MoneyTalk, Jakarta – Guru Besar Ilmu Komunikasi dari Universitas Airlangga, Hendri Subiakto, menyampaikan pandangannya terkait perbandingan kondisi kesejahteraan antara Iran dan Indonesia. Pernyataan tersebut menyoroti bagaimana Iran dinilai mampu bertahan dan bahkan berkembang meski menghadapi embargo panjang dari Barat.
Menurut Hendri, selama lebih dari empat dekade sejak Revolusi Iran 1979, Iran hidup di bawah tekanan embargo ekonomi. Namun demikian, ia menilai kondisi kehidupan masyarakat di negara tersebut relatif tetap stabil dan terjangkau.
“Iran bisa bertahan karena pemerintahnya dinilai cerdas dalam mengelola negara, tidak korup, serta mampu memaksimalkan kekayaan nasional untuk kesejahteraan rakyat,” ujarnya, Jumat (3/4/2026).
Ia juga menambahkan bahwa budaya kemandirian menjadi kunci utama. Ketergantungan terhadap kekuatan asing seperti Amerika Serikat dan negara Barat dianggap minim, sehingga Iran terdorong untuk mengembangkan inovasi di berbagai sektor, termasuk ekonomi dan layanan publik.
Bahkan dalam situasi konflik, lanjut Hendri, sistem pelayanan publik di Iran dinilai tetap berjalan relatif baik dan tidak mengalami gangguan signifikan.
Di sisi lain, Hendri membandingkan kondisi tersebut dengan Indonesia. Menurutnya, sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah dan tanah yang subur, Indonesia seharusnya memiliki tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi.
Namun, ia menyoroti adanya sejumlah persoalan mendasar, mulai dari ketimpangan sosial hingga karakter bangsa yang dinilai belum sepenuhnya mandiri. Ia menyebut masih adanya kecenderungan ketergantungan terhadap pihak asing serta sikap yang dianggap kurang percaya diri dalam mengelola potensi sendiri.
“Padahal Indonesia memiliki kekayaan alam yang jauh lebih besar. Tapi jika mentalitas dan tata kelola belum berubah, potensi tersebut tidak akan maksimal,” tegasnya.

