MoneyTalk.id,Jakarta – Guru Besar Teknologi Pertanian IPB University, Dwi Andreas Santosa, menilai pelaksanaan proyek food estate di Indonesia telah mengabaikan sejumlah kaidah akademis yang menjadi dasar keberhasilan pembangunan pertanian.
Menurut Dwi Andreas, terdapat empat aspek utama yang wajib dipenuhi dalam setiap pengembangan kawasan pertanian berskala besar. Keempat aspek tersebut meliputi kesesuaian tanah dan agroklimat, kelayakan infrastruktur, kelayakan budidaya dan teknologi, serta aspek sosial ekonomi.
“Seluruh proyek food estate itu melanggar kaidah akademis. Sederhana saja, empat kaidah akademis,” kata Dwi Andreas di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Jumat (21/8/2026).
Ia menjelaskan, aspek pertama yang harus diperhatikan adalah kesesuaian tanah dan agroklimat. Menurutnya, komoditas yang dikembangkan harus benar-benar sesuai dengan karakteristik tanah dan kondisi iklim di lokasi proyek.
Aspek kedua adalah tata kelola air, irigasi, jalan usaha tani dan infrastruktur pendukung lainnya. Infrastruktur, kata dia, menjadi salah satu faktor penting untuk memastikan kawasan pertanian dapat berproduksi secara optimal dan berkelanjutan.
“Yang kedua, tata kelola air, irigasi dan jalan usaha tani, kan infrastruktur. Kelayakan infrastruktur,” ujarnya.
Selanjutnya, aspek ketiga adalah kelayakan budidaya dan teknologi. Pemerintah perlu memastikan bahwa komoditas yang dipilih memang cocok dikembangkan di kawasan tersebut serta tersedia teknologi pertanian yang sesuai.
“Apakah ada benda yang cocok, ada teknologi untuk pengenalan nama cocok dan sebagainya,” katanya.
Sementara aspek keempat adalah sosial ekonomi. Dwi Andreas menilai faktor masyarakat, kondisi ekonomi, tenaga kerja, hingga keberlanjutan usaha tani tidak dapat dipisahkan dari pembangunan kawasan food estate.
Menurutnya, keempat aspek tersebut harus terpenuhi secara bersamaan. Kegagalan memenuhi salah satu saja dapat membuat keseluruhan proyek berisiko gagal.
“Keempat-empatnya harus ada semua, harus sesuai semua. Satu saja tidak sesuai, jawabannya pasti gagal,” tegasnya.
Dwi Andreas mengaku pandangan tersebut telah berulang kali disampaikannya kepada pemerintah. Ia menyebut dirinya pernah membantu Presiden Joko Widodo dalam tim transisi pada 2014 dan beberapa kali diminta memberikan masukan terkait kebijakan pertanian.
“Dan itu sudah kami sampaikan berkali-kali di pemerintahan. Karena apa pun, saya membantu Jokowi di tim transisi tahun 2014. Beberapa kali periode selama Pak Jokowi, berkali-kali saya diminta masukan oleh beliau,” ungkapnya.
Atas dasar evaluasi akademis tersebut, Dwi Andreas menyatakan pesimistis terhadap proyek food estate yang saat ini kembali digulirkan pemerintah.
“Food estate yang sekarang sedang digulir itu bisa dipastikan gagal,” ujarnya.

