MoneyTalk.id, Jakarta – Polemik mengenai aturan penggunaan hijab bagi mahasiswi di Universitas Pertahanan Republik Indonesia (Unhan RI) kembali menjadi sorotan publik setelah seorang calon kadet mahasiswa Fakultas Kedokteran Militer, Asma Wafa Andina, dikabarkan memilih mengundurkan diri meski telah dinyatakan lolos seleksi.
Keputusan Andina tersebut memunculkan perdebatan mengenai kebijakan pendidikan dan pembinaan kadet di lingkungan perguruan tinggi pertahanan, khususnya menyangkut ketentuan penampilan selama menjalani pendidikan.
Ketua Umum Koordinator Bela Islam (Korlabi), Damai Hari Lubis, menilai keputusan Andina justru harus dilihat sebagai momentum evaluasi bagi Unhan RI.
Menurut Damai, negara membutuhkan lebih banyak generasi perempuan yang memiliki integritas, disiplin, kecintaan terhadap bangsa sekaligus memiliki komitmen keislaman yang kuat.
“Negara justru membutuhkan 1.000 Andina,” kata Damai Hari Lubis, Jumat (21/8/2026).
Ia berpandangan, sosok perempuan seperti Andina tidak semestinya diposisikan sebagai persoalan dalam sistem pendidikan pertahanan. Sebaliknya, menurut dia, perempuan yang memiliki prinsip keagamaan dan keberanian mempertahankan keyakinannya merupakan bagian dari sumber daya manusia yang dapat memperkuat karakter bangsa.
Damai menilai pembentukan sumber daya manusia di lingkungan pertahanan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik, fisik, kedisiplinan dan kemiliteran. Menurutnya, aspek moral, karakter serta ketahanan mental juga penting dalam membentuk calon-calon pemimpin pertahanan negara.
“Justru negara membutuhkan sosok-sosok perempuan yang Islami sejak pra-perkuliahan,” ujarnya.
Ia mengatakan nilai-nilai keagamaan dapat menjadi salah satu faktor yang memperkuat ketahanan moral generasi muda di tengah perubahan sosial dan budaya yang berlangsung cepat.
Dalam pandangannya, pendidikan pertahanan perlu memiliki keseimbangan antara profesionalisme militer, wawasan kebangsaan, nilai Pancasila dan pembentukan karakter.
Damai bahkan mengaitkan persoalan tersebut dengan tantangan globalisasi yang menurutnya dapat membawa perubahan terhadap mentalitas dan moralitas generasi muda.
Ia menyebut pentingnya mempertahankan karakter kebangsaan agar generasi muda tidak kehilangan pijakan terhadap nilai-nilai yang dianggap menjadi identitas bangsa Indonesia.
“Dalam rangka mempertahankan TNI yang kuat, harus ada faktor penyeimbang terhadap kerusakan mentalitas dan moralitas akibat agitasi globalisasi peradaban modern yang jauh dari budaya Pancasilaisme,” kata Damai.
Damai juga menilai keputusan Asma Wafa Andina untuk mundur dapat dipandang sebagai bentuk konsistensi terhadap prinsip yang diyakininya.
Bagi Korlabi, pilihan tersebut bukan semata-mata persoalan pakaian, melainkan menyangkut ruang bagi seseorang untuk mempertahankan keyakinan keagamaannya ketika memasuki institusi pendidikan negara.
“Menolak anti-Pancasilaisme sudah diperlihatkan oleh Andina,” ujarnya.
Menurut Damai, keberanian mempertahankan prinsip tidak otomatis bertentangan dengan nasionalisme. Sebaliknya, ia menilai kecintaan terhadap bangsa dan agama dapat berjalan beriringan selama tetap berada dalam koridor hukum dan konstitusi.
Karena itu, ia berharap polemik yang muncul tidak berhenti pada perdebatan antara pihak yang pro dan kontra terhadap keputusan Andina.
Damai meminta Unhan RI menjadikan persoalan tersebut sebagai bahan evaluasi terhadap kebijakan internal, terutama jika aturan yang diterapkan menimbulkan persoalan di tengah masyarakat.
“Mudah-mudahan mundurnya Asma Wafa Andinao menjadi evaluasi dan korektif bagi Unhan,” katanya.
Kasus tersebut sebelumnya menjadi perhatian publik setelah muncul informasi mengenai calon kadet mahasiswi yang mengundurkan diri usai dinyatakan lolos di Fakultas Kedokteran Militer Unhan RI.
Polemik kemudian berkembang karena adanya klaim bahwa mahasiswi diwajibkan melepas hijab selama menjalani masa pendidikan.
Informasi tersebut memicu pertanyaan publik mengenai dasar kebijakan, ruang kebebasan beragama, serta bagaimana penerapan aturan kedisiplinan dan keseragaman di lingkungan pendidikan pertahanan.
Hingga persoalan tersebut memperoleh penjelasan yang komprehensif dari pihak terkait, berbagai pandangan pun bermunculan.
Bagi Korlabi, persoalan ini harus ditempatkan dalam kerangka yang lebih luas: bagaimana institusi pendidikan pertahanan membentuk generasi yang profesional sekaligus memiliki karakter kebangsaan dan moral yang kuat.
Damai menegaskan bahwa negara membutuhkan generasi muda yang berani, disiplin dan memiliki prinsip.
Dalam konteks itu, ia melihat keputusan Andina sebagai sebuah pesan yang patut diperhatikan oleh pengelola pendidikan pertahanan.
Polemik hijab di Unhan pun pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai selembar kain yang dikenakan seorang mahasiswi. Perdebatan tersebut berkembang menjadi pertanyaan yang lebih mendasar tentang bagaimana negara mendefinisikan disiplin, keberagaman, kebebasan menjalankan keyakinan dan pembentukan karakter calon pemimpin pertahanan.

