CWIG Telusuri Rekam Jejak Founder dan Leader VIMA, Soroti Dugaan Keterkaitan Money Game dan ShortPro

  • Bagikan

MoneyTalk.id,  Jakarta – Cerdas Waspada Investasi Global (CWIG) melakukan investigasi lanjutan terhadap sejumlah figur yang disebut sebagai founder, leader, maupun pihak yang aktif mengembangkan jaringan bisnis VIMA.

Investigasi tersebut dilakukan untuk menelusuri posisi, rekam jejak bisnis, serta kemungkinan keterkaitan sejumlah pihak dengan skema yang diduga memiliki karakteristik money game.

Henry dari CWIG mengungkapkan, pihaknya telah memperoleh sejumlah nama dan inisial yang kini masih dalam tahap verifikasi. Di antaranya D alias R, A, Z, E, serta sejumlah nama lainnya.

“Kami sedang menelusuri siapa mereka, apa posisi mereka di VIMA, bagaimana rekam jejak bisnis mereka sebelumnya, dan apakah pernah terlibat atau menjadi bagian dari kegiatan yang memiliki karakteristik money game atau skema serupa,” ujar Henry, Rabu (2/9/2026).

Menurut dia, seluruh informasi yang diperoleh CWIG masih dalam proses pencocokan dan verifikasi. Ia menegaskan pihaknya tidak ingin menarik kesimpulan sebelum memperoleh bukti yang kuat.

“CWIG sedang melakukan verifikasi. Kalau nanti ditemukan bukti kuat, kami akan sampaikan kepada publik dan aparat penegak hukum sesuai data yang kami miliki. Kalau tidak terbukti, tentu kami juga wajib menyampaikan bahwa tidak terbukti. CWIG tidak bekerja berdasarkan fitnah, tetapi berdasarkan data dan bukti,” tegasnya.

Selain menelusuri rekam jejak sejumlah founder dan leader, CWIG juga mempertanyakan kemungkinan adanya hubungan antara sejumlah figur yang sebelumnya aktif dalam jaringan bisnis ShortPro dengan aktivitas VIMA.

Menurut Henry, pihaknya menemukan sejumlah nama dan jaringan yang kini sedang dicocokkan untuk mengetahui ada atau tidaknya keterkaitan dengan bisnis sebelumnya.

“Kami menemukan nama dan jaringan yang sedang kami cocokkan, hubungan antara figur tertentu yang sebelumnya aktif di ShortPro dan sekarang berada di VIMA,” katanya.

CWIG menilai penelusuran tersebut penting dilakukan untuk memastikan apakah terdapat pola bisnis yang berulang dengan kemasan atau nama baru.

“Jangan sampai nama baru, sistem baru, tetapi polanya sama,” ujar Henry.

Meski demikian, CWIG menegaskan tidak menutup kemungkinan bahwa VIMA merupakan platform entertainment digital yang menjalankan kegiatan bisnis secara sehat dan legal.

“Kalau memang VIMA adalah perusahaan entertainment digital yang sehat, kami mendukung. Tetapi kalau ada pihak yang menggunakan platform entertainment sebagai kemasan untuk membangun sistem penghimpunan uang dengan pola yang tidak sehat, itu harus dihentikan sebelum masyarakat menjadi korban,” katanya.

Di tengah proses investigasi tersebut, CWIG juga mengimbau masyarakat dan para member VIMA untuk berhati-hati dalam mengambil keputusan keuangan, termasuk tidak melakukan penambahan dana sebelum terdapat kejelasan mengenai model bisnis dan legalitas kegiatan yang dijalankan.

CWIG meminta Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Satgas PASTI, Kementerian Perdagangan, Kementerian Komunikasi dan Digital, Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), serta aparat penegak hukum melakukan verifikasi sesuai dengan kewenangan masing-masing.

“Jangan menunggu korban banyak baru bergerak,” tegas Henry.

Ia menambahkan, pemeriksaan dan verifikasi oleh regulator justru dapat memberikan kepastian kepada masyarakat maupun kepada pihak VIMA apabila seluruh model bisnis dan turunannya memang berjalan secara legal, transparan, dan memiliki sumber pendapatan usaha yang nyata.

“Kalau VIMA benar dan seluruh model bisnisnya dan turunannya legal, transparan dan berbasis pendapatan usaha yang nyata, pemeriksaan justru akan memberikan kepastian dan melindungi VIMA dari tuduhan yang tidak berdasar,” ujarnya.

Namun, Henry menegaskan bahwa apabila dalam proses pemeriksaan ditemukan adanya penyimpangan, tindakan perlu dilakukan sedini mungkin agar potensi kerugian masyarakat tidak semakin besar.

 

 

 

“Tetapi kalau ditemukan adanya penyimpangan, maka tindakan harus dilakukan sebelum kerugian masyarakat semakin besar,” pungkas Henry.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *