MoneyTalk.id,Jakarta – Di lorong sempit kehidupan sehari-hari, krisis tidak lagi bersembunyi dalam statistik, melainkan menubuh dalam realitas yang kasar dan tak terbantahkan. Meja makan keluarga menjadi saksi paling jujur dari kegagalan negara: harga melambung, pekerjaan menghilang, dan Pajak menjelma sebagai instrumen ekstraksi yang kian brutal.
Dalam kerangka ekonomi politik klasik, situasi ini mencerminkan transformasi negara dari entitas distributif menjadi mesin ekstraktif—sebuah pergeseran dari kontrak sosial menuju dominasi fiskal yang timpang. Di ruang-ruang domestik yang sesak oleh kecemasan,
Generasi Z tumbuh bukan sebagai pewaris kemakmuran, tetapi sebagai saksi hidup dari sistem yang membusuk dari dalam.
Mereka melihat orang tua mereka bekerja tanpa jeda, namun tetap terperosok dalam ketidakcukupan. Pajak yang dipungut atas nama negara tidak kembali sebagai jaminan kesejahteraan, melainkan menguap dalam pusaran korupsi, patronase politik, dan kebijakan yang kehilangan rasionalitas publik.
Dalam perspektif teori negara modern, kondisi ini menandakan runtuhnya legitimasi normatif sekaligus performatif: negara tidak hanya gagal secara moral, tetapi juga gagal secara fungsional. Ketika redistribusi berhenti dan ekstraksi dipaksakan, maka negara kehilangan justifikasi eksistensialnya.
Fenomena ini bukan lokal, melainkan global. Gelombang pemberontakan Generasi Z menunjukkan pola struktural yang konsisten: tekanan ekonomi, ketimpangan akut, dan delegitimasi institusi melahirkan ledakan sosial yang tak terelakkan. Apa yang disebut banyak analis sebagai transformasi generasi krisis bukan sekadar perubahan demografis, melainkan pergeseran epistemik—cara generasi ini memahami kekuasaan telah berubah secara fundamental. Mereka tidak lagi melihat negara sebagai otoritas yang sah, tetapi sebagai struktur yang harus diuji, bahkan dilawan.
Sri Lanka menjadi contoh paling brutal dari bagaimana krisis ekonomi berubah menjadi revolusi sosial. Ketika inflasi melonjak ekstrem, rantai pasok runtuh, dan kehidupan sehari-hari terhenti, rakyat tidak lagi menuntut reformasi gradual. Mereka menuntut pengakhiran kekuasaan. Gerakan massa yang didorong generasi muda berhasil meruntuhkan simbol-simbol negara, memaksa elit melarikan diri, dan membuka fakta paling telanjang dalam politik: bahwa kekuasaan hanya bertahan sejauh ia dipercaya.
Nepal memperlihatkan eskalasi yang lebih eksplosif. Ketika negara berupaya mengendalikan ruang digital, generasi yang lahir dalam ekosistem informasi bebas merespons dengan perlawanan total. Kerugian ekonomi yang masif dan kehancuran simbol kekuasaan menunjukkan bahwa ketika represi bertemu kesadaran kolektif, hasilnya bukan stabilitas, melainkan percepatan disintegrasi politik.
Pada situasi ini, pemberontakan bukan deviasi, melainkan koreksi sistemik terhadap negara yang kehilangan legitimasi.
Di Eropa Timur seperti Bulgaria, siklus protes anti-korupsi yang berulang menegaskan tesis yang sama: ketidakpercayaan publik yang terakumulasi akan melumpuhkan kekuasaan dari dalam.
Laporan-laporan ekonomi global menyoroti bahwa generasi muda kini bukan hanya faktor sosial, tetapi variabel struktural yang mampu mengganggu stabilitas pasar dan politik sekaligus. Ini adalah era di mana kemarahan bukan lagi spontanitas, melainkan energi terorganisir yang diperkuat oleh konektivitas digital.
Dalam kerangka sosiologis, Generasi Z adalah produk dari krisis berlapis: krisis kesehatan global, krisis ekonomi, krisis kepercayaan, dan krisis legitimasi institusional. Mereka tumbuh tanpa ilusi terhadap negara karena sejak awal mereka menyaksikan kegagalannya. Ketika kontrak sosial tidak lagi ditepati, maka yang terjadi adalah apa yang oleh banyak pemikir disebut sebagai erosi legitimasi—sebuah kondisi di mana kekuasaan tetap berdiri secara formal, tetapi kosong secara substansial.
Kembali ke ruang domestik, akar dari seluruh dinamika ini tetap sederhana namun brutal: keluarga yang tercekik. Pajak yang membebani orang tua bukan sekadar angka fiskal, tetapi pengalaman eksistensial yang diwariskan. Generasi Z tidak membaca ketidakadilan sebagai teori; mereka menghirupnya dalam kehidupan sehari-hari. Mereka menyaksikan bahwa kerja keras tidak lagi menjamin mobilitas sosial. Mereka memahami bahwa sistem ini bukan sekadar gagal, tetapi cenderung mempertahankan kegagalan itu sendiri.
Dalam kondisi seperti ini, perlawanan menjadi keniscayaan logis. Ketika institusi politik kehilangan kredibilitas, aparat kehilangan legitimasi moral, dan negara kehilangan fungsi distributifnya, maka ruang kosong itu akan diisi oleh gerakan sosial.
Generasi Z berada di titik paling siap untuk mengambil peran tersebut, bukan karena ideologi semata, tetapi karena tekanan realitas yang tak lagi bisa dinegosiasikan.
Sejarah menunjukkan pola yang konsisten: kekuasaan yang bertahan di atas ketidakadilan akan runtuh oleh akumulasi tekanan yang diabaikannya sendiri. Apa yang terjadi di berbagai negara hanyalah manifestasi awal dari perubahan yang lebih luas. Ini bukan sekadar siklus politik, melainkan pergeseran struktural dalam hubungan antara negara dan warga.
Negara yang terus memeras akan berhadapan dengan generasi yang tidak lagi takut. Ketika rasa takut menghilang, maka seluruh arsitektur kekuasaan kehilangan fondasi psikologisnya.
Pada titik itu, kejatuhan bukan lagi kemungkinan, melainkan konsekuensi historis yang tak terhindarkan—hasil akhir dari sistem yang terlalu lama mengabaikan batas kesabaran rakyatnya sendiri.
Penulis : Firman Tendry, Advocate dan Aktivis
Catatan: Artikel ini disarikan dari dialog dengan Gen Z dan Gen Alpha di Dukuh Atas, Sambil Menggugat Patung Jenderal Soedirman.



