MoneyTalk, Jakarta – Pengamat KUHP yang juga merupakan Koordinator TPUA mengatakan setelah Kasmujo menyangkal menjadi dosen pembimbing Jokowi, karena pada tahun 1985 dirinya masih asdos dan Jokowi pun akhirnya meralat Kasmudjo bukan dosen pembimbing namun pembimbing akademik? Adakah SK penunjukan pembimbing akademik dari UGM?
“Setelah terkuak pengakuan Kasmujo sebagai dosen pembimbing Jokowi dan ia menyatakan tahun 1985 masih sebagai asdos sehingga belum bisa menjadi asdos pembimbing skripsi mahasiswa. Pada akhirnya Jokowi melakukan meralat pernyataan bahwa Kasmudjo sebagai dosen pembimbingnya,”
“Dalam ralatnya Jokowi menyatakan Kasmudjo pembimbing akademik. Pertanyaannya adakah SK penunjukan pembimbing akademik dari UGM?,” imbuh Damai Lubis dengan pertanyaan tajam.
“Jokowi anggap publik, bangsa ini bodoh semuanya. Sebutkan saja siapa dosen pembimbing sebenarnya saat itu?,” tambahnya.
Damai Lubis menilai wajar Jokowi menyebut nama dosen pembimbingnya siapa. Dia sebut Kasmudjo yang bukan dosen pembimbingnya Jokowi ucapkan terima kasih? Ini tidak wajar apakah Jokowi mengalami alogia? Jika tidak ini kategori perilaku tidak beradab, setidaknya tidak menaruh hormat kepada dosen pembimbing yang sebenarnya.
“Kok Kasmudjo yang bukan dosen pembimbingnya skripsi Jokowi, Jokowi ucapkan terimakasih ke Kasmudjo. Jokowi alami alogia?,” sindirnya heran.
Menurut Damai Lubis adalah bijak jika Jokowi ucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing sebenarnya.
“Ataukah memang tanpa dosen pembimbing dalam pembuatan skripsi? Sehingga bingung untuk menyebut nama dosen pembimbing asli dirinya? Atau lupa namanya?,” tanyanya dengan meragukan.
Jokowi harus menyadari hal-hal yang tak wajar seperti yang demikian, membuat publik semakin meyakini bahwa Jokowi adalah sarjana S-1 Palsu atau Pengguna Ijazah Palsu.
“Terlebih saat ini ada info booming “ijazah Jokowi dibuat di jalan Pramuka Matraman?”,” ungkapnya.
Di akhir keterangannya Damai Lubis menegaskan hendaknya Penyidik Bareskrim dan Penyidik Reskrimum segera bersikap untuk mengevaluasi hasil penelitian Ijasah Jokowi dan perbandingan Ijazah dari menggunakan pola alami kasat mata, beralih serius ke metode modern scientific (analisis ilmiah), uji kembali menggunakan laboratorium forensik digital berikut para ahli IT independen, termasuk menginvestigasi ulang terhadap pihak rektorat dan dekanat UGM dan para pemilik ijasah pembanding yang mengaku teman kuliah Jokowi di UGM.





