1 November 2026

Ridwan Kamil

MoneyTalk,Jakarta – Jokowi dan Prabowo sepakat dan satu kata: Anies Baswedan harus dilenyapkan. Tidak boleh ada panggung buat Anies. Bagaimana cara melenyapkan Anies Baswedan? Lakukan operasi terhadap partai-partai yang akan usung Anies.

Hanan Supangat digeledah rumahnya, dan jadi tersangka. Kader Nasdem ini jadi pintu masuk. Dari sini, anak Surya Paloh dibidik.

Semula, Surya Paloh kekeuh ingin calonkan Anies di pilgub Jakarta. Operasi terhadap Surya Paloh cukup alot.Tapi, ketika anaknya disasar, ini bukan hal mudah bagi Surya Paloh untuk menjaga komitmen dengan Anies. Menurut sumber yang layak dipercaya, infonya rombongan aparat penegak hukum sudah standby di depan pulau pribadi ketum Nasdem yang ada di Pulau Seribu. Tentu bukan untuk jalan-jalan. Ada apa? Jangan bego. Akhirnya, Surya Paloh menyerah.

PKB tersandera dengan kursi ketua umumnya yang sedang muktamar. Resuffle Kemenkumham sebagai ancaman nyata buat Cak Imin. Mau aman? Tinggalkan Anies. Plus dapat jatah menteri, duta besar, wakil ketua DPR, dll.

Bagaimana dengan PKS? Gak perlu digoda. PKS bahkan menawarkan diri ke KIM. Presiden PKS sudah memberi sinyal yang lugas dan terang-terangan ke Dasco, ketua harian Gerindra saat acara PKB. “Pak Dasco jangan hanya ajak Nasdem dan PKB. PKS ajak-ajak juga lah…” Anda bego kalau masih gak paham. Bagaimana cara exit dari Anies? Bisa dibicarakan bareng. Diskusi sambil ngopi. Itu hal mudah. Yang penting dealnya cocok. Lalu bilang ke publik: “ini hasil ijtihad”. Beres !

PDIP coba-coba mau usung Anies pasca keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) atas perkara No. 60. Kasus Rano di Bank Banten pun muncul kembali. Belum urusan Puan Maharani dan keponakan Megawati. PDIP pun mundur teratur.

Dengan semua dinamika ini, Ridwan Kamil telah mendapatkan jaminan untuk menang dengan menyingkirkan Anies Baswedan. Sesuatu yang sulit dibantah. Inilah yang membuat Ridwan Kamil tinggalkan Jawa Barat. Sengaja skenario ini dibuat agar Gerindra bisa ambil Jawa Barat melalui Dedi Mulyadi. Win win solution. Clear !

Pokoknya, Anies tidak boleh dapat tiket pilgub Jakarta.

Penulisan: Tony Rosyid,Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat politik Alifurahman mengungkapkan analisisnya mengenai strategi politik yang dilakukan oleh Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri. Dalam tayangan di SewordTV yang dikutip pada Minggu (01/09) oleh MoneyTalk.id, Alifurahman menyebutkan bahwa strategi Megawati terkait pemilihan calon gubernur DKI Jakarta dari PDIP, yaitu Pramono Anung, merupakan langkah politik yang “cantik” dan sulit dihindari oleh Jokowi dan Prabowo.

(lebih…)

MoneyTalk,Jakarta – Pemilihan Gubernur Jakarta 2024 menjadi ajang pertarungan yang tak hanya sekadar kontestasi politik, melainkan juga simbolis. Dalam konteks budaya dan sejarah Nusantara, Pilkada Jakarta kali ini bisa dilihat sebagai pertarungan antara Pramono Anung, yang melambangkan simbol Majapahit, dan Ridwan Kamil, yang merepresentasikan simbol Pajajaran. Pertarungan ini membawa pesan-pesan historis yang mendalam, mengingatkan kita pada masa kejayaan dua kerajaan besar di tanah Jawa, Majapahit dan Pajajaran.

(lebih…)

MoneyTalk, Jakarta, 26 Agustus 2024 – Dalam sebuah tulisan yang diterima oleh *MoneyTalk, pada Senin (26/08), pengamat politik Eko Kuntadhi mengurai situasi politik terkini yang melibatkan tokoh-tokoh penting seperti Anies Baswedan, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), dan Ridwan Kamil (RK). Menurut Eko, politik adalah ilmu segala kemungkinan, dengan motif utama yang tidak pernah lepas dari kekuasaan.

(lebih…)

MoneyTalk,Jakarta – Setelah selesai memimpin Jawa Barat dan membangun reputasi sebagai salah satu kepala daerah yang paling berpengaruh di Indonesia, nama Ridwan Kamil kini muncul sebagai salah satu kandidat kuat dalam bursa pemilihan Gubernur DKI Jakarta. Sosok yang akrab disapa Kang Emil ini dikenal luas sebagai ‘Bapaknya Bobotoh’, julukan yang diberikan oleh para pendukung setia klub sepak bola Persib Bandung. Namun, pertanyaannya kini: siapkah warga Jakarta menerima Ridwan Kamil sebagai pemimpin baru mereka?

Rekam Jejak Ridwan Kamil dalam memimpin daerah dengan berbagai plus minusnya selama menjabat sebagai Wali Kota Bandung dan Gubernur Jawa Barat. Di bawah kepemimpinannya, banyak prokontra dimasa kepemimpinannya.

Namun, popularitas Ridwan Kamil tersebut. Sebagai ‘Bapaknya Bobotoh’, Kang Emil memiliki kedekatan khusus dengan komunitas sepak bola di Jawa Barat, khususnya dengan pendukung Persib Bandung. Hubungannya yang erat dengan Bobotoh menambah daya tariknya sebagai sosok yang dekat dengan rakyat, bukan hanya di Jawa Barat, tetapi juga di tingkat nasional.

Tantangan di Jakarta, Jika Ridwan Kamil maju sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, ia akan menghadapi tantangan yang berbeda. Jakarta, sebagai ibu kota negara, memiliki dinamika politik dan sosial yang sangat kompleks. Berbeda dengan Jawa Barat yang memiliki karakteristik daerah dan masyarakat yang lebih homogen, Jakarta adalah melting pot yang dihuni oleh berbagai latar belakang etnis, budaya, dan agama.

Selain itu, tantangan di Jakarta juga mencakup masalah kemacetan lalu lintas, banjir, polusi udara, hingga kesenjangan sosial yang masih tinggi. Jakarta membutuhkan seorang pemimpin yang tidak hanya mampu melanjutkan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyatukan berbagai elemen masyarakat untuk mencapai tujuan bersama.

Dukungan dan Resistensi

Meskipun Ridwan Kamil memiliki basis pendukung yang kuat di Jawa Barat, tidak ada jaminan bahwa popularitasnya akan otomatis berpindah ke Jakarta. Ada beberapa pihak yang mungkin skeptis terhadap kemampuan Kang Emil dalam menangani permasalahan khas Jakarta. Selain itu, stigma sebagai ‘Bapaknya Bobotoh’ bisa menjadi pedang bermata dua—di satu sisi, ia akan mendapat dukungan dari para pendukung sepak bola, namun di sisi lain, ia mungkin akan menghadapi resistensi dari mereka yang merasa khawatir bahwa ia akan terlalu fokus pada komunitas tertentu.

Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa Kang Emil memiliki keunggulan dalam hal visi pembangunan dan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan publik. Jika ia dapat meyakinkan warga Jakarta bahwa ia adalah sosok yang tepat untuk memimpin ibu kota, maka kemungkinan besar ia akan menjadi calon yang sangat kuat.

Maukah Warga Jakarta? Akhirnya, keputusan ada di tangan warga Jakarta. Apakah mereka siap menerima Ridwan Kamil sebagai Gubernur Jakarta berikutnya? Apakah mereka percaya bahwa sosok yang selama ini dikenal sebagai ‘Bapaknya Bobotoh’ ini mampu memimpin ibu kota dengan segala kompleksitasnya?

Satu hal yang pasti, jika Ridwan Kamil benar-benar maju dalam pilgub DKI Jakarta, kontestasi ini akan menjadi salah satu yang paling menarik dan dinamis dalam sejarah pemilihan kepala daerah di Indonesia. Warga Jakarta akan dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan status quo atau memberikan kesempatan kepada seorang pemimpin dengan rekam jejak dan visi yang telah teruji di tempat lain.

Ridwan Kamil sebagai Gubernur DKI Jakarta bukanlah gagasan yang mustahil. Dengan rekam jejak dan popularitasnya, ia memiliki potensi untuk meraih dukungan luas. Namun, tantangan yang dihadapinya juga tidak kecil, mengingat kompleksitas permasalahan Jakarta dan ekspektasi tinggi dari warganya. Pada akhirnya, keputusan ini kembali kepada rakyat Jakarta: apakah mereka mau Ridwan Kamil, ‘Bapaknya Bobotoh’, menjadi gubernur mereka?

Penulis: Mus Gaber,Padepokan Hukum Indonesia