MoneyTalk, Jakarta -Gelombang aksi demonstrasi di berbagai daerah kembali diwarnai dengan jatuhnya korban dari kalangan mahasiswa. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) menegaskan bahwa sejumlah kadernya menjadi sasaran represif aparat kepolisian, bahkan mengalami luka serius hingga penangkapan.
Di Kediri, Jawa Timur, penangkapan terhadap mantan Ketua Cabang PMII Kediri, Saiful Amin, pada dini hari menimbulkan tanda tanya besar. Saiful dikenal sebagai aktivis kritis yang konsisten menyuarakan kepentingan rakyat. “Keterlibatannya dalam demonstrasi yang menuntut keadilan kini justru dibalas dengan kriminalisasi,” tegas Ketua KOPRI PB PMII, Wulan Sari Aliyatus Sholikhah, dalam keterangannya, Jumat (5/9/2025).
Peristiwa lebih memilukan terjadi di Seram Bagian Timur, Maluku. Empat kader PMII mengalami luka bakar serius saat menggelar aksi di depan Gedung DPRD. Api dari ban bekas yang digunakan dalam aksi tiba-tiba menyambar massa, menyebabkan dua kader mengalami luka bakar berat dan dua lainnya luka ringan. Seluruh korban kini menjalani perawatan medis di RSUD Bula.
Di Jakarta, insiden tragis juga dialami kader PMII Universitas Jakarta (Unija), Diego Zidan. Ia menjadi korban penembakan saat aksi di sekitar Mako Brimob Kwitang dan masih menjalani perawatan intensif di RSCM. “Insiden ini menambah panjang daftar kekerasan yang dialami kader PMII hanya karena menggunakan hak konstitusional mereka untuk bersuara,” lanjut Wulan.
Selain korban luka dan penangkapan, KOPRI PB PMII juga menerima laporan adanya intimidasi pasca-aksi. Sejumlah kader mengaku diikuti oknum aparat, sehingga menimbulkan rasa tidak aman. Kondisi ini disebut mengganggu kebebasan berpendapat dan menuntut jaminan perlindungan penuh dari negara.
“Bagi KOPRI, perlawanan terhadap represi dan pembungkaman suara mahasiswa oleh aparat kepolisian adalah bagian dari ikhtiar menjaga demokrasi tetap hidup di negeri ini,” tutup Wulan Sari Aliyatus Sholikhah



