MoneyTalk, Jakarta – Managing Director PEPS (Political Economy and Policy Studies), Anthony Budiawan, menilai narasi bahwa Indonesia memiliki kondisi keuangan yang kuat tidak sejalan dengan realitas yang tercermin dalam neraca pembayaran nasional.
Dalam rilis yang diterima pada 7/6/2026, Anthony Budiawan menyatakan bahwa neraca pembayaran Indonesia mengalami defisit berkelanjutan sehingga pemerintah, termasuk Bank Indonesia, harus terus menarik utang untuk menutup kekurangan tersebut.
Menurut Anthony Budiawan, cadangan devisa Indonesia saat ini dibangun di atas kewajiban utang luar negeri yang sangat besar. Ia menyebut jumlah utang luar negeri Indonesia telah mencapai lebih dari 430 miliar dolar AS, sementara cadangan devisa per April 2026 tercatat sebesar 146,2 miliar dolar AS.
“Cadangan devisa dibangun di atas tumpukan kewajiban utang luar negeri. Jumlah utang luar negeri mencapai lebih dari 430 miliar dolar AS. Sedangkan cadangan devisa per April 2026 hanya 146,2 miliar dolar AS,” ujar Anthony Budiawan.
Ia menilai sebagian besar utang luar negeri tersebut telah digunakan untuk membiayai defisit transaksi berjalan sehingga tidak sepenuhnya mencerminkan kekuatan ekonomi nasional.
Anthony Budiawan juga menyoroti dampak ketidakpastian global terhadap stabilitas rupiah. Menurutnya, konflik Iran yang sedang berlangsung telah mendorong investor dan kreditor asing memindahkan dana mereka ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman di luar negeri.
Akibatnya, kata dia, tekanan terhadap nilai tukar rupiah semakin besar. Situasi tersebut dinilai dapat memburuk apabila di saat bersamaan pemerintah mengeluarkan kebijakan yang dianggap tidak memiliki dasar yang kuat dan dilakukan secara mendadak.
“Hal ini membuat investor tambah takut, capital outflow bertambah deras. Kurs rupiah semakin anjlok,” kata Anthony Budiawan.
Ia juga mengkritik narasi yang menyebut Indonesia memiliki banyak uang. Menurutnya, para investor dapat dengan mudah melihat kondisi fiskal dan transaksi berjalan yang sama-sama mengalami defisit.
“Fiskal defisit, transaksi berjalan defisit. Jadi, uang dari mana kalau bukan dari utang,” ujarnya.
Dalam kondisi tersebut, Anthony Budiawan menilai pemerintah saat ini tengah berupaya keras menjual surat utang untuk memperkuat cadangan devisa yang disebut telah turun sebesar 10,3 miliar dolar AS selama empat bulan pertama tahun 2026.
Ia menyoroti langkah Menteri Keuangan beserta tim yang akan melakukan promosi surat utang Indonesia ke China dan Inggris.
Mengutip pepatah lama “kejarlah ilmu sampai ke negeri Cina”, Anthony Budiawan menyindir kondisi saat ini dengan menyatakan bahwa yang berlaku sekarang adalah “kejarlah utang sampai ke China, sampai ke negeri seberang”.
Anthony Budiawan juga mengingatkan publik pada pernyataan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Purbaya Yudhi Sadewa, yang sebelumnya menyebut Indonesia menolak tawaran pinjaman dari sejumlah institusi keuangan global dengan nilai mencapai 25 hingga 30 miliar dolar AS.
Namun demikian, menurut Anthony Budiawan, dalam waktu yang relatif singkat pemerintah justru kini aktif mencari pendanaan dari luar negeri.
“Publik pun mulai teringat kembali pernyataan Menteri Keuangan beberapa waktu yang lalu. Indonesia menolak tawaran utang dari institusi keuangan global. Jumlahnya mencapai 25-30 miliar dolar AS. Tetapi, dalam waktu sekejap, pemerintah sekarang malah mencari utang ke manca negara. Ironis. Ada apa?” ujar Anthony Budiawan.
Ia mempertanyakan apakah benar institusi keuangan global tersebut pernah menawarkan pinjaman kepada Indonesia dalam pertemuan di Washington DC sebagaimana yang pernah disampaikan sebelumnya.
Meski demikian, Anthony Budiawan menegaskan bahwa yang lebih penting adalah mencermati perkembangan ekonomi ke depan. Ia pun menyampaikan harapan agar upaya pemerintah dalam mempromosikan surat utang Indonesia di luar negeri dapat berjalan sesuai target.
“Publik mengucapkan selamat bekerja, semoga berhasil menjajakan surat utang di negeri seberang,” tutup Anthony Budiawan.





