Corong Alus Merehabilitasi Jokowi?

  • Bagikan

MoneyTalk.id,Jakarta – Tugas jurnalisme adalah “menyenangkan orang susah dan menyusahkan orang senang” (comfort the afflicted and afflict the comfortable). Ketika jurnalisme memberi panggung kepada politikus bermasalah untuk menata kembali citranya, maka jurnalisme berubah menjadi corong. Wawancara digelar untuk memberi panggung kepada si politikus untuk membangun kembali narasinya. Wawancara eksklusif Bocor Alus (Bocal) dengan Jokowi, lebih mirip audiensi, upaya merehabilitasi politikus yang sudah “Ancang-Ancang Bermanuver untuk Pemilu 2029”.

Bocal menyebut wawancara eksklusif dengan Jokowi berlangsung dalam dua pertemuan, 22 Juli dan 11 Agustus 2026. Bocal dikenal kritis terhadap Jokowi, namun entah kenapa hasil wawancara dengan Jokowi tidak menunjukkan kenakalannya dalam membocorkan Informasi. Justru sengaja menyembunyikannya, dalam wawancara pertama yang off the record.

Yang dibocorkan cuma wawancara _on the record_ hambar dan membosankan. Terkesan memberikan panggung, corong, bagi Jokowi untuk menjelaskan persepsi dan posisi dirinya. Para jurnalis Bocal kehilangan daya kritis-nakalnya, wawancara menjadi sekedar percakapan ringan (soft talk, alih-alih hard talk), Memberi Jokowi keleluasaan untuk berbicara relatif tanpa sanggahan, dan kesempatan menata ulang bingkai cerita tentang dirinya.

Bocal tidak menempatkan Jokowi sebagai mantan presiden yang harus mempertanggungjawabkan kebijakan dan perilakunya saat berkuasa. Melainkan sebagai politikus yang leluasa menjelaskan berbagai kontroversi dan skandal versi dirinya. Skandal pencalonan Gibran, intervensi pada Mahkamah Konstitusi, Pelemahan KPK, proyek PSN dan IKN, ambisi dinasti politik, PSI, rekonsiliasi dengan Prabowo, hingga cawe-cawe Pemilu 2024, tidak tereksplorasi dengan baik. Problem wawancara Bocal kali ini bukan mengedepankan bocoran jurnalistik, tapi memfasilitasi Jokowi untuk bertutur.

Bocal yang biasanya nakal menjadi takzim terhanyut mengikuti gaya komunikasi _simple-minded_ Jokowi. Soal dinasti politik, Jokowi membantah praktek manipulasi kekuasaan ini dengan menyatakan tidak ada “surat sakti”. Soal pencalonan Gibran sebagai wapres, cuma soal “Prabowo yang duluan minta”. Soal intervensi terhadap MK, “Saya tidak pernah memberikan perintah langsung.” Berbagai jawaban ngasal dan non-argumentatif Jokowi ini menyihir Bocal. Sehingga tidak merasa perlu mengongrontasi dan menguji klaim-klaim banal ini.

Pertanyaan, “apakah bapak membangun dinasti politik?” Pasti dijawab “Tidak.” Ini seperti bertanya pada pencuri, apakah anda mencuri? Politik kekuasaan bekerja melalui jaringan, loyalitas, kedekatan, kepentingan, uang, insentif jabatan atau tekanan. Bocal tidak sadar memberi ruang rehabilitasi untuk Jokowi,

Wawancara Bocal memunculkan kesan “Jokowi masih orang yang sama seperti dulu”. Sederhana, merakyat, cengengesan. Bukan politikus ambisius yang kecanduan kekuasaan. Sebuah orkestrasi restorasi persepsi, sengaja atau tidak, dilakukan Bocal. Mengingatkan cover laporan utama majalah Tempo, edisi Oktober 2014, Jokowi sebagai “tukang kayu” dengan slogan: kerja, kerja, kerja.

Beberapa tahun setelah cover “tukang kayu” itu, Jokowi jelas banyak berubah. Ia bermetamorfosa menjadi “Leviathan” politik di Indonesia, dengan syahwat kuasa, kuasa, kuasa. Ia defacto adalah mantan presiden dua periode; ayah wakil presiden; ayah ketua partai politik, mertua gubernur. Jaringan politiknya di kepolisian, kejaksaan, Parpol dan birokrasi masih solid. Ia berambisi menyusun konfigurasi politik menuju 2029, sebagaimana ia sukses dengan proyek keberlanjutan pada 2024. Ia tanpa etika dan rasa malu menggelar safari politik untuk berkampanye, tiga tahun sebelum Pemilu.

Ditengah kegaduhan politik akibat kontroversi proyek pemerintah dan Prabowo sering “salah omon-omon”, Bocal mengemas wawancara podcast dengan judul “Manuver Politik dari Solo”. Dilengkapi laporan utama majalah Tempo “Ancang-ancang Jokowi”. Wawancara Bocal dan cover story Tempo seolah menjadi orkestrasi untuk mengembalikan Jokowi ke persepsi yang ia inginkan.

Sedikitnya, di tengah berbagai problem kenegaraan, Bocal dan Tempo ikut menentukan siapa yang dianggap penting dalam realitas politik hari-hari ini. Seorang politikus ditempatkan di sampul majalah, diwawancarai secara eksklusif, dan diberi ruang untuk berbicara, Bocal dan Tempo sedang melakukan apa yang dalam studi komunikasi dinamai agenda setting. Apa dan siapa yang layak dipikirkan dan diperhatikan publik.

Bocal dan Tempo mengajak publik memikirkan: Jokowi dan pilpres 2029, secara prematur. Seolah-olah Ia cuma aktor politik yang “ancang-ancang bermanuver” untuk Pemilu 2029. Bukannya mantan presiden kontroversial, penuh skandal, yang layak dibongkar sepak terjang politiknya, termasuk kontroversi ijazahnya.

Bocal dan Tempo dikenal sebagai media yang keras mengkritik berbagai aspek penyalahgunaan kekuasaan Jokowi. Namun diwawancara kali ini Bocal menghadirkan Jokowi sebagai sosok politikus generik, yang siap ancang-ancang dan bermanuver politik. Publik tentu tidak menuntut Bocal dan Tempo lantang menyerang Jokowi. Jurnalisme tidak membutuhkan amarah, tapi memerlukan disiplin epistemik, untuk tidak menerima begitu saja narasi dan retorika politikus bermasalah.

Bocal dari “Bocor Alus” menjadi “Corong Alus”. Alih-alih membocorkan info dan intrik politik kekuasaan. justru memberikan corong mikrofon agar Jokowi bisa ngomong sesukanya tanpa dikonfrontir, demi menarik atensi dan simpati. Pertanyaan yang menggelayut, mengapa Jokowi sekarang membuka pintu untuk Bocal (Tempo)? Dan mengapa perlu dua kali sesi wawancara, off dan on the record?

Dan untuk apa pula aksi-aksi promosi, spoiler, via medsos. Tim Bocal Tempo datang dengan suka cita, berkunjung ke rumah Jokowi, seperti para termul datang untuk memuja junjungannya? Apa yang diperoleh publik dari wawancara dan aksi promos itu? Dan apa yang diperoleh Jokowi dari wawancara itu? Tidak ada info bocoran apapun yang menarik, selain tumpahan ucapan Jokowi. Ini bukan wawancara investigatif untuk membongkar sesuatu yang disembunyikan Jokowi. Ini audiensi.

Jokowi dulu dipromosikan Tempo, saat bertarung di Pemilu 2014, dengan misi mencegah Prabowo berkuasa. Kini misi dan agenda apa yang ditawarkan Tempo? Alih-alih membongkar berbagai manipulasi era kekuasaannya, justru menyediakan waktu dan halaman untuk Jokowi merehabilitasi persepsi. Mengubah jurnalisme dari ruang interogasi pada manipulasi, menjadi panggung rehabilitasi. Menjadi Corong Alus Jokowi.

Penulis : Lukas Luwarso

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *