MoneyTalk, Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa bikin heboh publik! Ia menyebut strategi baru: pertumbuhan ekonomi tak lagi berbasis utang, tapi berbasis pendapatan. Kedengarannya manis, seakan Indonesia siap lepas dari jerat pinjaman utang.
Tapi, Awalil Rizky dalam kanal YouTube-nya, Rabu (24/09), langsung menguliti jargon tersebut. Menurutnya, omongan Purbaya masih penuh lubang.
“Kalau butuh stimulus, pemerintah tetap akan nambah utang. Jadi bedanya di mana? Dari dulu juga begitu!” sindir Rizky.
Lebih pedas lagi, Rizky membongkar logika yang tumpang tindih. Kalau pendapatan negara naik karena PDB tumbuh, maka pendapatan hanyalah akibat, bukan penyebab pertumbuhan. Jadi, bagaimana bisa disebut pertumbuhan berbasis pendapatan?
Yang makin panas, Rizky menemukan bahwa istilah “berbasis pendapatan” ternyata bukan murni ide Purbaya. Ketua Banggar DPR Said Abdullah-lah yang mendorong agar pemerintah bikin peta jalan pengelolaan utang. Dengan kata lain, wacana besar ini lebih banyak lahir dari Senayan, bukan dari Kemenkeu.
Meski ada klaim bahwa penerimaan pajak bisa naik Rp220 triliun setiap kali PDB naik 1%, Rizky tetap skeptis. Pasalnya, sumber dana yang digembar-gemborkan seperti dana SAL yang digeser dari BI ke bank Himbara sebenarnya berasal dari sisa utang lama.
“Logikanya tetap saja bukan dari pendapatan, tapi dari utang yang nggak terpakai. Jadi, di mana letak inovasinya?” tanya Rizky tajam.
Rakyat pun dibuat bingung: apakah ini strategi ekonomi baru, atau hanya sekadar ganti istilah biar terdengar segar?





