Mantan Direktur E BAIS Prediksi Prabowo Bisa Jatuh

  • Bagikan
Mantan Direktur E Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Brigjen TNI (Purn) Poernomo,

MoneyTalk.id,Jakarta – Mantan Direktur E Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Brigjen TNI (Purn) Poernomo, melontarkan peringatan keras terkait situasi politik dan aksi demonstrasi yang terjadi pada 27 Agustus 2026.

Poernomo menilai terdapat sejumlah kejanggalan dalam dinamika demonstrasi tersebut. Ia menyoroti munculnya teriakan bernada permusuhan terhadap Presiden Prabowo Subianto di tengah massa, namun situasi di lapangan disebutnya tidak berkembang menjadi bentrokan terbuka antara kelompok yang pro dan kontra terhadap Prabowo.

“Suasana di publiknya kok lain. Di 27 Agustus ini satu orang saja teriak, ‘Gantung Prabowo’. Padahal di situ ada orang Prabowo, ada yang anti. Kenapa tidak berantem di lapangan?” kata Poernomo di channel YouTube Forum Keadilan Madilog, Jumat (28/8/2026).

Menurutnya, situasi tersebut patut menjadi perhatian serius. Ia mempertanyakan kemungkinan adanya pihak tertentu yang telah mempersiapkan atau memanfaatkan momentum demonstrasi untuk membenturkan kelompok-kelompok di tengah masyarakat.

Poernomo menyebut informasi mengenai potensi adanya upaya mengadu kelompok demonstran pada momentum 27 Agustus sebenarnya telah disampaikan kepada pihak terkait. Namun, menurutnya, laporan tersebut tidak mendapatkan respons yang cukup serius.

“Ada pihak yang memang merencanakan untuk mengadu demonstran pada momen 27 Agustus. Ini laporan sudah disampaikan. Tetapi si penerima laporan tidak menanggapi secara serius,” ujarnya.

Sebagai mantan pejabat intelijen, Poernomo menekankan pentingnya kemampuan deteksi dini dalam membaca potensi ancaman terhadap stabilitas nasional.

“Mestinya aparat keamanan itu, khususnya intelijen, jarum jatuh harus tahu,” katanya.

Poernomo juga menyinggung kemungkinan adanya pihak atau kelompok tertentu yang berupaya mengumpulkan berbagai persoalan lama di tengah masyarakat, kemudian menjadikannya sebagai bahan untuk menekan pemerintahan Prabowo.

Menurutnya, persoalan-persoalan yang diwariskan dari periode sebelumnya dapat menjadi beban politik serius apabila tidak segera ditangani oleh pemerintahan saat ini.

“Problem-problem masa lalu ini dikumpulkan oleh sesosok dalang, kemudian digunakan untuk 27 Agustus. Kemarahan rakyat ini ditampung oleh orang itu atau kelompok itu untuk menghajar yang sekarang,” ujarnya.

Ia menggambarkan kemungkinan narasi yang dibangun terhadap pemerintahan saat ini adalah ketidakmampuan menyelesaikan persoalan rakyat, meskipun sebagian masalah tersebut berasal dari masa pemerintahan sebelumnya.

“Kamu tidak mampu menyelesaikan masalah rakyat. Padahal itu masalah zaman lalu. Tapi kamu sekarang sebagai penguasa di negeri ini tidak mampu menyelesaikan, jadi kamu turun,” katanya.

Poernomo kemudian mempertanyakan sejauh mana pengawasan dan pemantauan terhadap berbagai aktivitas politik serta kemungkinan munculnya gerakan yang dapat berkembang menjadi tekanan terhadap pemerintahan.

Menurut dia, sebuah mobilisasi massa dalam skala besar tidak mungkin terjadi secara spontan tanpa adanya persiapan sebelumnya.

“Kalau itu tidak disiapkan, cuma malam ini kumpulin orang, ya enggak bisa,” ujarnya.

Poernomo bahkan menyebut dinamika yang muncul saat ini berpotensi menjadi embrio gerakan yang lebih luas apabila pemerintah gagal mengambil langkah politik dan kebijakan yang dinilai berpihak kepada kepentingan rakyat.

“Ini jadi embrio sebuah gerakan nasional,” katanya.

Ia memberikan peringatan kepada Presiden Prabowo agar tidak membiarkan persoalan sosial, ekonomi, dan politik terus menumpuk tanpa adanya keputusan yang dinilai mampu menjawab tuntutan masyarakat.

Poernomo memprediksi posisi pemerintahan Prabowo dapat berada dalam tekanan serius apabila hingga Oktober tidak ada langkah konkret yang dianggap pro-rakyat.

“Kalau sampai Oktober Presiden Prabowo tidak melakukan satu keputusan yang pro-rakyat, Prabowo yang jatuh,” tegasnya.

Lebih jauh, Poernomo mengingatkan agar Presiden Prabowo tidak memikul beban persoalan yang terlalu berat tanpa melakukan langkah korektif.

“Presiden Prabowo jangan memikul beban yang tidak kuat dia pikul. Dia akan jatuh,” pungkas Poernomo.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *