6 November 2026

Tiyo Ardianto

MoneyTalk.id,Jakarta – Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan oleh Soedadang Merdesa, yang mengaku sebagai Pemerhati Gestur Kearifan Nusantara. Melalui pernyataannya, ia menyoroti pentingnya keberanian generasi muda dalam menyuarakan kritik terhadap kekuasaan dan budaya feodalisme yang dinilai masih mengakar dalam kehidupan sosial maupun politik.

Menurut Soedadang Merdesa, sikap hormat kepada orang tua maupun pemimpin tidak boleh dimaknai sebagai kepatuhan tanpa batas, terutama apabila yang bersangkutan dianggap melakukan tindakan zalim atau tidak jujur.

Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang berani menentang ayahnya ketika dinilai berada di jalan yang keliru. Menurutnya, nilai yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan figur yang lebih tua atau memiliki otoritas.

Dalam pernyataannya, Soedadang juga memberikan dukungan kepada mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto. Ia menilai Tiyo merupakan representasi anak muda yang berani melawan budaya feodalisme yang masih kuat di tengah masyarakat.

“Feodalisme menjadi akar berbagai persoalan, termasuk korupsi dan kemunafikan. Budaya yang menempatkan seseorang tidak boleh dikritik hanya karena status atau kekuasaannya dapat menghambat lahirnya kontrol sosial yang sehat,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan keberanian warga negara untuk menyampaikan kritik secara terbuka. Menurutnya, kritik tidak boleh dianggap sebagai bentuk permusuhan, melainkan bagian dari upaya menjaga akuntabilitas dan mendorong perbaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Pernyataan tersebut menuai beragam respons di media sosial. Sebagian pihak menilai kritik terhadap budaya feodalisme memang perlu disuarakan agar masyarakat semakin berani mengawasi kekuasaan. Namun, sebagian lainnya mengingatkan bahwa kritik sebaiknya tetap disampaikan secara santun dan tidak mengandung penghinaan terhadap pihak tertentu.

Perdebatan mengenai batas antara kritik, kebebasan berpendapat, dan etika dalam menyampaikan pendapat pun kembali menjadi perhatian publik. Di tengah dinamika tersebut, suara-suara kritis dari kalangan masyarakat terus bermunculan sebagai bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat.

MoneyTalk.id, Jakarta – Pengamat intelijen dan geopolitik Amir Hamzah menilai langkah sejumlah kelompok yang melaporkan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, ke Bareskrim Polri patut dicermati dari perspektif politik dan intelijen. Menurutnya, rangkaian pelaporan tersebut justru berpotensi menjadi bagian dari operasi pembusukan terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Amir mengatakan, publik perlu melihat secara lebih jernih siapa saja pihak yang berada di balik pelaporan tersebut serta dampak politik yang mungkin ditimbulkan terhadap citra pemerintahan Prabowo.

“Yang terjadi hari ini bukan sekadar persoalan hukum antara pelapor dan terlapor. Ada dimensi politik yang perlu dibaca. Saya melihat ada indikasi operasi pembusukan terhadap Prabowo melalui pelaporan terhadap Tiyo Ardianto,” kata Amir Hamzah kepada wartawan, Jumat (18/6/2026).

Menurut Amir, pelaporan yang dilakukan Gerakan Rakyat Dukung dan Bela Prabowo (Garda Prabowo) ke Bareskrim Polri menimbulkan sejumlah pertanyaan. Terlebih, organisasi tersebut didampingi oleh Ferdinand Hutahaean yang selama ini dikenal memiliki dinamika politik tersendiri dalam berbagai isu nasional.

“Publik tentu mengenal Ferdinand Hutahaean dan mengetahui bagaimana posisi politiknya selama ini. Karena itu, wajar jika muncul pertanyaan mengenai motif politik di balik pelaporan tersebut,” ujarnya.

Amir juga menyoroti fakta bahwa Partai Gerindra sebagai partai yang dipimpin Prabowo justru terlihat tidak menunjukkan respons yang sama terhadap berbagai kritik maupun tudingan yang dilontarkan Tiyo Ardianto.

“Selama ini Gerindra terlihat sangat santai. Tidak ada laporan resmi dari partai. Tidak ada reaksi berlebihan. Itu menunjukkan bahwa Gerindra memahami kritik sebagai bagian dari dinamika demokrasi,” katanya.

Selain Garda Prabowo, Tiyo juga dilaporkan oleh Firdaus Oiwobo. Menurut Amir, publik mengetahui bahwa Firdaus selama ini dikenal sebagai Ketua Umum organisasi Termul yang sering dikaitkan dengan kelompok pendukung Presiden ketujuh RI Joko Widodo (Jokowi).

“Ketika muncul dua pelaporan dari kelompok yang berbeda, maka analis politik dan intelijen tentu akan melihat apakah ada pola tertentu yang sedang dibangun di ruang publik,” ujarnya.

Dalam perspektif operasi informasi, Amir menilai pelaporan terhadap aktivis mahasiswa berpotensi membentuk persepsi negatif terhadap pemerintah.

Menurutnya, salah satu tujuan utama operasi politik modern adalah membangun opini publik yang tidak selalu sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi.

“Jika seorang aktivis mahasiswa dilaporkan ke polisi, maka yang muncul di ruang publik adalah narasi bahwa pemerintah antikritik. Padahal pelapor bukan pemerintah, bukan Gerindra, bahkan bukan Prabowo sendiri,” katanya.

Amir menjelaskan bahwa dalam teori operasi persepsi atau perception management, pihak tertentu dapat menciptakan situasi yang memancing reaksi emosional masyarakat. Ketika emosi publik terbentuk, fakta-fakta substantif sering kali menjadi kurang diperhatikan.

“Narasi yang dibangun bisa sederhana: mahasiswa dikriminalisasi. Setelah itu muncul simpati, muncul gerakan massa, muncul solidaritas. Pada titik itu yang diserang bukan pelapor, tetapi citra Presiden Prabowo,” jelasnya.

Menurut Amir, pola semacam itu pernah terjadi di berbagai negara ketika elite politik tertentu berusaha menggerakkan opini publik melalui isu kebebasan berekspresi.

Amir menegaskan bahwa rekam jejak politik Prabowo selama dua kali kontestasi Pilpres menunjukkan sikap yang relatif terbuka terhadap kritik.

Ia mengingatkan bahwa pada Pilpres 2014 maupun 2019, Prabowo menjadi salah satu tokoh politik yang paling banyak menerima serangan politik, hujatan, bahkan fitnah di media sosial.

“Prabowo dihina, diejek, difitnah selama bertahun-tahun. Namun publik bisa melihat sendiri, tidak ada pola pelaporan besar-besaran terhadap para pengkritiknya. Itu fakta politik yang tidak bisa dibantah,” ujarnya.

Karena itu, Amir merasa tidak logis apabila saat ini muncul kesan bahwa Prabowo menjadi sosok yang antikritik hanya karena adanya pelaporan dari pihak-pihak tertentu yang tidak secara langsung mewakili pemerintah.

“Karakter Prabowo justru dikenal cukup terbuka terhadap kritik. Dia sudah mengalami banyak tekanan politik selama puluhan tahun. Jadi sulit diterima jika tiba-tiba ada narasi bahwa Prabowo alergi terhadap kritik mahasiswa,” katanya.

Dalam analisis intelijen, Amir menilai pertanyaan paling penting adalah siapa pihak yang memperoleh keuntungan politik dari situasi tersebut.

Menurutnya, setiap peristiwa politik selalu perlu dianalisis menggunakan pendekatan “cui bono” atau siapa yang diuntungkan.

“Jika pelaporan ini memicu kemarahan mahasiswa, memunculkan demonstrasi, dan menimbulkan persepsi bahwa Prabowo antikritik, maka pertanyaannya sederhana: siapa yang mendapatkan keuntungan politik dari rusaknya citra Presiden?” ujarnya.

Amir menilai kemungkinan adanya aktor-aktor politik yang memanfaatkan situasi tersebut untuk menciptakan jarak antara pemerintah dengan kelompok mahasiswa tidak boleh diabaikan.

“Mahasiswa adalah kelompok strategis dalam politik Indonesia. Jika hubungan mahasiswa dan pemerintah sengaja dibenturkan, maka yang terjadi adalah polarisasi baru. Itu yang harus diwaspadai,” katanya.

Ia mengingatkan bahwa era digital membuat operasi pengaruh (influence operation) jauh lebih mudah dilakukan melalui media sosial, jaringan aktivis, maupun pembentukan opini secara sistematis.

“Operasi politik hari ini tidak lagi menggunakan cara-cara lama. Yang dimainkan adalah persepsi publik. Karena itu masyarakat harus lebih kritis membaca setiap peristiwa politik yang berkembang,” tutup Amir.

MoneyTalk.id, Jakarta – Aktivis 98 sekaligus pakar maritim, Yulian Paonganan atau yang akrab disapa Ongen, menilai publik patut mencermati berbagai dugaan keterkaitan politik yang muncul di balik sejumlah aksi mahasiswa yang belakangan mengemuka di berbagai daerah.

Menurut Ongen, informasi yang disampaikan Aliansi BEM Bersatu terkait mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, layak mendapat perhatian publik karena dinilai membuka ruang pertanyaan mengenai kemungkinan adanya jejaring politik yang ikut memengaruhi dinamika gerakan mahasiswa.

“Kalau berbagai informasi yang disampaikan BEM Bersatu itu benar dan dapat dibuktikan, maka publik wajar bertanya apakah gerakan mahasiswa murni gerakan independen atau ada kepentingan politik yang ikut bermain di belakang layar,” kata Ongen kepada wartawan, Kamis (18/6/2026).

Ongen menegaskan dirinya tidak menuduh secara langsung adanya keterlibatan partai politik tertentu. Namun, ia menilai berbagai fakta dan dugaan yang beredar perlu dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan spekulasi yang semakin luas di masyarakat.

Menurutnya, salah satu hal yang menjadi perhatian adalah informasi yang disampaikan BEM Bersatu mengenai dugaan keterkaitan mantan Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, dengan sejumlah tokoh yang memiliki kedekatan dengan kubu politik pendukung Ganjar Pranowo pada Pilpres 2024.

BEM Bersatu sebelumnya mengungkap dugaan bahwa kendaraan Toyota Fortuner yang digunakan Tiyo disebut terdaftar atas nama Siti Nuraeni yang disebut merupakan adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso. Nama Setyo Sularso kemudian dikaitkan dengan hubungan keluarga dengan Jenderal TNI (Purn) Andika Perkasa yang diketahui pernah menjadi salah satu tokoh penting dalam tim pemenangan Ganjar Pranowo.

Selain itu, muncul pula sorotan atas kehadiran politikus PDIP Andi Widjajanto di tengah massa aksi mahasiswa yang kemudian memunculkan berbagai spekulasi di ruang publik.

“Bila benar ada irisan antara sejumlah tokoh yang memiliki afiliasi politik dengan figur-figur yang aktif dalam aksi mahasiswa, tentu masyarakat berhak meminta penjelasan. Transparansi penting agar gerakan mahasiswa tidak kehilangan legitimasi moralnya,” ujar Ongen.

Menurutnya, gerakan mahasiswa memiliki sejarah panjang sebagai kekuatan moral bangsa yang berdiri independen dari kepentingan partai politik. Karena itu, setiap dugaan adanya penetrasi kepentingan politik ke dalam gerakan mahasiswa harus dijelaskan secara terbuka agar tidak merusak kepercayaan publik.

Selain menyoroti dugaan keterkaitan sejumlah tokoh dengan aksi mahasiswa, Ongen juga menilai terdapat pola yang menarik di media sosial. Ia mengamati sejumlah kader dan simpatisan PDIP aktif mengkritik pemerintahan Presiden Prabowo Subianto melalui berbagai platform digital.

Menurut Ongen, salah satu figur yang paling sering menjadi perhatian publik adalah politikus PDIP Guntur Romli yang kerap menyampaikan kritik keras terhadap berbagai kebijakan pemerintah.

“Tidak ada yang salah dengan kritik. Kritik adalah bagian dari demokrasi. Tetapi ketika kritik dilakukan secara terus-menerus dengan narasi yang sama dan muncul bersamaan dengan berbagai aksi jalanan, tentu masyarakat akan menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya,” kata Ongen.

Ia mengatakan publik akhirnya bertanya-tanya apakah berbagai kritik yang berkembang merupakan ekspresi politik biasa atau bagian dari strategi oposisi yang lebih besar.

“Yang perlu dijaga adalah jangan sampai ruang demokrasi digunakan untuk menciptakan persepsi seolah-olah negara sedang berada dalam kondisi krisis permanen,” ujarnya.

Ongen juga menyoroti dinamika politik yang terjadi di Kota Malang terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program unggulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Menurutnya, munculnya penolakan atau kritik terhadap program tersebut oleh sejumlah pihak perlu dilihat secara objektif. Namun, ia menilai publik juga berhak mengetahui latar belakang politik para tokoh yang terlibat dalam perdebatan tersebut.

Ia menyinggung fakta bahwa Ketua DPRD Kota Malang, Amithya Ratnanggani Sirraduhita, merupakan kader PDIP.

“Publik berhak mengetahui konteks politik dari setiap perdebatan kebijakan. Ketika ada penolakan terhadap program strategis pemerintah, masyarakat tentu akan melihat apakah ada dimensi politik di dalamnya atau murni soal substansi kebijakan,” ujar Ongen.

Lebih lanjut, Ongen menyoroti pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, yang membela aksi mahasiswa saat memberikan pidato dalam acara peresmian renovasi Istana Gebang dan patung Bung Karno di Blitar, Jawa Timur, Senin (15/6/2026).

Menurut Ongen, pernyataan tersebut menjadi bagian dari dinamika politik yang turut memicu perhatian publik terhadap hubungan antara gerakan mahasiswa dan elite politik.

Meski demikian, Ongen mengingatkan bahwa mahasiswa tidak boleh dijadikan instrumen politik oleh kelompok mana pun. Ia menegaskan sejarah Indonesia menunjukkan bahwa gerakan mahasiswa selalu dihormati karena keberaniannya menyuarakan kepentingan rakyat tanpa menjadi perpanjangan tangan kekuatan politik tertentu.

“Kalau mahasiswa mulai dipersepsikan sebagai alat partai, maka yang rugi bukan hanya mahasiswa, tetapi juga demokrasi Indonesia. Karena itu semua pihak harus menjaga independensi gerakan mahasiswa,” katanya.

Ongen berharap berbagai dugaan yang berkembang saat ini dapat dijelaskan secara terbuka oleh pihak-pihak terkait sehingga tidak menimbulkan kegaduhan berkepanjangan.

Menurutnya, transparansi merupakan cara terbaik untuk mengakhiri berbagai spekulasi yang berkembang di tengah masyarakat.

“Kalau memang tidak ada hubungan politik, jelaskan kepada publik. Kalau ada hubungan, juga harus jujur disampaikan. Yang terpenting adalah menjaga kepercayaan masyarakat terhadap demokrasi, gerakan mahasiswa, dan institusi politik itu sendiri,” pungkas Ongen.

MoneyTalk.id,Jakarta – Advokat sekaligus Ketua Umum Ternak Mulyono (Termul), Firdaus Oiwobo, melaporkan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, ke Polres Tangerang Selatan pada 15/6/2026.

Firdaus menuding Tiyo telah menghina Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Selain itu, ia juga menilai Tiyo telah menyebarkan fitnah dan melakukan penghasutan terkait program pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Menurut Firdaus, laporan tersebut didasarkan pada dugaan pelanggaran sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).

“Yang bersangkutan kami laporkan karena diduga telah melakukan penghasutan dan fitnah terhadap program SPPG serta menghina Presiden dan Wakil Presiden,” kata Firdaus dalam keterangannya.

Firdaus menyebut laporannya mengacu pada Pasal 263 KUHP Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 serta Pasal 433 dan Pasal 434 KUHP. Namun, penentuan ada atau tidaknya unsur pidana dalam perkara tersebut sepenuhnya menjadi kewenangan penyidik berdasarkan hasil penyelidikan dan penyidikan.

Ia berharap aparat kepolisian dapat segera menindaklanjuti laporan tersebut sesuai prosedur hukum yang berlaku.

Sementara itu, hingga berita ini ditulis, belum diperoleh keterangan dari Tiyo Ardianto terkait laporan yang diajukan Firdaus Oiwobo. Pihak kepolisian juga belum memberikan penjelasan resmi mengenai perkembangan penanganan laporan tersebut.

MoneyTalk.id,Jakarta. Sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menggeruduk acara diskusi yang dihadiri sejumlah pejabat negara di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM, Sleman, DIY, Senin (16/6/2026) malam.

Dilihat dari cuplikan video yang beredar di media sosial, acara diskusi ‘Kopdar Bareng Mas Dar’ ini diisi oleh Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono, dan Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko. Acara itu bertemakan ‘Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia’.

Diskusi mulanya berjalan kondusif. Ketiga narasumber telah menyampaikan pendapatnya di atas panggung.

Namun, saat Budiman berbicara soal eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto yang menemukan alat pelacak di mobil, mahasiswa mulai menyalakan bunyi sirine dari pengeras suara. Budiman lantas menghentikan ucapannya, sementara para narasumber lainnya langsung melihat ke arah sumber suara tersebut.

Beberapa mahasiswa lantas masuk ke area diskusi dan naik ke atas panggung sambil meneriakkan “revolusi”. Mahasiswa juga meneriakkan “Satuan Penjilat Prabowo-Gibran”.

Para mahasiswa itu juga membentangkan spanduk bernada penolakan acara diskusi, mulai dari “UGM Menolak Pengkhianat Reformasi” hingga “UGM Menolak Penjilat Rezim”. Tak butuh waktu lama, panggung seketika dipenuhi oleh mahasiswa.

Petugas keamanan kampus dan pemandu acara meminta mahasiswa untuk turun dari panggung agar situasi kembali kondusif. Namun, mahasiswa menolaknya.

Dari bawah panggung, sempat terjadi pelemparan gelas air mineral hingga membuat para pejabat itu dievakuasi dari area diskusi. Sejak itu, Budiman tidak tampak lagi dari pantauan mahasiswa.

Para mahasiswa lantas mencari Budiman karena dianggap sebagai “pengkhianat reformasi”. Sementara puluhan hingga ratusan mahasiswa lain mengadang mobil tumpangan para pejabat di pintu timur keluar GIK.

“Budiman, mana Budiman!” teriak para mahasiswa.

“Katanya mau diskusi,” pekik mahasiswa lainnya.

“Kalau Budiman dan Sudaryono tidak mau keluar, kita enggak akan pergi!” seru mahasiswa lainnya.

Sementara itu, Nusron dan Sudaryono berusaha menuju mobilnya dengan pengawalan. Tapi, sebelum sampai pintu keluar, para mahasiswa berhasil membuat keduanya untuk duduk bersila di aspal dan berdialog bersama.

Setelah saling teriak mereda, salah seorang mahasiswa bertanya kepada Nusron soal ratusan ribu hektare lahan di Papua yang dialihfungsikan sehingga masyarakat tergusur. Ia menagih tanggungjawab Nusron sebagai menteri ATR/BPN.

“Ratusan ribu hektare habis. Siapa yang menentukan tata ruang itu? Bapak kan?” kata mahasiswa.

Nusron justru mengajak mahasiswa ke Papua untuk melihat kondisi di lapangan. Jawaban itu pun tak memuaskan mahasiswa, bahkan malah menyulut tensi mahasiswa.

“Sekarang gini, Mas, kalau Anda mengatakan saya menggusur Papua, kapan kamu mau tak ajak ke sana (Papua),” ujar Nusron.

Tak lama kemudian, Nusron dan Sudaryono bangkit dari duduknya dan menuju arah Bundaran UGM.

Para mahasiswa mencoba menghalau dengan water barrier. Namun, rombongan Nusron dan Sudaryono dengan pengawalannya tetap tembus.

Nusron dan Sudaryono pun berhasil meninggalkan lokasi dengan menumpang mobil patwal. Para mahasiswa sempat mengejar hingga ke arah barat bundaran UGM.

Ketua Serikat Mahasiswa UGM, Mesa, mengatakan para pejabat negara yang menjadi narasumber diskusi ini tidak layak membicarakan Pancasila selama pemerintah masih membungkam suara kritis rakyat.

“Selagi Indonesia masih membungkam suara rakyat, selama mereka menganggap kritik sebagai gangguan, selama mereka masih membuang-buang uang rakyat dengan program nirmanfaat,” kata Mesa kepada wartawan.

Sementara itu, Mesa menyebut Budiman Sudjatmiko sebagai simbol pengkhianat. Menurutnya, Budiman yang dulunya menentang ketidakadilan di rezim Soeharto, sekarang justru mengkhianati perjuangan rakyat.

“Persetan bicara bahwa pengentasan kemiskinan itu baik ketika orang-orang miskin justru dibunuh secara struktur, orang-orang miskin dibunuh secara ekonomi, dan orang-orang miskin justru dianggap dan diakui ketika per harinya hanya memiliki Rp 20 ribu. Di atas dari itu, mereka tidak diakui sebagai orang miskin,” tuturnya.

MoneyTalk.id – Pengamat kebangsaan Sutoyo Abadi menilai gelombang kritik dan perlawanan yang muncul dari kalangan mahasiswa merupakan dinamika yang tidak dapat dipandang remeh oleh kekuasaan. Menurutnya, semakin besar tekanan yang diterima suatu gerakan, semakin menunjukkan bahwa gerakan tersebut memiliki arti dan pengaruh yang signifikan.

Dalam rilis yang diterima pada Senin (15/6/2026), Sutoyo menyinggung perjuangan Tiyo Ardianto dan rekan-rekan mahasiswa yang belakangan menjadi sorotan publik. Ia mengutip petuah ahli strategi perang Tiongkok, Sun Tzu, yang menyatakan, “Jangan terlalu yakin bahwa musuh tidak akan datang, lebih baik bersiap-siap menyambutnya.”

Menurut Sutoyo, keberadaan lawan justru dapat menjadi tolok ukur untuk menilai kualitas perjuangan seseorang maupun kelompok. Lawan yang tangguh, katanya, mampu membangkitkan kemampuan terbaik yang dimiliki seseorang.

“Semakin besar lawan akan semakin besar pula nilai perjuangannya, sekalipun seandainya harus mengalami kekalahan,” ujarnya.

Ia menilai serangan yang diarahkan kepada aktivis mahasiswa menunjukkan bahwa mereka telah dianggap penting dan layak diperhitungkan. Karena itu, momentum tersebut harus dijadikan sarana pembuktian diri sekaligus membangkitkan semangat perjuangan.

Sutoyo juga mengingatkan bahwa kekuasaan yang merasa terdesak biasanya akan bereaksi lebih agresif, bahkan menggunakan berbagai cara untuk mempertahankan posisinya. Dalam kondisi demikian, menurutnya, kewaspadaan harus terus dijaga.

Ia mengingatkan bahwa tawaran perdamaian atau kompromi dari pihak yang sedang terdesak tidak selalu lahir dari niat baik. Dalam pandangannya, langkah tersebut bisa saja menjadi bagian dari strategi untuk meredam dan melemahkan gerakan yang sedang berkembang.

“Hanya mesti hati-hati dan waspada. Pada saat bersamaan sering ditawarkan perdamaian dan kompromi sebagai strategi penyesatan, seolah-olah akan memberi banyak ruang, padahal hasrat mereka tak terbatas dan pada akhirnya akan melucuti lawannya. Sangat rawan kalau perdamaian disertai amunisi angpau,” tegasnya.

Karena itu, Sutoyo secara khusus mengajak Tiyo dan mahasiswa lainnya untuk tetap konsisten memperjuangkan tuntutan yang mereka yakini mewakili kepentingan rakyat.

“Dalam kondisi seperti ini Tiyo dan kawan-kawan mahasiswa lainnya harus mengeraskan diri. Tidak ada peluang kompromi sebelum aspirasinya direspons dan diwujudkan untuk kepentingan rakyat yang diwakilinya,” katanya.

Menurutnya, kekuasaan yang selama ini merasa nyaman dan menganggap dirinya selalu benar akan mengalami kegagapan ketika menghadapi perlawanan yang muncul secara tiba-tiba dari kalangan mahasiswa dan rakyat.

Sutoyo kemudian mengutip pernyataan ahli strategi Tiongkok lainnya, Zhuge Liang atau Chuko Liang, yang menggambarkan situasi kekuasaan yang kehilangan kewaspadaan sebagai “burung pipit bersarang dalam tenda, atau seperti ikan berenang dalam wajan, mereka tidak akan bertahan lama.”

Lebih lanjut, ia menilai sejarah menunjukkan bahwa rezim yang semakin tiran ketika menghadapi kritik dan perlawanan cenderung melihat semua pihak sebagai musuh. Kondisi tersebut, menurutnya, dapat membuat penguasa kehilangan kepekaan terhadap realitas dan akhirnya dikuasai oleh ketakutan serta emosinya sendiri.

Dalam konteks perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan, Sutoyo berpandangan bahwa konflik tertentu justru dapat memiliki efek terapeutik atau menyembuhkan. Ia menilai konfrontasi menjadi pilihan ketika ruang kritik telah tertutup.

“Satu-satunya cara untuk menerobos rezim yang sudah menolak kritik adalah konfrontasi,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa sikap terlalu mudah mencari jalan damai dalam menghadapi ketidakadilan justru berpotensi memperpanjang persoalan. Menurutnya, berbagai bentuk kedzaliman, ketidakadilan, dan ancaman terhadap keselamatan negara harus dihadapi secara tegas.

Menutup pernyataannya, Sutoyo menegaskan bahwa dalam menghadapi pihak-pihak tertentu yang dianggap sebagai lawan politik yang nyata, diperlukan ketegasan sikap.

“Jangan naif terhadap musuh tertentu. Tidak boleh ada kompromi, tidak boleh ada jalan tengah,” tegasnya.

Ia juga mengutip pemikiran filsuf politik Jerman Carl Schmitt yang menyatakan bahwa kemampuan membedakan kawan dan lawan merupakan salah satu unsur penting dalam politik.

“Pemikiran politik dan naluri politik terbuka sendiri secara teori maupun praktis dalam kemampuan membedakan kawan dengan lawan. Poin-poin tinggi politik adalah sekaligus momen ketika musuh dalam kejelasan konkret dikenali sebagai musuh,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Dugaan teror terhadap Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM) Tiyo Ardianto menjadi sorotan publik. Politikus Partai Demokrat, Andi Arief, menilai aparat kepolisian tidak boleh bersikap pasif dalam menangani kasus tersebut.

Ketua BEM UGM dilaporkan menerima ancaman melalui pesan WhatsApp. Tak hanya dirinya, ibunya juga disebut ikut menjadi sasaran teror. Informasi ini memicu keprihatinan, mengingat kebebasan berekspresi mahasiswa merupakan bagian dari ruang demokrasi yang dijamin konstitusi.

Andi Arief menegaskan, aparat penegak hukum seharusnya mampu bergerak cepat. Menurutnya, dengan perangkat teknologi digital yang dimiliki kepolisian, pelacakan pengirim pesan ancaman bukan perkara sulit.

“Harusnya ini soal gampang menemukan pelakunya. Kepolisian punya alat canggih untuk mendeteksi. Kalau dibiarkan berlarut, ini merugikan citra pemerintah,” ujar Andi Arief dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).

Kasus ini pun memantik perdebatan di ruang publik. Banyak kalangan menilai ancaman terhadap aktivis mahasiswa tidak boleh dipandang remeh, terlebih jika menyasar keluarga. Tekanan psikologis akibat teror digital dinilai dapat menghambat kebebasan berpendapat.

Sejumlah pegiat hak asasi manusia mendesak aparat segera melakukan penyelidikan terbuka dan transparan. Mereka menilai respons cepat akan menjadi indikator komitmen negara dalam melindungi warganya, termasuk mahasiswa yang aktif menyuarakan kritik.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian terkait perkembangan penyelidikan dugaan teror terhadap Ketua BEM UGM tersebut.

Kasus ini menjadi ujian bagi aparat penegak hukum dalam menjaga rasa aman di ruang digital, sekaligus memastikan demokrasi tetap tumbuh tanpa intimidasi.

MoneyTalk, Jakarta – Unggahan bernada kritik yang dikaitkan dengan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menjadi perbincangan luas di media sosial. Dalam gambar yang beredar, terdapat tulisan berjudul “Presiden Bodoh” yang berisi narasi tajam mengenai kepemimpinan nasional serta sikap lingkungan di sekitar penguasa.

Teks tersebut menyebut Indonesia tengah dipimpin oleh sosok yang disebut “tidak sadar bahwa dirinya bodoh dan karenanya tak pernah mau belajar,” serta menyinggung orang-orang pintar di sekeliling pemimpin yang dinilai justru ikut mempertahankan keadaan tersebut. Di bagian bawah gambar, tercantum nama Tiyo Ardianto dengan keterangan Ketua BEM UGM.

Beredarnya unggahan ini memicu reaksi beragam. Sebagian warganet menilai kritik mahasiswa merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi, terlebih kampus selama ini dikenal sebagai ruang lahirnya suara moral terhadap kekuasaan. Namun, tidak sedikit pula yang menganggap diksi yang digunakan terlalu keras dan berpotensi memperkeruh suasana politik nasional.

Pengamat politik Rokhmat Widodo menilai dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang gerakan mahasiswa di Indonesia. Sejak era 1966 hingga Reformasi 1998, mahasiswa kerap tampil sebagai kelompok penekan yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

“Dalam negara demokrasi, kritik adalah hal wajar. Tetapi substansi kritik dan cara penyampaiannya tetap penting agar tidak berubah menjadi polarisasi,” ujarnya.

Menurutnya, media sosial mempercepat penyebaran pesan sekaligus memperbesar dampak politik dari sebuah pernyataan, termasuk ketika berasal dari figur mahasiswa.

Secara hukum, kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum dijamin oleh UUD 1945. Namun, para ahli mengingatkan bahwa ekspresi di ruang publik juga memiliki batas, terutama terkait ujaran yang berpotensi menimbulkan konflik atau dianggap menyerang kehormatan pihak tertentu.

Karena itu, Rokhmat mendorong agar polemik ini disikapi secara dewasa melalui dialog terbuka, bukan saling serang di ruang digital.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak BEM UGM maupun Tiyo Ardianto terkait keaslian maupun konteks unggahan yang beredar tersebut. Klarifikasi dinilai penting untuk memastikan apakah narasi itu merupakan pernyataan pribadi, sikap organisasi, atau sekadar potongan konten yang terlepas dari konteks aslinya.

Terlepas dari polemik yang muncul, peristiwa ini kembali menunjukkan kuatnya peran media sosial dalam membentuk percakapan politik di Indonesia—sekaligus mengingatkan bahwa ruang demokrasi selalu diiringi tanggung jawab etika dalam menyampaikan kritik