‎Sebagian Aset Tidak Bisa Langsung Diuangkan, Utang Menumpuk, Dan Neraca PLN Ngos – Ngosan ‎

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Menurut Direktur CBA (Center For Budget Analisis), Uchok Sky Khadafi utang PLN Pada 2024, total utang PLN mencapai Rp711,2 triliun. Sementara pada 2023, utang PLN sebesar Rp655 triliun. Atau naik Rp56,2 triliun dalam setahun. Setara Rp4,7 triliun per bulan. Dibagi 30 hari, utangnya naik Rp156.7 miliar dalam sehari.

‎Tapi menurut ekonom Yanuar Rizky dalam podcast di kanal YouTube awalilrizky, menyatakan bahwa PT. PLN melakukan siasat dengan restrukturisasi “revolving” alias menutup utang lama dengan mencari utang baru.

‎Tetapi yang bikin masalah makin berat karena utang PLN banyak yang berbasis dolar AS,sementara penerimaan dalam rupiah. Tekanan kurs otomatis memperbesar beban keuangan perusahaan, jelas Yanuar.

‎Ini mengingatkan kita pada tesis economic hitman: utang diciptakan untuk akhirnya tidak bisa dibayar, agar aset bisa diambil alih,” tegas Yanuar.

‎Secara neraca, PLN terlihat “perkasa.” Ekuitas hasil revaluasi aset mencapai sekitar Rp800 triliun. Namun, angka itu semu. Sebagian besar aset  bersifat tidak likuid lantaran berupa jaringan, kabel, dan infrastruktur yang tidak bisa langsung diuangkan.

‎Sementara itu, utang jangka pendek PLN mencapai Rp176 triliun per tahun, atau lebih dari 10% ekuitasnya. Kombinasi ini membuat PLN tampak kuat di atas kertas, tetapi sebenarnya ngos-ngosan dalam menjaga likuiditas, lanjut Yanuar

‎Dan Yanuar menyebut ini sebagai bukti bahwa ekuitas besar tidak mencerminkan kemampuan bayar nyata. Kunci lain persoalan PLN adalah kontrak jangka panjang dengan IPP. Dalam skema take or pay, PLN wajib membeli listrik dari pembangkit swasta meski terjadi oversupply. Risiko pasar sepenuhnya ditanggung PLN, sementara IPP (Independent Power Producer) menikmati kepastian pendapatan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *