Ketua BEM UGM Sebut Presiden Bodoh

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Unggahan bernada kritik yang dikaitkan dengan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menjadi perbincangan luas di media sosial. Dalam gambar yang beredar, terdapat tulisan berjudul “Presiden Bodoh” yang berisi narasi tajam mengenai kepemimpinan nasional serta sikap lingkungan di sekitar penguasa.

Teks tersebut menyebut Indonesia tengah dipimpin oleh sosok yang disebut “tidak sadar bahwa dirinya bodoh dan karenanya tak pernah mau belajar,” serta menyinggung orang-orang pintar di sekeliling pemimpin yang dinilai justru ikut mempertahankan keadaan tersebut. Di bagian bawah gambar, tercantum nama Tiyo Ardianto dengan keterangan Ketua BEM UGM.

Beredarnya unggahan ini memicu reaksi beragam. Sebagian warganet menilai kritik mahasiswa merupakan bagian dari kebebasan berpendapat yang dijamin konstitusi, terlebih kampus selama ini dikenal sebagai ruang lahirnya suara moral terhadap kekuasaan. Namun, tidak sedikit pula yang menganggap diksi yang digunakan terlalu keras dan berpotensi memperkeruh suasana politik nasional.

Pengamat politik Rokhmat Widodo menilai dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari sejarah panjang gerakan mahasiswa di Indonesia. Sejak era 1966 hingga Reformasi 1998, mahasiswa kerap tampil sebagai kelompok penekan yang menyuarakan kritik terhadap pemerintah.

“Dalam negara demokrasi, kritik adalah hal wajar. Tetapi substansi kritik dan cara penyampaiannya tetap penting agar tidak berubah menjadi polarisasi,” ujarnya.

Menurutnya, media sosial mempercepat penyebaran pesan sekaligus memperbesar dampak politik dari sebuah pernyataan, termasuk ketika berasal dari figur mahasiswa.

Secara hukum, kebebasan menyampaikan pendapat di muka umum dijamin oleh UUD 1945. Namun, para ahli mengingatkan bahwa ekspresi di ruang publik juga memiliki batas, terutama terkait ujaran yang berpotensi menimbulkan konflik atau dianggap menyerang kehormatan pihak tertentu.

Karena itu, Rokhmat mendorong agar polemik ini disikapi secara dewasa melalui dialog terbuka, bukan saling serang di ruang digital.

Hingga berita ini ditulis, belum ada keterangan resmi dari pihak BEM UGM maupun Tiyo Ardianto terkait keaslian maupun konteks unggahan yang beredar tersebut. Klarifikasi dinilai penting untuk memastikan apakah narasi itu merupakan pernyataan pribadi, sikap organisasi, atau sekadar potongan konten yang terlepas dari konteks aslinya.

Terlepas dari polemik yang muncul, peristiwa ini kembali menunjukkan kuatnya peran media sosial dalam membentuk percakapan politik di Indonesia—sekaligus mengingatkan bahwa ruang demokrasi selalu diiringi tanggung jawab etika dalam menyampaikan kritik

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *