Dosen UI: Kekuatan Rakyat Bisa Melawan Struktur yang Menindas

  • Bagikan
Dosen Universitas Indonesia (UI) Suzie Sudarman
Dosen Universitas Indonesia (UI) Suzie Sudarman

MoneyTalk.id,Jakarta – Dosen Universitas Indonesia (UI), Suzie Sudarman, menilai kekuatan rakyat menjadi salah satu kekuatan utama yang dapat melawan struktur kekuasaan yang dinilainya menindas. Menurut dia, setiap kebijakan pada dasarnya merupakan arena kontestasi yang harus terus dihadapi melalui gerakan, pemikiran, dan keberanian untuk menyuarakan kritik.

“Kekuatan apa yang bisa melawan itu? Kekuatan rakyat. Sebab setiap kebijakan itu kontestasi. Jadi kontestasi ini harus terus dilakukan agar semangatnya masih ada,” kata Suzie dalam sebuah wawancara di podcast Forum Keadilan Madilog, Jumat (4/9/2026).

Ia menilai perlawanan terhadap ketidakadilan tidak hanya dapat dilakukan oleh satu kelompok. Guru besar, akademisi, mahasiswa, kelompok masyarakat, hingga pengemudi ojek online memiliki peran masing-masing dalam membangun solidaritas.

Menurutnya, selama ini terdapat kesamaan perasaan di antara berbagai kelompok masyarakat yang merasakan adanya struktur yang menekan kehidupan mereka. Namun, persoalannya belum ada pihak yang mampu merumuskan secara utuh bentuk dan akar persoalan tersebut.

“Secara pemikiran hampir sama kita semua. Kita merasakan struktur yang menindas. Tapi struktur yang menindas belum ada yang berani mengkonseptualisasi,” ujarnya.

Suzie mengatakan, sebuah gerakan membutuhkan keberanian untuk menjelaskan secara terang apa yang sedang terjadi. Ia menilai konsep mengenai struktur kekuasaan yang menindas harus dirumuskan secara jelas agar masyarakat memahami persoalan yang mereka hadapi.

“Kalau punya masalah harus ada yang bisa menggambarkan, ‘Ini loh gambarnya, struktur yang menindas bentuknya begini.’ Sehingga universitas tidak bisa bergerak, rakyat tidak bisa bergerak, semua tertindas,” katanya.

Ia pun mendorong kalangan akademisi, terutama guru besar dan dosen, untuk lebih berani menyampaikan sikap terhadap persoalan bangsa. Menurut Susi, kritik dari lingkungan kampus sebenarnya telah muncul, namun belum cukup tajam untuk menjadi pemantik gerakan yang lebih luas.

Suzie melihat generasi muda dan mahasiswa memiliki energi besar dalam membangun diskursus mengenai masa depan bangsa. Semangat tersebut, menurutnya, harus tetap dijaga karena mahasiswa masih memiliki idealisme dan kekuatan untuk mendorong perubahan.

“Kalau anak-anak muda bergerak, mereka secara spontan melakukan pengayaan diskursus. Karena mereka masih bersemangat, masih cukup kuat, masih berpikir demi perbaikan bangsa,” ujarnya.

Dalam pandangannya, persoalan yang dihadapi bangsa saat ini juga berkaitan dengan semakin kuatnya orientasi terhadap kekuasaan, uang, dan materi. Ia menyebut kondisi tersebut sebagai bentuk “pemberhalaan uang” dan “pemberhalaan materi” yang perlu dikritisi secara serius.

“Yang elit itu mungkin sudah tidak cinta Indonesia, tapi cinta uang,” katanya.

Suzie juga menyoroti kemungkinan adanya kepentingan kelompok atau faksi politik yang dapat menunggangi gerakan rakyat. Karena itu, ia mengingatkan mahasiswa dan kelompok masyarakat agar tetap menjaga jarak dari kepentingan politik praktis.

Menurut dia, apabila gerakan rakyat berlangsung tanpa ditunggangi oleh faksi tertentu, peluang untuk mendorong demokratisasi yang lebih substansial akan terbuka.

“Kalau faksi itu tidak menunggangi, mungkin akhirnya terjadi demokratisasi yang sesungguhnya. Tapi kalau ada faksi menunggangi, pertanyaannya, apakah mahasiswa bisa menjauhkan diri dari kepentingan faksi yang akan menunggangi mereka?” katanya.

Dalam wawancara tersebut, Susi juga menyinggung perlunya penelusuran terhadap berbagai dugaan persoalan yang melibatkan elite dan tokoh politik, termasuk keluarga mantan Presiden Joko Widodo. Ia menilai penegakan hukum dan penelusuran kekayaan tidak boleh hanya menyasar masyarakat biasa.

“Kenapa yang ditelisik orang biasa? Uangnya di mana? Harus ada orang yang berani mengkonseptualisasikan,” ujarnya.

Suzie turut mengkritik aktivitas politik Joko Widodo setelah tidak lagi menjabat sebagai presiden. Menurut dia, sejumlah tindakan politik Jokowi perlu menjadi perhatian publik dan dapat menimbulkan pertanyaan mengenai kepentingan politik yang sedang diperjuangkan.

“Kalau dia bertindak baik sebagai mantan presiden, tidak macam-macam, semua rakyat juga bisa terima. Tapi ngapain safari politik? Ngapain membela-bela anaknya?” katanya.

Ia menilai situasi politik Indonesia saat ini membutuhkan keberanian dari kelompok akademisi dan masyarakat sipil untuk menyusun sebuah konsepsi besar mengenai persoalan bangsa. Tanpa adanya pemetaan yang jelas terhadap akar persoalan, kritik dan perlawanan masyarakat, menurutnya, akan terus berjalan secara terpisah-pisah.

Bagi Suzie, kekuatan rakyat tetap menjadi faktor penting dalam setiap perubahan. Namun, kekuatan tersebut harus dibangun melalui kesadaran, keberanian, diskursus, dan kemampuan memahami struktur yang dianggap menciptakan ketidakadilan.

“Harus ada yang berani menggambarkan struktur yang menindas itu. Kalau itu sudah jelas, maka orang-orang akan memahami apa yang sebenarnya sedang mereka lawan,” ujarnya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *