MoneyTalk.id,Jakarta – Pernyataan kontroversial kembali dilontarkan oleh Soedadang Merdesa, yang mengaku sebagai Pemerhati Gestur Kearifan Nusantara. Melalui pernyataannya, ia menyoroti pentingnya keberanian generasi muda dalam menyuarakan kritik terhadap kekuasaan dan budaya feodalisme yang dinilai masih mengakar dalam kehidupan sosial maupun politik.
Menurut Soedadang Merdesa, sikap hormat kepada orang tua maupun pemimpin tidak boleh dimaknai sebagai kepatuhan tanpa batas, terutama apabila yang bersangkutan dianggap melakukan tindakan zalim atau tidak jujur.
Ia mencontohkan kisah Nabi Ibrahim Alaihissalam yang berani menentang ayahnya ketika dinilai berada di jalan yang keliru. Menurutnya, nilai yang dapat diambil dari kisah tersebut adalah keberanian untuk mempertahankan kebenaran meskipun harus berhadapan dengan figur yang lebih tua atau memiliki otoritas.
Dalam pernyataannya, Soedadang juga memberikan dukungan kepada mantan Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto. Ia menilai Tiyo merupakan representasi anak muda yang berani melawan budaya feodalisme yang masih kuat di tengah masyarakat.
“Feodalisme menjadi akar berbagai persoalan, termasuk korupsi dan kemunafikan. Budaya yang menempatkan seseorang tidak boleh dikritik hanya karena status atau kekuasaannya dapat menghambat lahirnya kontrol sosial yang sehat,” ujarnya, Selasa (23/6/2026).
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa demokrasi membutuhkan keberanian warga negara untuk menyampaikan kritik secara terbuka. Menurutnya, kritik tidak boleh dianggap sebagai bentuk permusuhan, melainkan bagian dari upaya menjaga akuntabilitas dan mendorong perbaikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Pernyataan tersebut menuai beragam respons di media sosial. Sebagian pihak menilai kritik terhadap budaya feodalisme memang perlu disuarakan agar masyarakat semakin berani mengawasi kekuasaan. Namun, sebagian lainnya mengingatkan bahwa kritik sebaiknya tetap disampaikan secara santun dan tidak mengandung penghinaan terhadap pihak tertentu.
Perdebatan mengenai batas antara kritik, kebebasan berpendapat, dan etika dalam menyampaikan pendapat pun kembali menjadi perhatian publik. Di tengah dinamika tersebut, suara-suara kritis dari kalangan masyarakat terus bermunculan sebagai bagian dari kehidupan demokrasi yang sehat.





