Lonjakan Emas Tanda Krisis Global Mengintai, Bank Sentral Dunia Sudah Bersiap

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Ekonom dan pengamat kebijakan publik Awalil Rizky dalam kanal YouTube-nya pada Kamis (09/10) kembali menghadirkan sesi “membaca berita dan sedikit komentar” dengan pembahasan yang kali ini cukup menegangkan: kenaikan harga emas dunia yang menembus rekor tertinggi sepanjang masa.

“Salam cerdas, Ibu, Bapak, Saudara-saudara yang saya hormati,” buka Awalil dalam videonya. Ia mengutip artikel dari CNBC Indonesia berjudul “Sejarah Bicara: Rekor Emas Tanda Ekonomi Dunia di Ambang Petaka” yang ditulis oleh jurnalis Susi Setiawati dan tayang pada 8 Oktober.

Menurut laporan tersebut, harga emas dunia telah naik 52% sepanjang 2025, melesat dari US$2.623 per troy ons di akhir 2024 menjadi hampir US$3.985 per troy ons pada 7 Oktober 2025. Kenaikan tajam ini, ujar Awalil, sering kali menjadi indikator kuat bahwa ekonomi global sedang menghadapi ketidakpastian besar.

“Biasanya dunia sedang menghadapi ketidakpastian besar ketika emas naik tajam dalam waktu singkat,” ujar Awalil mengutip riset CNBC. “Kalau kita lihat dari sejarah, lonjakan harga emas hampir selalu mendahului krisis ekonomi besar.”

Dari Krisis Minyak ke Krisis Keuangan

Awalil kemudian menelusuri kembali data yang disusun oleh tim riset CNBC Indonesia, yang mengaitkan setiap lonjakan emas dengan krisis ekonomi global per dekade.

1978: Krisis minyak dunia dan devaluasi rupiah, emas naik 137% dalam dua tahun. 1988: Deregulasi perbankan dan krisis awal sistem keuangan, naik 49%. 1998: Krisis moneter Asia, namun uniknya emas justru turun 26% dalam dua tahun.

2008: Krisis keuangan global akibat runtuhnya sektor perumahan AS, emas melonjak 68%. 2018: Krisis mini pasar negara berkembang (emerging market crisis), kenaikan 19%.

“Jadi, dari 1978 hingga 2018, terlihat pola sepuluh tahunan di mana emas melonjak tajam sebelum krisis besar terjadi,” papar Awalil. “Dan sekarang, 2025, kita kembali melihat lonjakan luar biasa.”

Krisis Belum Tentu, Tapi Sinyal Sudah Nyala

Meski demikian, Awalil menegaskan bahwa kenaikan emas bukan jaminan pasti krisis, melainkan sinyal dini ketidakpastian.

“Kalau yang sekarang, kenaikan iya, tapi krisisnya kan belum tentu,” jelasnya. “Tapi ini patut diwaspadai, apalagi bank sentral dunia sudah menambah cadangan emas mereka.”

Awalil menyoroti bahwa banyak bank sentral besar dunia, termasuk China, Rusia, dan India, telah memperbesar porsi cadangan emasnya dalam dua tahun terakhir.

Sementara itu, Bank Indonesia, menurutnya, belum melakukan langkah serupa.

“Bank Indonesia belum meningkatkan cadangan emasnya bertahun-tahun,” kata Awalil.

“Kalaupun di neraca terlihat naik, itu hanya karena harga emasnya yang melonjak, bukan karena tonasenya bertambah.”

Dalam penutupnya, Awalil mengingatkan bahwa jika skenario krisis benar terjadi, Indonesia harus memastikan kesiapan sistem keuangannya.

Ia menyinggung rencana besar pemerintah untuk program perumahan rakyat 3 juta rumah, yang berpotensi menghadapi risiko serupa dengan krisis properti Amerika Serikat pada 2008.

“Kalau polanya mirip, tidak mustahil kita ikut kena,” ujar Awalil. “Lehman Brothers dulu tumbang karena sektor perumahan yang bergelembung. Kita harus belajar dari itu.”

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *