MoneyTalk, Jakarta – Dalam satu bulan terakhir, Hotel Ambarukmo Royal Yogyakarta seolah menjadi “panggung tak kasat mata” dari banyak kegiatan hotel tersebut. Ada tiga kegiatan atau momentum penting terjadi pada tempat yang sama, bukan tanpa makna.
Pertama, pertemuan Menteri Keuangan Sri Mulyani dengan IMF berlangsung di sana. Sebuah pertemuan yang jelas menyiratkan pembicaraan serius soal arah kebijakan ekonomi dan utang luar negeri Indonesia ke depan. IMF bukan sekadar lembaga keuangan global di banyak negara, ia simbol arah dan intervensi kebijakan fiskal yang kerap menjadi penentu pemerintahan Prabowo ke depan
Kedua, pertemuan para raja se-Nusantara juga digelar di tempat yang sama. Ini bukan acara seremonial belaka. Dalam konteks sosial-politik, para raja dan pemangku adat adalah representasi akar budaya, identitas bangsa, dan pemilik Republik ini.
Tapi pada Era Prabowo, diabaikan atau cuekin oleh Presiden Prabowo. Malahan Prabowo hanya membuka ruang Politik buat TNI (Tentera Nasional Indonesia). Dan tetap menganggap sebelah mata bagi para raja raja Nusantara untuk berperan dalam panggung pemerintahan
Ketiga, seluruh komisaris Pelindo beserta anak dan cucu perusahaannya juga memilih Ambarukmo sebagai tempat konsolidasi. Ini tentu bukan kebetulan. Pelindo adalah simpul penting logistik nasional, dan urat nadi pelabuhan dan rantai pasok.
Jika seluruh jajaran komisaris berkumpul di satu titik yang sama dengan dua peristiwa sebelumnya, patut diduga sedang ada penyusunan peta besar yang melibatkan ekonomi, budaya, dan kekuasaan.
Tiga peristiwa besar tersebut seperti IMF, para raja, dan Pelindo dalam satu lokasi dan kurun waktu yang berdekatan jelas bukan kebetulan biasa. Ada sinyal kuat buat pemerintahan Prabowo yang bisa diduga sebagai serangan dari darat, maupun laut
Yang pasti, Ambarukmo bukan sekadar hotel, tapi kini menjadi semacam pusat gravitasi pertemuan tiga poros kekuatan: internasional (IMF), tradisional (para raja), dan korporasi negara (Pelindo) yang kemungkinan jadi ancaman Pemerintah Prabowo.
Apalagi saat ini,Presiden Prabowo masih terus mengabaikan peran para raja dan simbol-simbol budaya lokal, maka gelombang kebangkitan dari Yogyakarta yang dikenal sebagai pusat spiritual dan kultural Nusantara bisa menjadi pesan keras bahwa kekuasaan tanpa akar budaya tidak akan pernah kokoh.
Barangkali, dari Ambarukmo-lah sinyal itu sedang dikirim.
Penulis : Mus Gaber, Ketua Padepokan Hukum Indonesia





