MoneyTalk, Jakarta – Guru Besar Ilmu Komunikasi Henri Subiakto melontarkan peringatan serius kepada pemerintahan Prabowo Subianto terkait sorotan media internasional ternama The Economist terhadap kondisi Indonesia saat ini.
Menurut Henri, The Economist bukan media sembarangan. Media asal London yang didirikan oleh James Wilson pada tahun 1843 itu telah berusia lebih dari 180 tahun dan dikenal luas sebagai salah satu media paling berpengaruh di dunia dalam bidang ekonomi, politik, dan hubungan internasional.
“Selama hampir dua abad, The Economist mempertahankan reputasi sebagai suara intelektual yang independen dan berpengaruh di kalangan elite bisnis, politisi, dan akademisi dunia,” ujar Henri Subiakto dalam keterangannya, Selasa (19/5/2026).
Henri menegaskan, banyak ilmuwan dan pengamat internasional mengakui kekuatan The Economist dalam international reporting yang berbasis data dan analisis mendalam. Meski demikian, ia juga mengakui ada kritik terhadap gaya editorial media tersebut yang kadang dianggap terlalu percaya diri dalam mengambil kesimpulan.
Namun secara keseluruhan, kata Henri, kredibilitas The Economist tetap diakui secara global. Karena itu, ia menilai pemerintah Indonesia tidak boleh menutup mata terhadap berbagai kritik dan peringatan yang disampaikan media internasional bereputasi tinggi tersebut.
“Kalau Indonesia mengabaikan peringatan institusi media kredibel ini, jelas itu merupakan sikap ketidakpekaan dan ketidakcerdasan berpikir,” tegasnya.
Henri juga membagikan pengalaman pribadinya saat memperoleh beasiswa British Chevening pada tahun 2000. Dalam kesempatan itu, ia pernah diundang langsung ke kantor pusat The Economist di London.
“Alhamdulillah waktu mendapat British Chevening saya pernah diundang ke kantor The Economist di pusat kota London. Mereka memang sangat profesional dan berbasis data objektif dalam membuat liputan,” ungkapnya.





