Habib Umar Alhamid: Lupakan Jokowi, Setop Kebohongan dan Saatnya Perkuat Agenda Strategis Prabowo

  • Bagikan

MoneyTalk, Jakarta – Di tengah situasi global yang ia sebut “betul-betul pekak”, Ketua Umum Gentari (Gerakan Generasi Cinta Negeri), Habib Umar Alhamid, menyampaikan pandangan tegasnya terhadap 16 bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Dalam perbincangan di kanal YouTube Sinergi Konstruktif (Sinkos Indonesia), Habib Umar menilai Prabowo tengah memainkan peran besar, bukan hanya di dalam negeri, tetapi juga di panggung dunia.

“Dunia sedang mengocok ulang peta. Kondisi global tidak baik-baik saja. Presiden harus hati-hati, tidak arogan, tidak gegabah. Dan itu yang sedang dilakukan Pak Prabowo,” ujarnya, Ahad (22/2/2026).

Habib Umar menyoroti sikap tegas Presiden dalam isu Palestina sebagai bukti keberanian Indonesia di forum internasional. Ia menyebut, selama puluhan tahun penderitaan Palestina tidak pernah benar-benar menghadirkan perubahan signifikan karena minimnya keberanian negara-negara lain menyuarakan keadilan.

Menurutnya, sikap Indonesia yang membuka opsi diplomatik dengan syarat pengakuan terhadap negara Palestina menunjukkan keberanian moral.

“Beliau berani menyuarakan keadilan. Itu bukan hanya retorika, tapi juga upaya nyata, termasuk kesiapan mengirim pasukan perdamaian,” katanya.

Ia menilai langkah tersebut membuat Indonesia kembali diperhitungkan oleh negara-negara besar dan pemimpin Timur Tengah.

Menanggapi kritik atas masuknya investasi asing, termasuk dari Amerika Serikat dan negara ASEAN, Habib Umar berpandangan bahwa keterbukaan ekonomi adalah keniscayaan di era globalisasi. Namun, ia menegaskan bahwa investasi tidak dilakukan tanpa syarat.

“Tidak mungkin sebuah negara hanya berkata ‘welcome’ tanpa aturan. Ada sistem, ada syarat, ada penyaringan. Presiden punya perangkat lengkap untuk menjaga kepentingan nasional,” jelasnya.

Ia menilai Prabowo tetap memegang prinsip nasionalisme, tetapi dengan pendekatan realistis terhadap dinamika ekonomi global.

Habib Umar juga memuji program makan bergizi gratis (MBG) yang menurutnya merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

“Ini bukan pemborosan. Ini investasi untuk gizi, untuk stamina, untuk daya pikir generasi mendatang. Dunia sedang keras, kita butuh anak-anak yang tangguh.”

Ia mengakui masih ada “kerikil-kerikil” dalam pelaksanaan program, tetapi yakin penyempurnaan akan terus dilakukan.

Ketika ditanya soal wacana Pilpres 2029, termasuk munculnya nama Anies Baswedan dan spekulasi pasangan politik baru, Habib Umar mengingatkan agar publik tidak terseret terlalu jauh pada isu yang masih jauh waktunya.

“Jokowi sudah selesai pada masanya. Jangan kita terus melihat ke belakang. Kita harus berpikir ke depan. What’s next?”

Ia menilai kompetisi politik sah-sah saja, tetapi harus dalam semangat berlomba dalam kebaikan, bukan saling menjatuhkan.

Salah satu poin yang paling ditekankan Habib Umar adalah pentingnya “gerakan anti kebohongan”. Ia menyebut Presiden Prabowo ingin menghentikan praktik “asal bapak senang” dan janji-janji yang tidak terealisasi.

“Setop kebohongan untuk bangsa dan negara. Jangan lagi mengumbar angan-angan tanpa realisasi. Satu langkah harus selesai, baru langkah berikutnya.”

Ia juga mengingatkan masyarakat agar lebih kritis terhadap informasi di media sosial, terutama di bulan suci Ramadan.

“Dunia kebohongan sudah merebak di handphone kita. Jangan ikut menyebarkan hal yang belum pasti.”

Habib Umar mengaku telah berpolitik sejak usia muda, pernah aktif di PPP dan berbagai gerakan politik lainnya. Ia menggambarkan partai politik sebagai “arena yang penuh dinamika”, bahkan pernah diibaratkan sebagai “binatang” oleh seorang seniornya — liar, jinak, dan buas — sehingga membutuhkan kehati-hatian.

Kini, melalui Gentari, ia memilih berada di luar parlemen untuk tetap kritis.

“Yang baik kita puji, yang tidak baik kita kritisi. Kecintaan kita terhadap negeri ini tidak boleh berhenti.”

Di akhir perbincangan, Habib Umar menyerukan optimisme nasional. Ia menegaskan kekuatan bangsa ada pada rakyatnya.

“Kalau kita bersatu, kita punya kekuatan besar. Jangan pesimis. Jangan mengkhayal sepuluh burung terbang, satu di tangan kita jaga dulu.”

Baginya, di tengah dunia yang sedang berubah cepat, Indonesia membutuhkan energi persatuan nasional untuk menghadapi tantangan global.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *