MoneyTalk, Jakarta – Entah apa yang ada di kepala Zita Anjani. Namanya, yang kini menjabat Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata, mendadak jadi perbincangan. Bukan karena prestasi, melainkan karena ketidakhadirannya.
Unpad, salah satu kampus terbaik di Indonesia, sudah menyiapkan segalanya: seminar, mahasiswa, panitia. Semua siap menyambut Zita, sang tamu istimewa.
Bukan persiapan satu atau dua hari. Panitia sudah berbulan-bulan bolak-balik berkoordinasi. Bahkan ketika Zita meminta format acara diubah dari luring menjadi daring, mereka turuti. Sesi tanya jawab pun dihapus demi menyesuaikan keinginannya. Namun, Zita tidak datang.
Seminar molor, panitia kalang kabut, peserta kecewa. Padahal waktu itu sangat berharga waktu yang tak bisa dibeli. Yang lebih mengherankan, di saat bersamaan Zita justru mengunggah foto-foto aktivitasnya di gym. Publik marah. Wajar saja. Bagaimana mungkin seorang pejabat yang sudah berjanji, justru mengkhianati janjinya sendiri?
Zita kemudian membuat klarifikasi dan permintaan maaf yang bertebaran di media sosial. Katanya, foto-foto itu hanya “latepost” dan jadwalnya padat.
Tapi alasan itu menimbulkan pertanyaan lain: jika jadwal begitu padat, mengapa masih sempat mengunggah foto di media sosial? Dari sekian banyak agenda, mengapa seminar di kampus di depan para calon pemimpin masa depan justru yang diabaikan?
Ini bukan sekadar soal Zita Anjani. Ini soal etika, profesionalisme, dan tanggung jawab. Jabatan Utusan Khusus Presiden bukanlah jabatan main-main. Di baliknya ada nama Presiden, ada harapan rakyat.
Ketika seorang pejabat tidak menghargai waktu orang lain dan institusi pendidikan, itu berarti ia tidak menghargai jabatannya sendiri. Lebih fatal lagi, ia mengabaikan kepercayaan publik.
Mungkin sudah saatnya kita meninjau kembali: apakah jabatan-jabatan seperti ini masih relevan? Atau jangan-jangan hanya tempelan untuk kepentingan pencitraan?
Zita memang sudah meminta maaf. Tapi, apakah maaf itu cukup? Publik kini lebih cerdas. Mereka tidak hanya menilai kata-kata, tetapi juga perbuatan.
Seharusnya, seorang pemimpin datang ketika janji sudah terucap. Karena kehormatan seorang pemimpin terletak pada kata-katanya.
Penulis : ET Hadi Saputra (Alumni Warung Bu Tatang Fikom Unpad Sekeloa)



