MoneyTalk, Jakarta – Di banyak sekolah, pelajaran olahraga masih identik dengan instruksi lisan dari guru, barisan siswa di lapangan, lalu penilaian yang sering bergantung pada pengamatan mata manusia. Seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK) harus menilai puluhan siswa dalam waktu yang terbatas, sementara setiap gerakan—mulai dari cara berlari, menendang, melompat, hingga melempar—memiliki teknik yang menentukan efektivitas sekaligus keselamatan.
Di tengah tantangan itu, seorang mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekkreasi (PJKR) Universitas Muhammadiyah Indonesia (UM Indonesia), Vicko Valentino, menghadirkan sebuah terobosan yang menghubungkan dunia olahraga dengan kecerdasan buatan.
Mahasiswa dengan NIM 41182191230059 itu menciptakan SMART-MOTION, sebuah inovasi berbasis artificial intelligence (AI) motion capture yang mampu menganalisis serta menilai gerakan olahraga siswa secara objektif dan real-time hanya melalui kamera smartphone.
Inovasi ini bukan hanyanmengantarkannya menjadi perhatian di lingkungan kampus, tetapi juga membawanya meraih Juara 1 Pemilihan Mahasiswa Berprestasi (Pilmapres) tingkat Universitas UM Indonesia tahun 2026.
Bagi Vicko, kemenangan itu bukanlah hasil instan. Ia merupakan buah dari proses panjang, kegigihan, dan keyakinan bahwa teknologi dapat menjadi jembatan untuk memperbaiki kualitas pendidikan jasmani di Indonesia.
“Inovasi saya bernama Smart-Motion, yaitu teknologi berbasis AI motion capture yang digunakan untuk menganalisis gerakan olahraga. Fokusnya di bidang biomekanika, jadi sistem ini bisa membantu melihat apakah teknik gerakan yang kita lakukan sudah benar atau belum,” ujar Vicko, Kamis (23/4/2026).
Ketertarikan Vicko terhadap olahraga tidak berhenti pada aktivitas fisik semata. Ia melihat bahwa pendidikan jasmani memiliki ruang besar untuk berkembang melalui pendekatan ilmiah dan teknologi.
Selama ini, banyak siswa belajar gerakan olahraga dengan metode meniru. Guru memperagakan, siswa mengikuti. Namun tidak semua gerakan yang ditiru benar secara teknik. Kesalahan kecil dalam posisi lutut saat melompat, sudut siku saat melempar, atau tumpuan kaki saat berlari dapat berdampak pada performa bahkan risiko cedera.
Ia mempelajari biomekanika—ilmu yang mengkaji gerakan tubuh manusia secara ilmiah—dan menyadari bahwa banyak prinsip penting dalam olahraga sebenarnya dapat diukur secara presisi. Sudut sendi, pola langkah, keseimbangan tubuh, hingga distribusi beban gerak bukan hanya soal pengamatan visual, tetapi dapat dianalisis dengan bantuan teknologi.
Sistem ini dirancang agar guru PJOK memiliki alat bantu yang lebih akurat dalam mengevaluasi siswa. Dengan menggunakan kamera smartphone, sistem AI akan membaca gerakan tubuh, menangkap titik-titik penting pada persendian, lalu mengolahnya menjadi data evaluasi teknik gerak.
Bukan hanya “bagus” atau “kurang bagus”, tetapi penilaian yang lebih terukur dan berbasis data.
Salah satu tantangan terbesar dalam pelajaran olahraga adalah subjektivitas penilaian. Dalam satu kelas yang besar, guru sering harus mengambil keputusan cepat berdasarkan pengamatan langsung. Hal itu wajar, tetapi tidak selalu ideal.
SMART-MOTION hadir untuk memperkuat proses tersebut. Teknologi ini bekerja menggunakan computer vision tanpa sensor tambahan. Tidak perlu alat mahal, perangkat rumit, atau laboratorium khusus. Cukup kamera smartphone, sistem dapat mendeteksi pola gerakan dan memberikan analisis biomekanika secara langsung.
Artinya, sekolah-sekolah dengan fasilitas terbatas pun berpeluang memanfaatkannya.
Bagi siswa sekolah dasar, pendekatan ini sangat penting. Pada usia pertumbuhan, teknik gerakan yang benar menjadi fondasi utama dalam aktivitas fisik. Kesalahan yang terus berulang dapat membentuk kebiasaan yang sulit diperbaiki di kemudian hari.
Vicko menegaskan bahwa inovasinya bertujuan membantu siswa agar belajar teknik olahraga dengan lebih tepat, efektif, dan aman dari risiko cedera.
Dengan sistem ini, siswa tidak hanya menerima koreksi dari guru, tetapi juga dapat melihat sendiri bagaimana tubuh mereka bergerak. Mereka belajar memahami kesalahan dan memperbaikinya secara mandiri.
Olahraga tidak lagi dipandang sebagai pelajaran praktik biasa, melainkan ruang belajar yang juga memanfaatkan sains dan teknologi modern.
Tiga Kali Mencoba, Satu Kemenangan Besar
Prestasi Vicko dalam Pilmapres 2026 juga menyimpan cerita tentang ketekunan.
Ia bukan peserta yang baru pertama kali mencoba. Pilmapres tahun ini merupakan kali ketiga dirinya mengikuti kompetisi tersebut. Dua kesempatan sebelumnya menjadi pengalaman berharga yang membentuk mental dan kualitas gagasannya.
Ia belajar bahwa prestasi akademik bukan hanya soal kecerdasan, tetapi juga tentang konsistensi, keberanian memperbaiki diri, dan kemampuan bertahan dalam proses panjang.
“Rasanya tentu senang banget dan juga bangga, apalagi ini sudah ketiga kalinya saya ikut Pilmapres. Perjalanannya nggak selalu mulus, tapi ketika akhirnya meraih juara 1, rasanya sangat bersyukur karena semua usaha terbayar,” ungkapnya.
Kalimat itu menggambarkan perjalanan seorang mahasiswa yang tidak berhenti pada kegagalan pertama atau kedua. Ia memilih kembali mencoba, menyempurnakan ide, memperkuat presentasi, dan membuktikan bahwa inovasi yang lahir dari keresahan nyata memiliki daya saing yang kuat.
Kemenangan tersebut menjadi simbol bahwa kerja keras dan ketulusan dalam menciptakan solusi nyata selalu menemukan jalannya.
Di tengah perdebatan global tentang kecerdasan buatan, Vicko melihat AI bukan sebagai ancaman bagi profesi guru, melainkan sebagai alat pendukung yang memperkuat kualitas pembelajaran.
Guru tetap menjadi pusat pendidikan. AI hadir untuk membantu efisiensi, meningkatkan akurasi, dan membuka ruang evaluasi yang lebih luas.
Dalam konteks pendidikan jasmani, kehadiran teknologi seperti SMART-MOTION justru memberi ruang lebih besar bagi guru untuk fokus pada pembinaan karakter, motivasi siswa, dan strategi pembelajaran yang lebih personal.
Teknologi mengambil peran pada sisi analisis teknis, sementara guru tetap menjadi pengarah utama proses pendidikan.
Inilah bentuk kolaborasi ideal antara manusia dan mesin.
Pendekatan seperti ini menjadi sangat relevan di era transformasi digital, ketika sekolah dituntut beradaptasi dengan perubahan zaman tanpa kehilangan nilai dasar pendidikan.
SMART-MOTION menunjukkan bahwa inovasi kampus tidak harus selalu rumit dan jauh dari kebutuhan masyarakat. Justru inovasi terbaik lahir ketika teknologi menjawab persoalan yang benar-benar terjadi di lapangan.
Sebagai mahasiswa PJKR, Vicko membuktikan bahwa inovasi tidak hanya lahir dari program studi teknik atau informatika. Dunia olahraga pun memiliki ruang besar untuk melahirkan teknologi masa depan.
Ia menghadirkan perspektif baru bahwa pendidikan jasmani dapat menjadi laboratorium inovasi yang sangat potensial.
Ke depan, SMART-MOTION diharapkan dapat diterapkan lebih luas di sekolah-sekolah Indonesia sebagai solusi pembelajaran olahraga berbasis teknologi. Jika dikembangkan secara berkelanjutan, sistem ini berpotensi menjadi model pembelajaran nasional yang mendukung kualitas pendidikan jasmani sejak usia dini.
Di balik layar smartphone yang sederhana, tersimpan gagasan besar tentang masa depan pendidikan: bahwa anak-anak Indonesia berhak mendapatkan pembelajaran yang lebih akurat, lebih aman, dan lebih modern.
Dan dari tangan seorang mahasiswa bernama Vicko Valentino, harapan itu mulai menemukan bentuknya.
Lapangan sekolah, peluit guru, dan kamera smartphone kini bertemu dalam satu tujuan: menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi zaman.



