MoneyTalk.id, Jakarta – Pengamat Gerakan dan Perubahan Muslim Arbi menyoroti penanganan dugaan kasus korupsi yang menyeret nama Bupati Bandung Dadang Supriyatna. Ia mempertanyakan sikap Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi atau KDM yang dinilai belum menunjukkan ketegasan terhadap persoalan tersebut.
Muslim Arbi menyampaikan hal itu setelah dirinya berkunjung ke Bandung pada 31 Agustus 2026 dan bertemu sejumlah advokat serta aktivis. Menurut dia, para pihak yang ditemuinya mengeluhkan penanganan kasus yang berkaitan dengan Dadang Supriyatna.
“Mereka mengeluh tentang kasus di Kabupaten Bandung. Kasus Bupati Kabupaten Bandung – Dadang Supriyatna sudah begitu telanjang di mata publik. Tetapi aparat hukum belum juga menetapkannya tersangka, menahan dan mengadilinya,” kata Muslim Arbi, Selasa (1/9/2026).
Muslim menyebut sejumlah vendor mengaku mengalami kerugian dalam perkara yang berkaitan dengan BUMD Kabupaten Bandung. Ia merujuk pada keterangan dua vendor, Deded dan Dr Faisal, yang disebut menyetorkan dana ke BUMD Kabupaten Bandung hingga puluhan miliar rupiah.
“Dari keterangan Deded dan DR Faisal – dua vendor yang dananya disetor ke BUMD Kabupaten Bandung mencapai puluhan miliar. Total keseluruhan kerugian mencapai ratusan miliar,” ujarnya.
Menurut Muslim, dana tersebut diduga digunakan Dadang untuk kepentingan memenangkan dirinya sebagai Bupati Bandung. Namun, dugaan tersebut masih memerlukan pembuktian melalui proses hukum.
“Dana tersebut dicurigai digunakan Dadang untuk memenangkan dirinya sebagai Bupati,” kata Muslim.
Ia menyebut kasus tersebut kini sedang ditangani Kejaksaan Negeri Kabupaten Bandung.
Soroti Pertemuan Dr Faisal dengan Dedi Mulyadi
Muslim juga menyinggung pertemuan Dr Faisal dengan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi di Indramayu beberapa waktu lalu. Dalam pertemuan tersebut, menurut Muslim, Dr Faisal telah menyampaikan persoalan yang berkaitan dengan Dadang Supriyatna.
“Beberapa waktu lalu, Dr Faisal pernah menemui Gubernur Jawa Barat – Dedi Mulyadi di Indramayu. Dia sudah menyampaikan kasus DS ini secara jelas dan gamblang. Dedy Mulyadi – KDM – berjanji untuk membantu menyelesaikan,” ujarnya.
Muslim kemudian menyoroti pernyataan Dr Faisal di media sosial yang disebut mengancam akan mengembok Kantor Kabupaten Bandung apabila persoalan tersebut tidak kunjung diselesaikan.
“Bahkan belakangan di media sosial Dr Faisal itu mengancam akan mengembok Kantor Kabupaten Bandung – bila Bupati DS yang jelas dianggap korup dalam kasus BDS – Bandung Daya Sentosa itu tidak kunjung tuntas,” kata Muslim.
Meski demikian, Muslim menilai hingga kini belum terlihat langkah tegas dari KDM terkait persoalan tersebut.
“Meski demikian, hingga kini KDM seolah cuek dan acuh terhadap kasus KDM yang sangat meresahkan di Kabupaten Bandung itu,” ujarnya.
Muslim Arbi Pertanyakan Relasi KDM-Dadang Supriyatna
Muslim juga mengungkap adanya rumor mengenai hubungan politik antara Dedi Mulyadi dan Dadang Supriyatna. Ia menyebut keduanya pernah berada di Partai Golkar sebelum kemudian berpindah ke partai politik berbeda.
“Rumor berkembang antara DS dan KDM ini pernah sama-sama di Golkar. Dedy Mulyadi pernah jadi Ketua Golkar DPD 1 Jawa Barat. Sekarang pindah ke Gerindra. Demikian juga DS sebelum ke PKB dahulunya adalah kader Golkar,” katanya.
Menurut Muslim, dari hubungan politik tersebut berkembang rumor bahwa keduanya masih memiliki hubungan pertemanan. Bahkan, ia menyebut muncul rumor mengenai kemungkinan Dadang Supriyatna menjadi calon wakil Dedi Mulyadi jika Dedi kembali menjabat sebagai Gubernur Jawa Barat.
“Akibat itu antara KDM-DS masih terjalin pertemanan. Rumor lain – adalah jika Dedy Mulyadi menjabat dua periode Gubernur Jawa Barat. Maka DS dapat menjadi wakilnya,” ujar Muslim.
Selain itu, Muslim menyebut adanya dugaan lain yang berkembang di masyarakat Kabupaten Bandung mengenai kemungkinan pemberian “hibah” kepada KDM oleh Dadang.
“Dugaan lain. Publik Kabupaten Bandung menduga KDM diberi ‘hibah’ oleh DS? Karena DS ini doyan berikan hibah baik ke KPUD maupun ke Polda Jabar senilai 19 miliar?” kata Muslim.
Muslim kemudian mempertanyakan apakah berbagai rumor dan dugaan tersebut menjadi faktor yang membuat Dedi Mulyadi tidak bersikap tegas terhadap Dadang Supriyatna.
“Apakah tiga hal yang diurai terakhir itu menyandera KDM sehingga seolah melindungi DS?” ujarnya.
Pertanyakan Rating Survei Dedi Mulyadi
Muslim juga mengaitkan persoalan tersebut dengan citra dan tingkat popularitas Dedi Mulyadi yang disebut dalam sejumlah survei memiliki elektabilitas tinggi.
“Kalau begitu apa yang dibanggakan oleh publik atas perilaku KDM semacam itu yang belakangan rating surveinya malah disebut melampaui Prabowo?” katanya.
Ia menilai ketegasan kepala daerah dalam menyikapi dugaan korupsi semestinya tidak bergantung pada kepentingan politik maupun tingkat popularitas.
“Dari kasus DS ini saja KDM tidak berani bersikap tegas soal kasus korupsi di Jawa Barat. Lalu KDM mengejar rating survei itu untuk apa?” kata Muslim.
Pernyataan Muslim Arbi tersebut merupakan pandangan dan dugaan yang disampaikannya berdasarkan informasi serta pertemuannya dengan sejumlah advokat dan aktivis di Bandung.
Redaksi memberi ruang klarifikasi dan penjelasan dari dari yang dituduhkan dan pihak-pihak yang disebutkan narasumber dan Redaksi akan memperbaharui keterangan serta dipublikasikan.





