MoneyTalk, Jakarta – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) semakin ramai dibicarakan publik, terutama terkait Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jakarta yang selalu menjadi sorotan nasional. Salah satu yang turut memantau perkembangan ini adalah Sugiyanto (SGY), Ketua Himpunan Masyarakat Nusantara (Hasrat), yang menulis pandangannya dalam unggahan di laman Facebook-nya, sebagaimana dikutip oleh MoneyTalk pada Selasa (20/08/2024).
Anies Baswedan
Money Talk, Jakarta – Balas pantun voice note dari Ketua DPW PKS DKI Jakarta, Khoirudin. Voice note ini menjadi tanggapan terhadap rekaman suara dari voicenote mantan Gubernur DKI Jakarta (2017-2023), Anies Rasyid Baswedan, yang beredar di publik, terkait tenggat waktu kepastian pencalonan di Pilgub Jakarta menjadi topik hangat dan menyita perhatiian publik hungga beragam komentar dari berbagai pihak .
Partai Wong Cilik Dimusuhi Wong Cilik.
Jakarta,MoneyTalk – Anies harus cepat ambil Cawapres, kata di atas itu diambil dari arti ucapan seorang aktivis sekaligus kader PDIP mantan Anggota DPR, Beathor Suryadi. Sangat masuk akal, karena saat ini Anies sudah jauh meninggalkan lawan-lawannya dalam pengumpulan suara-suara Calon Pemilih. Jangan lihat Survei Abal-abal yang dilakukan hanya untuk mengesankan Ganjar di mana-mana disambut dan mendapat dukungan rakyat. Bagaimana masuk akal sehat, dengan tingkat kemiskinan yang semakin tinggi selama periode pemerintahannya di Jawa Tengah dan pemihakannya kepada musuh-musuh rakyat Jawa Tengah (ingat WADAS!), ia akan didukung rakyatnya sendiri? Apalagi akan didukung rakyat propinsi lain? Sudah pasti tidak! Kasihan PDIP, akibat kebodohan pimpinannya yang sangat mudah digertak Hasil Survey Abal-abal, kini ia bergerilya sendirian. Itupun tanpa dukungan penuh kader-kader yang merupakan Pendukung Militan Trah Soekarno. Nasi sudah jadi bubur, tak lama lagi PDIP akan terkubur selamanya. Kasihan, partai yang dikenal sebagai Partai Wong Cilik sekarang dimusuhi oleh Wong Cilik. Semua adalah akibat Salah Ucap Ketua Umumnya berkali-kali yang tak perlu diulang lagi, dan Salah Urus Gubernur Terbaiknya Versi Depdagri yang dalam setiap konflik rakyatnya dengan Investor Besar selalalu memenangkan Investornya. Julukan Gubernur Terbaik hanya diberikan oleh Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, tanpa diketahui kriterianya dan tanpa ada pemberitaan besar yang mengikutinya. Maklumlah… ini suatu Penghargaan Abal-abal yang pihak pemberinya pun melakukan dengan “malu-malu kucing”. Julukan yang diremehkan Netizen karena Netizen sudah sangat memahami manuver-manuver mantan Kapolri yang satu ini. Sosok yang dikenal pernah bikin amburadul lembaga yang ditinggalkannya akibat kebijakan pada masa kepemimpinannya. Begitulah PDIP saat ini, ditinggal oleh kader-kader dan pengikut setianya sendiri dan sedang mengalami kebingungan terhadap Keputusannya sendiri.
Kendala Proses Alamiah
1. Kecepatan Proses Alam dalam suatu Proses Alamiah, harus dipastikan terpelihara dengan baik. Seandai terjadi hambatan dan tidak segera diatasi, bisa dipastikan hambatan tersebut akan segera berubah menjadi faktor Penghancur Proses itu sendiri secara alamiah pula. Hukum Fisika Alam ini harap dipahami dengan baik sebelum kita mencoba memahami tulisan ini.
2. Proses Pencalonan Anies Baswedan sebagai Calon Presiden sudah berlangsung sejak 3 Oktober 2022 di Nasdem Tower. Kini sudah masuk akhir Mei 2023 yang artinya Pencalonan Capres tersebut sudah berjalan lebih dari setengah tahun lalu. Ini masa yang cukup panjang dengan kondisi ketidakpastian baik Penentuan Cawapres maupun kepastian Soliditas Koalisi Perubahan yang didukung 3 partai yaitu Nasdem, Demokrat dan PKS. Faktor-faktor ketidak pastian ini dalam jangka tidak lama lagi akan segera menggerogoti Elektabilitas Anies Baswedan, bila tidak segera diatasi.
3. Ketiadaan Katalisator adalah suatu Faktor yang bisa menghambat proses Kampanye Capres Anies Baswedan termasuk menggerogoti kembali Elektabilitas yang dengan susah payah telah dikumpulkan selama lebih dari 6 bulan ini. Karena Katalisator adalah faktor penting yang bila ditambahkan ke dalam suatu Proses Reaksi, mampu mempercepat Proses Alamiah dalam waktu singkat serta menghasilkan produktivitas berlipat. Dan kebalikannya yang akan terjadi bila tidak ada Katalisator dalam suatu Proses Reaksi. Dalam hal ini maka Penentuan Cawapres Anies secepatnya pasti akan menjadi Katalisator yang akan membantu Proses Kampanye Anies sebagai Capres lebih cepat tersiarkan dan lebih banyak menyerap produktivitas Elektabilitas. Kesempatan Emas Kedua yang harus dilakukan Koalisi Perubahan setelah sebelumnya dengan brillian mampu menciptakan Kesempatan Emas Pertama dengan Mencuri Start Pencalonan Presiden pada akhir tahun lalu.
Produktivitas yang Meningkat
1. Penentuan Cawapres secepatnya akan membuat Pendukung Anies semakin yakin bahwa Pencalonan Anies sudah final dan mereka tidak perlu ragu menghadapi ketidak pastian yang selalu disajikan oleh lawan.
2. Penentuan Cawapres sesegera mungkin pasti membuat Momentum Baru yang menambah kekuatan serta stamina Pendukung Anies karena tambahan semangat dari Pendukung Cawapres yang menjadi sangat antusias.
3. Bertambahnya kepastian Kawan Seiring akan menambah kekuatan perlawanan berlipat ganda bila ada gangguan kepada salah satu kawan, baik terhadap Nasdem, Demokrat maupun PKS, seperti yang terjadi baru-baru ini terhadap Nasdem. Perlawanan yang dilakukan oleh Partai Koalisi bersama, pasti akan diikuti oleh Pendukung Anies dan Cawapresnya serta para Simpatisan yang kemudian akan diikuti oleh Gerakan Rakyat Semesta. Artinya… lawan akan berpikir sejuta kali untuk melakukan Kriminalisasi terhadap Capres-Cawapres dan Anggota Partai Koalisi.
3. Cawapres siapa pun dia, usahakan dari dalam Koalisi, agar mempertahankan Soliditas yang telah terbentuk. Harus realistis, sedapat mungkin Cawapres di samping mampu meningkatkan Elektabilitas juga mampu memasukkan dana besar yang sangat dibutuhkan dalam Proses Pilpres 2024 mendatang ini. Meskipun…, Taypan-taypan Bumi Putera yang mendukung Koalisi Perubahan dipastikan juga akan turut menggelontorkan dana tak terbatas untuk Kampanye Capres-Cawapres mereka. Karena “Kekalahan Jagoannya akan menjadikan Kehancuran Mereka”.
Nah…, bagi Anies Baswedan, tidak ada salahnya mengikuti Saran Brillian Politikus PDIP di atas, agar secepatnya menentukan Cawapres dan tampaknya prediksi kawan kita itu tidak salah, Koalisi Besar yang sedang dalam Kegalauan serta Ketidakpastian akan semakin Panik dan Kacau sehingga mereka akan selalu melakukan semakin banyak “Blunder atau Kesalahan” dalam langkah-langkah selanjutnya. Mari kita SAKSIKAN…!! (MT)
Oleh : Indra Adil
Eksponen PKM IPB 77/78
Jakarta,MoneyTalk – Anis Baswedan, bagi saya memang putra terbaik bangsa. Beliau dengan sekuat tenaga berseluncur dalam gelanggang politik. Sedari Rektor kampus, mentri sampai Gubernur Ibu Kota Negara di Jakarta.
Tidak dipungkiri memang Anis Baswedan mampu mengambil panggung-panggung Nasional. Walaupun dengan berbagai cara. Salah satunya dengan politik identitas.
Dalam buku Sejarah Sosial Pendidikan Islam dengan penerbit Guepedia (2022) disebutkan identitas atau jati diri adalah pengakuan terhadap seorang individu atau suatu kelompok tertentu yang menjadi satu kesatuan menyeluruh yang ditandai dengan masuk atau terlibat dalam satu kelompok atau golongan tertentu. Politik identitas biasa digunakan sebagai satu cara di mana anggota masyarakat berjuang dengan tujuan untuk memperoleh pengakuan publik atas unsur budaya atau identitas mereka.
Sedangkan pada buku bertajuk Politik Identitas Etnis (2002) karya Abdillah mendefinisikan politik identitas sebagai politik yang dasar utama kajiannya dilakukan untuk merangkul kesamaan atas dasar persamaan-persamaan tertentu, mulai dari etnis, agama, hingga jenis kelamin. Lain halnya dalam buku Stanford Encyclopedia of Philosophy (2007) karya Cressida Heyes yang mengartikan politik identitas sebagai suatu jenis aktivitas politik yang dikaji secara teoritik berdasarkan pada pengalaman-pengalaman persamaan dan ketidakadilan yang dirasakan oleh golongan tertentu.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa politik identitas adalah suatu politik yang didasarkan unuk merangkul kesamaan atas dasar persamaan-persamaan dari suatu kelompok untuk mencapai suatu tujuan tertentu, misalnya untuk memperoleh pengakuan atas identitas kelompoknya atau meninggikan derajat dan martabat golongan.
Yang menjadi masalah adalah Menurut Muhtadi (2019) adanya fenomena politik identitas dengan populisme agama akan menjadi ranjau bagi demokrasi negara ketika digunakan oleh pemimpin yang tidak cakap. Politik identitas akan menggiring opini publik bahwa orang yang tidak beridentitas sama dengan mereka tidak pantas untuk menjadi pemimpin. Ini tentu saja menyebabkan kaum minoritas akan kehilangan hak yang sama dalam pemerintahan negara, khususnya dalam ranah pemilu maupun pemilihan. Serta dikhawatirkan secara lambat laun akan mencederai demokrasi.
Pemilihan Gubernur DKI Jakarta lalu (2017) sudah cukup menjadi tamparan keras bagi kita semua tentang terjadinya aktivitas politik Identitas. Dan ini sudah menjadi pembelajaran bagi kita semua. Yang katanya setiap warga negara dilindungi secara hak politik ternyata tidak. Pak Basuki atau yang disapa Ahok, sudah tidak lagi terlihat sebagai warga negara. Akhirnya, kontestasi yang terjadi hanya persoalan kebencian dan rasisme.
Politik Identitas sudah sangat melekat sekali kepada Bapak Anis Baswedan. Mau bagaimana pun beliau bersolek, sebanyak apapun masuk ke tempat peribadatan, juga sesering apapun merubah dirinya seakan-akan dan seolah-olah milik bersama ini sangat susah sekali. Karena masyarakat indonesia sudah sangat jelas melihat peristiwa-peristiwa yang terjadi di pilkada DKI Jakarta yang lalu.
Tentunya, saya sedang tidak ingin memperdebatkan persoalan Politik Identitas. Akan tetapi, persitiwa itu sangat teringat sekali dalam memori sejarah dan susah untuk disembuhkan. Betul memang, bahwa semua orang mempunyai identitas politik. Tentunya, identitas politik dan politik identitas berbeda. Tidak serta merta bisa dianggap ini sama. (MT)
Oleh :
Teguh Pati Ajidarma
(Tim Kaderisasi Nasional PB PMII)
Jakarta,MoneyTalk – Hiruk-pikuk pemberitaan tentang para bakal calon presiden menggema dan menggelegar dimana-mana. Dari tongkrongan ke tongkrongan, dari tempat kopi ke tempat kopi, bahkan dari pos ronda ke pos ronda. Tentunya membincang mengenai siapa dukung siapa. Memang agak mumet karna saling ego dalam memenangkan jagoannya. Tapi ya beginilah konsekuensi sebagai warga negara demokrasi.
Walaupun memang katanya demokrasi kita kebablasan tidak seperti apa yang dicita-citakan oleh para pejuang reformasi. Definisi demokrasi kita sekarang semakin meluas seakan-akan melegitimasi kita untuk boleh menyerang dan menjelek-jelekan seseorang. Membolahkan kita menebar kebencian. Membolehkan kita untuk berkata apa saja diluar dari kooridor kebaikan.
Tapi ya begitulah. Demokrasi kebablasan ini menjadi hadiah karena ketidaksiapannya dalam menghadapi demokrasi. Dan saya yakin, kita semua bisa melewati fase ini.
Telah diketahui bersama oleh kita semua bahwa ada tiga koalisi besar yang hari ini berkembang dalam konstalasi pemilu 2024 yang akan mendatang. Pertama ada Partai Gerindra dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang mengusung Prabowo Subianto sebagai Bakal calon Presiden. Kedua ada Koalisi Perubahan yang diantaranya Partai Nasional Demokrasi (NasDem), Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Demokrat yang mengusung Anies Baswedan sebagai Bakal calon Presiden. Dan yang terakhir ada Partadi Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDID) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang mengusung Ganjar Pranowo sebagai bakal calon Presiden.
Dari ketiga koalisi besar tersebut tentunya ada beberapa partai yang belum masuk koalisi. Dan semuanya tergantung lobby-lobby antar koalisi dari koalisi. Akan tetapi yang perlu diketahi bahwa tiga koalisi ini bisa masing-masing mengusung bakal calon presiden dan wakil presidennya. Apalagi pemilu yang akan datang ini menjadi ruang bebas para kontestan untuk mendapatkan kursi kekuasaan. Oleh karena itu ada kemungkinan kandidat calon presiden dan wakil presiden 2024 nanti akan muncul tiga pasangan, bahkan jika melihat isu yang berkembang bisa sampai empat pasangan.
Dalam hal ini saya hanya ingin menyampaikan bahwa bakal calon kandidat presiden dan wakil presiden ini lebih dari dua pasangan tentunya bagus untuk demokrasi. Tapi tidak untuk kesiapan kita semua. Jika pasangan bakal calon presiden dan wakil presiden 2024 nanto ada tiga atau empat pasangan, artinya akan dilakukan kembali putaran-putaran selanjutnya sampai pada titik kemengangan. Ujung-ujungnya ya tetep bakal dua pasang. Bagus memang secara demokrasi. Tapi bagaimana kesiapan kita sebagai masyarakat? Lalu bagaimana kesiapan kita secara politik? Bagaimana kesiapan kita secara anggaran? Dan banyak hal lainnya.
Bukan pesimis, tapi masyarakat kita kebanyakan melakukan politik transaksional. Karena memang para kontestan melakukan hal demikian. Mencoba menghasit masyarakat dengan uang. Bahkan hal ini sudah menjadi lumrah di lapangan.
Kemudian, pemilu 2014 yang lalu negara menghabiskan uang sebanyak Rp. 7,9 Triliun untuk menyelenggarakan pemilu. Kemudian anggaran tersebut naik menjadi Rp. 24,9 Triliun pada pemilu 2019. Itu hanya dua pasangan calon presiden dan wakil presiden. bagaimana nanti jika lebih dari dua pasangan? Anggaran bisa berkali-kali lipat hanya untuk sekedar menuntaskan pemilu saja. Belum lagi peristiwa pemilu 2019 yang lalu ada 894 petugas KPPS yang meninggal dunia karena kelelahan. Juga polarisasi politik yang akan terjadi nanti. Bagi saya ini sangat merepotkan.
Jika anggaran pilpres yang 24 Triliun itu dibagi kesetiap pelaku usaha kecil masing-masing satu juta, artinya akan ada 24 Juta masyarakat yang bisa kembali menghidupkan usahanya untuk menyekolahkan anak-anaknya, memberi makan terhadap keluarganya. Betul memang, secara demokrasi lebih dari 2 pasangan ini bagus, tapi tidak secara kebaikan.
Oleh : Teguh Pati Ajidarma
Koordinator Kaderisasi Nasional PB PMII
Jakarta,MoneyTalk – setelah Musra (Musyawarah Rakyat) di Istora Senayan. Ada yang sebutkan Musra: Musuh Rakyat. Ahad (14/5). Orasi ber -api2 Jokowi tentang kriteria pemimpin harus berani dan tidak sebut nama Ganjar di acara itu. Spekulasi mengarah ke: Prabowo Subianto.
Prabowo lalu lakukan pertemuan dengan makan bersama Gibran. Nampaknya Prabowo bersiap umum kan pencapresan. Sedang menjaring cawapres? Atau ketemu Gibran hanya untuk ledek Megawati?
Karena setelah itu Gibran di panggil PDIP untuk klarifikasi atas dukungan Projo (relawan pro Jokowi) dan keluarga Jokowi yang tersiar dukung pencapresan Prabowo.
Ada pesan halus. Jokowi dan Megawati sedang main tik-tok soal pencapresan. Mega – PDIP capreskan Ganjar Pranowo. Jokowi main 2 kaki. Dukung Ganjar dan dukung Prabowo.
Dari dua permainan petak umpet itu. Kelihatan nya berusaha menghimpit Anies. Dan Anies di persulit dengan kasus Sekjen Nasdem: Jhonny G Plate.
Permainan for play pilpres. Ini menarik. Di kaji dan di cermati. Tapi pertanyaan nya: mengapa sampai Jokowi dan Megawati menurunkan kekuatan full power untuk berupaya menghentikan langkah Anies di pilpres dengan menurunkan dua pemain utama: Bowo dan Ganjar untuk ganjal Anies?
Sebelum nya setelah gagal Anies di sudutkan dengan kasus Formula E – KPK dan Gugatan Moeldoko-MA?
Apakah begitu takut dan khawatirnya Jokowi dan Megawati sehingga untuk mengkandaskan Anies. Bermain dengan berbagai jurus dan laga?
Publik mencermati sambil rileks dan santai mengamati permainan petugas Partai dan Emak Asuh nya itu. Karena kelihatan: Panik betul hadapi hajatan Pilpres 2024 nanti.
Padahal sebetul nya tidak perlu ngoyo gitu. Turun gelanggang. Back up Capres Andalan nya. Masa iya sih presiden jadi timses Capres yang masih jabat gubernur dan Mentri? Dan berusaha maksimal kalahkan mantan Gubernur yang adalah mantan menteri nya?
Bisa permainan Jokowi dan Megawati himpit Anies dengan serang ke jantung Nasdem dengan menahan Sekjen Nasdem. Akan bikin Surya Paloh gelagapan?
Tapi, nampak nya Bos Metro tv dan Media Indoensia akan memainkan sejumlah jurus. Untuk bangun benteng pertahanan untuk tetap kawal Anies. Dari gempuran Jokowi dan Megawati.
Apakah Jokowi dan Megawati sedang bersihkan gelanggang sebelum bertarung? Atau sedang bikin becek lapangan. Akhirnya licin dan tergelincir sendiri?
Apakah Jokowi dan Megawati sedang jadi gunting untuk gunting Anies? Atau akan gunting diri sendiri?
Asyik juga sih mencermati gelanggang politik para penakut yang takut bayangan dan takut perubahan.
Kalau perubahan: Ternyata semakin baik. Dan biasanya akan semakin baik. Kenapa harus takut? Takut pada pada perubahan?
Dan tidak perlu takut. Kalau matahari pasti akan terbit besok. Dan perubahan pasti terjadi.
Jadi jangan takut mati karena perubahan. Sehingga semua cara di tempuh untuk membendung perubahan. Rasanya tidak mungkin ya?
Oleh: Muslim Arbi
Direktur Gerakan Perubahan
Jakarta,MoneyTalk – Gus Baha adalah salah satu kiai paling terkenal dan fenomenal di Indonesia saat ini. Namanya banyak diperbincangkan orang, karena ceramah-ceramahnya terkenal membumi dan mudah dipahami olah umat. Di sela ceramahnya, Gus Baha juga sering melemparkan guyonan-guyonan segar.
Belakangan ini, nama Gus Baha semakin santer dibicarakan masyarakat. Hal ini tak lepas dari kunjungan Anies Baswedan, bacapres dari Koalisi Perubahan. Dalam kunjungan tersebut, Anies diterima di tempat tinggal Gus Baha di Rembang, Jawa Tengah. Dalam kunjungan ini, Gus Baha dan Anies Baswedan berbincang cukup lama selama 2,5 jam.
Menurut kakak kandung Gus Baha, yaitu Gus Mahasin, 2,5 jam adalah durasi terpanjang Gus Baha menerima tamu. Gus Mahasin menambahkan bahwa obrolan Gus Baha dan Anies Baswedan berlangsung dengan gayeng alias seru.
Uniknya, kunjungan dan obrolan Anies Baswedan ke Pesantren Narukan ini tidak diabadikan dengan kamera. Bahkan, kunjungan tersebut juga tidak diunggah di akun media sosial Anies Baswedan. Padahal bila diunggah, hal tersebut tentu bagus untuk meningkatkan popularitasnya. Tapi Anies tidak melakukan hal tersebut.
Menurut sumber yang dekat dengan Anies Baswedan, apa yang dilakukan tersebut memang menjadi bagian dari tirakat Anies di bulan Ramadan. Dalam tirakat ini, Anies benar-benar ingin mendengar suara tokoh masyarakat dan rakyat, tanpa sorot kamera sama sekali.
Menariknya, saat kunjungan ke Ponpes Tahfidzul Quran LP3IA Narukan yang diasuh Gus Baha, Anies Baswedan juga diajak mengunjungi rumah geladak. Rumah ini merupakan peninggalan leluhur Gus Baha yang berusia ratusan tahun. Kunjungan Anies ke rumah dan ponpes milik Gus Baha ini seperti kunjungan sahabat yang akrab, intim, dan menyenangkan.
Kunjungan Anies Baswedan ke Gus Baha ini memang terasa istimewa. Bila tokoh lain berkunjung ke Gus Baha pasti ingin berfoto bersama dan diunggah ke media sosial, lengkap dengan durasinya, tapi Anies memilih tidak melakukan hal itu. Sebab, Anies ingin bicara dari hati ke hati.
Perkara durasi pun, pihak keluarga tuan rumah yang menyampaikan. Anies tidak menyebutkannya. Bagi orang atau tokoh lain yang memerlukan pengakuan, pertemuan seperti itu harus diumumkan di media sosial lengkap dengan durasinya. Padahal, menurut saksi mata yang mengetahui kegiatan tokoh lain tersebut, durasinya tidak sampai dua jam. Bahkan tidak sampai satu jam.
Tapi begitulah, maqom atau kelas orang memang berbeda-beda. Bagi orang yang masih mengutamakan pengakuan diri dan ego, apa pun harus ditunjukkan ke khalayak sebagai bentuk pencitraan. Berbeda dengan Anies Baswedan yang tingkat spiritualitasnya sudah tinggi. Anies sepertinya menyadari, tak semua harus ditunjukkan ke masyarakat demi pencitraan belaka. Anies, memang sudah mencapai level yang berbeda sebagai tokoh nasional.(MT)
Ahmad Rouf Qusyairi
Ketua FormasNU
Forum Masyarakat Santri Nusantara
Jakarta, MoneyTalk – Rumor cepat beredar. Bisa dari orang dalam yang dekat dengan LBP atau orang dalam Surya Paloh. Atau ada yang berspekulasi “super kreatif”. Kita terima saja RUMOR ini sebagai kebenaran, lalu kita berspekulasi apa yang mungkin terjadi. Maka tentu saja ini Rumor yang sangat Masuk Akal bila melihat betapa Loyo dan Groginya LBP setelah pertemuan dengan Surya Paloh kemarin tanggal 5 bulan 5 tahun 2023. Itulah masa-masa hidup kritis LBP saat ini. Penuh spekulasi dan ketidak pastian. Sudah cerkali-kali LBP minta ketemu Surya Paloh dan hebatnya Surya Paooh tidak pernah menolak, tapi juga tidak pernah takut menentang tawaran LBP.
Tawaran Pertama adalah agar Nasdem menarik Dukungan terhadap Pencapresan Anies saat mereka bertemu di Eropa (London) pada bulan Desember 2022. Pertemuan yang katanya kebetulan karena SP sedang berobat dan LBP sedang ada Tugas Negara… Tawaran tersebut ditolak meski SP mendapat ancaman Tiga Menteri Nasdem akan direshufle bahkan ada kemungkinan dipidanakan. Cara-cara Mafia yang memang biasa digunakan Rezim untuk menekan Lawan-lawan Politiknya selama ini. Tetapi terhadap SP senjata busuk ini ternyata tidak berpengaruh sama sekali. Nasdem tetap konsisten Mendukung Anies. LBP diam-diam terkesima pada keteguhan SP. SP memang tidak pernah takut kepada LBP bahkan saat-saat Nasdem baru berdiri dan SP dilarang LBP cawe-cawe lagi di Golkar karena sudah mendirikan partai sendiri, SP melawan dan hampir saja terjadi Adu Jotos di Hotel Borobudur. Jadi jangan harap SP takut pada ancaman LBP maupun Jokowi. *”The show must go on”*, begitu Tekadnya.
Pertemuan kedua terjadi pada bulan Pebruari yang lalu yang tak diketahui apa materi yang mereka bicarakan. Tetapi bisa dipastikan masih tentang Pencalonan Anies yang tak kunjung dihentikan oleh SP. Tentu saja LBP gelisah karena tidak siap menerima bila Kemenangan Anies terealisir. Anies bukan seperti Jokowi yang selalu manut terhadap Kaum Oligarki. Anies juga cerdas dalam menilai suatu kebijakan. Hal ini meresahkan bagi LBP dan juga pasti bagi Jokowi. Karena Anies dinilai Sangat Potensial Meraih Kemenangan, maka LBP meminta kembali bertemu pada Selasa tanggal 14 Maret 2023 di Nasdem Tower Gondangdia. Dalam pertemuan ini tampak SP dan LBP duduk satu meja. Meskipun Pertemuan Ketiga ini sekilas menampilkan keakraban mereka, rupanya LBP tetap belum puas. Mereka berusaha menjinakkan Anies dengan cara-cara baik dan terhormat, tanpa harus menggunakan “cara-cara curang” yang sudah mereka persiapkan dengan matang. Mereka sangat menyadari, sesempurna-sempurnanya cara curang yang mereka persiapkan, tetap memiliki kekurangan yang belum tentu mereka ketahui. Yang pasti berisiko CHAOS yang bisa saja justru menghancurkan mereka.
Akhirnya dalam pertemuan terbaru mereka hari Jum’at tanggal 5 Mei yang baru lalu, LBP terpaksa menawarkan Kartu Truf Terbaiknya, *Ahok sebagai Cawapres Anies*. Ini betul-betul akan menjadi “Tawaran Terakhir LBP” kepada Koalisi Perubahan. Ya… kalau Kartu Truf sudah dikeluarkan, artinya tawaran ini menjadi Ancaman Halus, bila tidak diterima juga, maka kita akan “Perang Habis-habisan”. Takkan ada lagi Tawaran Perdamaian Win-win Solution. Tawaran ini betul-betul bagai Pisau Bermata Dua. Kenapa?
1. Bila diterima, sekilas memang menjanjikan Kemenangan Mutlak bagi Anies terhadap Prabowo dan Ganjar dalam 1 kali Putaran Pemilihan, tetapi sesungguhnya bisa terjadi kebalikannya. Pendukung Anies Militan akan meninggalkan Anies dan kemungkinan akan kembali mendukung Prabowo. Maka dalam Putaran Kedua, akan bertanding Prabowo dan Ganjar. Artinya yang akan lahir sebagai Presiden Baru nanti pastilah Ganjar, karena Prabowo Sangat Mudah DIBOHONGI dan DIKADALI tanpa risiko apapun bagi Pelaku Kecurangan. Dua kali Dipecundangi Dengan Mudah sudah cukup sebagai Barometer Kebodohan dan Kelemahan Prabowo.
2. Tetapi apabila yang terjadi Kebalikannya, maka Posisi Ahok sebagai Wapres tinggal selangkah saja untuk Menjadi Presiden RI. Apapun bisa dilakukan untuk Menyingkirkan Anies dari Posisi Presiden. Pilihannya hanya tinggal menggunakan Cara Kasar atau Cara Halus. Jadi Kemenangan Anies bila bersanding dengan Ahok sesuai Tawaran LBP, harus DICURIGAI sebagai JALAN PINTAS CERDIK menjadikan Ahok yang ditengarai memiliki 2 Kewarganegaraan (Indonesia sekaligus juga China), sebagai Presiden Indonesia Pertama dari Warganegara China. Artinya ke Sini Untung ke Sana Untung. LBP memang Ular Berkepala banyak.
3. Bila SP Menolak Tawaran Premium ini, maka yang terjadi adalah Perang Habis-habisan yang akan dilakukan oleh LBP dengan bantuan KPK, POLRI dan Alat-alat Kekuasaan lainnya tetapi akan dijawab Oke oleh SP yang di era Crossboy dulu juga adalah Tokoh Anak Kolong yang tentu saja akan menarik Anak-anak Kolong Lain Bersatu Menghadapi LBP-JOKOWI dengan Barisannya. Jangan lupa SP adalah Pendiri Forum Komunikasi Putra/Putri Purnawirawan Indonesia (FKPPI). Kita lihat apa yang terjadi, karena Perang Habis-habisan ini akan Menjadi Perang Antara Pembela Kepentingan Bumi Putera Melawan Pembela Kepentingan Taypan China.
Kita berharap yang Terjadi Adalah Pertandingan Pilpres Damai yaitu Bersatunya Prabowo dengan Puan yang bisa menegasi Ketegangan Antara Koalisi Perubahan dengan Koalisi Status Quo. Sementara Ganjar kembali ke Pangkuan KIB dengan Hartarto sebagai Cawapres, tetapi dengan Prasyarat LBP-JOKOWI tidak melakukan MANUVER CURANG yang TELAH DIPERSIAPKAN. ITU SYARAT MUTLAK UNTUK TIDAK TERJADI GORO-GORO. (MT)
Oleh : Indra Adil
Eksponen PKM IPB 77/78
JAKARTA, MoneyTalk – Saat pertemuan dengan Tim Kecil Koalisi Perubahan (Nasdem, Demokrat, PKS), Jumat (5/5/2023), Anies Baswedan mengungkapkan bahwa Koalisi Perubahan terus berproses, telah bekerja dengan terstruktur dan sesuai tahapan yang direncanakan bersama.
Ia menyatakan, tahapan selanjutnya adalah fokus kepada pembahasan Isu perubahan didasari temuan saat kunjungan lapangan di 90an tempat selama bulan ramadhan dan finalisasi calon wakil presiden.
“Tiga isu perubahan yang akan diusung adalah pertama terkait dengan kemiskinan, kedua terkait dengan biaya hidup dan kebutuhan pokok yang harganya tinggi, yang ketiga lapangan kerja,” ungkap Anies.
Sebagai bakal calon presiden yang diusung Koalisi Perubahan, Ia juga mengungkap, pertemuan rutin konsisten dilakukan untuk membahas perkembangan terkini dan merencanakan langkah strategis selanjutnya.
Dalam sesi tanya-jawab mengenai 5 nama bakal cawapres yang disodorkan oleh Koalisi Perubahan, Anies mempertegas bahwa sosok calon pendampingnya di Pilpres 2024 idealnya berasal dari internal Koalisi Perubahan.
“(Apabila) berada dalam koalisi maka dalam konsiderasi (dipertimbangkan). Kalau tidak berada dalam koalisi ya sulit menjadi konsiderasi,” tegas Anies.
Sekjen DPP Partai Demokrat, Teuku Riefky Harsya, juga menegaskan temuan tiga isu perubahan tersebut juga sama dengan temuan lapangan saat Ketum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) melakukan safari Ramadhan sepanjang bulan Maret dan April yang lalu.
Hal ini sejalan dengan laporan yang masuk dari mayoritas Anggota Fraksi Partai Demokrat (DPR RI/ DPRD Prov/ Kab/Kota) se-Indonesia, yang saat ini berjumlah 1864 orang.
“Selain 3 Isu harapan perubahan dan perbaikan yang disampaikan rakyat ke Pak Anies, Kami juga menemukan adanya kecemasan publik yang tinggi dalam menghadapi Pemilu 2024 ini.” Ungkap Riefky.
“Kekhawatiran terhadap terjadinya intimidasi, intervensi dan kecurangan Pemilu juga banyak kami temui dilapangan.” tutupnya, yang diamini oleh Anies dan para anggota tim kecil Koalisi Perubahan lainnya.
JAKARTA, MoneyTalk – Selain Anies Rasyid Baswedan ada sejumlah tokoh nasional dan pemimpin bangsa yang berpotensi untuk pimpin Indonesia ke depan.
Tokoh-tokoh tersebut dapat disebutkan. Antara lain: AA La Nyalla Mattalitti, Rizal Ramli, Gatot Nurmantyo.
La Nyalla Mattalitti, Ketua DPD punya kepedulian terhadap Rakyat sangat jelas. Dari gagasan dan pemikiran dan pedulian nya dapat terbaca dari ril pers yang di keluarkan oleh Biro Pers DPD RI.
Rizal Ramli, Ekonom Senior yang tidak di ragukan lagi karena berpengalaman sebagai Menko di Era Presiden Abdurahman Wahid maupun kepemihakan kepada Nelayan di Pantai Utara Jakarta dalam kasus Reklamasi akhir nya tersingkir saat jabat sebagai Menko Maratim di era Jokowi.
Jendral Gatot Nurmantio yang saat ini bersama teman2 di KAMI. Koalisi Aksi Selamatkan Indonesia yang tak henti – henti nya menyuarakan bahaya2 ancama terhadap Indonesia. Mantan panglima TNI itu pun akhir terpental dari Kabinet Rezim Jokowi..
Ketiga tokoh di atas berpotensi sangat besar untuk pimpin dan selamatkan Indoensia di tengah ancaman dan keterpurukan saat ini.
Integritas ketiga nya tak diragukan lagi. Dan mereka di dukung Rakyat.
Hanya saja. Setelah MK di pimpin oleh Adik Ipar Jokowi. MK terbelenggu oleh kekuatan Oligarki Politik dan Ekonomj. Sehingga MK lumpuh untuk tampil sebagai Institusi Penjahat Konsitusi yang memihak pada Rakyat dan Demokrasi.
MK mengunci desak. Rakyat untuk menggugurkan PT 20 %. Agar membuka jalan reformasi politik dan demokrasi di Indonesia menjadi kandas.
Angin perubahan di negeri ini bertiup sangat kencang dan deras. Rakyat butuh Perubahan. Rakyat tidak mau lagi di pimpin oleh kekuatan yang ada di pementasan dan di Parlemen saat ini.
Rezim saat ini sudah dianggap busuk, bobrok, rusak dan culas. Rezim ini segera di ganti secara demokratis. Oleh karena nya melalui saluran demokratis melalui Pemilu dan pilpres.
Tapi akibat fatal dan konyol rezim saat ini dengan kekuatan dan tekanan nya bikin Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat mati.
Pemimpin yang di inginkan Rakyat: seperti La Nyalla Mattalittii, Rizal Ramli, Gatot Nurmantio di kunci oleh putusan MK yang anti Demokrasi dan Kedaulatan Rakyat. Puluhan Gugatan ke MK di tolak MK dengan alasan yang tidak rational, demokratis dan konstitusional.
Akhir nya saat ini. Koalisi – koalisi yang di bentuk versi rezim dan partai pendukung nya bingung. Karena tokoh2 yang mau di usung tidak di yakini menang pada saat pertarungan pilpres 2024.
Pisau Gelotin untuk membunuh lawan untuk menangkan pertarungan untuk berkuasa kembali jadi tidak berdaya berhadapan dengan desakan dan tekana Rakyat yang cinta Pro Perubahan untuk kehidupan Negara dan Bangsa yang adil dan sejahtera sangat di dambakan.
Rakyat muak dan marah dengan kondisi saat ini. Sudah saat nya Perubahan besar tiba untuk negeri ini. Rakyat ingin kan tokoh2: La Nyalla Mattalitti, Rizal Ramli, Gatot Nurmantio selain Anies Baswedan untuk dapat tampil pimpin negeri.[MT]
Oleh: Muslim Arbi
Direktur Gerakan Perubahan dan Koordinator Indonesia Bersatu
