MoneyTalk, Jakarta – Fenomena maraknya spanduk ucapan Idulfitri 1447 Hijriah yang hanya menampilkan Presiden Prabowo Subianto tanpa menyertakan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka memicu spekulasi politik yang kian menguat.
Pemerhati politik dan sosial Farid Idris menilai, absennya sosok wapres dalam berbagai materi publik tersebut mencerminkan adanya perubahan dinamika hubungan di lingkar kekuasaan.
“Spanduk-spanduk itu bukan sekadar ucapan hari raya. Itu adalah simbol. Ketika hanya menampilkan Presiden tanpa Wakil Presiden, publik bisa membaca adanya jarak politik,” ujar Farid dalam keterangannya, Senin (30/3/2026).
Dalam kajian komunikasi politik, simbol visual seperti baliho dan spanduk sering digunakan untuk menyampaikan pesan yang tidak diucapkan secara langsung. Menurut Farid, penghilangan figur Gibran dari ruang-ruang visual publik dapat diartikan sebagai upaya membangun narasi tunggal kepemimpinan di bawah Prabowo.
Ia menilai, langkah ini juga bisa menjadi bagian dari strategi jangka panjang menjelang kontestasi politik berikutnya, terutama menuju Pemilihan Presiden 2029.
“Ini bisa dibaca sebagai positioning. Bahwa ke depan, Prabowo ingin tampil sebagai figur sentral tanpa bayang-bayang politik dari wakilnya,” katanya.
Lebih jauh, Farid mengaitkan fenomena ini dengan relasi politik antara Prabowo dan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi), yang juga merupakan ayah dari Gibran. Menurutnya, Prabowo berada dalam posisi yang tidak mudah: menjaga keseimbangan antara stabilitas politik dan potensi kompetisi kekuasaan di masa depan.
“Prabowo tidak akan frontal terhadap Jokowi. Ia paham betul bahwa Jokowi masih memiliki basis dukungan yang kuat, baik dari sisi elektabilitas maupun jaringan relawan yang militan,” jelasnya.
Namun di sisi lain, ia menilai Prabowo juga mulai membaca potensi ancaman politik dari figur-figur yang memiliki ambisi kekuasaan jangka panjang.
Terkait Pilpres 2029, Farid memperkirakan kemungkinan besar Prabowo tidak akan kembali menggandeng Gibran sebagai pasangan politik. Menurutnya, konfigurasi politik ke depan akan sangat dipengaruhi oleh kalkulasi kekuatan, loyalitas, dan kepentingan jangka panjang.
“Dalam politik, tidak ada yang abadi selain kepentingan. Jika memang ada perbedaan visi atau kekhawatiran terhadap potensi manuver politik, sangat mungkin Prabowo akan mencari pasangan lain,” ujarnya.
Ia juga menambahkan, dinamika ini akan sangat bergantung pada perkembangan situasi nasional, termasuk stabilitas ekonomi, keamanan, serta hubungan elite politik.





