30 Oktober 2026

Gibran Rakabuming Raka

MoneyTalk, Jakarta – Politikus PDI Perjuangan, Beathor Suryadi, kembali melontarkan kritik keras terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Melalui pernyataan publiknya, Beathor mendesak agar proses pemakzulan terhadap Gibran segera dimulai, dengan alasan pelanggaran syarat konstitusional dan legal terkait usia serta pendidikan.

“Kami malu 285 juta jiwa,” ujar Beathor kepada wartawan, Ahad (30/11/2025).

Menurutnya, Gibran tidak memenuhi syarat usia minimal 40 tahun sebagaimana tertulis dalam UUD 1945 sebelum adanya perubahan melalui putusan Mahkamah Konstitusi yang ia sebut “kontroversial dan bermasalah.”

Selain itu, Beathor juga menyinggung dugaan bahwa Gibran tidak memenuhi ketentuan tingkat pendidikan minimal setara SMA sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Pemilu. Hal ini, menurutnya, membuat legitimasi Gibran sebagai Wakil Presiden semakin dipertanyakan.

“Gerakkan cabut mandat,” seru Beathor, menyerukan mobilisasi publik untuk menuntut akuntabilitas dan penegakan konstitusi. Ia menegaskan bahwa demokrasi tidak boleh dikorbankan hanya demi kepentingan segelintir elit politik.

Pernyataan ini menambah panas dinamika politik nasional, terutama di tengah perdebatan publik terkait putusan Mahkamah Konstitusi dan isu etika dalam proses pencalonan Gibran pada Pemilu 2024 lalu. Hingga saat ini, pihak Istana belum memberikan tanggapan resmi atas desakan pemakzulan yang disuarakan Beathor.

MoneyTalk, Jakarta – Direktur Gerakan Perubahan dan Advisory Board of MSI, Muslim Arbi, menilai Presiden Prabowo Subianto akan mengalami hambatan besar dalam upaya pemberantasan korupsi dan penegakan hukum bila tidak segera melakukan perombakan besar-besaran terhadap pimpinan lembaga penegak hukum yakni Ketua KPK, Kapolri, dan Jaksa Agung.

Menurut Muslim, hingga kini penanganan kasus besar seperti proyek Kereta Cepat Whoosh menunjukkan lemahnya komitmen lembaga penegak hukum terhadap agenda bersih-bersih korupsi. “Presiden Prabowo akan kandas dalam memberantas korupsi jika tiga pucuk pimpinan lembaga hukum ini tidak diganti. Mereka bukan bagian dari solusi, tapi justru menjadi penghambat,” ujar Muslim dalam pernyataan tertulis di Surabaya, Kamis (30/10).

Muslim menilai proyek Whoosh merupakan simbol besar dari kegagalan rezim sebelumnya dalam menjaga keuangan negara. Ia mengingatkan bahwa proyek ini sejak awal sudah ditolak oleh sejumlah menteri kabinet Era Presiden Joko Widodo, termasuk Menteri Bappenas Andrinof Chaniago dan Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, yang akhirnya dicopot dari jabatan mereka.

“Luhut Binsar Pandjaitan sendiri waktu itu menyebut proyek ini busuk, tapi belakangan justru cuci tangan. Ini proyek bermasalah yang sejak awal penuh mark up,” kata Muslim.

Ia mengutip pernyataan ekonom senior Anthony Budiawan yang menyebut kerugian negara akibat proyek tersebut mencapai Rp73,5 triliun, karena perubahan skema dari business to business menjadi government to government dengan China.

Menurut Muslim, skema itu adalah bentuk “pengkhianatan terhadap negara” karena menjebak Indonesia dalam beban finansial dan ketergantungan luar negeri.

Muslim juga mengkritik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di bawah kepemimpinan Setyo Budiyanto, yang menurutnya tidak menunjukkan keseriusan dalam mengusut kasus besar seperti proyek Whoosh maupun dugaan gratifikasi yang melibatkan keluarga mantan Presiden Jokowi.

“Setyo Budiyanto diangkat oleh Jokowi dengan melanggar aturan seleksi pimpinan KPK. Bagaimana mungkin KPK mau serius mengusut kejahatan yang melibatkan Jokowi, kalau pimpinannya berhutang budi?” tegas Muslim.

Ia menyinggung laporan Ubedillah Badrun terkait dugaan gratifikasi dan pembelian saham oleh Gibran Rakabuming Raka dan Kaesang Pangarep, yang hingga kini tidak ada kejelasan. “Kasus ini terang di mata publik, tapi mandek di KPK. Ini bukti bahwa lembaga antirasuah itu lumpuh,” tambahnya.

Lebih lanjut, Muslim menyoroti kinerja Kejaksaan Agung yang dianggap lamban mengeksekusi putusan pengadilan terhadap Silvester Matutina, meski kasusnya sudah inkrah.

“Jaksa Agung belum melaksanakan eksekusi, padahal publik dan massa sudah berkali-kali mendesak. Ini mencederai penegakan hukum di era Prabowo,” ujarnya. Ia juga menyinggung sejumlah kasus lain seperti dugaan korupsi BBM oplosan dan keterlibatan Erick Thohir, yang hingga kini tidak ada perkembangan berarti.

Menurut Muslim, pencopotan Erick Thohir dari jabatan Menteri BUMN bisa saja berkaitan dengan persoalan dugaan korupsi di sektor yang ia pimpin, termasuk penjualan saham GoTo milik Telkom.

Selain itu, Muslim menilai Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo juga perlu diganti karena gagal melakukan reformasi Polri. Ia menyoroti turunnya langsung Presiden Prabowo dalam kegiatan pemusnahan barang bukti narkoba.

“Kenapa soal pembakaran barang bukti saja Presiden harus turun tangan? Itu tanda ada ketidakpercayaan terhadap Kapolri,” ungkap Muslim.

Ia juga mempertanyakan mengapa Presiden Prabowo membiarkan Kapolri yang dianggap tidak sejalan dengan visi reformasi kepolisian. “Kalau dibiarkan, itu bisa menggerus wibawa Presiden. Reformasi Polri tak akan jalan jika pimpinannya tidak loyal terhadap arah kebijakan kepala negara,” katanya.

Muslim mengingatkan kembali janji Prabowo yang pernah mengatakan akan mengejar koruptor sampai ke Antartika. Namun, menurutnya, tanpa pergantian pimpinan lembaga hukum, janji itu hanya akan menjadi slogan kosong.

“Kalau tidak segera diganti Ketua KPK, Kapolri, dan Jaksa Agung, pernyataan Prabowo itu hanyalah omong kosong belaka. Publik akan menganggapnya retorika tanpa bukti,” ujarnya.

Muslim menutup pernyataannya dengan menyerukan agar Presiden Prabowo segera melakukan langkah tegas demi menjaga wibawa dan kepercayaan publik.

“Rakyat ingin Presiden yang berwibawa, bukan yang jadi olok-olok bawahannya. Jangan biarkan lembaga penegak hukum menjadi bumper kepentingan Jokowi dan kroninya. Saatnya reformasi hukum dimulai dari pucuk pimpinan,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Budayawan ternama Mohamad Sobary melontarkan kritik keras terhadap Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menyebut Gibran sebagai “anak bloon” yang dipaksakan untuk menduduki jabatan wakil presiden.

Menurut Sobary, pencalonan dan terpilihnya Gibran dalam kontestasi nasional merupakan bentuk nyata dari politik dinasti yang merusak etika bernegara. “Gibran itu anak bloon yang dipaksakan jadi wapres. Negara ini seolah dijadikan panggung eksperimen keluarga,” ujar Sobary, Selasa (28/10/2025).

Lebih lanjut, Sobary juga menyinggung dugaan keterlibatan sejumlah pejabat dalam memuluskan jalan Gibran menuju kekuasaan, termasuk terkait persoalan akademik. Ia menyoroti nama Muhadjir Effendy, yang disebut-sebut ikut membantu proses persamaan ijazah Gibran.

“Begitu Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti tidak bisa menjelaskan status pendidikan Gibran, muncul nama Muhadjir yang diduga turun tangan membantu pengurusan persamaan ijazah itu,” kata Sobary.

Pernyataan keras ini sontak memicu perdebatan di ruang publik, terutama di media sosial. Banyak pihak menilai kritik Sobary sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi politik nasional yang kian jauh dari nilai-nilai meritokrasi dan etika kepemimpinan.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari pihak Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka maupun dari Muhadjir Effendy terkait tudingan tersebut.

MoneyTalk, Jakarta –  Pengusaha dan pemikir kebangsaan Mardigu Wowiek Prasantyo, lewat kanal YouTube-nya pada Kamis (16/10), kembali menumpahkan narasi panas yang bikin politik Jakarta bergetar. Dalam tayangan berdurasi lebih dari tujuh menit itu, Mardigu menyebut Presiden Prabowo Subianto kini tengah membongkar kejahatan ekonomi dan politik warisan rezim lama, termasuk dugaan kebocoran anggaran hingga Rp1.000 triliun!

“Kebijakan sang mantan itu biang kerok keuangan negara hancur. Dia bela oligar hutan, oligar sawit, dan oligar tambang. BUMN banyak bangkrut, sistem meritokrasi rusak, dan jabatan diisi orang tak kompeten. Itu kejahatan sistemik!” tegas Mardigu.

Menurut Mardigu, langkah awal pemerintahan Prabowo adalah membersihkan sisa-sisa benalu rezim lama yang selama 10 tahun “merampok” hak rakyat lewat proyek-proyek besar yang ditopang oligarki.

Ia membeberkan bahwa Satgas Khusus yang dibentuk Prabowo dan diketuai Menhan Safri Syamsudin telah berhasil menyita 3 juta hektar lahan sawit ilegal dan 3,5 juta hektar tambang ilegal hanya dalam waktu 8 bulan.

“Bayangin, baru delapan bulan, rampokan sawit, tambang, dan kayu ilegal udah dibabat habis. Dulu? Mereka yang ngerampok malah duduk di kursi kekuasaan!” ujar Mardigu tajam.

Gibran & Anwar Utsman Terancam Hukum?

Narasi Mardigu makin memanas ketika ia menyinggung strategi “Gerrymandering” yang disebut-sebut digunakan “sang mantan” untuk mengatur politik dan pemilu demi kekuasaan abadi. Ia menyebut dua nama terang-terangan: Gibran Rakabuming Raka dan Anwar Utsman, sang paman sekaligus mantan Ketua Mahkamah Konstitusi (MK).

“Semuanya udah jelas. Gibran dipanggungkan, pamannya di MK main kode etik. Rakyat udah tahu ini permainan lama. Bahkan, banyak warganet bilang, setelah Kapolri baru dilantik, Anwar dan Gibran bisa ditahan,” ujar Mardigu dalam nada serius.

Menurutnya, laporan hukum terhadap Anwar Utsman sudah ada sejak lama di Polda Metro Jaya, terkait pelanggaran nepotisme dan penyalahgunaan wewenang dalam perkara Putusan MK Nomor 90/PUU-XXI/2023 — keputusan yang membuka jalan bagi Gibran yang saat itu baru berusia 36 tahun untuk maju sebagai calon wakil presiden.

“Kalau penyidik benar-benar jalan, Anwar dan Gibran bisa jadi tersangka. Tapi dua tahun ini, laporan mandek. Sekarang semua nunggu Kapolri baru apakah berani buka berkas lama?” tantang Mardigu.

Kleptokrasi & Kakistrokrasi

Mardigu juga tak segan menuding bahwa rezim lama menjalankan kakistrokrasi dan kleptokrasi pemerintahan oleh orang-orang tak kompeten yang korup dan haus kekuasaan.

“Sepuluh tahun lalu kita dijalankan orang-orang yang bukan terbaik, tapi terburuk. Itu kakistrokrasi. Dan kleptokrasi? Bagi-bagi jabatan demi nyolong uang negara pakai aturan buatan sendiri,” katanya pedas.

Seruan untuk Prabowo: “Jangan Takut Disantet”

Mardigu mengirim pesan langsung untuk Presiden Prabowo agar tidak gentar menghadapi tekanan politik, ancaman, dan serangan buzzer bayaran rezim lama.

“Pak Prabowo jangan takut disantet, diancam, atau dibuka aibnya. Itu spesialis mereka! Rakyat ada di belakang Bapak. Tahun ini bersihkan semua, insyaallah aman. Amin. Peace,” ucapnya menutup video dengan gaya khasnya — tenang tapi menusuk.

MoneyTalk, Jakarta – Pernyataan politikus senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Beathor Suryadi, kembali memicu perbincangan hangat di kalangan politik nasional. Ia menyebut bahwa Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjabat Wakil Presiden RI, akan maju sebagai calon presiden (capres) dan berhadapan langsung dengan Presiden Prabowo Subianto pada Pemilihan Presiden (Pilpres) 2029.

Menurut Beathor, dukungan terhadap Gibran tidak muncul secara spontan, melainkan sudah dipersiapkan dengan matang sejak lama. Ia menyebutkan bahwa jaringan relawan yang dulu memenangkan Joko Widodo kini mulai bergerak untuk mengonsolidasikan dukungan terhadap Gibran.

“Gibran sudah punya relawan yang solid. Termasuk relawan-relawan Jokowi yang dulu memenangkan Pilpres. Mereka siap mendukung Gibran untuk maju sebagai capres 2029,” ujar Beathor dalam keterangan yang beredar di kalangan wartawan, Kamis (16/10/2025).

Lebih lanjut, Beathor menilai Partai Solidaritas Indonesia (PSI) menjadi kendaraan politik potensial bagi Gibran dalam Pilpres mendatang. Apalagi, PSI kini dipimpin oleh Kaesang Pangarep, adik kandung Gibran.

“PSI akan mengusung Gibran menjadi capres 2029. Dengan kepemimpinan Kaesang, partai itu sudah menyiapkan diri sejak dini,” kata Beathor.

Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak PSI mengenai arah dukungan tersebut.

Namun, dalam beberapa kesempatan sebelumnya, PSI memang kerap menegaskan dukungannya terhadap Gibran dan pemerintahan yang sedang berjalan.

Beathor juga menyinggung soal putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menghapus ambang batas pencalonan presiden atau presidential threshold. Ia menyebut hal ini menjadi “modal hukum” bagi Gibran untuk melenggang ke Pilpres 2029.

Sebelumnya, MK memang memutuskan bahwa aturan ambang batas pencalonan presiden yang mensyaratkan 20 persen kursi DPR atau 25 persen suara sah nasional tidak lagi berlaku. Putusan tersebut membuka peluang lebih luas bagi partai-partai kecil termasuk PSI untuk mengajukan calon presiden dan wakil presiden tanpa harus berkoalisi besar.

“Dengan threshold dihapus, Gibran tidak perlu menunggu partai besar. PSI bisa langsung mencalonkan Gibran,” ucap Beathor.

Dalam pernyataannya, Beathor juga menuding Jokowi memiliki dana besar yang disimpan secara khusus untuk mendukung langkah politik putranya di 2029. “Jokowi punya dana yang sangat besar disimpan di bungker. Itu semua untuk persiapan memenangkan Gibran menjadi presiden 2029. Jokowi ini punya nafsu kekuasaan, ingin anaknya jadi presiden,” kata Beathor.

Namun, hingga kini tidak ada bukti atau konfirmasi resmi yang mendukung klaim tersebut. Istana Kepresidenan dan pihak Gibran belum memberikan tanggapan atas tudingan itu. Beberapa kalangan menilai pernyataan Beathor bernada spekulatif dan perlu diverifikasi lebih lanjut.

PSI selama ini dikenal dekat dengan keluarga Jokowi. Dalam beberapa kesempatan publik, PSI secara terbuka menyebut Gibran sebagai sosok pemimpin muda yang potensial.

Kaesang Pangarep yang kini memimpin PSI juga kerap mendampingi Gibran dalam kegiatan resmi dan non-formal.

Kendati demikian, PSI belum pernah menyatakan secara resmi bahwa mereka akan mencalonkan Gibran sebagai capres 2029. Langkah itu akan sangat bergantung pada dinamika politik menjelang pemilihan dan arah dukungan partai-partai lain.

Pernyataan Beathor membuka kembali diskusi lama tentang ambisi politik keluarga Jokowi. Publik kini menilai bagaimana Gibran, yang masih muda dan baru memasuki jabatan tinggi negara, akan mengelola citra politiknya di tengah tudingan “politik dinasti”.

Meski demikian, peluang Gibran tetap terbuka. Dengan putusan MK yang melonggarkan syarat pencalonan, dukungan relawan yang luas, dan jaringan politik yang terbangun sejak era Jokowi, Gibran memiliki posisi strategis dalam percaturan politik lima tahun ke depan.

Apakah Gibran akan benar-benar menantang Prabowo di 2029 atau justru menjadi penerus politiknya masih menjadi tanda tanya besar yang akan mewarnai dinamika politik nasional dalam beberapa tahun mendatang.

MoneyTalk, Jakarta – Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengucapkan terima kasih kepada Dokter Tifa, Roy Suryo, dan rombongan yang telah berkunjung ke makam keluarga Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) di Selokaton, Gondangrejo, Jawa Tengah, pada 7 Oktober 2025.

Kunjungan tersebut terekam dan dibagikan melalui kanal YouTube milik Refly Harun. Dalam tayangan itu, terlihat Dokter Tifa dan Roy Suryo mendatangi kompleks makam keluarga Jokowi untuk mencari keterangan dan memastikan informasi yang mereka terima dari warga setempat.

Putra sulung Jokowi itu menyampaikan apresiasinya atas kunjungan tersebut. “Terima kasih kepada Pak Roy Suryo, Bu Dokter Tifa, dan rombongan yang sudah datang dan mendoakan kakek-nenek saya. Silakan saja, makam keluarga kami terbuka untuk siapa pun yang ingin berziarah,” kata Gibran, Senin (13/10/2025).

Sementara itu, Dokter Tifa dalam pernyataannya mengungkapkan bahwa kedatangannya didasari oleh informasi yang ia terima dari sejumlah warga. Ia menyebut, ada dugaan bahwa almarhumah Sudjiatmi Notomihardjo, ibu Jokowi, bukanlah ibu kandung dari mantan Presiden tersebut.

“Kami datang ke sini untuk mencari fakta, bukan untuk memprovokasi. Ada informasi dari warga yang menyebutkan hal demikian, jadi kami ingin melihat langsung dan mendapatkan keterangan di lapangan,” ujar Dokter Tifa.

Meski demikian, hingga kini belum ada bukti valid yang mendukung klaim tersebut. Sejumlah pihak menilai langkah Roy Suryo dan Dokter Tifa ini sebagai bentuk “penelusuran pribadi” yang seharusnya dilakukan dengan hati-hati agar tidak menimbulkan spekulasi liar di ruang publik.

Gibran sendiri menegaskan bahwa keluarga besar Jokowi tidak mempermasalahkan siapa pun yang datang berziarah, asalkan dilakukan dengan niat baik dan penuh rasa hormat.

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat politik dan hukum Muslim Arbi menilai keberadaan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto berpotensi menjadi “duri dalam daging”. Menurutnya, Gibran bukan hanya figur muda tanpa kapasitas politik dan administratif yang memadai, tetapi juga sosok yang membawa beban politik dari pemerintahan sebelumnya yakni pemerintahan ayahnya, Joko Widodo.

“Gibran tidak punya kapasitas menjadi wakil presiden. Pendidikan dan pengalaman pemerintahannya masih sangat terbatas. Malah kini muncul dugaan ia tidak tamat SMA,” kata Muslim Arbi dalam keterangan yang dikutip sejumlah media, Kamis (9/10/2025).

Pernyataan itu sontak memantik diskursus luas. Apalagi, isu seputar ijazah Gibran belakangan kembali menjadi topik panas di ruang publik—sebuah polemik yang mirip dengan yang sempat menimpa sang ayah beberapa tahun lalu.

Ketika Prabowo Subianto menerima Gibran sebagai calon wakil presiden pada Pilpres 2024, banyak kalangan menilai langkah itu sebagai kompromi politik besar. Di satu sisi, Prabowo memperoleh dukungan penuh dari jaringan kekuasaan Jokowi; di sisi lain, ia harus berbagi panggung dengan sosok yang dianggap belum matang secara politik.

Menurut Muslim Arbi, Prabowo kini terikat oleh beban politik yang ia warisi dari Jokowi, terutama dalam menghadapi ekspektasi publik dan kelompok-kelompok kepentingan di sekitar istana lama.

“Gibran ini bukan sekadar wakil presiden. Ia simbol dari perpanjangan kekuasaan Jokowi di era Prabowo. Di situlah masalahnya,” ujar Muslim.

Ia menilai, langkah Prabowo untuk menyeimbangkan pengaruh lama dengan arah kebijakan barunya akan menjadi ujian besar.

“Kalau Prabowo tidak berhati-hati, Gibran bisa menjadi duri dalam daging. Bukan karena niat jahat, tapi karena posisinya yang ambigu antara loyal kepada presiden atau loyal kepada sang ayah,” imbuhnya.

Isu tentang ijazah SMA Gibran kembali muncul di berbagai platform media sosial. Sejumlah akun aktivis dan pegiat hukum mempertanyakan keaslian dokumen pendidikan Gibran saat ia mendaftar sebagai calon wakil presiden.

Meski belum ada bukti sahih yang menyatakan adanya pelanggaran hukum, keraguan publik kian menguat karena tidak ada klarifikasi langsung yang terbuka dan menyeluruh dari pihak Gibran maupun tim Istana.

Muslim Arbi menilai, polemik ini seharusnya dijawab secara transparan.

“Kalau memang benar tidak ada masalah, kenapa tidak dibuka saja ke publik? Kalau dibiarkan, publik akan menilai ada sesuatu yang disembunyikan. Itu bisa menggerus kepercayaan terhadap pemerintahan Prabowo,” ujarnya.

Muslim menilai, isu ijazah ini tidak hanya soal administratif, tetapi juga soal trust atau kepercayaan terhadap legitimasi kepemimpinan nasional. Dalam konteks demokrasi, legitimasi bukan hanya soal legalitas hasil pemilu, tetapi juga persepsi publik terhadap integritas personal pejabat negara.

Sumber internal yang dekat dengan lingkaran pemerintahan menyebut, hubungan antara Prabowo dan Gibran sejauh ini berjalan formal dan berhati-hati.

“Tidak ada konflik terbuka, tapi juga belum tampak keintiman politik seperti presiden dan wakil presiden pada umumnya,” kata seorang pejabat senior yang enggan disebut namanya.

Menurutnya, Prabowo tetap menghormati Gibran sebagai wakil presiden, namun jarang melibatkan putra Jokowi itu dalam pengambilan keputusan strategis.

“Banyak agenda kenegaraan yang dijalankan Prabowo tanpa kehadiran Gibran. Wapres lebih sering diundang dalam acara seremonial atau kegiatan sosial,” ujarnya.

Situasi ini, menurut Muslim Arbi, justru memperkuat kesan bahwa peran Gibran di pemerintahan sangat terbatas, sementara simbol politiknya terlalu besar.

“Ini ibarat dua sisi mata uang. Ia tidak punya kekuasaan nyata, tapi kehadirannya menciptakan bayangan panjang Jokowi di tubuh pemerintahan Prabowo,” kata Muslim.

Dalam tradisi politik Indonesia, hubungan antara presiden dan wakil presiden kerap menjadi cerminan keseimbangan kekuasaan antara kelompok besar. Contohnya, hubungan SBY-JK (2004–2009) dan Jokowi-JK (2014–2019) menunjukkan adanya dinamika “check and balance” yang sehat. Namun dalam konteks Prabowo-Gibran, keseimbangan itu tampak rapuh.

“Gibran itu tidak lahir dari rahim partai atau organisasi politik yang matang. Ia lahir dari keluarga penguasa. Ini bukan hubungan politik yang setara, tapi hubungan patronase,” kata Muslim.

Dengan posisi seperti itu, Gibran sulit membangun legitimasi politik mandiri. Ia tidak punya basis sosial, partai, maupun gerakan ideologis yang mendukungnya di luar pengaruh Jokowi.

“Kalau suatu saat Jokowi dan Prabowo berbeda arah, Gibran akan terjebak di tengah. Itu yang dimaksud Muslim Arbi sebagai duri dalam daging,” lanjutnya.

Di atas kertas, posisi wakil presiden di Indonesia adalah pendamping yang berfungsi membantu presiden. Namun dalam praktik politik, Wapres sering menjadi alat kompromi elite, simbol koalisi, atau bahkan insurance policy bagi stabilitas politik.

Dalam kasus Gibran, simbolisme itu jauh lebih kuat ketimbang fungsinya.

Ia melambangkan keberlanjutan pengaruh Jokowi sekaligus jembatan antara generasi lama dan generasi baru. Namun, simbol yang terlalu kuat kadang menjadi beban bagi realitas kekuasaan.

“Prabowo butuh Gibran untuk menjaga stabilitas politik, tapi Gibran juga bisa menjadi beban jika muncul ketegangan dengan basis lama Jokowi,” kata Muslim.

Bagi Prabowo, tantangan utama bukan hanya menjalankan pemerintahan yang efektif, tetapi juga menjaga

keseimbangan antara loyalis lama dan kekuatan politik baru. Dalam konteks itu, keberadaan Gibran bisa menjadi faktor krusial antara penyeimbang atau batu sandungan.

“Kalau Prabowo bisa mengelola Gibran dengan baik, ini bisa menjadi model regenerasi politik yang elegan. Tapi kalau salah urus, bisa pecah di tengah jalan,” ujar Muslim Arbi.

Ia mengingatkan, pemerintahan baru harus berani menegakkan “lex justitia”, hukum yang adil bagi semua.

“Jangan sampai ada kesan bahwa hukum tumpul ke atas tapi tajam ke bawah. Kalau masalah pendidikan Gibran tidak diselesaikan dengan transparan, itu akan jadi noda pertama dalam pemerintahan ini,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Tokoh Muhammadiyah Din Syamsuddin mengeluarkan pernyataan keras terkait polemik dugaan ijazah SMA palsu milik Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Ia menilai, bila tudingan itu benar, langkah paling bijak bagi Gibran adalah mundur dari jabatannya sebelum kemarahan publik meledak.

“Kalau betul-betul ada bukti ijazah SMA-nya palsu, ini menjadi skandal politik. Kalau ijazah tidak sesuai syarat maju sebagai Capres-Cawapres, lebih bagus mundur sebelum rakyat marah memundurkannya,” ujar Din, Sabtu (27/9/2025).

Din juga menyoroti proses administrasi pendaftaran pasangan capres-cawapres 2024 di Komisi Pemilihan Umum (KPU). Menurutnya, bila terbukti ada kelalaian atau permainan, Indonesia terancam kerusuhan.

“Apalagi jika terbukti KPU ingin bermain-main. Katanya kalau KPU telat meralat akan di-Nepalkan (rusuh). Saya tidak begitu paham. Tapi jangan bermain-main dengan isu kejujuran,” tegasnya.

Pernyataan Din Syamsuddin ini sontak menambah panas isu dugaan pemalsuan ijazah yang tengah bergulir. Publik kini menunggu langkah Gibran maupun klarifikasi resmi KPU terkait keabsahan dokumen pencalonan yang menjadi sorotan.

MoneyTalk, Jakarta – Politikus PDI Perjuangan, Beathor Suryadi, memantik kontroversi baru dengan pernyataan kerasnya mengenai Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 90/PUU-XXI/2023. Dalam keterangan yang disampaikan kepada media, Beathor menyebut ada “novum” atau bukti baru yang menurutnya dapat menjadi dasar meninjau ulang keputusan MK tersebut putusan yang memungkinkan calon presiden dan wakil presiden berusia di bawah 40 tahun untuk tetap maju jika pernah menjabat kepala daerah.

“Negara NKRI berlandaskan hukum, hakim konstitusi bertugas menjaganya. Dengan munculnya penjelasan baru dari Kementerian Pendidikan, ini menjadi dasar penting untuk meninjau kembali putusan MK,” ujar Beathor, Jumat (26/9/2025).

Beathor menegaskan bahwa konstitusi Indonesia sudah jelas mengatur batas usia dan pendidikan minimal bagi calon presiden maupun wakil presiden. “Ketentuan itu bukan sekadar formalitas, tetapi cerminan kualitas kepemimpinan nasional,” katanya.

Menurut Undang-Undang Pemilu, pasangan calon presiden dan wakil presiden harus berusia minimal 40 tahun dan memiliki ijazah setara SMA. Putusan MK Nomor 90 menafsirkan ulang ketentuan usia dengan membuka peluang bagi kepala daerah di bawah 40 tahun, sehingga memungkinkan munculnya calon seperti Gibran Rakabuming Raka pada Pemilu 2024.

Dalam pandangan Beathor, MK sebagai penjaga konstitusi seharusnya merespons informasi atau temuan baru yang dapat memengaruhi legitimasi putusan. “Saya mengajak masyarakat yang peduli pada tegaknya hukum untuk memastikan syarat usia dan pendidikan itu ditegakkan,” ucapnya.

MoneyTalk, Jakarta – Kritik pedas kembali dilontarkan aktivis kesehatan dan penulis Dr. Tifauzia Tyassuma, yang akrab disapa Dokter Tifa, terhadap gaya hidup mewah para pejabat dan keluarganya. Melalui akun X (Twitter) pada 21 September 2025, Dokter Tifa menyoroti unggahan seorang istri pejabat yang diduga mengenakan jam tangan mewah bermerk Rolex dengan harga ratusan juta rupiah.

Dalam cuitannya, Dokter Tifa menanggapi unggahan akun @KingPurwa yang menampilkan foto istri pejabat disebut-sebut istri Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dengan jam tangan mewah. Ia mengingatkan bahwa kebiasaan pamer kemewahan atau “flexing” pejabat bisa memicu kemarahan publik seperti yang terjadi di Nepal baru-baru ini.

“Jadi ingat Ibu Perdana Menteri Nepal yang dibakar hidup-hidup saking gemasnya rakyat Nepal atas kelakuan FLEXING pejabat yang kelewat batas,” tulisnya.

Tak hanya itu, Dokter Tifa mempertanyakan sumber dana koleksi jam tangan mewah tersebut.

“Nyonya satu ini padahal tahu, sebelum jadi pejabat, suaminya bertahun-tahun dagang martabak, lapaknya pada tutup karena sepi. Lalu, koleksi Rolex ratusan juta darimana duitnya?” tulisnya lagi.

Komentar Dokter Tifa merujuk pada tragedi di Nepal yang baru saja dilanda kerusuhan besar. Negara Himalaya itu mengalami gelombang protes generasi muda terhadap pemerintahan Perdana Menteri KP Sharma Oli yang dianggap korup dan tak berpihak pada rakyat.

Protes yang awalnya damai berujung chaos setelah sekelompok orang tak dikenal memicu kerusuhan. Gedung-gedung penting seperti parlemen, badan antirasuah, hingga rumah dinas presiden dan perdana menteri diserbu dan dibakar massa. Setidaknya 51 orang dilaporkan tewas dalam aksi tersebut.

Pemicu amarah warga Nepal salah satunya adalah kebiasaan pejabat dan keluarganya memamerkan kemewahan di media sosial, di tengah kesulitan ekonomi rakyat. Fenomena ini, menurut Dokter Tifa, patut menjadi peringatan bagi Indonesia yang kini juga menghadapi ketimpangan sosial dan isu gaya hidup mewah pejabat.

Fenomena flexing pejabat belakangan memang kerap memancing kritik. Di Indonesia, beberapa kali pejabat maupun keluarga mereka menuai sorotan karena gaya hidup glamor yang ditampilkan di media sosial.

Pesan Dokter Tifa jelas: kebiasaan pamer harta pejabat bisa menimbulkan kemarahan rakyat yang berpotensi berujung pada aksi massa. “Semoga kita tidak perlu menunggu amarah rakyat seperti di Nepal,” tulisnya menutup rangkaian cuitan.

Pernyataan ini memicu diskusi luas di dunia maya. Banyak warganet menganggap peringatan Dokter Tifa sebagai alarm keras bagi pejabat agar lebih peka terhadap kondisi masyarakat dan menghindari perilaku yang memancing kecemburuan sosial.