Koboy Data” Guncang Istana! Purbaya Bongkar Oligarki Warisan Sri Mulyani, BI dan Luhut Kena Getahnya!

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta –  Di tengah stagnasi ekonomi dan gonjang-ganjing politik fiskal, muncul satu nama yang bikin elite ekonomi megap-megap oleh Purbaya Yudi Sadewa. Hanya sebulan menjabat sebagai Menteri Keuangan, langkahnya sudah bikin jantung oligarki berdebar.

Ekonom Universitas Indonesia, Dr. Kun Nurachadijat, dalam tayangan Forum Keadilan TV Kamis (09/10), menyebut Purbaya sebagai “koboy data” yang datang dengan peluru tajam: data, keberanian, dan niat mengguncang status quo.

“Purbaya bukan birokrat kalem kayak Sri Mulyani. Dia koboy yang datang dengan senjata data dan langsung menembak ke jantung oligarki,” ujar Kun dengan nada tajam.

Melanjutkan Warisan Sri Mulyani, Tapi Membalik Arah

Kun menjelaskan, Purbaya memang melanjutkan banyak kebijakan Sri Mulyani, tapi dengan arah yang berlawanan. Kalau Sri Mulyani dikenal “menjaga stabilitas buat investor”, maka Purbaya justru “mengguncang stabilitas buat oligarki.”

“Kalau Sri Mulyani itu teknokrat IMF style berhitung, aman, dan ramah korporasi. Purbaya datang dari mazhab teknolog ITB, logikanya sederhana: kalau ekonomi macet, uang harus diguyur,” kata Kun.

Langkah paling mengejutkan? Purbaya menggelontorkan Rp165 triliun dari Bank Indonesia ke lima bank besar, agar bunga kredit turun dan uang rakyat kembali berputar. Kebijakan yang membuat banyak ekonom senior menelan ludah karena ini “anti manual”, tapi “pro hasil.”

Menembus Benteng Oligarki: 84 Wajib Pajak Besar Dikejar!

Tak berhenti di situ. Purbaya juga meluncurkan “operasi senyap” ke dunia perpajakan. Sebanyak 84 perusahaan besar kini dalam radar, dengan potensi pajak tembus Rp60 triliun!

“Dia enggak kejar rakyat kecil. Yang dikejar justru para pengemplang besar perusahaan-perusahaan yang selama ini nyaman di balik pelukan kekuasaan,” beber Kun.
“Ini serangan langsung ke benteng oligarki!”

Tak heran, desas-desus di kalangan pejabat ekonomi menyebut Purbaya mulai membuat panas kuping sejumlah nama besar, termasuk lingkaran bisnis yang dikenal dekat dengan Luhut Binsar Pandjaitan.

“Kalau politiknya tinggi, yang tua-tua pasti gelisah. Karena anak muda ini datang dengan data dan niat mengguncang,” tambah Kun tajam.

Sri Mulyani Disindir: “Terlalu Patuh pada Pesanan Internasional!

Kun tak segan menyentil kebijakan menteri keuangan sebelumnya.
Menurutnya, Sri Mulyani terlalu “berdiplomasi” dengan kepentingan asing dan lembaga internasional.

“Saya katakan, Sri Mulyani itu melindungi oligarki. Karena ada pesanan internasional,” ungkap Kun blak-blakan.
“Purbaya ini datang dengan revolusi fiskal dari bawah, bukan dari IMF.”

Komentar itu sontak jadi pembicaraan panas di kalangan akademisi ekonomi.
Pasalnya, jarang ada ekonom UI yang bicara seberani itu di ruang publik. Tapi Kun tetap santai. “Ya karena itu fakta,” ujarnya pendek.

Gaya “Habibie Nomics” Baru: Cepat, Berani, dan Anti Teori

Kun menyebut Purbaya sebagai “produk Habibie Nomics generasi baru” teknolog yang berpikir eksak dan langsung eksekusi.

“Dia bukan perencana di papan tulis. Dia tukang servis mesin ekonomi,” katanya.

“Kalau darah ekonomi kurang, ya dia guyur darahnya. Gaya koboy itu justru cocok di negara penuh drama kayak kita,” kata Kun sambil tertawa.

Tembakan ke BI: “Cadangan Emas Tidak Naik, Padahal Dunia Panik!

Dalam komentarnya, Purbaya juga menyoroti Bank Indonesia (BI) yang disebut “tidak menambah cadangan emas” di tengah lonjakan harga emas dunia.

“Banyak bank sentral dunia menimbun emas karena ancaman krisis global. Tapi BI? Diam saja. Nilainya naik, tapi tonasenya tetap,” ujarnya.
“Padahal ini saatnya beli emas, bukan jual cadangan.”

Komentar itu bikin suasana rapat-rapat keuangan makin panas. Beberapa pejabat BI dikabarkan mulai “mendinginkan komunikasi” dengan Kemenkeu.

Purbaya vs Oligarki, Babak Baru Perang Ekonomi!

Menutup analisanya dengan kalimat yang kini jadi kutipan viral di media sosial, “Purbaya itu koboy data. Dia bukan menembak orang dia menembak sistem yang bobrok.” ujar Kun

Di bawah gaya koboynya, Purbaya dinilai membuka babak baru perang ekonomi Indonesia, antara ekonomi rakyat versus ekonomi oligarki.

Dan kali ini, pelurunya bukan politik tapi data, fiskal, dan keberanian.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *