MoneyTalk, Jakarta – Pengamat geopolitik Hendrajit menyebut penangkapan Pangeran Andrew sebagai sinyal penting dalam dinamika global kontemporer. Menurutnya, peristiwa tersebut bukan sekadar kasus hukum individual, melainkan bagian dari tren yang lebih luas: para elite lama Sistem Tata Dunia pasca-Perang Dunia II mulai “mengeksekusi” agen-agen proksinya sendiri.
“Ini menandai babak baru. Para bohir sistem lama yang dibangun setelah Perang Dunia II mulai membersihkan jaringan internalnya,” kata Hendrajit dalam keterangannya, Sabtu (21/2/2026).
Ia mengaitkan perkembangan itu dengan mencuatnya kembali jejaring lama yang terhubung dengan kasus Jeffrey Epstein. Dalam sorotannya, nama Peter Mandelson—tokoh penting Partai Buruh Inggris dan orang dekat mantan Perdana Menteri Tony Blair—ikut terseret dalam pusaran relasi yang disebutnya sebagai jaringan informal AS–Inggris.
Hendrajit menilai, ketika skandal Epstein terkuak, relasi antara aktor-aktor kunci politik dan keuangan lintas Atlantik menjadi semakin terang. “Penangkapan Pangeran Andrew membuat pola itu semakin konkret dan terkonfirmasi,” ujarnya.
Dalam analisisnya, Hendrajit juga menyinggung sistem monarki konstitusional yang masih berlaku di sejumlah negara Eropa seperti Inggris, Belanda, Belgia, Swedia, dan Denmark.
Secara formal, dalam sistem tersebut raja atau ratu hanya berperan sebagai kepala negara simbolik, sementara pemerintahan dijalankan oleh perdana menteri. Namun, menurut Hendrajit, justru posisi simbolik itu membuka ruang bagi apa yang ia sebut sebagai “deep state” atau negara bayangan untuk menjadikan institusi kerajaan sebagai pusat jejaring informal.
“Kerajaan bisa menjadi rumah aman bagi operasi-operasi tersembunyi. Anggota kerajaan dapat berfungsi sebagai agen penghubung atau supporting agents,” katanya.
Ia bahkan menyinggung dugaan lama tentang keterlibatan Pangeran Bernhard—suami Ratu Juliana—dalam pembentukan forum elite global Bilderberg Group. Selama ini, isu tersebut kerap dianggap sebagai teori konspirasi. Namun, menurut Hendrajit, perkembangan terbaru menunjukkan adanya praktik jejaring kekuasaan informal yang nyata.
Hendrajit berpendapat, jika Inggris selama ini dipandang sebagai salah satu pusat saraf sistem global pasca-Perang Dunia II, maka dinamika hukum dan politik yang menjerat figur-figur elitnya bisa diibaratkan sebagai “gempa bumi” di jantung sistem itu sendiri.


