6 November 2026

Pertanian Indonesia

MoneyTalk, Jakarta – Pertanian modern kini menjadi primadona di tengah generasi muda Indonesia yang mencari peluang usaha menguntungkan dan berkelanjutan. Salah satu program inovatif yang mendukung hal ini adalah Program Brigade Pangan, yang diinisiasi Kementerian Pertanian untuk menarik minat dan partisipasi pemuda dalam sektor pertanian dengan metode dan teknologi canggih. Artikel ini akan membahas secara rinci program ini, persyaratannya, serta informasi penting lainnya.

Program Brigade Pangan adalah inisiatif pemerintah untuk membentuk kelompok usaha tani modern yang beranggotakan para petani milenial. Program ini bertujuan meningkatkan produktivitas dan efisiensi pertanian padi di 12 provinsi di Indonesia melalui penerapan teknologi modern seperti penggunaan drone dan mesin otomatis dalam setiap tahap proses pertanian, mulai dari pengolahan tanah, penanaman, hingga perawatan tanaman.

Mengapa program ini penting? Karena pertanian modern diharapkan mampu mendorong transformasi sektor agrikultur dari metode tradisional menjadi lebih efisien dan berkelanjutan. Menteri Pertanian menyebutkan bahwa para petani milenial yang terlibat dalam program ini bisa memperoleh pendapatan minimal Rp10 juta per bulan, dengan catatan keberhasilan bergantung pada kontribusi mereka sebagai wirausaha yang menguntungkan.

Untuk mengikuti program ini, terdapat beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, antara lain:

Alumni UPT Pendidikan Lingkup Pertanian, Ini termasuk peserta yang telah lulus dari institusi pendidikan pertanian yang berada di bawah Kementerian Pertanian.

Alumni Perguruan Tinggi Mitra: Lulusan perguruan tinggi yang memiliki kerja sama resmi dengan Kementerian Pertanian.

Alumni SMK Pertanian Mitra: Contohnya adalah lulusan Sekolah Menengah Kejuruan Pertanian Pembangunan (SMKPP) atau yang setara seperti SPMA (Sekolah Pertanian Menengah Atas).

Untuk diketahui, Program Brigade Pangan hanya tersedia di 12 provinsi yaitu:

Sumatera: Aceh, Sumatera Utara, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung.

Kepulauan Bangka Belitung.

Kalimantan: Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan.

Sulawesi: Sulawesi Selatan.

Papua: Papua Selatan.

Sementara provinsi lain seperti Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara belum termasuk dalam cakupan program ini.

Kunjungi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di wilayah Anda. Mereka bertanggung jawab untuk mendaftarkan petani milenial.

Daftarkan diri Anda sebagai petani milenial di desa Anda. Sampaikan niat Anda kepada PPL setempat, misalnya dengan mengatakan, “Pak/Bu, saya ingin didaftarkan sebagai petani milenial.”

Bagi alumni perguruan tinggi dan SMK pertanian mitra, pendaftaran dilakukan melalui Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) atau koordinator wilayah setempat.

Untuk petani milenial yang sudah terdaftar, bisa menghubungi koordinator provinsi melalui Dinas Pertanian setempat.

Salah satu poin unggulan dari program ini adalah penggunaan teknologi modern. Para peserta akan dibekali alat-alat canggih seperti traktor otomatis dan drone penyemprot pestisida. Mengapa teknologi ini penting? Karena penyemprotan dengan drone tidak hanya lebih cepat tetapi juga lebih efektif dalam menjangkau area yang sulit dicapai secara manual. Efek angin dari baling-baling drone membantu membuka daun tanaman, sehingga pestisida dapat merata hingga ke bagian bawah.

Menteri Pertanian menjelaskan, program ini dapat menjamin potensi penghasilan minimal Rp10 juta per bulan. Hal ini dicapai melalui mekanisasi dan skala usaha yang lebih luas serta efisiensi yang ditingkatkan. Kata kuncinya adalah “menguntungkan” yang berarti peserta diharapkan aktif berwirausaha dan mengelola pertanian modern yang didukung oleh teknologi.

Dalam video yang disiarkan di kanal YouTube Penyuluh Pertanian Lapangan, peringatan disampaikan terkait penipuan online yang mengatasnamakan program ini. Banyak tautan palsu yang meminta data pribadi seperti nomor KTP dan foto, yang dapat digunakan untuk kejahatan siber seperti phishing atau penipuan pinjaman online. Penting untuk memastikan bahwa semua informasi yang diperoleh berasal dari sumber terpercaya dan resmi, seperti situs Kementerian Pertanian atau PPL setempat.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Mardigu Wowiek dalam tayangan terbarunya di kanal YouTube pada Senin (28/10), menyampaikan kritik tajam terhadap pemerintah yang kerap memamerkan data dan angka demi menunjukkan kesuksesan pembangunan sektor desa dan pertanian. Pemerintah kerap menyebut pencapaian seperti jumlah jalan desa, bendungan, dan irigasi yang dibangun sebagai indikator keberhasilan. Namun, Mardigu mengingatkan bahwa realitas di lapangan menunjukkan keadaan berbeda dan sering kali lebih kompleks dari sekadar data statistik.

Dalam pidato yang juga memuat kritik dari Prabowo Subianto, disebutkan bahwa terlalu berlebihan bagi Indonesia untuk sekadar berbangga sebagai bagian dari G20 atau menobatkan diri sebagai ekonomi terbesar ke-16 dunia, tanpa memahami permasalahan mendasar seperti tingginya angka kemiskinan. Data memang bisa menggambarkan kemajuan, tetapi data seharusnya tidak hanya bersifat positif untuk meraih popularitas. Sebaliknya menurut Mardigu, pemerintahan saat ini harus berani menampilkan data apa adanya agar bisa diambil langkah konkret dalam mengatasi persoalan ketahanan pangan dan kemiskinan desa.

Mengupas Data Ketahanan Pangan Indonesia

Mardigu melanjutkan dengan memaparkan hasil Global Food Security Index (GFSI) dari 2022, yang menunjukkan bahwa ketahanan pangan Indonesia memiliki skor sebesar 60,2, sedikit di bawah rata-rata dunia yang berada pada 62,2, serta lebih rendah dibandingkan rata-rata Asia Pasifik yang sebesar 63,4. Skor ini diperoleh dari penilaian empat indikator besar: keterjangkauan harga pangan, ketersediaan pasokan, kualitas nutrisi dan keamanan makanan, serta ketahanan sumber daya alam. Realitas ini menunjukkan bahwa, meskipun Indonesia berupaya membangun ketahanan pangan, banyak wilayah dan sektor masyarakat yang belum merasakan dampaknya secara merata.

Selain itu, Mardigu menyebut Global Hunger Index (GHI) dari FAO yang menunjukkan bahwa tingkat kelaparan Indonesia masih menjadi yang tertinggi ketiga di ASEAN dengan skor 16,9. Ini menjadi ironi tersendiri mengingat Indonesia adalah satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20. Ditambah lagi, laporan BPS tahun 2023 mengungkapkan bahwa 60,69 juta orang atau jumlah tenaga kerja terbesar bekerja di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, tetapi sektor ini hanya menyumbang 12,4% dari PDB, jauh di bawah kontribusi sektor industri pengolahan yang sebesar 18,34%.

Ketidakadilan Sosial dalam Pembangunan Pertanian

Mardigu juga menyoroti kurangnya keberpihakan terhadap rakyat desa dan petani kecil. Pembangunan sektor pertanian selama satu dekade terakhir, menurutnya, telah gagal menghadirkan kesejahteraan bagi masyarakat pedesaan dan petani gurem. Meski banyak orang bekerja di sektor ini, sumbangan terhadap PDB rendah dan pertumbuhan sektor pertanian lambat. Realitas ini menunjukkan kesenjangan nyata antara janji pembangunan desa dan kondisi di lapangan, di mana sektor pertanian dan sumber daya desa kurang mendapat perhatian yang signifikan.

Inovasi Pertanian sebagai Solusi: Teknologi dan Kearifan Lokal

Tidak hanya mengkritik, Mardigu juga menawarkan solusi dan berbagi cerita tentang langkah nyata yang telah dilakukan komunitasnya untuk memajukan sektor pertanian. Selama tiga tahun terakhir, komunitas yang ia kembangkan bersama anak-anak muda dari berbagai daerah di Indonesia mengusung pendekatan baru dalam pertanian. Berangkat dari pengalaman keluarga sebagai petani, mereka menggabungkan kearifan lokal dengan teknologi modern seperti IoT (Internet of Things), AI, dan drone pertanian. Langkah ini dinilai membawa peningkatan signifikan pada hasil panen dan efisiensi produksi.

Di Desa Minggir, Yogyakarta, misalnya, mereka memulai proyek dari satu petak sawah seluas 2.600 m², yang kini telah berkembang menjadi 30 hektar. Pada masa tanam Desember 2024, mereka menargetkan perluasan hingga 50 hektar. Dengan memanfaatkan drone dan perhitungan yang teliti untuk setiap proses penanaman, pemupukan, penyiraman, dan panen, hasil panen dapat meningkat dari 5,3 ton beras per hektar menjadi 8,5 ton per hektar. Mardigu juga mengungkapkan bahwa model bisnis ini akan terus dikembangkan demi mencapai ketahanan pangan yang lebih baik.

Dukungan Nyata bagi Pertanian Lokal

Mardigu menyampaikan harapannya kepada pemerintahan saat ini, khususnya Presiden Prabowo Subianto, untuk terus mendukung sektor pertanian dan keberlanjutan UKM di pedesaan. Ia berharap kebijakan yang diambil tidak hanya sekadar menyelamatkan satu sisi sektor, tetapi mampu meningkatkan kesejahteraan petani dan mendukung UKM berbasis agrikultur. Komunitasnya pun terbuka untuk menerima kunjungan pemerintah atau wakil rakyat untuk melihat secara langsung hasil nyata dari kombinasi teknologi dan kearifan lokal dalam dunia pertanian.

Dengan model pertanian yang memadukan tradisi dan inovasi, Mardigu yakin pertanian Indonesia masih memiliki masa depan cerah. “Semoga ke depan kita bisa memberikan peluang yang lebih besar bagi pertanian dan para petani di negeri ini,” pungkasnya, menyampaikan harapan agar pemerintah juga terus mendukung upaya-upaya yang bisa meningkatkan ketahanan pangan dan kesejahteraan rakyat desa. (c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Mantan Menteri Agraria dan Tata Ruang, Sofyan Jalil, berbagi pandangan dalam sesi Katadata Podcast yang menyoroti isu ketahanan pangan Indonesia serta peran penting pemerintah dan sektor swasta dalam mewujudkan kedaulatan pangan. Dalam diskusi tersebut, Sofyan Jalil menekankan pentingnya intervensi pemerintah yang didukung oleh pendekatan riset, manajemen yang tepat, dan sinergi antara sektor publik dan swasta.

Salah satu poin penting yang disampaikan Sofyan Jalil adalah pentingnya public-private partnership (PPP) yang lebih fleksibel dan tidak terlalu birokratis. Ia mengkritik pendekatan PPP yang ada saat ini yang menurutnya terlalu teknokratik dan birokratis. Menurutnya, pemerintah perlu memberikan dukungan kepada pengusaha yang memiliki komitmen dan pengalaman untuk mengelola proyek-proyek besar seperti food estate. Dukungan tersebut dapat berupa ekosistem yang lebih kondusif, kredit yang lebih murah, serta proteksi ekonomi yang memadai.

Menurut Sofyan Jalil, kunci keberhasilan komoditas kelapa sawit di Indonesia adalah karena adanya kolaborasi yang tepat antara korporasi dan masyarakat. Ia menekankan bahwa 42% perkebunan kelapa sawit saat ini dimiliki oleh masyarakat yang telah sejahtera berkat kolaborasi tersebut. Kolaborasi ini memberikan hasil yang nyata, karena masyarakat memperoleh akses terhadap riset, bibit unggul, dan praktik pertanian terbaik yang diperkenalkan oleh korporasi.

Penerapan model serupa pada proyek food estate diyakini dapat meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan masyarakat. Namun, Sofyan juga menekankan pentingnya melibatkan pengusaha yang memiliki kepedulian dan pengalaman dalam bidang pangan, bukan hanya birokrasi yang tidak selalu memiliki pengetahuan teknis yang dibutuhkan.

Salah satu tantangan besar yang dihadapi oleh sektor pertanian di Indonesia adalah penyusutan lahan pertanian yang semakin signifikan. Sofyan Jalil mencatat bahwa luas lahan pertanian Indonesia menyusut dari 8,1 juta hektar pada tahun 2009 menjadi sekitar 7,5 juta hektar pada tahun 2019, dan tren ini terus berlanjut. Penyusutan lahan pertanian ini diperparah oleh peningkatan permintaan terhadap lahan untuk properti dan industri.

Ia mengkritik kebijakan tata ruang yang tidak memadai, terutama dalam mengizinkan penggunaan lahan-lahan pertanian subur di daerah-daerah seperti Bekasi dan Karawang untuk keperluan industri. Menurutnya, kebijakan ini mengabaikan potensi besar daerah-daerah tersebut sebagai lumbung pangan nasional.

Untuk mengatasi penyusutan lahan pertanian, Sofyan mendorong pemerintah untuk mengadopsi pendekatan Fit for Purpose dalam penataan ruang. Ia mengusulkan agar lahan-lahan yang tidak produktif atau yang sudah terkonversi dijadikan target utama untuk pengembangan kembali sebagai lahan pertanian. Selain itu, Sofyan juga menekankan pentingnya menjaga lahan pertanian abadi agar tetap produktif dan tidak tergerus oleh urbanisasi atau proyek infrastruktur.

Selain lahan yang menyusut, Sofyan juga menyoroti masalah menurunnya jumlah petani di Indonesia dan fragmentasi lahan akibat hukum waris. Dalam banyak kasus, tanah pertanian yang diwariskan kepada generasi berikutnya menjadi semakin kecil, sehingga tidak lagi produktif secara ekonomi. Sofyan mengusulkan konsep demutualisasi sawah, yaitu penggabungan kembali lahan-lahan kecil menjadi unit yang lebih besar agar dapat dikelola secara lebih efisien dengan bantuan teknologi modern.

Ia percaya bahwa dengan meratakan dan menggabungkan sawah-sawah kecil, produktivitas pertanian dapat meningkat secara signifikan. Penggunaan teknologi dan mekanisasi pertanian akan lebih mudah diterapkan pada lahan yang lebih luas dan tidak terfragmentasi.

Sebagai bagian dari diskusi, Sofyan juga menyampaikan rekomendasi kebijakan untuk pemerintahan baru yang akan dipimpin oleh Prabowo Subianto. Salah satu rekomendasi utamanya adalah penataan kembali tata ruang yang lebih tepat guna, terutama terkait kawasan hutan yang sudah tidak lagi produktif. Sofyan menekankan pentingnya melakukan evaluasi terhadap kawasan-kawasan yang tidak perlu lagi dipertahankan sebagai hutan dan dapat dialihfungsikan untuk keperluan pertanian atau energi terbarukan.

Selain itu, ia juga mendorong pemerintah untuk menciptakan ekosistem yang mendukung keterlibatan swasta dalam sektor pangan. Insentif bagi pengusaha yang serius dalam mengembangkan sektor pangan perlu diberikan, sementara pemerintah harus fokus pada penegakan hukum dan regulasi yang jelas agar program kedaulatan pangan dapat berjalan dengan baik.

Sofyan juga menekankan pentingnya reformasi dalam undang-undang keuangan negara yang saat ini dianggap terlalu formalistik dan menyulitkan implementasi proyek-proyek besar seperti food estate. Reformasi ini perlu dilakukan agar pemerintah dapat lebih fleksibel dalam mendukung proyek-proyek strategis yang memerlukan investasi jangka panjang.

Sofyan Jalil dengan optimisme bahwa kedaulatan pangan dapat dicapai jika pemerintah melakukan intervensi yang tepat dengan dukungan riset dan manajemen yang baik. Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta menjadi kunci keberhasilan, sementara reformasi regulasi dan penegakan hukum juga diperlukan untuk menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan sektor pertanian. Tantangan-tantangan yang ada, seperti penyusutan lahan dan menurunnya jumlah petani, harus dihadapi dengan terobosan-terobosan baru agar Indonesia dapat mencapai swasembada pangan yang berkelanjutan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Pertanyaan mengenai kelayakan program Food Estate dilanjutkan atau tidak selalu menjadi isu yang hangat dalam perdebatan kebijakan ketahanan pangan Indonesia. Terlebih, dalam konteks proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) yang memprediksi bahwa populasi Indonesia akan mencapai 328 juta jiwa pada 2050, kebutuhan pangan akan meningkat secara signifikan.

Pernyataan yang disampaikan oleh Sofyan Djalil dalam podcast Katadata pada Selasa (21/10) menggarisbawahi tantangan utama yang dihadapi Indonesia terkait ketahanan pangan: ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan domestik secara mandiri.

Menurut Badan Pangan Nasional (Bapanas), tantangan swasembada pangan tidak hanya terletak pada produksi, tetapi juga pada keterjangkauan dan pemanfaatan pangan di tengah ketidakpastian global, seperti perubahan iklim dan disrupsi rantai pasok. Namun, pertanyaannya, apakah program Food Estate, yang telah menjadi sorotan kontroversial, masih layak dilanjutkan untuk mengatasi masalah ini?

Program Food Estate adalah inisiatif pemerintah untuk menciptakan lahan pertanian besar yang dikelola secara intensif dengan tujuan meningkatkan produksi pangan nasional. Dalam program ini, kawasan tertentu ditetapkan sebagai lahan pertanian terpadu yang dapat digunakan untuk berbagai komoditas, seperti padi, jagung, hingga singkong.

Konsep ini sebenarnya cukup menarik karena menawarkan solusi yang komprehensif untuk meningkatkan ketahanan pangan, terutama di daerah-daerah yang belum optimal digunakan untuk pertanian. Namun, masalahnya tidak terletak pada konsep tersebut, melainkan pada implementasinya.

Sofyan Djalil, yang terlibat dalam birokrasi selama berbagai pemerintahan, mengakui bahwa secara konseptual, Food Estate adalah ide yang sangat baik. Ia menawarkan potensi untuk menjadikan Indonesia lumbung pangan dunia. Namun, antara idealisme dan realita di lapangan terdapat kesenjangan besar yang harus dijembatani. Masalah kebijakan, baik di level makro maupun mikro, serta implementasi di lapangan seringkali tidak sejalan, menyebabkan program ini tidak mencapai hasil yang diharapkan.

Salah satu kelemahan utama yang dihadapi Food Estate adalah pemilihan lokasi yang tidak tepat. Banyak lahan yang dijadikan bagian dari program ini ternyata memiliki kualitas tanah yang buruk atau memerlukan intervensi teknologi dan pupuk yang sangat besar.

Sofyan Djalil memberikan contoh daerah yang ditanami pohon pakis, yang merupakan indikasi bahwa tanah tersebut sangat miskin unsur hara. Di lahan seperti ini, diperlukan intervensi besar-besaran dalam bentuk pupuk organik untuk dapat meningkatkan produktivitas.

Selain itu, masalah sumber daya manusia juga menjadi tantangan. Generasi muda di Indonesia cenderung tidak tertarik untuk bekerja di sektor pertanian, khususnya dengan metode konvensional. Ini menimbulkan masalah serius, karena teknologi dan inovasi pertanian modern belum sepenuhnya diterapkan di banyak wilayah. Tanpa penerapan teknologi yang tepat dan kebijakan yang kondusif, maka Food Estate tidak akan berjalan sesuai harapan.

Untuk menjawab pertanyaan utama, layakkah program ini dilanjutkan? Jawabannya bergantung pada bagaimana pemerintah mengatasi masalah-masalah yang ada. Menurut Sofyan Djalil, salah satu prinsip dasar yang perlu diterapkan adalah pentingnya evaluasi dan perbaikan kebijakan. Pemerintah perlu belajar dari pengalaman dan memperbaiki kelemahan implementasi, terutama di tingkat mikro.

Kebijakan makro, seperti tata ruang yang saat ini diklaim sebesar 120 juta hektar sebagai kawasan hutan, perlu ditinjau kembali. Dari kawasan hutan yang ada, sekitar 31,8 juta hektar sudah tidak memiliki tutupan hutan dan seharusnya dapat dialihkan untuk pertanian. Dengan demikian, ketersediaan lahan akan lebih optimal, dan ini dapat menjadi salah satu solusi jangka panjang untuk meningkatkan ketahanan pangan.

Di sisi lain, pendekatan kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta sangat diperlukan. Pemerintah tidak bisa bekerja sendirian dalam hal ini. Public-private partnership yang tepat dapat memberikan dukungan finansial dan teknologi yang diperlukan untuk membuat Food Estate berhasil. Pemerintah perlu memberikan insentif bagi para pelaku usaha yang ingin terlibat secara serius dalam mengembangkan sektor pertanian.

Food Estate masih layak untuk dilanjutkan, tetapi hanya jika dilakukan dengan perencanaan yang lebih matang dan implementasi yang lebih baik. Program ini memiliki potensi besar untuk membantu Indonesia mencapai swasembada pangan, namun tanpa kebijakan yang tepat, program ini hanya akan menjadi jargon politik yang tidak pernah terealisasi dengan baik.

Seperti yang dikatakan oleh Sofyan Djalil, Indonesia memiliki potensi untuk menjadi lumbung pangan dunia. Namun, potensi ini hanya bisa terwujud jika pemerintah mampu mengatasi kesenjangan antara idealisme dan realita di lapangan. Program Food Estate bisa menjadi solusi, asalkan ada perbaikan dalam hal pemilihan lahan, penggunaan teknologi, dan keterlibatan sektor swasta.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Indonesia adalah negara yang sering disebut sebagai negara agraris. Kekayaan alamnya melimpah dengan lahan subur. Sebutan ini justru mengalami fenomena yang kontras. Di tengah perbincangan tentang kemandirian pangan, data menunjukkan bahwa Indonesia semakin bergantung pada impor bahan makanan pokok.

Awalil Rizky, seorang analis ekonomi, dalam pernyataannya pada Selasa, 15 Oktober, menyoroti fakta yang memprihatinkan ini. Ia mengaitkan lonjakan impor bahan pangan utama, khususnya beras dan komoditas lain dengan tahun-tahun pemilu di Indonesia.

Awalil mengungkapkan, selama tiga pemilu terakhir, terdapat kecenderungan peningkatan impor yang signifikan pada bahan pangan pokok seperti beras, jagung, dan kedelai. Produksi beras domestik misalnya, meski tercatat hampir 31 juta ton, Indonesia tetap mengimpor sekitar 4 juta ton beras. Tidak hanya beras, impor jagung juga mengalami peningkatan drastis. Situasi serupa terjadi pada gandum dan kedelai yang sebagian besar kebutuhannya dipenuhi dari luar negeri.

Indonesia selama ini diakui sebagai negara agraris yang kaya akan lahan pertanian. Namun, ironisnya, produk yang seharusnya dapat dipenuhi secara domestik justru diimpor dalam jumlah besar. Menurut Awalil, situasi ini merupakan gambaran kontras bagi negara yang masih dianggap agraris. Bukan hanya beras dan kedelai, impor buah-buahan dan sayuran juga meningkat tajam. Sebagian besar buah-buahan impor, bahkan sayur-sayuran yang dikonsumsi masyarakat, didominasi oleh produk dari Cina, sekitar 63% untuk buah-buahan dan 74% untuk sayur-sayuran.

Peningkatan impor bahan pangan ini membawa dampak serius pada ketahanan pangan nasional. Awalil menegaskan bahwa jika tren ini terus berlanjut tanpa kebijakan yang mendasar, Indonesia menghadapi ancaman kerawanan pangan di masa mendatang. Faktor-faktor seperti jumlah petani yang besar dan luas lahan yang mencukupi menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk memperhatikan sektor pertanian sebagai prioritas utama.

Meskipun jumlah petani mencapai lebih dari 40 juta orang, kepemilikan lahan mereka sangat terbatas. Rata-rata petani hanya menguasai lahan sebesar 0,15 hektar, menjadikan mayoritas dari mereka berada dalam kategori petani gurem. Ketimpangan ini menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas dan lambatnya pertumbuhan sektor pertanian di Indonesia. Padahal, peningkatan produktivitas adalah kunci untuk mengurangi ketergantungan impor dan memperkuat ketahanan pangan nasional.

Awalil memaparkan data dari Bank Indonesia yang menunjukkan bahwa nilai impor hasil pertanian mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Pada 2023, impor mencapai 6,5 miliar dolar, meningkat secara signifikan sejak 2014 yang berada di kisaran 6 miliar dolar. Tren ini menunjukkan bahwa pertumbuhan nilai impor lebih pesat dibandingkan dengan ekspor, yang cenderung stagnan. Kebutuhan pangan domestik yang terus meningkat akibat pertambahan jumlah penduduk menjadi faktor lain yang memperparah ketergantungan impor.

Pentingnya sektor pertanian bagi kehidupan masyarakat Indonesia tak terbantahkan. Dengan lebih dari 40 juta pekerja di sektor pertanian yang mempengaruhi sekitar 100 juta penduduk secara langsung, kebijakan di sektor ini harusnya menjadi prioritas utama. Awalil berharap pemerintahan mendatang dapat memperhatikan ketimpangan kepemilikan lahan, meningkatkan produktivitas petani, serta merancang kebijakan pangan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.

Dengan memperhatikan data dan analisis yang disampaikan oleh Awalil Rizky, tampak jelas bahwa Indonesia harus segera berbenah. Selain untuk mengurangi ketergantungan impor, perbaikan di sektor pertanian juga diperlukan untuk memastikan kesejahteraan petani dan menjaga ketahanan pangan nasional di masa depan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Usulan Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono kepada Australia untuk mendukung pengelolaan lahan rawa seluas 2 juta hektare dalam program cetak sawah memunculkan pertanyaan mengenai kepercayaan diri pemerintah dalam menjalankan program swasembada pangan. Terlepas dari optimisme yang disampaikan, langkah meminta bantuan negara lain justru dapat menunjukkan adanya kelemahan atau ketidaksiapan pemerintah dalam menjalankan proyek besar ini secara mandiri.

Sudaryono menyatakan bahwa Australia adalah negara strategis bagi Indonesia, baik dari segi fungsi maupun peran. Namun, fakta bahwa dukungan ini menjadi salah satu pilar penting bagi suksesnya cetak sawah menimbulkan kekhawatiran. Apakah Kementerian Pertanian (Kementan) belum cukup percaya diri dengan kemampuan dalam negeri untuk mengolah lahan yang begitu luas tanpa bantuan teknologi dan pengetahuan luar?

Hal itu ia sampaikan saat Duta Besar Australia untuk Indonesia, Penny Williams datang ke Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu, 25 September 2024. Bagi Sudaryono, Australia punya posisi strategis untuk Indonesia dalam bidang pertanian.

“Australia adalah negara yang strategis bagi Indonesia, baik secara fungsi, peran, maupun letak geografisnya. Dengan dukungan ini, diharapkan hubungan antara kedua negara akan semakin produktif dan berkelanjutan di sektor pertanian,“ ujarnya dalam keterangan tertulis.

Keberhasilan swasembada pangan seharusnya mengandalkan kemampuan internal negara, mulai dari petani hingga teknologi lokal. Bila pada setiap tantangan besar selalu melibatkan bantuan dari negara lain, maka program yang bertujuan mencapai kemandirian pangan bisa terkesan rapuh.

Sejak era Presiden Joko Widodo, program cetak sawah di lahan rawa sudah dijalankan dengan berbagai tantangan. Kritikus berpendapat bahwa banyak program besar yang diluncurkan tanpa kesiapan infrastruktur dan teknologi lokal yang memadai. Di Merauke, misalnya, meskipun proyek ini dijadikan sebagai salah satu program strategis nasional, realisasinya masih jauh dari harapan. Banyak lahan cetak sawah yang tidak produktif karena masalah teknis, seperti drainase dan kualitas tanah.

Sudaryono meminta dukungan dari Australia dalam bentuk teknologi pertanian, pelatihan, serta penelitian yang lebih terfokus. Dukungan ini diharapkan mampu menyelesaikan masalah-masalah teknis yang sering kali menjadi batu sandungan dalam program cetak sawah. Namun, penting dicatat bahwa kebergantungan pada negara lain dalam menyediakan solusi ini bisa menjadi indikasi bahwa pemerintah belum mampu menyelesaikan masalah-masalah dasar tersebut secara mandiri.

Kritik utama dalam upaya mengurangi ketergantungan pada bantuan luar negeri adalah perlunya penguatan kapasitas sumber daya manusia dan teknologi dalam negeri. Melibatkan Australia bisa menjadi solusi jangka pendek, namun, jika Indonesia ingin benar-benar mandiri dalam ketahanan pangan, fokus harus diarahkan pada pengembangan teknologi lokal dan pemberdayaan petani.

Dalam jangka panjang, peningkatan kapasitas teknologi dan penelitian dalam negeri akan lebih berkelanjutan dan dapat menjadikan Indonesia sebagai negara yang lebih kompetitif di sektor pertanian global. Tanpa penguatan kapasitas lokal, program seperti cetak sawah hanya akan bergantung pada bantuan asing, yang dalam jangka panjang bisa merugikan kedaulatan pangan negara.

Keputusan Sudaryono untuk meminta bantuan Australia dalam program cetak sawah seharusnya menjadi titik refleksi bagi Kementan untuk lebih percaya diri dalam memanfaatkan potensi dan keahlian dalam negeri. Pengembangan teknologi, infrastruktur, dan sumber daya manusia di sektor pertanian perlu diperkuat, sehingga swasembada pangan dapat benar-benar diwujudkan tanpa ketergantungan pada bantuan luar negeri.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam beberapa dekade terakhir, sektor pertanian di Indonesia terus menjadi fokus perhatian dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga internasional, dan akademisi. Namun, di balik banyaknya proyek, penelitian, dan program bantuan yang dijalankan, petani seringkali hanya berperan sebagai objek, bukan subjek dalam pembangunan pertanian. Nasib mereka tidak banyak berubah, bahkan saat harga komoditas seperti beras meningkat, seperti yang baru-baru ini diungkapkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Menurut Jokowi perbandingan mahalnya harga beras itu harus dilihat dari tingkat konsumen.

“Coba dilihat, harga beras (impor) FOB (Free on Board) itu berapa kira-kira US$ 530 – 600 (per ton), di tambah cost freight (angkutan) kira-kira US$ 40 per ton, coba dihitung berapa. Kalau mau membandingkan itu harusnya di konsumen. Itu akan kelihatan,” kata Jokowi dalam pernyataannya di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, dikutip Kamis (26/09).

Sebuah laporan dari Bank Dunia menunjukkan bahwa meskipun harga beras di Indonesia relatif tinggi dibandingkan negara-negara ASEAN lainnya, pendapatan petani tetap rendah. Hal ini menunjukkan adanya distorsi antara keuntungan yang didapat dari penjualan beras di pasar dengan apa yang diterima oleh petani. Carolyn Turk, Country Director for Indonesia and Timor-Leste World Bank, menyoroti bahwa meskipun konsumen Indonesia membayar harga tinggi untuk beras, kesejahteraan petani masih di bawah rata-rata.

Sebelumnya saat acara Indonesia International Rice Conference (IIRC) di Westin Resort, Nusa Dua, Bali, Kamis (19/9/2024) lalu, Country Director for Indonesia and Timor – Leste World Bank Carolyn Turk mengatakan harga beras di Indonesia lebih tinggi dari negara-negara di ASEAN.

“Konsumen Indonesia telah membayar harga tinggi untuk beras. Harga eceran beras di Indonesia secara konsisten lebih tinggi daripada di negara-negara ASEAN,” Carolyn Turk, dikutip dari Detikcom, Kamis (26/9/2024).

Permasalahan ini menimbulkan pertanyaan: mengapa berbagai proyek dan penelitian yang dilakukan selama ini belum mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara signifikan?

Salah satu alasan utama mengapa nasib petani tidak membaik adalah karena banyak proyek dan penelitian yang tidak terintegrasi dengan kebutuhan lapangan. Pemerintah dan lembaga-lembaga terkait sering kali menggelontorkan dana besar untuk program-program yang secara teori tampak menjanjikan, tetapi gagal dalam pelaksanaannya. Teknologi modern diperkenalkan tanpa memperhatikan kesiapan atau pelatihan yang cukup bagi petani untuk mengimplementasikannya. Akibatnya, teknologi tersebut tidak dapat dimanfaatkan dengan optimal dan hanya menjadi bagian dari laporan proyek.

Ketimpangan yang mencolok antara harga beras di pasar dan pendapatan yang diterima petani bukanlah fenomena baru. Presiden Jokowi mengakui adanya distorsi di lapangan, di mana harga gabah yang diterima petani tidak sebanding dengan harga beras yang dijual ke konsumen. Meski harga gabah telah naik dari Rp 4.200 per kilogram menjadi Rp 6.000 per kilogram, hal ini belum mampu sepenuhnya meningkatkan taraf hidup petani.

Di sisi lain, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) melalui Survei Terpadu Pertanian 2021 menunjukkan bahwa pendapatan petani hanya berkisar di bawah US$ 1 per hari, jauh dari standar hidup layak. Dengan kondisi ini, petani tetap berada dalam jeratan kemiskinan meskipun mereka memproduksi salah satu komoditas pangan paling penting di Indonesia.

Kebijakan harga yang sering kali lebih berpihak pada konsumen daripada petani juga menjadi salah satu masalah utama. Meskipun pemerintah terus berusaha menjaga harga beras agar tetap terjangkau bagi masyarakat, petani menjadi korban dari kebijakan ini. Mereka tidak memiliki posisi tawar yang kuat untuk menentukan harga gabah yang mereka jual, karena keterbatasan akses ke pasar dan dominasi tengkulak dalam rantai distribusi.

Presiden Jokowi sendiri mengakui adanya persoalan di lapangan, namun solusi yang diberikan sering kali hanya bersifat sementara, seperti menaikkan harga gabah. Hal ini belum cukup untuk mengatasi masalah mendasar dalam sistem pertanian, yaitu ketidakmerataan distribusi keuntungan di sepanjang rantai pasok pangan.

Untuk mengubah nasib petani, penting bagi pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya untuk memposisikan petani sebagai subjek dalam pembangunan pertanian. Ini berarti memberikan petani akses yang lebih besar terhadap sumber daya, teknologi, pelatihan, serta pasar. Petani harus dilibatkan secara aktif dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek, sehingga proyek tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

Selain itu, sistem distribusi dan tata niaga pertanian harus dibenahi agar keuntungan yang diperoleh dari peningkatan harga komoditas dapat lebih adil bagi petani. Ini bisa dilakukan dengan memotong rantai distribusi yang terlalu panjang, sehingga petani dapat menjual hasil panen mereka langsung ke pasar atau melalui koperasi yang dikelola oleh petani sendiri.

Nasib petani yang hanya menjadi objek dalam proyek dan penelitian mencerminkan betapa perlunya reformasi mendasar dalam sektor pertanian Indonesia. Dengan mengedepankan pemberdayaan petani dan memastikan kebijakan yang berpihak kepada mereka, Indonesia bisa mencapai ketahanan pangan yang lebih adil dan berkelanjutan.(c@kra)

MoneyTalk, Jakarta – Dalam rangka memperingati Hari Tani, Mirah Sumirat, Presiden Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (ASPIRASI), menyampaikan keprihatinan mendalam terkait nasib petani Indonesia. Hal ini disampaikan Presiden ASPIRASI sekaligus Presiden Women Committee Asia Pasifik di UNI Apro dalam konferensi pers bertajuk “Petani Ku Sayang, Petani Ku Malang”.

Pernyataan yang dikeluarkan dalam keterangan tertulis pada Selasa (24/09) ini menggambarkan realitas pahit yang dihadapi petani di Indonesia. Antara lain kemiskinan yang berkepanjangan, tanah yang beralih fungsi, serta ketidakstabilan ekonomi pedesaan.

Pertanian yang Terpinggirkan

Mirah Sumirat menekankan, banyak lahan pertanian produktif kini berubah fungsi menjadi kawasan komersial, seperti perumahan, ruko, villa, hotel, dan pabrik. Alhasil, kehidupan petani semakin jauh dari harapan untuk sejahtera. Menurutnya, banyak petani yang terpaksa menjual tanahnya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, yang pada akhirnya memaksa mereka bekerja sebagai buruh di tanah yang dulunya mereka miliki. Beberapa petani memilih menjual tanah mereka kepada spekulan yang hanya menunggu kenaikan harga tanah. Hal ini membuat tanah-tanah tersebut terbengkalai tanpa pengolahan.

“Banyak petani yang masih bertahan dengan lahan yang sangat sempit. Mereka berjuang keras menghadapi tantangan cuaca tak menentu, kesulitan mendapatkan pupuk subsidi, serta anjloknya harga saat panen karena serentaknya produksi tanaman yang sama. Mereka juga terjepit oleh tengkulak yang menetapkan harga rendah,” ujar Mirah.

Selain itu, kondisi infrastruktur yang buruk, termasuk akses jalan yang rusak, menurut Mirah juga memperparah situasi. Banyak hasil panen dibiarkan membusuk karena biaya transportasi lebih tinggi daripada keuntungan yang didapat.

Minat Generasi Muda pada Sektor Pertanian

Salah satu isu yang disoroti oleh Mirah Sumirat adalah semakin berkurangnya minat generasi muda untuk terjun ke sektor pertanian. Kondisi pedesaan yang semakin ditinggalkan oleh generasi mudanya ini menjadi perhatian serius. Anak-anak muda dari desa lebih memilih mencari peruntungan di kota-kota besar, seringkali dengan pendidikan dan keterampilan yang minim. Sayangnya, pekerjaan di kota pun sering tidak stabil, dengan status kerja outsourcing dan kontrak yang rentan terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK).

“Desa semakin kosong tanpa generasi mudanya. Mereka pergi ke kota mencari pekerjaan dengan pendidikan dan keterampilan apa adanya. Jaminan sosial tidak ada, status kerja outsourcing, kontrak berkepanjangan, sehingga rentan di-PHK kapan saja. Ini hanya memperburuk masalah di perkotaan yang semakin ruwet, dan industrialisasi pun tidak berkembang,” tegasnya.

Mirah menyampaikan kekhawatiran bahwa hilangnya minat generasi muda untuk bertani akan memengaruhi masa depan ketahanan pangan nasional. Pertanian yang seharusnya menjadi sektor paling banyak menyerap tenaga kerja, kini kehilangan daya tarik bagi kaum muda.

Ancaman Kedaulatan Pangan dan Ketergantungan Impor

Isu kedaulatan pangan juga menjadi salah satu pokok perhatian dalam pernyataan Mirah Sumirat. Menurutnya, ketergantungan Indonesia pada impor pangan perlu dievaluasi. Dalam beberapa bulan terakhir, harga beras mengalami kenaikan yang signifikan, namun kehidupan petani tetap terjebak dalam kemiskinan. Hal ini mencerminkan ketidakseimbangan dalam rantai distribusi pangan. Di mana harga pangan melonjak, tetapi para produsen primer yaitu petani, tidak mendapatkan manfaat yang adil dari kenaikan tersebut.

“Negara ini adalah negara agraris dengan dua musim yaitu panas dan hujan, yang seharusnya menjadi berkah bagi kita. Namun, situasi saat ini justru menunjukkan bahwa kekayaan alam yang melimpah tidak dinikmati oleh petani kita. Harga beras naik, tetapi petani tetap miskin. Ini adalah kontradiksi yang harus segera diatasi,” pungkasnya.

Mirah Sumirat juga mengingatkan pentingnya kembali memberikan perhatian serius pada nasib petani, karena sektor pertanian adalah tulang punggung negara. Ia mengatakan, “Indonesia yang dikenal dengan sebutan Gemah Ripah Loh Jinawi seharusnya menjadi tempat di mana seluruh rakyatnya bisa menikmati kekayaan alam. Jangan sampai kita seperti pepatah, bagaikan tikus mati di lumbung padi.”

Menatap Masa Depan Pertanian

Di tengah kompleksitas masalah yang dihadapi sektor pertanian, Mirah Sumirat menekankan perlunya langkah-langkah konkret dari pemerintah. Termasuk organisasi sosial dan masyarakat luas untuk menyelamatkan masa depan petani Indonesia, antara lain:

Penghentian Alih Fungsi Lahan Pertanian. Perlu ada regulasi yang lebih ketat untuk melindungi lahan-lahan pertanian produktif. Hal ini bertujuan agar lahan-lahan pertanian tidak berubah menjadi kawasan komersial.

Subsidi yang Tepat Sasaran. Pupuk dan benih harus didistribusikan dengan tepat dan sesuai kebutuhan petani. Harga jual hasil panen harus diatur agar lebih menguntungkan bagi petani.

Revitalisasi Infrastruktur Pertanian. Peningkatan infrastruktur jalan, irigasi, dan akses pasar agar hasil pertanian bisa terdistribusi dengan baik dan tidak terbuang sia-sia.

Program Insentif untuk Generasi Muda. Program-program yang mendorong generasi muda kembali ke sektor pertanian. Di antaranya dengan memberikan akses ke pendidikan, pelatihan, serta pembiayaan yang memadai.

Menurut Mirah, kebijakan ini penting agar pertanian bisa kembali menjadi sektor yang menarik baik bagi generasi tua maupun muda. Selain itu juga agar Indonesia dapat memulihkan kedaulatan pangannya.

Tidak dapat dipungkiri, kondisi petani Indonesia di tengah ancaman alih fungsi lahan, kemiskinan yang tak kunjung usai, serta minimnya partisipasi generasi muda adalah masalah yang tidak bisa diabaikan. Momen peringatan Hari Tani ini harus menjadi pengingat bahwa petani adalah pilar penting bagi ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi nasional. Jika tidak segera diambil langkah-langkah signifikan, Indonesia bisa menghadapi krisis pangan yang serius di masa depan.

Petani adalah garda terdepan bangsa, namun sebagaimana Mirah Sumirat ungkapkan, “Bagaikan tikus mati di lumbung padi,” kita jangan sampai mengabaikan mereka di tengah kekayaan alam yang seharusnya membawa kesejahteraan untuk semua.(c@kra)