MoneyTalk, Jakarta – Program Makan Siang Gratis (MBG) yang dicanangkan Presiden Prabowo sejak awal digadang-gadang sebagai terobosan populis untuk menyehatkan anak-anak bangsa. Gagasan ini mulia: tidak boleh ada anak Indonesia yang belajar dalam keadaan lapar. Namun sembilan bulan pelaksanaannya justru memunculkan sederet persoalan serius.
Dalam artikel opini yang ditulis M. Isa Ansori, kolumnis sekaligus pengurus Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jatim, terungkap berbagai masalah di lapangan: makanan basi, kasus keracunan massal, distribusi amburadul, guru terbebani tugas tambahan, hingga praktik rente oleh pemodal dan elite politik. “Program yang seharusnya melindungi anak justru berpotensi mencederai hak dasar mereka: hak atas makanan sehat dan perlindungan dari bahaya,” tulisnya, Sabtu (27/9/2025).
Ansori menyoroti pernyataan Kepala Badan Gizi Nasional yang menyebut “kasus keracunan MBG masih dalam batas wajar”. Pernyataan itu dinilai berbahaya karena seolah menganggap ribuan anak yang muntah, mencret, hingga pingsan hanya sebagai statistik normal. “Apakah perut anak sekolah pantas dijadikan laboratorium probabilitas?” kritiknya.
Ia membandingkan MBG dengan program serupa di Finlandia, Swedia, Jepang, India, Brasil, hingga Amerika Serikat yang sukses karena memiliki standar gizi jelas, sistem transparan, serta melibatkan komunitas lokal. Menurutnya, kunci keberhasilan bukan sekadar menyediakan makanan gratis, tetapi membangun sistem terintegrasi lintas sektor.
Ansori mendesak pemerintah segera mengubah MBG dari proyek anggaran menjadi kebijakan perlindungan anak berbasis hak. Tiga langkah yang diusulkan yakni standarisasi gizi dan keamanan pangan dengan pengawasan ketat, model distribusi partisipatif yang melibatkan orang tua dan komunitas, serta evaluasi berbasis data dan dampak gizi.
“Selama tujuan utama masih sebatas menyalurkan anggaran, MBG akan tetap melahirkan ironi. Anak-anak menjadi korban, sementara elite politik dan kroni bisnis kenyang menikmati rente,” tegasnya.
Ia menutup dengan peringatan bahwa tanpa koreksi fundamental, MBG berpotensi tercatat bukan sebagai program gizi, melainkan “Makan Buang-buang Gelontoran anggaran”, di mana anak-anak justru menjadi korban eksperimen.





