Tetangga Jokowi Bongkar Tembok Ratapan Solo: Ada yang Digiring Naik Bus hingga Dapat Amplop

  • Bagikan

MoneyTalk.id,Jakarta – Fenomena rumah Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) di Solo yang dijuluki “Tembok Ratapan Solo” kembali menjadi sorotan. Kali ini, seorang warga yang mengaku sebagai tetangga Jokowi, Wuri Baret, mempertanyakan fenomena kedatangan masyarakat ke kediaman Jokowi di kawasan Sumber, Solo.

Wuri Baret mengungkapkan pengamatannya mengenai rombongan warga yang datang ke kawasan rumah Jokowi. Ia bahkan menyebut adanya warga yang sebelumnya berada di sebuah masjid di Solo kemudian dibawa menggunakan bus menuju kediaman Jokowi.

Menurut Wuri, informasi tersebut juga diperolehnya dari pengalaman saudaranya yang pernah datang ke Masjid Sheikh Zayed. Ia mengatakan, dari lokasi tersebut saudaranya melihat adanya rombongan yang kemudian diarahkan dan dibawa menggunakan bus.

“Saudara saya ke sana itu merasa dari sana di Masjid Sheikh Zayed kayak semacam digiring, dikoordinasi, dibawa naik bis. Bisnya itu langsung menuju ke rumahnya Bapak Jokowi,” kata Wuri di channel YouTube Refly Harun, Kamis (17/9/2026).

Wuri mengaku dirinya cukup sering melintas di kawasan Sumber. Menurut pengamatannya, ia beberapa kali melihat rombongan masyarakat datang ke sekitar kediaman Jokowi.

Ia mengatakan para pengunjung tersebut disebut berasal dari berbagai daerah, termasuk dari luar Solo dan sejumlah wilayah di Pulau Jawa.

“Yang saya lihat seminggu tiga kali, kadang saya jalan di daerah Sumber dan melihat bahwasanya di sana itu memang ada orang-orang dari Masjid Sheikh Zayed yang terkenal di Solo,” ujarnya.

Wuri kemudian mengaitkan fenomena tersebut dengan munculnya istilah “Tembok Ratapan Solo” yang sempat viral di media sosial.

Istilah tersebut memang pernah digunakan warganet untuk menyebut kediaman Jokowi di Jalan Kutai Utara, Kelurahan Sumber, Kecamatan Banjarsari, Surakarta. Pada Februari 2026, rumah Jokowi sempat muncul dengan label “Tembok Ratapan Solo” di Google Maps dan menjadi perbincangan luas di media sosial.

Ajudan Jokowi, AKBP Syarif Fitriansyah, saat itu mengatakan rumah tersebut merupakan kediaman pribadi Jokowi dan bukan tempat wisata. Ia juga menyebut tidak ada pembatasan khusus bagi masyarakat yang datang, meski mengimbau agar warga tidak melakukan aksi seperti “meratap” di depan rumah.

Menurut Wuri, istilah “Tembok Ratapan Solo” kemudian menjadi kiasan terhadap masyarakat yang datang ke rumah Jokowi.

Ia mengaku mendengar adanya pengunjung yang memperoleh kaus dan amplop setelah datang ke lokasi tersebut. Namun, Wuri menegaskan dirinya tidak mengetahui secara pasti isi amplop maupun siapa yang memberikan.

“Ada yang bilang bahwasanya di sana mendapatkan kaos berikut amplopan. Saya enggak tahu amplopannya itu isinya berapa ribu. Saya kurang tahu. Ada yang bilang 50, ada yang bilang 100,” ujarnya.

Wuri menyampaikan pernyataan tersebut sebagai informasi yang ia dengar, bukan sebagai sesuatu yang menurutnya telah ia saksikan sendiri.

Ia juga mempertanyakan narasi mengenai banyaknya masyarakat yang disebut masih datang ke rumah Jokowi karena kecintaan dan dukungan terhadap mantan presiden tersebut.

Wuri mengaku pernah mendengar pernyataan Andi Aswan dalam sebuah podcast yang menyebut jumlah orang yang datang ke rumah Jokowi dapat mencapai sekitar 500 orang dalam sehari.

Namun, sebagai warga yang tinggal di Solo, Wuri mengaku memiliki pengamatan berbeda.

“Padahal jujur saya yang dari Solo melihat bahwasanya saya tuh hal seperti itu saya lihat sepertinya kok enggak ada 500 orang,” sambungnya.

Wuri kemudian mempertanyakan apakah keramaian di rumah Jokowi tersebut sepenuhnya menggambarkan dukungan spontan masyarakat atau terdapat pengorganisasian rombongan.

“Karena hal-hal seperti itu juga diambil dari Masjid Sheikh Zayed itu orang dikoordinir, sebetulnya dia enggak tahu arahnya ke mana,” katanya.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *