KCIC Butuh 367 Tahun untuk Balik Modal, Anak Cucu Indonesia Jadi Korban Utang

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Investor sekaligus pengamat pasar modal, Benix, melalui kanal YouTube-nya mengungkap fakta mengejutkan soal kondisi keuangan Kereta Cepat Indonesia-Cina (KCIC). Proyek transportasi prestisius yang diresmikan Oktober 2023 itu disebut justru menjadi “bom waktu” bagi keuangan negara dan BUMN yang terlibat.

Menurut Benix, alih-alih menghasilkan keuntungan, proyek KCIC membebani keuangan Indonesia dengan kerugian yang ditaksir mencapai Rp2–4 triliun per tahun. “Negara kita harus bayar bunga utang Rp223 miliar setiap bulan, entah KCIC untung atau rugi. Itu fakta yang tidak bisa dihindari,” ungkapnya.

Benix menjelaskan, konsorsium KCIC dimiliki oleh gabungan perusahaan Indonesia (60%) dan Cina (40%). Porsi Indonesia dikuasai oleh PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI), yang terdiri dari PT KAI (58,53%), Wijaya Karya (33%), Jasa Marga (7%), dan PTPN VIII (1,03%).

Dengan struktur itu, kerugian terbesar otomatis ditanggung BUMN. Data menunjukkan PT KAI merugi Rp2,2 triliun, Wijaya Karya Rp1,5 triliun, dan sisanya dibebankan kepada Jasa Marga serta PTPN. “Empat pilar ini ternyata bukan pilar sinergi, tapi pilar nyungsep,” sindir Benix.

Awalnya, biaya pembangunan KCIC diproyeksikan Rp90 triliun, namun kemudian membengkak hingga Rp110 triliun. Dana itu mayoritas dibiayai utang dengan bunga 3,4% tenor 35 tahun, setara dengan kewajiban bunga Rp2,6 triliun per tahun.

Meski sudah beroperasi dan melayani 6,04 juta penumpang di 2024, total pendapatan KCIC diperkirakan hanya Rp1,5 triliun per tahun. Dengan asumsi margin laba bersih 20% (Rp300 miliar), waktu yang dibutuhkan untuk balik modal adalah 367 tahun.

“Bahkan menurut hitungan paling optimistis, profit KCIC tidak akan menutup biaya pembangunan dalam 10 generasi. Faktanya, hari ini malah rugi triliunan,” jelas Benix.

Kerugian proyek KCIC disebut sudah memukul harga saham BUMN terlibat. Saham Jasa Marga anjlok 37% dalam setahun, sementara saham Wijaya Karya bahkan terkena suspensi perdagangan. Ironisnya, di tengah kerugian itu, manajemen BUMN tetap membagikan bonus dan tantiem kepada direksi serta komisaris.

“Luar biasa. Saham nyungsep, perusahaan rugi, tapi direksinya masih dapat bonus. Akhlak nomor satu,” sindir Benix dengan nada sarkastis.

Meski kritis, Benix menyebut masih ada jalan agar KCIC tidak terus merugi. Ia menyarankan agar pendapatan tidak hanya bergantung pada tiket, tetapi juga dari iklan, pengembangan kawasan TOD (Transit Oriented Development), serta pemanfaatan properti komersial di sekitar stasiun.

Selain itu, ia menekankan teori “1 banding 3” yang berlaku di Cina: sebuah negara baru bisa mendapat jalur kereta cepat yang profit bila membangun setidaknya tiga rute sekaligus. Dengan hanya memiliki satu jalur Jakarta–Bandung, Indonesia dipastikan akan terus rugi.

“Pertanyaannya sekarang: apakah kita berhenti sampai di sini, atau justru tambah jalur baru seperti Surabaya–Semarang–Jogja–Jakarta supaya ada peluang profit? Kalau berhenti, GDP kita terancam stagnan. Kalau lanjut, risiko utang makin membengkak,” pungkas Benix.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *