MoneyTalk.id,Jakarta – Mantan Sekretaris BUMN Muhammad Said Didu menyampaikan refleksi tentang kemerdekaan Indonesia dengan menyerukan agar bangsa Indonesia keluar dari apa yang disebutnya sebagai “jalan sesat”.
Refleksi tersebut disampaikan Said Didu melalui akun YouTube pribadinya, @msaid_didu, pada 17 Agustus 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia.
Dalam refleksinya yang berjudul “Refleksi Manusia Merdeka terhadap Kemerdekaan Indonesia: Keluarkan Indonesia dari Jalan Sesat”, Said Didu menyebut terdapat 12 komponen bangsa yang menurutnya memiliki tanggung jawab untuk mengeluarkan Indonesia dari jalan sesat.
Kedua belas komponen tersebut adalah Istana, DPR, penegak hukum, politisi, cendekiawan, tokoh agama, mahasiswa, TNI dan Polri, aktivis, oligarki, pejabat, serta rakyat.
“Assalamu’alaikum, saya Muhammad Said Didu melakukan refleksi terhadap Kemerdekaan Indonesia dengan judul ‘Keluarkan Indonesia dari Jalan Sesat’. Ada 12 komponen yang saya harap mengeluarkan Indonesia dari jalan sesat,” kata Said Didu.
Soroti Istana dan DPR
Said Didu mengawali refleksinya dengan menyoroti Istana. Ia berharap kekuasaan tidak menggunakan istilah persatuan untuk menutupi kepentingan tertentu.
“Pertama Istana. Saya berharap agar Istana tidak menggunakan idiom persatuan. Tapi yang terjadi sebenarnya adalah persengkongkolan,” ujarnya.
Selanjutnya, Said Didu menyoroti DPR. Ia berharap lembaga legislatif tersebut tidak mengabaikan aspirasi rakyat dalam menggunakan gedung dan kewenangannya.
“Saya berharap DPR berhenti menggunakan gedung DPR dan kewenangan yang ada di DPR bagaikan rumah jagal suara rakyat. Artinya rakyat diabaikan dan hanya digunakan untuk pengesahan suara mereka-mereka demi kepentingan mereka,” katanya.
Penegak Hukum dan Politisi
Kepada para penegak hukum, Said Didu berharap proses hukum dan ruang pengadilan tidak digunakan untuk melegalkan kepentingan kelompok tertentu.
“Saya berharap jangan gunakan proses hukum ruang pengadilan sebagai tempat untuk melegalkan permintaan atau keinginan oligarki, koruptor dan penguasa,” kata Said Didu.
Ia juga menyerukan agar para politisi menghentikan praktik yang menurutnya merugikan negara dan menekan rakyat demi kepentingan kekuasaan.
“Saya berharap para politisi berhenti menggunakan cara yaitu merampok negara, menekan rakyat dan menggunakan uang tersebut untuk menyogok rakyat untuk mendapatkan jabatan,” ujarnya.
Cendekiawan dan Tokoh Agama
Said Didu kemudian menyampaikan kritik kepada kalangan cendekiawan. Ia berharap kaum intelektual tidak kehilangan sikap kritis terhadap kekuasaan.
“Saya berharap berhenti menggunakan dirinya bagaikan lap kanebo untuk membersihkan kotoran-kotoran yang dibikin oleh penguasa,” katanya.
Kepada para tokoh agama, Said Didu juga menyampaikan pesan agar agama tidak digunakan untuk membenarkan kesalahan penguasa.
“Saya berharap berhenti menjadi pedagang ayat suci untuk membenarkan kesalahan yang dibuat oleh penguasa atau perusak negara,” ujarnya.
Mahasiswa, TNI-Polri dan Aktivis
Said Didu selanjutnya menyoroti mahasiswa. Menurut dia, idealisme mahasiswa harus dijaga agar tidak dimanfaatkan oleh kepentingan pihak tertentu.
“Saya berharap agar tidak digunakan untuk menjadikan dirinya sebagai barang dagangan oleh pihak-pihak tertentu dengan seakan-akan penjual idealisme,” katanya.
Kepada TNI dan Polri beserta para pensiunan, Said Didu berharap pangkat dan kewenangan tidak digunakan untuk melindungi pihak yang dianggapnya merusak negara.
“Saya berharap agar berhenti menggunakan pangkat mereka untuk melindungi para perusak negara, penindas rakyat dan penguasa yang dzalim kepada rakyat,” kata Said Didu.
Sementara kepada para aktivis, ia menyerukan keberanian untuk bersuara.
“Kepada para aktivis, saya berharap keluarlah bersuara untuk meluruskan kembali atau mengeluarkan negara ini dari jalan sesat,” ujarnya.
Ia bahkan menilai sikap diam aktivis terhadap persoalan bangsa sebagai sesuatu yang patut dipertanyakan.
“Karena diamnya Anda adalah menunjukkan Anda sudah berada di jalan yang sesat bersama mereka,” kata Said Didu.
Oligarki, Pejabat dan Rakyat
Said Didu juga secara khusus menyampaikan pesannya kepada kelompok yang disebutnya sebagai oligarki. Ia meminta agar praktik yang merugikan negara dan rakyat dihentikan.
“Saya minta agar Anda semua berhenti merampok negara, mengambil ruang rakyat, menindas rakyat, dan menggunakan hasil rampokan tersebut untuk menyogok penegak hukum, menyogok penguasa untuk kembali menindas rakyat dan merampok negara,” katanya.
Kepada para pejabat, Said Didu menyerukan agar jabatan tidak sekadar dijadikan sarana menikmati kekuasaan.
“Berhentilah menjadi penikmat jabatan karena penikmat jabatan adalah orang yang berada di jalan sesat,” ujarnya.
Terakhir, Said Didu menyampaikan pesannya kepada rakyat. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak menjadi pendukung pasif dari kekuasaan yang dianggapnya zalim.
“Rakyat berhentilah menjadi penari latar para penguasa yang dzalim yang menyogok Anda dengan berbagai bentuk sogokan seperti misalnya bansos,” kata Said Didu.
Menurut dia, masyarakat perlu menyadari sumber pembiayaan berbagai kebijakan pemerintah.
“Padahal uang tersebut uang Anda yang diperoleh dari utang,” ujarnya.
Said Didu menutup refleksinya dengan ucapan terima kasih dan salam.
“Terima kasih, wassalamu’alaikum,” pungkasnya.




