6 November 2026

Yanuar Rizky

MoneyTalk, Jakarta – Pengamat pasar modal Yanuar Rizky melontarkan kritik tajam terhadap Menteri Keuangan baru, Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam pernyataannya di kanal Kanal SA pada Kamis (11/9), Yanuar menilai pergantian menteri tidak akan mengubah arah fundamental RAPBN 2026.

Menurutnya, publik tidak bisa berharap banyak dari perubahan figur. “Postur RAPBN 2026 akan tetap sama. Pergantian ini tidak akan merubah porsi game plan yang tetap akan mengejar pajak ke masyarakat,” tegas Yanuar.

Ia menyoroti pernyataan awal Purbaya yang dianggap “keluar dari konteks sosiologi masyarakat” dengan menyebut hanya sebagian kecil rakyat yang kesulitan hidup. “Itu tone deaf, bahkan cenderung menghina rakyat. Seolah-olah rakyat yang merasa kurang dianggap serakah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Yanuar menyebut gaya komunikasi Purbaya arogan dan penuh bluffing. “Dia lebih menteri keuangan dari menteri keuangan. Bahkan menampilkan dirinya sebagai king maker yang mempengaruhi presiden. Ini gejala megalomania,” kata Yanuar.

Yanuar mengingatkan bahwa strategi mendorong belanja negara tanpa pembenahan kelembagaan berpotensi memperparah krisis. Ia mengibaratkan kondisi ekonomi Indonesia saat ini “gemuk tapi obesitas”.

“Ekspansi fiskal tanpa diet, semua dibiayai hutang. Walaupun indikator tampak sehat, kelincahan ekonomi berkurang. Ini bahaya,” jelasnya.

Menurut Yanuar, Presiden Prabowo seharusnya menurunkan ego dan fokus pada perbaikan kelembagaan untuk mencegah kebocoran anggaran. “Kalau kelembagaan tidak dibereskan, ekspansi fiskal hanya jadi garam di air laut,” tambahnya.

Yanuar juga membandingkan jam terbang Purbaya dengan pendahulunya, Sri Mulyani Indrawati. Meski ia kerap mengkritik kebijakan Sri Mulyani, Yanuar menilai mantan Menkeu itu setidaknya memiliki legacy kelembagaan dan kredibilitas di mata pasar.

“Kalau figur sekelas Sri Mulyani saja diragukan mampu membendung Prabowo, apalagi Purbaya,” sindirnya.

Potensi Risiko Sistemik

Ia juga menyinggung adanya risiko insider trading dalam kebijakan fiskal, terutama terkait proyek-proyek seperti Patriot Bond dan keterkaitan dengan kelompok bisnis tertentu. “Ini lebih parah dari insider trading biasa, karena kebijakan negara sudah didesain oleh kelompok yang sama,” tegasnya.

Yanuar menegaskan bahwa harapan publik sederhana: mencegah krisis. “Kita tidak ingin 1998 terulang. Maka, fungsi parlemen dan publik adalah mengawal Menkeu baru ini. Jangan sampai arogan, banyak bicara, tapi minim eksekusi,” tutup Yanuar.

MoneyTalk, Jakarta – Ekonom dan pemerhati keuangan, Yanuar Rizky, kembali melontarkan kritik tajam terhadap arah kebijakan fiskal pemerintah dalam sebuah podcast yang ditayangkan kanal YouTube Satu Visi Utama pada Jumat (05/09).

Menurut Yanuar, situasi ekonomi Indonesia saat ini semakin menekan kelas bawah dan sektor informal, yang justru menjadi tulang punggung mayoritas masyarakat. Ia menilai kebijakan pemerintah yang cenderung ekspansif justru berpotensi menjadi bumerang.

“Orang di-PHK masuk ke sektor informal seperti ojol. Tapi daya beli menurun, yang beli gorengan berkurang, order ojol juga turun. Akhirnya yang paling kejepit ya kelas bawah. Kondisi ini mirip dengan Bangladesh,” ujar Yanuar.

Ia menjelaskan, dalam kondisi sulit, pemerintah tetap mendorong fiskal ekspansif. Padahal, konsekuensinya ada dua: menaikkan pajak atau mengurangi belanja. Pilihan efisiensi sering kali membuat transfer dana pusat ke daerah terpangkas, yang berujung pada langkah kepala daerah menekan masyarakat melalui kenaikan pajak lokal.

“Kepala daerah akhirnya cuma bisa nyekek rakyat. Masyarakat jadi merasa dikejar-kejar pajak padahal sedang susah. Ini yang memicu kecemburuan sosial. Kalau terus dipaksakan, kita bisa sampai di titik ledakan seperti Bangladesh 1997, atau seperti Korea Selatan yang pernah dihantam perang kelas,” tegas Yanuar.

Ia juga menyoroti pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang berulang kali menjamin tidak ada kenaikan pajak maupun pajak baru. Namun, di saat bersamaan, pemerintah gencar melakukan pendisiplinan pajak dengan menggandeng KPK, kepolisian, hingga aparat hukum.

“Prinsipnya benar, setiap objek pajak harus bayar pajak. Tapi kalau diterapkan secara keras ke sektor informal yang sedang tertekan, justru bisa meledak. Yang jadi pertanyaan, apakah kelompok kaya juga dikejar pajaknya seketat itu?” kata Yanuar.

Lebih jauh, ia menilai budaya politik flexing, branding crazy rich, hingga joget-joget pejabat justru memperlebar jurang kecemburuan sosial. “Energi bansos sudah habis, rakyat di bawah semakin susah, kelas menengah tertekan, sementara orang kaya terus pamer harta. Itu bisa menjadi bumerang,” tegasnya.

Yanuar menekankan perlunya “tobat nasional” dalam pengelolaan fiskal dan anggaran negara. Menurutnya, tanpa pergeseran paradigma, Indonesia berpotensi mengulang krisis besar seperti 1998 bahkan lebih parah.

“Kalau tidak ada koreksi, kita hanya menunggu waktu. Sejarah selalu berulang. Supaya tidak jatuh ke jurang seperti Bangladesh, kita butuh pertobatan nasional dalam mengelola ekonomi,” pungkasnya.

MoneyTalk, Jakarta – Ekonom dan pemerhati ekonomi nasional, Yanuar Rizky, menilai kondisi Indonesia saat ini berpotensi menuju krisis sosial-ekonomi yang bisa berujung pada konflik kelas, mirip dengan yang pernah terjadi di Korea Selatan pada krisis 1997 dan juga di Bangladesh. Hal itu ia sampaikan dalam podcast di kanal YouTube Satu Visi Utama pada Jumat (5/9/2024).

Menurut Yanuar, kesenjangan sosial-ekonomi di Indonesia semakin melebar. Meskipun Menteri Keuangan Sri Mulyani menjamin tidak ada kenaikan maupun pajak baru, langkah pendisiplinan pajak yang menyasar sektor informal justru bisa memicu keresahan. “Kalau sektor informal yang sedang tertekan dikejar-kejar pajak sementara kecemburuan sosial sudah tinggi, kita bisa mengalami titik ledak seperti di Bangladesh,” ujar Yanuar.

Ia menambahkan, ketidakadilan distribusi kekayaan semakin kentara. Kelas atas dan kelompok oligarki memperoleh keuntungan besar dari sektor finansial, batu bara, hingga permainan valuta asing. Namun, keuntungan tersebut lebih banyak dibelanjakan untuk konsumsi, bukan investasi yang menciptakan lapangan kerja riil. “Transaksinya hanya berupa spending, bukan pembangunan sektor produktif. Efek turunnya ke bawah ya hanya ke tukang gorengan, tukang somay, ojol. Itu pun dalam sektor informal,” jelasnya.

Yanuar mengingatkan, dominasi pekerjaan informal yang kini mencapai 70% menjadi sinyal bahaya. Sejak 2005, struktur tenaga kerja Indonesia bergeser dari pertanian dan manufaktur ke jasa, namun sebagian besar jasa yang tumbuh adalah sektor informal. Kondisi ini membuat fondasi ekonomi rapuh menghadapi gejolak global.

Ia mencontohkan krisis Asia 1997. Korea Selatan yang demokratis kala itu dihantam krisis akibat konflik internal elite dan dominasi konglomerat (chaebol). Ketika nilai tukar anjlok, kelas menengah yang menyimpan dana di saham, reksa dana, dan asuransi ikut hancur, sehingga melahirkan perlawanan kelas terhadap elite ekonomi-politik. “Yang terjadi saat itu adalah perang kelas. Dan Indonesia pun 1998 mengalami hal yang sama, hanya dengan latar politik berbeda,” paparnya.

Lanjut Yanuar, tanda-tanda serupa mulai muncul. Lonjakan harga emas ke titik tertinggi sepanjang masa, disertai kenaikan harga tembaga, menandakan ketidakpastian global dan potensi stagflasi. Arus likuiditas dari negara maju ke negara berkembang juga semakin menyusut.

“Akumulasi kelompok kaya ke emas semakin tinggi, bahkan masyarakat desa pun ikut beli emas. Tidak ada lagi capital gain, tidak ada lagi transaksi antar kelas. Perusahaan pun mulai kehilangan likuiditas, berujung pada PHK,” jelasnya.

Bagi Yanuar, sejarah ekonomi dunia menunjukkan siklus krisis selalu berulang dan memicu chaos sebelum menuju keseimbangan baru. Jika kesenjangan kelas di Indonesia terus dibiarkan melebar, ia mengingatkan potensi pecahnya konflik sosial bisa menjadi kenyataan.

MoneyTalk, Jakarta – Ekonom pasar modal Yanuar Rizky dalam perbincangannya di kanal YouTube Awalil Rizky, menyoroti masalah fundamental dalam pengelolaan pangan Indonesia. Menurutnya, sejak era Jokowi hingga kini di bawah pemerintahan Prabowo, strategi pangan nasional gagal karena negara tidak memiliki komitmen serius dalam menata lahan, memodernisasi rantai produksi, dan mensejahterakan petani.

Yanuar membandingkan dua kekuatan dunia, Amerika Serikat dan Cina. Di AS, kata dia, bahkan dalam sistem kapitalis yang keras sekalipun, pemerintah tetap melarang alih fungsi lahan pertanian dan mengatur distribusi pangan secara ketat. Hasil dari petani kecil yang mendapat insentif rumah kaca, misalnya, harus dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan supermarket di tiap negara bagian.

“Kapitalisme Amerika saja tetap mengatur pangan agar kompetitif. Negara hadir, bahkan memaksa distribusi untuk konsumsi dalam negeri,” tegas Yanuar.

Sementara di Cina, pertanian masih dipandang sebagai warisan budaya. Mekanisasi tidak dilakukan secara total, karena “harga diri petani” dianggap penting. Namun, untuk meningkatkan kesejahteraan petani, negara melakukan reformasi di hilir: modernisasi bisnis penggilingan padi. Teknologi di rice milling memungkinkan gabah berkadar air tinggi tetap menghasilkan beras premium.

“Sejahteranya petani di Cina bukan di sawah, tapi di bisnis penggilingan padi. Margin ada di hilir, bukan on-farm,” ungkapnya.

Gagasan Jokowi yang Gagal Dijalankan

Yanuar juga mengungkapkan bahwa Presiden Jokowi pernah punya visi serupa: agar modernisasi penggilingan padi menjadi milik petani dan koperasi, bukan dikuasai konglomerat. Jokowi bahkan menugaskan Pupuk Indonesia Pangan dan Agrinas untuk menjalankan misi ini. Namun, visi itu kandas.

Sebab, pendekatan yang dipakai masih korporasi murni. ROI (Return on Investment) dianggap tidak layak, terutama untuk program cetak sawah di Merauke yang biayanya besar, tanahnya payau, dan membutuhkan normalisasi air.

“Kalau dihitung dengan kacamata korporasi, proyek cetak sawah tidak masuk akal. ROI cuma 1 koma, sementara BI rate 5%. Hanya APBN yang bisa menanggung, bukan korporasi,” ujar Yanuar.

Menurut Yanuar, inti kerusakan pangan Indonesia adalah alih fungsi lahan pertanian di Jawa yang dibiarkan begitu saja. Padahal, sejak era VOC hingga Jepang, Nusantara sudah dipetakan menjadi tiga klaster: Jawa sebagai pusat sawah, Sumatera untuk perkebunan, dan Sulawesi–Timur untuk rempah. Jepang bahkan melindungi fungsi lahan itu ketika melockdown ekonomi di 1942.

“Kita ini gagal merawat warisan. Sawah di Jawa berubah jadi properti. Negara tidak punya aturan tegas. Inilah sumber persoalan pangan kita,” tegas Yanuar.

Audit Nasional Lahan Pertanian

Sebagai jalan keluar, Yanuar mengusulkan audit nasional lahan pertanian, mencontoh Cina yang sejak 2016 memetakan ulang tanahnya: mana yang masih produktif, mana yang harus dikonversi jadi kebun, dan mana yang perlu intervensi pupuk atau teknologi.

Bagi Yanuar, tanpa audit ulang, program pangan apapun dari “cetak sawah” hingga BUMN pangan  akan gagal karena berdiri di atas fondasi lahan yang salah kelola.

Yanuar juga menyentil Danantara, holding pangan era Prabowo, yang menurutnya diisi oleh orang-orang bermental banker dan pemain saham, bukan teknokrat pertanian. Akibatnya, setiap kali dihitung dengan logika korporasi, program pangan selalu dianggap “tidak layak” karena negatif spread.

“Kalau Presiden Prabowo serius, jangan biarkan Danantara diurus banker. Harus ada teknokrat pertanian. Kalau tidak, kita hanya mengulang kegagalan Pupuk Indonesia Pangan,” tegasnya.

Pernyataan Yanuar Rizky membongkar kontradiksi besar dalam politik pangan Indonesia: negara ingin kedaulatan pangan tapi tidak mau membayar harga politik dan fiskalnya.

Alih fungsi lahan tetap dibiarkan, proyek cetak sawah dipaksakan dengan kacamata korporasi, dan program penggilingan padi gagal karena orientasi margin. Padahal, pelajaran dari Amerika dan Cina jelas: pangan adalah urusan negara, bukan sekadar bisnis.

MoneyTalk, Jakarta – Persoalan pangan di Indonesia kembali menjadi perdebatan strategis, bukan hanya soal ketahanan beras, tetapi menyangkut siapa yang menguasai hajat hidup orang banyak. Ekonom senior Yanuar Rizky dalam podcast Awalil Rizky (19/8) menyebut fakta mencengangkan: 90% ekosistem pangan Indonesia saat ini dikuasai swasta, hanya 10% dipegang negara.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ia adalah cermin dari sebuah sejarah panjang liberalisasi sektor pangan yang dimulai sejak krisis 1998, ketika pemerintah Indonesia menandatangani Letter of Intent (LoI) dengan IMF. Dari sinilah, Bulog Lembaga vital penyangga harga dan distribusi pangan di masa Orde Baru dipangkas perannya, dari badan stabilisasi menjadi sekadar perusahaan pangan biasa.

Yanuar mengingatkan, runtuhnya Orde Baru tidak lepas dari krisis pangan dan energi. Ketika harga BBM melonjak dan sembako tak terkendali, legitimasi Soeharto runtuh. IMF masuk dengan resep liberalisasi: bank sentral dipisahkan dari pemerintah, sementara Bulog “dikerdilkan”.

“Kalau dulu kepala Bulog itu setara menteri, kini hanya pelaku bisnis,” ujar Yanuar. Logika IMF sederhana: negara dianggap sarang korupsi dan inefisiensi, maka pangan harus diserahkan ke mekanisme pasar dan swasta. Hasilnya, lebih dua dekade kemudian, 90% rantai pangan dikuasai korporasi besar.

Presiden Prabowo Subianto, menurut Yanuar, memahami betul pentingnya isu pangan. Dalam setiap rapat kabinet, Prabowo menegaskan: “Kalau pangan selesai, rakyat kenyang, negara aman.”

Namun jalan menuju itu terbelah dua mazhab:

Mazhab Negara (Etatisme): Mengembalikan peran Bulog sebagai stabilisator, mirip era Orde Baru. Prabowo cenderung ke arah ini.

Mazhab Pasar (Neoliberal): Menyerahkan pangan pada mekanisme swasta dengan alasan efisiensi dan harga murah, seperti dikampanyekan IMF dan pendukung liberalisasi.

Dari sini terlihat jelas, perdebatan pangan bukan hanya soal beras dan pupuk, melainkan perang ideologi ekonomi: Adam Smith vs Ekonomi Kerakyatan.

Yanuar mengkritik kebijakan yang selama ini hanya terpaku pada subsidi pupuk. Padahal, dalam praktiknya, harga gabah petani tetap kalah bersaing dengan beras impor dari Vietnam atau Thailand.

“Jadi kalau kita impor, harga di pelabuhan saja sudah lebih murah dibanding gabah lokal,” jelasnya. Akibatnya, petani kian tertekan, sementara impor justru jadi primadona.

Di sini letak paradoks: negara mengeluarkan triliunan rupiah untuk subsidi pupuk, tetapi hasil akhirnya tetap kalah oleh sistem pangan luar negeri yang lebih modern dan terintegrasi.

Belajar dari Amerika: Food Estate dan Lahan Modern

Yanuar membandingkan dengan Amerika Serikat. Negara kapitalis itu justru membangun irigasi, reforma agraria, dan mekanisasi pertanian sejak era Roosevelt melalui kebijakan New Deal. Tanah pertanian tidak bisa dialihfungsikan sembarangan, dan mekanisasi membuat petani berubah menjadi konglomerat.

Konsep ini yang melahirkan food estate berbasis skala ekonomi besar. Tapi di sisi lain, petani gurem tersingkir, lalu dialihkan menjadi buruh tani atau ke sektor hortikultura modern seperti rumah kaca. Artinya, modernisasi bukan tanpa biaya sosial.

Siapa Pemilik 90% Pangan Indonesia?

Pertanyaan paling tajam dari paparan Yanuar: siapa sebenarnya yang menguasai 90% ekosistem pangan Indonesia?

Apakah konglomerat nasional yang dekat dengan kekuasaan? Atau korporasi multinasional yang mendapat ruang setelah LoI IMF 1998?

Di titik inilah investigasi harus diarahkan:

Rantai distribusi beras dari hulu ke hilir: siapa importir utama?

Penguasaan gudang dan logistik pangan: BUMN atau swasta?

Pupuk dan benih: masihkah negara dominan, atau sudah dikuasai korporasi global?

Pangan, Politik, dan Ancaman Kedaulatan

Pangan terbukti bukan sekadar urusan perut, tetapi senjata politik dan geopolitik. Yanuar menegaskan, klaim para politisi bahwa “ketahanan pangan otomatis menyejahterakan petani” hanyalah jargon kampanye. Faktanya, ketahanan atau kedaulatan pangan bisa dicapai tanpa memperbaiki nasib petani.

Di tengah persaingan mazhab negara vs pasar, rakyat kembali hanya jadi objek. Pertanyaan investigatif yang harus dijawab pemerintahan Prabowo adalah: Apakah kedaulatan pangan benar-benar dikembalikan ke negara, atau tetap dikuasai oligarki swasta?

MoneyTalk, Jakarta – Menurut Ekonom Yanuar Rizky Masuknya PT.PLN, dan Pertamina ke dalam Danantara hanya akan menambah lapisan kebingungan saja. Apakah PLN entitas komersial atau instrumen fiskal negara?

‎Pemerintah sudah menyatakan bahwa Danantara diposisikan sebagai lembaga investasi yang mengelola aset BUMN dengan orientasi komersial. Namun, PLN jelas berbeda. Keberlangsungan PLN sepenuhnya terkait fiskal negara dari piutang kompensasi, subsidi tarif, hingga pengecualian ISAK 8, Jelas Yanuar.

‎Kemudian dalam kasus PLN ini, Yanuar Rizky membandingkan dengan Malaysia, di mana Petronas tidak dimasukkan ke SWF Hasanah karena bersifat strategis dan erat dengan kebijakan pemerintah.

‎“PLN seharusnya masuk kategori BUMN layanan publik, bukan entitas komersial murni,” Jika dipaksakan masuk Danantara, status PLN akan membingungkan investor. Siapa sebenarnya yang menjamin PLN, Danantara atau pemerintah, tegas Yanuar.

‎Kalau rencana pemerintah jalan untuk mengkonsolidasikan utang BUMN strategis ke dalam super holding Danantara dinilai Yanuar ibarat “double-edged sword”. Jika Danantara bisa menerbitkan obligasi berbunga rendah (3%) untuk melunasi utang PLN (8%), maka ada ruang efisiensi.

‎Namun faktanya, 70–80% ekuitas Danantara justru ditopang oleh aset bermasalah PLN dan Pertamina.Dengan aset leverage, Danantara bisa terjebak membiayai PSN non-strategis, sementara BUMN inti belum sehat.

‎“Jangan sampai Danantara justru membuka risiko krisis. Karena kalau PLN dan Pertamina gagal bayar, dampaknya sistemik, tutup Yanuar

MoneyTalk, Jakarta – Ekonom Yanuar Rizky dalam kanal YouTube awalilrizky menyatakan bahwa PT. PLN terlihat sehat di laporan keuangan. Tetapi separuh lebih arus kasnya justru bergantung pada subsidi dan kompensasi pemerintah.

‎Setengah dari pendapatan PLN bukan berasal dari pelanggan, tetapi dari subsidi & kompensasi pemerintah. Misalnya subsidi 450 VA tidak sekadar menutup selisih harga pokok, tetapi juga memberi margin 7% yang justru memperlihatkan bagaimana PLN tetap “dibantu untung” oleh APBN.

‎Tapi kompensasi dari Pemerintah sering terlambat cair. PLN pun kesulitan menjaga arus kas (cash flow). Apalagi ditambahi lagi kompensasi pemerintah tentang penetapan tarif listrik itu lebih rendah dari biaya produksi,kata Yanuar Rizky.

‎Akibatnya, laporan keuangan PLN langsung “berdarah-darah.” Beban kompensasi yang belum dibayar pemerintah harus diakui sebagai penurunan kesehatan keuangan PLN, Lanjut Yanuar.

‎Pada akhirnya, kasus PLN ini membuktikan satu hal sebesar. Apa pun upaya memoles laporan keuangan PT.PLN. Tetap saja PLN bergantung pada keputusan fiskal pemerintah.

‎Tanpa reposisi yang jujur terhadap fungsi PLN, krisis likuiditas dan risiko sistemik akan terus menghantui, bahkan bisa membebani generasi mendatang, tutup Yanuar.

MoneyTalk, Jakarta – Menurut Direktur CBA (Center For Budget Analisis), Uchok Sky Khadafi utang PLN Pada 2024, total utang PLN mencapai Rp711,2 triliun. Sementara pada 2023, utang PLN sebesar Rp655 triliun. Atau naik Rp56,2 triliun dalam setahun. Setara Rp4,7 triliun per bulan. Dibagi 30 hari, utangnya naik Rp156.7 miliar dalam sehari.

‎Tapi menurut ekonom Yanuar Rizky dalam podcast di kanal YouTube awalilrizky, menyatakan bahwa PT. PLN melakukan siasat dengan restrukturisasi “revolving” alias menutup utang lama dengan mencari utang baru.

‎Tetapi yang bikin masalah makin berat karena utang PLN banyak yang berbasis dolar AS,sementara penerimaan dalam rupiah. Tekanan kurs otomatis memperbesar beban keuangan perusahaan, jelas Yanuar.

‎Ini mengingatkan kita pada tesis economic hitman: utang diciptakan untuk akhirnya tidak bisa dibayar, agar aset bisa diambil alih,” tegas Yanuar.

‎Secara neraca, PLN terlihat “perkasa.” Ekuitas hasil revaluasi aset mencapai sekitar Rp800 triliun. Namun, angka itu semu. Sebagian besar aset  bersifat tidak likuid lantaran berupa jaringan, kabel, dan infrastruktur yang tidak bisa langsung diuangkan.

‎Sementara itu, utang jangka pendek PLN mencapai Rp176 triliun per tahun, atau lebih dari 10% ekuitasnya. Kombinasi ini membuat PLN tampak kuat di atas kertas, tetapi sebenarnya ngos-ngosan dalam menjaga likuiditas, lanjut Yanuar

‎Dan Yanuar menyebut ini sebagai bukti bahwa ekuitas besar tidak mencerminkan kemampuan bayar nyata. Kunci lain persoalan PLN adalah kontrak jangka panjang dengan IPP. Dalam skema take or pay, PLN wajib membeli listrik dari pembangkit swasta meski terjadi oversupply. Risiko pasar sepenuhnya ditanggung PLN, sementara IPP (Independent Power Producer) menikmati kepastian pendapatan.

MoneyTalk, Jakarta – Yanuar Rizky dalam diskusi kanal YouTube awalilrizky pada tanggal 12 Agustus 2025 lalu menegaskan bahwa problem energi terbarukan di Indonesia bukan semata soal teknologi, tetapi tentang struktur politik-ekonomi yang sudah terikat dalam kontrak jangka panjang dengan Independent Power Producer (IPP) berbasis batubara.

‎Meskipun pemerintah mendorong energi surya dan mobil listrik, Yanuar menilai insentif riilnya tetap minim. Pasalnya, skema PLN masih menempatkan listrik batubara sebagai tulang punggung.

‎Saat ini Kontrak jangka panjang mengikat PLN untuk membeli listrik dari IPP batubara dalam skema take or pay. Jika PLN ingin beralih ke energi surya, tetap harus membeli listrik batubara yang sudah dikontrak panjang, jelas Yanuar.

‎Dan Mobil listrik mulai berkembang tapi akhirnya bukan solusi hijau, karena listrik yang dipakai mayoritas masih dari energi batubara. Dimana Negara dipaksa menanggung kompensasi karena kontrak IPP tidak bisa dibongkar. Ini artinya,Politik energi dikunci oleh kepentingan oligarki batubara yang sekaligus mendanai politik.

‎“Kalau mau revolusioner, presiden Prabowo harus berani addendum kontrak-kontrak itu. Tapi masalahnya, mayoritas pemilik IPP sekaligus pemilik tambang batubara adalah donatur politik,” kata Yanuar

MoneyTalk, Jakarta – Dalam podcast di kanal YouTube awalilrizky, ekonom Yanuar Rizky menyingkap lapisan kompleksitas yang membelit PT PLN (Persero). Dari revaluasi aset hingga jebakan kontrak listrik swasta (Independent Power Producer/IPP), Yanuar menegaskan bahwa bisnis PLN tidak bisa dipandang layaknya korporasi biasa.

Revaluasi Aset,Lompatan Ekuitas PLN

Menurut Yanuar, salah satu strategi penyelamatan ekuitas BUMN adalah revaluasi aset. Hal ini sudah pernah dilakukan PLN pada era almarhum Rizal Ramli saat menjabat Menteri Keuangan di masa Presiden Abdurrahman Wahid, dan kembali diulang pada 2015.

Secara akuntansi, aset tetap PLN seperti pembangkit, jaringan listrik, lahan sutet, hingga infrastruktur lainnya dinaikkan nilainya. Selisih dari revaluasi tersebut kemudian dicatat sebagai ekuitas, sehingga neraca PLN melonjak tajam.

Inilah yang menurut Yanuar membuat klaim pemerintah mengenai Danantara memiliki aset Rp14.000 triliun tampak besar, padahal sebagian besar hanya berasal dari revaluasi aset PLN dan Pertamina. Di laporan keuangan pemerintah (LKPP), ekuitas riil tercatat hanya sekitar Rp3.142 triliun, sehingga ada gap belasan ribu triliun berupa “ekuitas non-cash”.

“Revaluasi membuat ekuitas naik, lalu meningkatkan kemampuan berhutang PLN. Tapi jangan salah, itu bukan uang tunai,” tegas Yanuar.

IPP dan Skema Take or Pay, PLN Jadi “Sinterklas”,

Masalah utama muncul bukan hanya dari sisi akuntansi, tetapi dari model bisnis PLN yang terikat kontrak rigid. Yanuar menjelaskan bahwa PLN terjebak dalam skema “take or pay” baik untuk bahan bakar pembangkit (gas, batu bara) maupun listrik dari IPP.

Artinya, sekalipun listrik yang diproduksi tidak terserap pasar, PLN tetap wajib membayar sesuai kontrak. Hal ini menjadikan PLN seperti “Sinterklas bagi para IPP”, yang selalu membeli listrik swasta berapapun jumlahnya, dengan risiko kerugian ada di PLN.

Tak heran, banyak pihak dengan kekuatan politik berusaha masuk bisnis IPP. Skema ini, menurut Yanuar, nyaris menjamin keuntungan bagi swasta, sementara PLN menanggung risiko finansial.

DMO, Subsidi, dan Kompensasi, Beban Ganda PLN

Kerumitan makin bertambah dengan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO) batu bara, yang lahir akibat tarik-menarik harga antara PLN dan pengusaha tambang. Ketika harga batu bara internasional tinggi, PLN kesulitan mendapat pasokan; ketika rendah, PLN dipaksa menyerap lebih.

Selain itu, meski pemerintah mengklaim subsidi listrik hanya untuk kelompok tertentu, PLN tetap dikenakan rezim tarif. Harga jual ke masyarakat dibatasi pemerintah, meski biaya produksinya lebih tinggi. Selisihnya ditutup melalui kompensasi dari APBN.

Namun kompensasi ini kerap terlambat cair, sehingga muncul piutang PLN ke pemerintah, yang pada gilirannya memaksa PLN menumpuk utang melalui obligasi dan restrukturisasi pinjaman.

ISAK 8 dan Ancaman Default.

Masalah pelik lain muncul ketika standar akuntansi ISAK 8 mewajibkan konsolidasi aset IPP ke neraca PLN. Secara buku, kewajiban PLN membengkak seolah-olah seluruh hutang IPP juga miliknya.

Situasi ini sempat memicu kekhawatiran default obligasi PLN pada 2017, hingga akhirnya pemerintah turun tangan meminta pengecualian dari OJK.

Inti Persoalan, PLN Bukan Korporasi Biasa, Bagi Yanuar, semua ini menunjukkan bahwa PLN memiliki karakter bisnis yang unik. Tidak bisa sekadar dianalisis dengan logika korporasi murni. PLN berada dalam persimpangan kebijakan publik, regulasi politik, dan kontrak swasta.

Di satu sisi, revaluasi aset membuat ekuitas terlihat perkasa. Di sisi lain, kontrak take or pay dan keterikatan pada rezim tarif membuat arus kas PLN rentan.

“Yang menikmati keuntungan jelas IPP. PLN-lah yang harus jadi penanggung risiko,” pungkas Yanuar.