MoneyTalk, Jakarta – Kritik tajam terhadap program Makan Bergizi (MBG) Presiden Prabowo beredar di grup WhatsApp, ditulis oleh seorang guru SMPN 1 Rambah, Andrimar, S.Pd., M.Pd., CPS. Dalam tulisannya, Andrimar menyampaikan keluhan mendalam atas beban yang dialami para guru akibat pelaksanaan program tersebut.
Andrimar menyoroti data yang beredar bahwa program MBG merekrut 290.000 tenaga kerja dan 44% dananya diambil dari alokasi dana pendidikan yang bersumber dari 20% APBN. “Dulu kabarnya bernama Makan Siang Gratis, sekarang menjadi Makan Bergizi. Saya tak mau menyebut ‘gratis’ pak, karena makanan itu dari dana pendidikan yang sejatinya bisa meningkatkan profesionalisme dan kesejahteraan guru,” tulisnya, Sabtu (27/9/2025).
Menurut Andrimar, para guru dipaksa menjadi pelaksana lapangan tanpa imbalan. “Kami bertugas membagikan makanan, mengumpulkan kembali, menghitung, dan mengembalikan rantang kepada pemasok. Kami TIDAK DIBAYAR,” ungkapnya.
Ia juga menyesalkan aturan yang mewajibkan guru mengganti rantang yang hilang, bahkan mencicipi makanan sebelum diberikan kepada siswa. “Jadi kami guru ini dijadikan apa? Tumbal racun atau tikus labor?” sindirnya.
Andrimar mendesak Presiden Prabowo untuk meninjau kembali program tersebut. “Perbaiki saja ekonomi negara ini, sejahterakan masyarakat, maka makan harian anak-anak mereka akan terpenuhi, tak perlu bapak yang menyediakan. Saya khawatir nasinya, sayurnya, ikannya, nyangkut di kantong-kantong rekanan bapak,” tulisnya.
Ia juga mengungkap keluhan siswa terhadap cita rasa menu MBG. “Anak-anak banyak yang tak suka makanan yang bapak suguhkan, tak bercabai, tak bersantan, tak berasa, dan kata anak-anak tak enak. Bertambah lagi kerja kami memujuk anak-anak agar mau makan,” pungkasnya.





