehat untuk Adli Jokowi dan copot Gibran dari kursi Wapres by data empirik;

3. Mendorong intensif dan vokal agar Presiden Prabowo copot para menteri yang terpapar korup;

4. Rekomendasi atau atribusi-kan sisa-sisa simpatisan menyuarakan dengan pola riil ikut turun ke jalan gunakan atribut partai, desak agar aparatur hukum kembali gelar perkara peristiwa unlawful killing KM. 50 termasuk menginvestigasi dan observasi kematian misterius 894 orang anggota KPPS.

Sepertinya metode “populisme” dari ke-4 poin tersebut dapat mengembalikan citra baik dan mengambil hati kembali suara dukungan mayoritas sebelumnya, jika tidak maka para simpatisannya bakal melupakan partai eks idola, karena PKS dianggap serius sebagai sahabat sejati Jokowi-Gibran (juga LBP) dan dampaknya mungkin partai PKS akan setara bahkan berada dibawah bayang-bayang Partai Gelora, andai petinggi Gelora ambi peluang politik emas kondisi “psikologis massa Partai PKS yang sedang runyam” dengan pola mengambil alih ke-empat strong point solusi kebangkitan untuk partai PKS.

Atau kah justru peluang emas “empat pola” bakal diborong oleh partai PDIP? Wallahu’alam.

Penulis :

Damai Hari Lubis,Pengamat Hukum Mujahid 212

MoneyTalk, Jakarta – Ridwan Kamil maju ke DKI kalau gak ada Anies. Kalau ada Anies, Ridwan Kamil 1000 persen gak akan berani lawan Anies di DKI. Soal ini, tentu ada kalkulasi politiknya.

Lawan Anies, Ridwan keok. Maka, Anies harus disingkirkan. Ini satu-satunya jalan Ridwan Kamil maju di DKI.

Urusan menyingkirkan, itu ranah Jokowi dan Prabowo. Hanya penguasa yang punya instrumen untuk menyingkirkan lawan. Apa kepentingan kedua presiden ini? Jokowi tak ingin Anies jadi penghalang Gibran di 2029. Selain Jokowi dan Anies memang memiliki sejarah rivalitas yang sulit dicairkan.

Apa kepentingan Prabowo? Prabowo ingin menguasai Jawa Barat. DPT Jawa Barat itu terbesar di Indonesia, yaitu 36 juta. Penguasa butuh basis massa yang besar.

Ridwan Kamil punya elekabilitas tak tertandingi di Jawa Barat. Maka, harus disingkirkan. Caranya? Dorong Ridwan Kamil maju ke Jakarta. Perginya Ridwan Kamil ke Jakarta, ini peluang besar bagi Dedi Mulyadi, kader Gerinda untuk memenangi pilgub Jawa Barat.

Dengan tersingkirnya Anies di Jakarta, kepentingan dua presiden terakomodir. Baik Jokowi maupun Prabowo. Endingnya, Anies pun gagal nyagub di Jakarta.

Semula, Anies dipreteli dengan memisahkannya dari partai-partai pengusung yaitu Nasdem, PKB dan PKS. Tiga partai ini gabung ke KIM untuk mengusung Ridwan Kamil. Tentu, di bawah ancaman. Kecuali PKS, gabung ke KIM karena “deal” tertentu. PKS punya banyak argumentasi politik dan dalil keagamaan untuk mendukung deal politik ini. PKS kaya akan kaidah-kaidah dalam rumusan fiqih siyasah untuk back up argumentasi politiknya.

Tiga partai pengusung Anies akhirnya hengkang, PDIP datang untuk menawarkan usung Anies. Ancaman pun datang kapada PDIP. Tidak kalah besar dari Nasdem dan PKB. Akhirnya, PDIP menyerah. Anies pun gagal nyagub di DKI. DKI sekarang jadi DKJ.

Temen dari Golkar bilang: Anies dibunuh berulangkali. Akhirnya, mati. Setidaknya untuk pilgub DKI 2024.

Kalau anda baca kronologi ini, mungkinkah Anies akan mendukung Ridwan Kamil? Mendukung sosok yang sangat sukses menyingkirkan dirinya? Jawabannya pasti tidak.

Tapi, apakah dukungan Anies ke Pramono Anung itu menguntungkan secara politik bagi Anies? Ini juga menjadi pertanyaan besar.

Teringat apa yang pernah diungkapkan oleh seorang tokoh besar PKS jauh sebelum hiruk pikuk pilgub 2024: “kalau PKS gak usung Anies, dua-duanya akan hancur. Hancur PKS, hancur pula Anies”.

Ungkapan tokoh PKS ini sepertinya mulai menemukan faktanya.

Jakarta, 22 Nopember 2024.

Penulis: Tony Rosyid, Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

MoneyTalk, Jakarta – Dukungan Habib Rizieq Shihab, Imam Besar umat Islam Indonesia, khususnya dengan jutaan pengikut di Jakarta kepada Ridwan Kamil (RK), khususnya diberikan melalui FPI Jakarta dan juga dukungan mantan Ketua Umum Muhammadiyah, Prof. Dr. Din Syamsuddin, yang juga mantan ketua umum Majelis Ulama Indonesia, begitu menggemparkan secara politik. Sebab, kedua tokoh ini adalah sosok yang mengalami getirnya perjuangan menghadapi rezim Jokowi selama ini. Lalu mengapa keduanya mendukung RK yang juga didukung Jokowi? Bukan seperti Anies Baswedan mendukung Pramono Anung?

Pertanyaan seperti ini muncul dalam berbagai debat WA Group. Apakah kaum oposisi di Jakarta mendukung RK yang jelas-jelas didukung Jokowi ataukah Pramono Anung yang didukung Megawati Soekarnoputri?

Saya belum bertanya langsung kepada kedua tokoh tersebut, meskipun sesungguhnya kami sangat dekat. Belum. Sempat berjumpa. Imam Besar Habib Rizieq melalu Bin Talib memberikan saya salam hangat dari Mekkah beberapa waktu lalu. (Ketika foto mereka saya unggah ke IG, langsung di delete IG).

Sambil menunggu alasan analitis mengapa IB HRS dan prof Din Syamsuddin, mendukung RK, kita bisa menganalisa baik buruknya kedua tokoh cagub DKI Jakarta saat ini, yakni RK versus Pram. Hal ini dibutuhkan untuk mengimbangi liarnya opini akibat adanya himbauan Anies Baswedan agar “anak abah” mendukung Pramono Anung. Sebab, pengertian anak abah ini bisa mengklaim semua pendukung Anies di pilpres jika tidak diluruskan.

Anies tentu punya pertimbangan politik sendiri untuk mendukung Pramono Anung. Kita paham kegetiran yang menimpa Anies Baswedan akibat gagal menjadi calon gubernur DKI, yang disingkirkan rezim Jokowi dan gagal masuk keputaran kedua pilpres, yang diperkirakan sebagai akibat pemilu barbar. Mungkin sikap Anies ini untuk menunjukkan sikap berseberangan dengan penguasa tersebut. Namun, sejarah perjuangan kebangsaan kita tidak selalu harus bertumpu pada keputusan perorangan. Untuk itulah sikap dua tokoh nasional, Imam Besar Habib Rizieq Shihab dan Prof Din Syamsuddin di atas menjadi pertimbangan lainnya untuk bersikap.

Ada setidaknya 5 alasan penting bagi kita untuk menjatuhkan dukungan kepada RK ataupun Pramono Anung. Pertama, dosa politik.

Dosa politik adalah kejahatan elit politik terhadap demokrasi dan HAM. Dari sisi ini, selama ini RK tidak pernah menjadi tokoh nasional yang bertanggung jawab atas berbagai kebiadaban politik orde Jokowi. RK saat itu hanyalah tokoh lokal Jawa Barat.

Pada saat sepuluh tahun Jokowi berkuasa, berbagai indeks demokrasi turun, pelanggaran HAM dan khususnya kekerasan terhadap lawan politik terjadi secara massif. Saya yang pernah dipenjara Orde Baru dan di pecat dari ITB merasakan kejahatan orde Jokowi lebih buruk dari orde baru. Sehingga rezim Jokowi adalah rezim kejahatan.

Dalam rezim kejahatan ini, sebagai rezim, tentunya yang bertanggung jawab adalah presiden dan orang-orang terdekatnya. Bukan Jokowi sendiri. Merekalah yang merancang berbagai kebijakan yang memberangus demokrasi dan menindas HAM.

Penangkapan IB HRS, ulama, termasuk Prof Din Syamsuddin hampir ditangkap tahun 2020, penangkapan aktifis KAMI, penangkapan ratusan orang pendukung Prabowo 2014- 2019, seperti Rachmawati Soekarnoputri, Mayjen (purn) Kivlan Zen, Laksamana (purn) Sony, Mayjen purn Soenarko, aktifis senior Eggi Sudjana, Lieus Sungkarisma, Hatta Taliwang, Eko Santjojo , Ahmad Dhani, Alfian Tanjung, Buni Yani, dll, Harris Azhar dan Fatia, persekusi kepada Rocky Gerung, dlsb., pemberhentian Gatot Nurmantyo sebagai Panglima TNI dipercepat, dlsb. dan juga pembantaian laskar FPI di tol KM50, dll. adalah bukti kejahatan itu.

Dalam struktur hirarki, elite yang memutuskan kejahatan seperti ini tentunya tidak melibatkan orang seperti Ridwan Kamil.

Apakah Pramono Anung terlibat dalam kejahatan politik tersebut? Secara teoritis ya, karena Pramono adalah tangan kanan Jokowi yang sehari hari di istana negara. Selain itu, Pramono Anung juga merupakan tokoh partai yang agresif membantai lawan politiknya. Sebagai catatan penting, misalnya, partai PDIP telah memperkusi Rocky Gerung pada kasus “bajingan tolol”. Pada saat itu, ketika petinggi PDIP melaporkan Rocky ke polisi, tidak ada pihak lainnya yang menunjukkan kebencian pada Rocky atas kasus tersebut. Bahkan, rumah Rocky diserang secara membabi buta. Ini membuktikan bahwa PDIP adalah benteng pertahanan utama Jokowi selama berkuasa.

“Keterlibatan” Pramono yang juga sangat penting adalah “diamnya” dia ketika tokoh-tokoh demokrasi yang merupakan teman2 aktifisnya di masa lalu ditangkap untuk kesalahan politik yang tidak jelas. Ketika saya di penjara, 2020, bukannya Pramono Anung, teman saya aktifis ketika mahasiswa, yang memberikan perhatian, malah Professor Sufmi Dasco Ahmad yang mengirim Iwan Sumule dkk. ke Bareskrim berusaha membebaskan.

Meskipun kadar keterlibatan Pramono kita tidak tahu dalam konteks arsitektur kekuasaan Jokowi yang melanggar HAM itu, namun secara relatif, kita bisa meyakini bahwa RK tidak mempunyai noda dan darah dalam jiwa dan tangannya. Disitulah RK memiliki moralitas politik yang besar untuk membangun Jakarta. Sebab, urusan Jakarta dengan masyarakat majemuk dan ketegangan politik, perlu dipimpin orang bermoral.

Alasan kedua, keIslaman. Keislaman Ridwan Kamil dan Pramono Anung secara personal mungkin bukan bahan kajian saya. Saya bukan insan agamis. Yang saya mau katakan di sini adalah keberpihakan.

Keberpihakan RK terhadap Islam sudah bersifat turun temurun. Bapaknya RK adalah murid pendiri Masjid Salman Dr. Ir. Mohammad Imaduddin Abdurrahim. Selama memimpin di Jawa Barat, RK terkenal menggelontorkan dana yang sangat besar untuk pembangunan Masjid dan alokasi anggaran pembinaan ummat melalui ormas Islam. Jadi orientasi RK pastinya tidak akan bertentangan dengan spirit ummat Islam Jakarta, yang pernah tertekan di era Ahok dan Jokowi.

Islam di Jakarta sudah menjadi agama dominan sejak era Batavia. Meskipun dahulu, di era Batavia, Belanda berkuasa, Masjid-masjid sudah tumbuh subur sebagai pusat komunikasi publik. Pengajian-pengajian agama disebarkan dan Belanda tidak membatasinya.

Hanya di era Jokowi dan Ahok lah semangat anti Islam terjadi di Jakarta, misalnya membatasi takbir keliling, membatasi trotoar dipakai pengajian, mengatur suara Masjid, dll.

Jokowi dan Ahok ini adalah sentral dari ideologi PDIP yang memang memandang Islam sebagai kompetitor, jika tidak disebut musuh. PDIP sebagai kelompok ultra nasionalis, memang melihat Islam sejak dulu kala sebagai ancaman. Jadi, meskipun Pramono mengatakan dirinya Islam, itu tentu secara personal. Secara politik dia berkembang dalam lingkungan PDIP yang relatif anti Islam.

Megawati bahkan mengolok olok akhirat mungkin tidak ada. Hal itu disampaikannya ketika dia mengkritik ulama yang sering bicara hari akhirat. Begitu pula Megawati sang dedengkot PDIP, pernah mengejek ibu-ibu pengajian yang sering melupakan urusan merawat anak. Kenapa ini terjadi? Megawati tidak melihat ajaran Islam sejalan dengan ideologinya. Karena ideologi Megawati adalah ketuhanan yang berkebudayaan. Menurutnya Tuhan adalah hasil kebudayaan manusia. Hal ini dalam ilmu antropologi dan sosiologi disebut Antroposena. Bahkan Megawati pernah berkeinginan merubah Pancasila dari 5 sila menjadi 3 sila lalu satu sila, yakni Gotong Royong. Ideologi Megawati ini tentunya sama dengan Pramono Anung. Pram adalah kader inti PDIP.

Sebaliknya, Ridwan Kamil tumbuh dalam lingkungan non PDIP dan sekarang di Golkar. Partai yang pernah mendukung RK tidak ada yang ideologis, semuanya pragmatis. Namun, mereka tidak menentang Sila Ketuhanan Yang Maha Esa. RK yang Islami sesuai dengan lingkungan partai pendukungnya yang tidak mempersoalkan keislaman seseorang.

Dengan pertimbangan ini tentu kaum oposisi, yang mayoritas muslim, selama era Jokowi harusnya melihat sekutu politik ke depan adalah Ridwan Kamil, bukan Pramono Anung maupun PDIP dan Megawati Soekarnoputri.

Ketiga, Kompetensi. Secara kompetensi antara RK dan Pramono mungkin sama baiknya. Keduanya mempunyai latar belakang teknokrasi. Namun, RK lebih berpengalaman dalam memerintah dalam kewilayahan, sebaliknya Pram hanya dalam organ administrasi negara dan legislasi.

Memenej kota, khususnya setelah status ibukota hilang, pembangunan Jakarta sebaiknya dipimpin oleh seorang yang berpengalaman langsung sebagai gubernur. Itu akan membuat duplikasi dan replikasi keberhasilan di Jawa Barat, bagi RK, mudah dilakukan. Serta menghindari kegagalan yang pernah ada. Ditambah lagi pengalaman kegubernuran di Jawa Barat, yang berbatasan dengan Jakarta, membuat isu banjir kiriman, “greater Jakarta”, mobilitas sosial pekerja, dll. dapat segera dimenej RK.

Kemampuan RK membangun kota tentu merupakan kompetensi mengapa kita harus memilih dia.

Keempat. Dukungan Politik. Presiden Prabowo Subianto telah menunjukkan dukungannya kepada RK. Ini adalah modal penting bagi RK untuk mensinergikan pembangunan daerah dan pusat. Prabowo sendiri berbeda dengan Jokowi. Kaum oposisi pembenci Jokowi tentunya harus melihat Prabowo sebagai pemimpin penuh harapan.

Beberapa catatan tentang Prabowo kita saksikan a.l. memberantas judi, memberi makan orang miskin, mengobrak-abrik koruptor berkedok petinggi hukum, dll. meskipun terlalu cepat untuk menilainya.

Jadi, bisa dipastikan di bawah kepemimpinan Prabowo, RK tidak mungkin cawe-cawe menggunakan kekuasaan untuk kepentingan sendiri.

Sementara itu berbagai pihak yang memikirkan kekuasaan Jokowi masih dominan haruslah sadar bahwa Jokowi tidak punya kekuasaan lagi. Loyalis Jokowi dipemerintahan menurut saya tinggallah dua orang, yakni Budie Arie, ketua Projo dan Pratikno. Selebihnya secara pasti sudah pindah haluan. Sebab, dalam sistem presidensial, tukang kayu seperti Jokowi aja bisa berkuasa total, apalagi Jenderal Prabowo.

Adanya kesan bayangan Jokowi pada RK hanyalah fatamorgana. Itupun faktanya survei di Jakarta tidak menunjukkan adanya Jokowi effect, saat ini.

Jadi, kaum oposisi harus melihat bahwa RK akan berkarya nantinya dalam leadership nya sendiri.

Kelima. Korupsi. RK sudah pasti sampai saat ini tidak pernah korupsi. Apakah Pramono pernah terlibat korupsi? Tentunya juga belum ada jejak pasti. Namun, dalam hirarki kekuasaan korup era Jokowi, di mana Indeks Persepsi Korupsi sangat rendah, 34, kemungkinan besar pejabat kita memiliki peluang korupsi berdasarkan hirarki kekuasaan itu. Secara peluang, RK tentunya lebih kecil.

Sampai saat ini belum ada pengakuan di persidangan bahwa RK terlibat korupsi. Sebaliknya, dalam kasus E-KTP, tersangka Setya Novanto, dahulu, mengaku bahwa Pramono mendapatkan bagian korupsi e-KTP.

Selain itu, penggunaan kekuasaan untuk kepentingan bisnis biasanya dilakukan oleh Peng-Peng (istilah Rizal Ramli merujuk Penguasa sekaligus Pengusaha). Dalam posisi ini RK tidak punya bisnis, karena dia bukan bisnisman. Sebaliknya, Pramono Anung terkenal sebagai pebisnis besar di sektor pertambangan. Jadi, bisa dipastikan, jika mengikuti prinsip kecilnya potensi korup seorang penguasa, maka Ridwan Kamil lebih jelas harus dipilih.

Dari kelima penjelasan di atas, kemungkinan besar Habib Rizieq Shihab dan Prof Din Syamsuddin mempunyai perspektif yang sama dalam menganalisis. Artinya, pilihan Imam Besar Habib Rizieq Shihab dan Prof Din mendukung RK dapat diprediksi alasannya.

Sekarang tinggal kepada kaum oposisi yang masih genit berdiskusi, mulailah berpikir rasional dan penuh akal sehat. Apakah kalian tidak segera turun mendukung Ridwan Kamil?

Sayangnya saya sudah pindah dari Tebet ke Depok. Sehingga saya tidak bisa memilih RK di Jakarta. Tapi, sebagai oposan 10 tahun era Jokowi, saya tahu MORALITAS Ridwan Kamil lebih sesuai untuk jadi alasan mendukung dia. Meski saya terserang penyakit dua bulan terakhir ini, saya belum gila. Ridwan Kamil harus dimenangkan. Agar Jakarta Gemilang. (Salam dari Depok)

Penulis: Dr. Syahganda Nainggolan, MT., alumni ITB

MoneyTalk, Jakarta – Calon Gubernur DKI Jakarta, Ridwan Kamil (RK), tak menyangka jejak digitalnya menjadi musibah bagi dirinya. Cuitan-cuitan Ridwan Kamil soal Jakarta 14 tahun lalu di Twitter (kini X) diungkap kembali oleh warganet yang kesal, marah, dan sakit hati. Cuitan bernada satire dan merendahkan itu, kini beredar dan viral di berbagai platform media sosial termasuk TikTok.

Meskipun kini kicauan Ridwan Kamil tersebut sudah dihapus, namun warganet sudah telanjur membuat tangkapan layarnya, sehingga masih bisa dibaca oleh masyarakat luas.

Adapun cuitan itu berbunyi, “sawityowit @vincentrompies Kota rada bokep: Zakkarta. Kota bokep: Pornorogo. Kota plg bokep: Fakfak di Irian :),” cuit RK pada 17 Agutus 2010.

Sadar bahwa jejak masa lalunya bisa merugikan masa depannya, Ridwan Kamil buru-buru meminta maaf kepada publik. Pada Minggu (25/8/2024) lalu, Ridwan Kamil pun meminta maaf melalui akun X-nya.

“Bagaimanapun, untuk twit-twit saya yang lama, saya akui dulu saya kurang bijak dan mungkin kurang literasi—bahkan kurang sopan. Saya mohon maaf jika ada pihak-pihak yang tersakiti, terkritik, tersindir, atau terhina dengan cara saya berekspresi.” Demikian potongan kata-kata maaf RK di cuitannya.

Permintaan maaf Ridwan Kamil bukannya menyelesaikan masalah, tetapi malah menimbulkan masalah baru. Mantan guru honorer bernama Sabil Fadhillah ikut berkomentar dalam cuitan permintaan maaf Ridwan Kamil.

“Gue itu. Enak aja doi minta maaf biar dapat suara dari Jakarta. Sumpah sampai akhirat gue tuntut kelakuannya di akhirat,” balas @sabilfadhillah.

Dalam cuitan permintaan maaf Ridwan Kamil juga ada netizen yang mengingat soal kasus Sabil Fadhillah tersebut.

“Bukannya sekarang kalau misalnya dikritik suka di-pin ya? Terus nanti akun yang kritik dibully sama fans-nya bapak. Biasanya sih polanya seperti itu,” tulis akun @a*il_a*vi*n.

“Jadi keinget guru yang dipecat sama yayasannya gegara di-pin komentarnya wkwk. Cuma gara-gara nanya pakai bahasa Sunda kasar doang,” tulis akun @n*rull*l.

Diketahui, beberapa tahun yang lalu nama Sabil Fadhillah menjadi viral. Hal ini bermula saat Ridwan Kamil membagikan video di Instagram @ridwankamil terkait pemberian hadiah kepada anak SMP yang patungan untuk membelikan sepatu bagi temannya.

Pada unggahan video itu Sabil Fadhillah berkomentar. Dia mempertanyakan soal jas warna kuning yang dikenakan Ridwan Kamil. “Maneh teh keur jadi gubernur Jabar ato kader partai ato pribadi @ridwankamil???? (Kamu jadi gubernur atau kader partai atau pribadi),” tanya Sabil.

“@sabilfadhillah Ceuk maneh kumaha (Menurut kamu gimana)?” tanya balik Ridwan Kamil. Karena komentar tersebut, Sabil Fadhillah dipecat dari tempatnya mengajar karena dinilai kurang sopan.

Pengamat politik Abdul Halim menegaskan pentingnya pejabat publik wajib memiliki akhlak yang mulia, karena ia akan menjadi contoh bagi masyarakat banyak. Apalagi seorang gubernur, ia harus sosok yang betul-betul bersih dari kelakuan buruk masa lalu.

“Dari peristiwa itu, bisa kita simpulkan siapa sebenarnya Ridwan Kamil. Jangan sampai kita membeli kucing dalam karung,” kata Abdul Halim kepada media, Ahad, (17/11/2024) di Jakarta.

Halim menegaskan, siapapun pemimpin di negeri ini, tidak boleh ada tawar menawar soal urusan akhlak, yakni akhlaknya harus baik.

“Di negeri Pancasila, Berketuhanan yang Mahaesa, setiap pemimpin harus menjunjung tinggi norma-norma agama. Tidak boleh tidak, wajib hukumnya. Masih banyak orang bersih yang siap menjadi pemimpin,” paparnya.

Cuitan tentang Jakarta Kota Bokep, menurut Halim tak pantas dikeluarkan oleh calon pemimpin Jakarta.

“Bagaimana mungkin dia mau memperbaiki Jakarta, sedangkan dia sendiri nyinyir terhadap Jakarta,” tegasnya.

Pasangan calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut satu, Ridwan Kamil – Suswono (RIDO) tampaknya layu sebelum berkembang. Berdasarkan hasil polling beberapa lembaga survei pasangan RIDO yang sebelumnya diprediksi menang satu putaran, kini elektabilitasnya terus merosot.

Pasangan nomor urut satu ini didukung oleh 12 partai Koalisi Indonesia Maju (KIM) Plus, sekarang posisinya di nomor dua di bawah pasangan nomor urut tiga Pramono dan Rano Karno. Sedangkan cagub-cawagub independen, Dharma Pongrekun dan Kun Wardan belum beranjak dari juru kunci di urutan ketiga.

Mengaku mendapat dukungan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden ke-7 RI, Jokowi, nyatanya elektabilitas paslon Pilkada nomor 1, Ridwan Kamil-Suswono, kalah dibandingkan pesaingnya, paslon nomor 3, Pramono Anung-Rano Karno.

Hasil survei terbaru Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) menyimpulkan, Pramono-Rano unggul signifikan dari RK-Suswono pada saat survei dilaksanakan pada 31 Oktober-9 November 2024, hanya 18 hari jelang pemungutan suara pada 27 November 2024 mendatang.

Hasilnya, elektabilitas paslon nomor 3, Pramono Anung-Rano Karno mencapai 46 persen. Angka tersebut mengungguli pesaing terkuatnya, paslon nomor 1, Ridwan Kamil-Suswono, yang elektabilitasnya 39,1 persen.

Sementara paslon nomor 2, Dharma Pongrekun-Kun Wardana Abyoto, elektabilitasnya 5,1 persen, dan responden yang tidak tahu atau tidak jawab sebanyak 9,8 persen.

Direktur Eksekutif SMRC, Deni Irvani, menjelaskan, keunggulan Pramono-Rano atas RK-Suswono signifikan. Sebab, selisih angkanya melebihi margin of error survei.

Keoknya Ridwan Kamil-Suswono juga tampak dari hasil survei Lembaga Survei Indonesia (LSI) yang dirilis pada Kamis (24/10/2024). Berdasarkan hasil survei yang dilakukan periode 10-17 Oktober 2024 kepada 1.200 responden itu, Pramono-Rano memiliki elektabilitas 41,6 persen, sementara pasangan Ridwan Kamil (RK)-Suswono 37,4 persen, dan Dharma Pongrekun-Kun Wardana hanya memiliki elektabilitas 6,6 persen.

Sementara Direktur Eksekutif LSI, Djayadi Hanan menerangkan, keunggulan Pramono-Rano dari RIDO ini, secara statistik belum menunjukkan siapa pemenangnya. Namun, selain unggul, dukungan pada pasangan Pramono-Rano juga terlihat lebih solid dan kuat dibanding pasangan lain.

Dalam pengamatan LSI, kata Djayadi, sejak pertengahan sampai September lalu, paslon RIDO, mengalami penurunan. Sementara perlahan-lahan terjadi peningkatan keterpilihan pasangan Pramono-Rano sampai dengan Oktober 2024.

LSI juga mengutip peningkatan dan penururan keterpilihan Pramono-Rano dan RIDO tersebut, dari hasil survei para surveyor lainnya. Djayadi memaparkan, dalam hasil survei LSI pada 6-12 September lalu, surveyor masih menempatkan keunggulan RIDO daripada Pramono-Rano pada angka keterpilihan 51,8 persen berbanding 28,4 persen.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan oleh Poltracking 9-15 September lalu, pun paslon RIDO unggul 47,5 persen, namun saat itu paslon Pramono-Rano mengalami peningkatan 31,5 persen. Kemudian dari hasil survei Charta Politika sepanjang 19-24 September, Djayadi juga melihat peningkatan elektabilitas pasangan Pramono-Rano ke angka 36,5 persen, namun tetap unggul paslon RIDO 48,3 persen.

Kemudian pada periode 10-17 Oktober, survei LSI, kata Djayadi menunjukkan keterbalikan yang membawa keunggulan RIDO merosot ke angka 37,4 persen, di bawah paslon Pramono-Rano 41,6 persen.

“Penurunan yang dialami oleh pasangan Ridwan-Suswono atau RIDO ini, cenderung pindah, lebih dari 10 persen pindah ke Pramono-Rano, sedikit yang pindah ke pasangan Dharma-Kun,” kata Djayadi.

Pengamat politik Ray Rangkuti menilai, kenaikan suara paslon Pramono-Rano masih akan terus meluas. Penilaiannya itu merespons hasil survei terbaru LSI.

“Paslon ini, bisa mendapatkan suara pemilih yang lebih luas, termasuk pemilih Golkar yang tidak solid mendukung pasangan Ridwan Kamil dan Suswono (RIDO),” kata Ray di Jakarta.

Menurut Ray, sejak awal dirinya melihat elektabilitas paslon gubernur dan wakil gubernur nomor urut 1, Ridwan Kamil dan Suswono (RIDO) ini tidak bisa memperoleh suara signifikan. Ray memprediksi suara pasangan RIDO sangat berpotensi untuk dikalahkan oleh pasangan Pramono-Rano karena pemilih pasangan RIDO hanya berpaku pada pemilih dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS).

Sementara pasangan Pramono-Rano bisa mendapatkan suara pemilih yang lebih luas. Termasuk pemilih Partai Golongan Karya (Golkar) yang juga tidak solid mendukung pasangan RIDO.

“Saya tidak terlalu terkejut. Sejak dari awal saya sudah punya keyakinan Pram sama Rano akan dapat mengimbangi RIDO,” ujar Ray. (Ida)

MoneyTalk, Jakarta – Pelan namun pasti, dukungan perolehan suara untuk pasangan Cagub-Cawagub Jakarta Pramono Anung dan Rano Karno akan terus naik meninggalkan pasangan Ridwan Kamil (RK) dan Suswono, meskipun sebelumnya pasangan RK-Suswono ini selalu mendominasi perolehan suara hasil survei dari lembaga-lembaga survei yang terpercaya.

Mengapa hal itu bisa sampai terjadi? Ini karena pertama, situasi politik nasional sedikit mulai bergeser dari dominasi politik Presiden Jokowi menjadi bergeser ke Presiden Prabowo Subianto. Bagi Koalisi KIM Plus yang semula menginginkan Jakarta dipimpin oleh RK, mulai berubah pikiran dengan tidak terlalu habis-habisan lagi mendukung RK.

Bagi KIM Plus, RK yang sangat ambisius merupakan ancaman nyata untuk suksesi Pilpres 2029. Bila RK menang, dikhawatirkan RK akan semakin populer dan berpotensi menjadi kontestan Capres terkuat di 2029.

Memperkuat RK itu sama dengan mau melemahkan Prabowo dan Gibran Rakabuming Raka. Selain itu, memperkuat RK berarti pula memperkuat Partai GOLKAR, dan memperkuat Partai GOLKAR berarti sama halnya akan melemahkan Partai GERINDRA, partainya Prabowo Subianto.

Karena itu, KIM Plus perlahan-lahan mundur secara teratur untuk tidak mau lagi mati-matian mendukung RK-Suswono. Malahan kalau bisa RK “dihabisi” saja di Jakarta, disaat Jawa Barat nantinya sudah akan dikuasai oleh Gubernur (sekarang masih Cagub) Dedi Mulyadi. Dengan strategi itu pula Partai GERINDRA berharap bisa naik lagi perolehan suaranya di PILEG 2029.

Kedua, situasi nasional saat ini juga sedikit mulai berubah. Prabowo Subianto yang awalnya sangat memerlukan dukungan dari Presiden Jokowi, sekarang sudah tidak terlalu Presiden Prabowo butuhkan lagi. Terlalu dekat dengan Jokowi, bagi Presiden Prabowo malah hanya akan menimbulkan persoalan baru, karena di era Presiden Jokowi terlalu banyak proyek-proyek raksasa yang akan meninggalkan banyak masalah.

Skandal-skandal korupsi di masa Pemerintahan Jokowi satu persatu mulai terungkap, tinggal “gong” nya saja, Jokowi dan keluarganya satu persatu akan berurusan dengan hukum. Bila Presiden Prabowo masih tetap “lengket” dengan Jokowi, Presiden Prabowo nantinya tidak hanya akan berurusan dengan hukum, melainkan pula berurusan dengan perlawanan rakyat.

Oleh karena itu, yang diperlukan oleh Presiden Prabowo saat ini adalah dukungan kuat dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Dukungan dari PDIP selain diperlukan untuk terwujudnya persatuan dan kedamaian nasional, juga untuk mendongkrak partisipasi rakyat dalam setiap kebijakan yang telah diputuskan oleh Presiden Prabowo.

Bicara tentang dukungan dari PDIP tidak akan terlepas dari figur atau sosok Ketua Umumnya, yakni Ibu Megawati Soekarnoputri. Beliau bukan hanya Ketum Partai Politik namun juga tokoh nasional yang memiliki riwayat perjuangan panjang perjalanan demokrasi di negeri ini.

Tanpa dukungan politik penuh dari Ibu Megawati dengan PDIP nya, waktu kekuasaan Prabowo akan berumur singkat. Ini bukan hanya karena hilangnya Demokrasi Partisipatoris dari rakyat, melainkan pula karena ancaman yang sangat nyata dari “gerilya politik” Jokowi dan Genk Solonya, yang akan segera mendaulat Gibran menjadi Presiden dengan sebelumnya melengserkan Presiden Prabowo melalui berbagai cara.

Nah, untuk menjembatani persatuan politik Prabowo-Megawati ini, yang paling tepat bukanlah RK melainkan Pramono Anung !. Karena itulah figur Pramono Anung akan lebih realistis untuk didukung oleh Presiden Prabowo daripada RK. Sedangkan partai-partai yang tergabung dalam KIM Plus selain GERINDRA, akan kembali seperti karakter aslinya; “cari makan” pada siapapun yang mau menyuapinya.

Ketiga, RK telah memiliki riwayat kegagalan panjang baik sebagai Walikota Bandung maupun ketika RK sebagai Gubernur Jawa Barat. Banyak dana APBD Kota Bandung dan Provinsi Jabar terbuang sia-sia, salah satunya Proyek Teras Cihampelas Kota Bandung yang sepi dan ditinggalkan para pengunjung dan pedagangnya, mesin Parkir Elektronik yang terbengkalai dll.

Selain itu RK juga dikenal temperamental, suka memarahi orang seenaknya, dan suka bicara melecehkan warga Jakarta. Jejak digitalnya sudah lama bergentayangan di Medsos dari waktu ke waktu. RK juga pernah beberapakali berurusan dengan hukum, yang proses kasusnya sudah tidak jelas lagi. Mungkin ini “berkat” kedekatannya dengan Jokowi yang masyhur sebagai “penyandera” kasus koruptor.

Tak hanya RK, Calon Wakil Gubernur Suswono yang mendampinginya juga sudah dicap sebagai Penista Agama. Baru-baru ini orang-orang Betawi sudah melaporkan Suswono ke Polisi gara-gara Suswono mengatakan Nabi Muhammad SAW itu pengangguran yang menikahi janda Siti Khadijah. Ini pernyataan yang sangat melukai perasaan dan keyakinan Ummat Islam, dimana Nabi Muhammad SAW itu sangat dimuliakan.

Pramono Anung-Rano Karno sekali lagi, perlahan namun pasti akan terus berjalan menuju kemenangan. Karena itu tak heran jika Lembaga Survei Indonesia (LSI) merilis hasil surveinya yang dilakukan dari tgl. 10 hingga 17 Oktober 2024; Pramono Anung-Rano Karno 41.6 %, Ridwan Kamil-Suswono 37.4 %, sementara pasangan Dharma-Kun memperoleh 2.9 %.

Penulis: Saiful Huda Ems (SHE). Lawyer dan Pemerhati Politik